-

1.6K posts

-

-

@rawheartjoe

Katılım Ocak 2024
82 Takip Edilen30 Takipçiler
- retweetledi
Cinephile Intern
Cinephile Intern@cinephileintern·
Omara, I agree with you 1000%
Cinephile Intern tweet media
English
318
31.3K
98.7K
1.6M
-
-@rawheartjoe·
info sewa motor malang pls
Indonesia
1
0
1
72
Amara. Mention after dm!
Amara. Mention after dm!@choiyeonjuns·
@rawheartjoe yt prem ready kak raw yutub tanpa ganti akun💟 — family plan (famplan) 1 bulan 5k 4 bulan 16k 6 bulan 25k 1 tahun 50k cocok untuk jangka panjang order via WA di bio & DM full garansi!
Indonesia
1
0
0
64
-
-@rawheartjoe·
anjing emang
Indonesia
0
0
0
6
- retweetledi
reddish
reddish@academiacht·
Org yg nyalahin ibu karena nitipin anak tuh tentu saja berakar dari pola pikir misoginis. Ngurusin anak selalu dibebankan dan dikaitkan dengan kerjaan perempuan, terpisah dg peran laki2 atas asumsi breadwinner. Krn WTF ibu yg jd tersangka, padahal bapaknya juga sama2 kerja???
elzgatza@liogtttscrp

MINIMAL EMPATINYA DANN STOP JADI IBU-IBU PICK ME!!!! Kasus daycare di Jogja bikin gw makin sadar: dunia sering terlalu kejam pada sosok “Ibu”. Seolah setiap keputusan seorang ibu untuk anaknya selalu siap dihakimi. “tatapan”, “ucapan” ataupun “komentar” yang dilontarkan oleh orang2 dengan entengnya nggak akan pernah dilupa. Salah satunya untuk keputusan masukin anak ke daycare. “Jahat banget, tega bener ibunya!” - salah satu ucapan yang melekat dan diucapkan dengan entengnya…. oleh seorang Ibu juga. Padahal keputusan daycare bukan hasil cap cip cup kembang kuncup. Percayalah, ada riset, ada diskusi panjang, ada pertimbangan matang. Nggak sebentar, nggak asal 🙂 Gw percaya, banyak ibu-ibu pekerja ataupun non pekerja yang mengalami “proses” serupa, yang akhirnya memutuskan memilih daycare. Proses yang mungkin nggak bisa dilihat orang lain. Ibu juga manusia. Menghakimi atas apa yang dipilih untuk anaknya tentunya justru menjadi beban tambahan. Padahal keputusan ya diambil bareng suami kan? 😉 Jadi, stop deh. Siapa kita men‑judge keputusan orang lain yang bahkan nggak tahu apa saja di baliknya? For a mother, the burden is already heavy enough. BE KIND! Kalau ga bisa, diem aja mending 🫵🏻

Indonesia
5
1.1K
2.8K
39.6K
- retweetledi
toparlanın gitmiyoruz
toparlanın gitmiyoruz@toparlanvegitme·
İsrail’e destek veren temizlik markalarını boykot eden video gündem oldu.
Türkçe
336
27.4K
109.3K
1.8M
- retweetledi
salam4jari
salam4jari@salam4jari·
😯
salam4jari tweet media
QME
70
17K
38.4K
453.4K
- retweetledi
txtdrimedia
txtdrimedia@txtdrimedia·
THIS 💯💯
txtdrimedia tweet media
English
52
25.8K
90.1K
566.5K
-
-@rawheartjoe·
i love the bencongs, gays, lesbians, trans, everyone, BUT HIM BENI BGT BANGSATTTTT BENCONG NAJIS
Mohamad Guntur Romli@GunRomli

Seskab Teddy sebut nama Kaisar & Putera Mahkota Jepang kyak nyebut nama teman-teman dia di kujungan resmi kenegaraan. Orang ini paham sopan santun diplomatik gak sih? Pdhal dlm dunia diplomasi, protokol bukan sekadar formalitas basa-basi; ia bahasa penghormatan antarnegara. Mengabaikan gelar resmi kepala negara asing, terutama monarki dgn sejarah panjang sprt Jepang, merupakan bentuk kecerobohan komunikasi yg sangat serius & memalukan. Kaisar Jepang: His Majesty (HM) Emperor Naruhito (Yang Mulia Kaisar Naruhito). Di Jepang, beliau juga disebut sebagai Tenno Heika. Putra Mahkota Jepang: His Imperial Highness (HIH) Crown Prince Akishino (Yang Mulia Putra Mahkota Akishino)--tidak dipanggil lagi nama lahirnya: Fumihito. Penggunaan nama langsung terhadap simbol tertinggi negara sahabat oleh seorang Seskab adalah cermin dari dangkalnya literasi diplomatik. Sebagai pejabat tinggi yg melekat pada lingkar utama kekuasaan, Seskab Teddy seharusnya memahami bahwa setiap kata yg keluar dari mulutnya membawa beban representasi negara. Menyebut nama Kaisar Naruhito tanpa embel-embel "Yang Mulia" bukan sekadar menunjukkan keakraban yg dipaksakan, melainkan arogansi linguistik yang memalukan. Di panggung internasional, ketidakmampuan membedakan cara bicara di warung kopi dgn forum kenegaraan adalah sinyal ketidaksiapan mental & intelektual dlm mengemban tugas birokrasi tingkat tinggi. Tindakan ini merendahkan marwah diplomasi Indonesia & mempertontonkan defisit etika yg nyata. Jika seorang Seskab gagal menguasai tata krama dasar protokoler, hal itu memberikan kesan bahwa pemerintahan kita dikelola oleh individu yg tidak menghargai kedaulatan budaya bangsa lain. Diplomasi menuntut presisi, bukan sekadar gaya; dan dalam kasus ini, Seskab Teddy telah gagal memberikan rasa hormat yg menjadi hak dasar mitra internasional kita.

English
0
0
0
24
- retweetledi
runny
runny@minyuwnki·
LENJEEEEHHHH BENCONGGGGG GW BENCI BGT DIA NGMG BENCONG BGTTTTT NAJISSSSSSSSS
Mohamad Guntur Romli@GunRomli

Seskab Teddy sebut nama Kaisar & Putera Mahkota Jepang kyak nyebut nama teman-teman dia di kujungan resmi kenegaraan. Orang ini paham sopan santun diplomatik gak sih? Pdhal dlm dunia diplomasi, protokol bukan sekadar formalitas basa-basi; ia bahasa penghormatan antarnegara. Mengabaikan gelar resmi kepala negara asing, terutama monarki dgn sejarah panjang sprt Jepang, merupakan bentuk kecerobohan komunikasi yg sangat serius & memalukan. Kaisar Jepang: His Majesty (HM) Emperor Naruhito (Yang Mulia Kaisar Naruhito). Di Jepang, beliau juga disebut sebagai Tenno Heika. Putra Mahkota Jepang: His Imperial Highness (HIH) Crown Prince Akishino (Yang Mulia Putra Mahkota Akishino)--tidak dipanggil lagi nama lahirnya: Fumihito. Penggunaan nama langsung terhadap simbol tertinggi negara sahabat oleh seorang Seskab adalah cermin dari dangkalnya literasi diplomatik. Sebagai pejabat tinggi yg melekat pada lingkar utama kekuasaan, Seskab Teddy seharusnya memahami bahwa setiap kata yg keluar dari mulutnya membawa beban representasi negara. Menyebut nama Kaisar Naruhito tanpa embel-embel "Yang Mulia" bukan sekadar menunjukkan keakraban yg dipaksakan, melainkan arogansi linguistik yang memalukan. Di panggung internasional, ketidakmampuan membedakan cara bicara di warung kopi dgn forum kenegaraan adalah sinyal ketidaksiapan mental & intelektual dlm mengemban tugas birokrasi tingkat tinggi. Tindakan ini merendahkan marwah diplomasi Indonesia & mempertontonkan defisit etika yg nyata. Jika seorang Seskab gagal menguasai tata krama dasar protokoler, hal itu memberikan kesan bahwa pemerintahan kita dikelola oleh individu yg tidak menghargai kedaulatan budaya bangsa lain. Diplomasi menuntut presisi, bukan sekadar gaya; dan dalam kasus ini, Seskab Teddy telah gagal memberikan rasa hormat yg menjadi hak dasar mitra internasional kita.

Indonesia
203
5.9K
28.2K
574.5K