Satria / RelayPoint

7.8K posts

Satria / RelayPoint banner
Satria / RelayPoint

Satria / RelayPoint

@relaypoint_

Learning & sharing about engineering, AI & business ⚡ Energy systems | PV | BESS 🏢 Training & consulting

Katılım Nisan 2021
2.9K Takip Edilen869 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Rp 600-900 juta kerugian. Dari satu peternak, di satu lokasi. Kandang ayam modern itu sistem hidup yang sepenuhnya bergantung pada listrik. Exhaust fan mati, suhu naik ke 40°C, ayam mati dalam 2-4 jam. Tidak ada redundancy karena grid selama ini dianggap reliable. Blackout Sumatera kemarin membuktikan betapa mahalnya asumsi itu.
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62

16.000 AYAM MATI KARENA LISTRIK PLN PADAM, SECARA UU BISA DITUNTUT !!! Foto yang menyertai postingan itu lebih menyayat hati dari kata-kata manapun: ribuan ayam broiler putih memenuhi lantai kandang, padat, siap panen dan kini terancam mati karena pemadaman listrik yang terjadi tanpa pemberitahuan. BERAPA KERUGIANNYA? MARI HITUNG DENGAN JUJUR 16.000 ekor ayam broiler "siap panen" adalah frasa yang memiliki nilai ekonomi yang sangat konkret. Ayam yang sudah siap panen berarti sudah melewati masa pemeliharaan 28–35 hari, sudah memakan pakan senilai ratusan juta rupiah, dan tinggal selangkah lagi dari keuntungan. Dari sisi biaya produksi, harga DOC (Day Old Chick) atau anak ayam 1 hari berkisar Rp 7.000–9.000 per ekor. Untuk 16.000 ekor: sekitar Rp 112–144 juta hanya untuk bibit. Biaya pakan selama 4–5 minggu untuk ayam siap panen sekitar Rp 25.000–30.000 per ekor, total sekitar Rp 400–480 juta. Biaya operasional lain seperti vaksin, listrik, tenaga kerja, dan obat-obatan sekitar Rp 50–80 juta. Total biaya produksi yang sudah dikeluarkan: sekitar Rp 560–700 juta. Dari sisi nilai jual, harga ayam hidup siap panen berkisar Rp 22.000–28.000 per kg, dengan berat rata-rata ayam broiler siap panen sekitar 1,8–2 kg per ekor. Nilai jual 16.000 ekor: sekitar Rp 633 juta hingga Rp 896 juta. Potensi keuntungan yang hilang ditambah modal yang terancam hangus: total kerugian bisa mencapai Rp 600–900 juta dalam satu siklus ini saja. Dan ini baru satu peternak, di satu lokasi, di Aek Nabara, Labuhan Batu. Berapa banyak peternak lain yang mengalami hal serupa di enam provinsi yang terdampak blackout Sumatera malam itu? KENAPA LISTRIK SANGAT KRITIS UNTUK PETERNAKAN AYAM? Ini yang perlu dipahami publik: kandang ayam modern bukan sekadar gudang dengan ayam di dalamnya. Ini adalah sistem hidup yang sepenuhnya bergantung pada listrik. Mesin overhead atau exhaust fan adalah sistem ventilasi yang menjaga sirkulasi udara di dalam kandang. Tanpa sirkulasi udara, dalam hitungan jam kandang bisa mencapai suhu 35–40 derajat Celsius. Ayam broiler sangat sensitif terhadap panas — mereka tidak berkeringat dan mengandalkan pernapasan untuk mengatur suhu tubuh. Ketika exhaust fan mati, ayam bisa mati massal akibat heat stress dalam waktu 2–4 jam. Selain exhaust fan, sistem pemberian pakan dan minum otomatis juga bergantung listrik. Pemanas untuk anak ayam kecil pun demikian. Semua lini kehidupan di dalam kandang modern terhubung ke satu sumber: PLN. SECARA HUKUM, BISAKAH PLN DITUNTUT? Ini pertanyaan yang paling penting dan jawabannya lebih kompleks dari yang terlihat. Secara hukum perdata, PLN sebagai badan usaha milik negara yang menyediakan layanan publik memang dapat dimintai pertanggungjawaban atas kerugian yang ditimbulkan akibat kelalaiannya. Dasar hukumnya ada di beberapa titik. Pertama, UU Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, khususnya Pasal 29 huruf b, yang menyatakan konsumen berhak mendapat ganti rugi apabila terjadi pemadaman yang merugikan akibat kesalahan dan atau kelalaian pengoperasian oleh pemegang izin usaha penyediaan tenaga listrik sesuai syarat yang diatur dalam perjanjian jual beli tenaga listrik. Kedua, Pasal 1365 KUHPerdata yang mengatur perbuatan melawan hukum siapapun yang karena perbuatannya menimbulkan kerugian pada orang lain wajib memberikan ganti rugi. Ketiga, UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999, yang mewajibkan pelaku usaha bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat layanan yang tidak sesuai standar. Namun ada satu hambatan besar dalam praktiknya: PLN selalu menyelipkan klausul force majeure atau keadaan kahar dalam perjanjian berlangganan. Gangguan pada sistem transmisi, kerusakan peralatan akibat faktor teknis, atau kondisi di luar kendali PLN sering diklaim sebagai force majeure yang secara hukum membebaskan mereka dari kewajiban ganti rugi penuh. Tapi force majeure tidak bisa diklaim sembarangan. Jika terbukti bahwa blackout Sumatera ini terjadi karena kelalaian manajemen

Indonesia
3
2
12
898
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
@rrrrrr2131 @tang__kira Petisi mereka bukan pajangan digital, tapi punya jalur birokrasi resmi yang memaksa parlemen wajib sidang jika tembus target angka. Tanpa integrasi hukum mengikat begitu, petisi cuma berakhir jadi arsip.
Indonesia
0
0
0
4
JustForMe
JustForMe@rrrrrr2131·
@relaypoint_ @tang__kira Sebenarnya iri sih karena sistem petisinya tuh bener-bener jelas dan suaranya sampe di parlemen.
Indonesia
0
0
2
32
Bintang
Bintang@tang__kira·
Petisi untuk pembatalan penayangan The Perfect Crown telah mencapai 100% ambang batas untuk dibahas di DPR Korea Seusai dengan UU yg berlaku, ketika ada 50 ribu warga yang menandatangani petisi dalam 30 hari. DPR Korea harus membahas hal tersebut dalam sidang/rapat Dewan. Sang pembuat petisi berargumen bahwa meskipun berlatarbelakang di korea fiksi, penggunaan baju, etiket, dan ekspresi ala tiongkok adalah distorsi sejarah dan menjadi dasar untuk cultural appropriation. Sang pembuat petisi juga menekankan bahwa konten untuk mengaburkan identitas nasional tidak bisa dibiarkan begitu saja, meskipun sudah dikoreksi dengan subtitle maupun diberi peringatan (kalau cuman fiksi). Sutradara Park Joonhwa, Writer Yoo Jiwoon, dan lead actor IU dan Byeon Wooseok sudah meminta maaf, namun MBC belum merilis pernyataan resmi. m.entertain.naver.com/now/article/44…
Bintang tweet mediaBintang tweet media
Indonesia
26
56
549
55.4K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Menurut kalian kenapa kultur "rapat meja bundar" itu gak efektif buat brainstorming? Secara operasi sistem otak, duduk diam itu menekan kreativitas. Makanya banyak problem besar justru ketemu solusinya pas jalan kaki. Desain ruang kerja modern kita emang banyak yang cacat fungsi.
Ihtesham Ali@ihtesham2005

A Stanford psychologist spent 4 years proving that the simple act of walking generates 60% more creative ideas than sitting, and the experiment she designed to kill every alternative explanation is one of the most decisive findings in modern psychology. Her name is Marily Oppezzo. She got the idea for the study while walking with her advisor at Stanford to discuss her thesis topic, and the paper she eventually published in the Journal of Experimental Psychology in 2014 is sharp enough that it should have ended the seated meeting on the day it came out. She ran 4 experiments on 176 people. Same person tested twice. Once sitting, once walking. The creativity tasks were the standard ones psychologists have used for decades to measure how good a brain is at generating novel useful ideas. The result was almost too clean to publish. 81% of participants in the first experiment produced more creative ideas while walking than while sitting. In the second experiment, 88%. In the third, 100%. Every single person walked into a more creative version of themselves. On average, people generated 60% more novel useful ideas the moment their legs started moving. The skeptical question is the obvious one. Maybe it was the fresh air. Maybe it was the scenery passing by. Maybe it was the change of environment doing the work, not the walking itself. Oppezzo killed every one of those explanations with one experimental decision. She put people on a treadmill facing a blank wall. No scenery. No fresh air. No environmental change. Just legs moving in place while staring at white drywall. The 60% boost held. Then she ran the experiment that closed the case completely. She took participants outside in two conditions. Half of them walked through a Stanford courtyard. The other half were pushed through the exact same courtyard in a wheelchair. Same outdoor stimulation. Same scenery passing at the same speed. The only difference was whether the legs were moving. The walkers produced dramatically more novel high-quality ideas than the wheelchair group. The outdoors did almost nothing on its own. The walking did everything. This is the part of the study that hit hardest when I read it the first time. She also tested the opposite kind of thinking. Convergent thinking. The kind where there is one right answer and you have to narrow down to it. Word puzzles where 3 words share a hidden fourth word that connects them. The seated participants did slightly better on these. Walkers got slightly worse. Walking is not a general intelligence enhancer. It does one specific thing. It opens up the divergent search inside your brain. The part that generates options. The part that produces unexpected connections. The part that takes a problem and finds five ways into it instead of one. When you need to converge on the single right answer, sit down. When you need to find the answer in the first place, get up. The mechanism is now well understood. Walking selectively activates what neuroscientists call the default mode network, the system inside your brain that runs when you are not consciously focused on anything. The DMN is where mind-wandering happens. Where memories cross-reference each other. Where ideas that have been sitting in separate folders inside your head finally bump into each other. When you sit at a desk and force yourself to concentrate, you suppress the DMN. When you walk at a natural pace, the executive part of your brain gets just busy enough handling the walking that the DMN comes online and starts doing the work that focus was blocking. The most useful finding in the entire paper is the one almost nobody quotes. The boost did not turn off the moment people stopped walking. Participants who walked first and then sat back down stayed elevated. Their next round of seated creativity work was still significantly better than people who had been sitting the whole time. The rest lingered for at least several minutes after the legs stopped moving. You do not need to do creative work while walking. You need to walk before the creative work. The brain holds the state. The history of this is the part that should haunt anyone who still does meetings in chairs. Charles Darwin built a gravel loop behind his house in Kent called the Sandwalk and walked it 3 times a day for the rest of his life. The theory of evolution was developed one lap at a time on that path. Nietzsche walked up to 10 hours a day during the years he wrote his most important books and openly said the work was conceived on his feet. Beethoven composed for the morning and walked for 5 hours every afternoon with a pencil in his pocket for when something landed. Kahneman said the best thinking of his Nobel Prize-winning career happened on leisurely walks with Amos Tversky. Steve Jobs refused to take important conversations sitting down. He held them on foot. Every one of them was using the system Oppezzo would not measure until 2014. They just did not know what to call it. The question worth sitting with is the one almost nobody asks. Every meeting you have ever attended sitting around a table was a meeting held at a fraction of the brain power that was actually available to the people in the room. Every brainstorm that got stuck inside a conference room. Every problem you tried to solve at a desk and gave up on. Every idea you could not quite get to. The intervention is the easiest one in modern science. No supplement. No app. No subscription. No training program. Just a pair of legs and 15 minutes. The Stanford lab proved it. The philosophers knew it. The neuroscience explains it. And almost everyone reading this is still trying to think their way out of problems sitting completely still.

Indonesia
0
0
0
10
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
@rasunasaidwhat_ @unmagnetism Begitu bahan baku impor melonjak, sistem keuangan perusahaan langsung defisit. Ujung-ujungnya tenaga kerja yang jadi bantalan terakhir buat nahan pendarahan operasional.
Indonesia
0
0
0
28
dins
dins@rasunasaidwhat_·
@relaypoint_ @unmagnetism kantor ku sebelumnya sampe defisit kak karna bahan bakunya impor, akhirnya karyawan dikurangi. Manufaktur baja btw
Indonesia
1
0
1
49
unmag
unmag@unmagnetism·
dollar sudah menyentuh Rp17.855😱😱😱
Indonesia
129
20
201
46.6K
Extra Time Indonesia
Extra Time Indonesia@idextratime·
🚨 1 dollar sempet nyentuh 17.830 ternyata 😭😭😭
Extra Time Indonesia tweet media
Indonesia
47
13
157
12K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
@kiatania85 @tang__kira Begitu pikiran sudah terjebak dalam bias politik, empati dasar manusia otomatis langsung eror dan mati fungsi demi memenangkan ego kelompoknya
Indonesia
0
0
2
70
Bintang
Bintang@tang__kira·
Seungjoon, aktivis asal Korea yang sempat ditangkap oleh tentara Israel akhirnya bebas dan kembali ke Korea Seungjoon (Jonathan Victor Lee), aktivis Palestina asal Amerika yang merupakan keturunan Korea dan sempat ditangkap oleh IDF akhirnya dibebaskan dan kembali ke Korea pada 25 Mei lalu. Seungjoon tiba di Korea pada 15:33 dari Thailand lewat penerbangan TG652 dan mendarat di Terminal 1 Incheon Airport. Kedatangannya disambut oleh 11 orang aktivis yang tergabung dalam Korean Federation of Freedom Flotilla for Palestine (KFFP).
Bintang tweet media
Indonesia
5
392
1.8K
38.2K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Di Korea, urusan menyinggung sejarah nasional itu adalah tombol bunuh diri buat bisnis. Konsumen di sana punya daya kompak boikot yang gak main-main. Makanya, jangankan level direktur, kelas pemilik konglomerat kayak Presiden Shinsegae pun harus langsung turun tangan buat minta maaf secara terbuka dan membungkuk dalam-dalam. Itu bukan cuma soal etika, tapi taktik operasional paling cepat buat menyelamatkan bisnis dari kehancuran pasar.
Indonesia
1
1
8
2.4K
Bintang
Bintang@tang__kira·
Presiden Shinsegae, Chung Yongjin, rilis permintaan maaf pada publik atas kontroversi Starbucks. “Ini sepenuhnya tanggung jawab saya. Shinsegae Group mengadakan konferensi pers di Josun Palace, Gangnam-gu, Seoul. “Marketing Starbucks Korea kali ini telah melukai banyak pihak dan membuat banyak orang marah. Kami menyikapi ini semua dengan serius. Sebagai Presiden Shinsegae Group, dengan segala kerendahan hati saya menundukkan kepala dan meminta maaf pada para korban Gwangju Uprising, warga Gwangju, dan seluruh masyarakat Korea.”
Bintang tweet media
Indonesia
7
20
139
31.6K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Ini namanya pinter memanfaatkan titik buta orang luar negeri. Di mata reviewer internasional, asal ada tulisan "State University", mereka langsung percaya itu kampus riset besar. Mereka gak bakal sedetail itu buat riset dan ngecek. Celah ketidaktahuan geografis kayak gini yang dieksploitasi pelaku buat bikin laboratorium fiktif demi dapet hibah gratisan.
archeerl@archeerl

kok berani-berani penipuan begini ya, itu UNY udah buka FK dari tahun 2023 !! gimana nih min @unyofficial jcehepatology.com/article/S0973-…

Indonesia
1
0
0
120
dina
dina@huffyalways·
@relaypoint_ @RidhaIntifadha karena prinsip scientist tuh: boleh salah, gaboleh bohong. jadi ga kepikiran bakal ditipu mentah2 gini😅
Indonesia
1
0
3
68
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Pemalsuan riset terorganisir yg baru ketahuan saat konferensi di Denmark ini jatuhnya WHITE COLLAR CRIMINAL. Saya pun penasaran jejaring pelakunya. Di akun IG w.o.d.d sebenarnya udah di-spill nama2nya. Tapi saya penasaran jejak digitalnya di internet. Dan ini yg saya temukan
M. Ridha Intifadha tweet mediaM. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
103
3.8K
10.6K
330.9K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Ini bentuk persona engineering yang rapi. Gimmick absurd itu cuma fungsi taktis untuk menembus algoritma perhatian publik (attention economy). Dia tahu kapan harus pakai mode hiburan dan kapan harus pakai mode kompetensi dasar. Tapi begitu topiknya menyentuh wilayah kesehatan atau isu substantif, sistem kognitifnya langsung melakukan context switching ke mode serius karena ada tanggung jawab validitas informasi di situ.
Indonesia
0
0
2
907
TIRTA
TIRTA@tirta_cipeng·
Momen dia serius ama random itu kaya tiba2 switch aja. Di belakang layar tiba2 pernah videocall orang2 yg ga aku kenal, trus aku dikenalin ke orng itu Sopo kui Wkwkwkw Tapi kalo kamu bahas soal kesehatan, rata2 dia baru serius.
alprettt@alfathsyf

@tirta_cipeng @alditaher_indo Serius nanya, Dok. Sebenernya Bang Aldi Taher selama ini gimmick kan? Masa iya orinya kek gitu...

Indonesia
78
241
6.1K
270.7K
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Kalo di conference itu biasanya ada 2 jenis: 1. Oral presentation. Kita sendiri presentasi di ruangan, ada chair/moderator dan ada audiens. Misal presentasi 10-15 menit. Tanya jawab 3-5 menit. 2. Poster presentation. Ini di ruangan ada banyak poster2 ditempel. Jadi kita authornya jagain or berdiri depan poster. Lalu orang2 keliling liat2 poster gitu kek pameran. Jadi bisa jadi gada yang nanya juga. Kita juga bahkan bisa aja kabur gak selalu berdiri disitu, jadi ga ditanya tanya orang. Intinya biasanya orang lain belum tentu paham riset kita karena riset mereka fokusnya beda. Jadi kecil kemungkinan ketauan kecuali emang ada orang yang risetnya juga topiknya sama. Itupun biasanya mereka kalo curiga nanyanya tetap sopan dan tidak akan nyecar gitu, belum lagi waktu keburu habis. Biasanya kalo ada yang curiga juga cuman “cukup tau aja”. Makanya salut buat mba W.O.D.D yang berani speak up dan mengangkat kasus ini.
.@3angelinazee

@ardisatriawan Kalau conference gitu . Audiens yang lain suka pada nanya gak sih.. klo data dia pada palsu apa gak kringat dingin tuh ngejelasinnya 🤕

Indonesia
9
178
927
92.8K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Soalnya di sana budaya tanggung jawabnya jalan, ada beban moral dan reputasi yang dipertaruhkan kalau sampai sistemnya crash. Kalau di sini kan urat akuntabilitasnya sudah putus. Gak ada sanksi yang bikin jera, makanya mau bikin error sekampung atau semutasi satu pulau pun ya posisinya tetap aman terkendali.
Indonesia
1
1
1
416
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
Orang-orang ini kenapa sih gampang bener mundur? Di suatu negara ada Dirut Perusahaan Listrik. Bikin mati listrik satu pulau. Mundur? Ngapain? Bikin mati listrik satu pulau lagi tahun depannya.
Ardianto Satriawan tweet media
Indonesia
74
834
1.5K
17.2K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Bisa banget, dalam dunia medis gak ada sistem yang 100% mutlak tanpa error rate. Kasus kayak gitu biasanya terjadi karena kondisi di mana jaringan tubuh secara alami menyambung kembali saluran yang sudah dipotong atau diikat. Makanya setelah prosedur steril, tetep wajib ada uji lab berkala di awal buat memastikan "pagarnya" beneran sudah rapat total dan gak ada kebocoran
Indonesia
0
0
2
2.1K
Bintang
Bintang@tang__kira·
Ternyata Kim Donghyun tau istrinya hamil anak keempat setelah vaksetomi. Sepulang dari melakukan vaksetomi di rumah sakit, istrinya tiba-tiba "Kamu bakal treat aku dengan baik kan??" Terus istrinya nunjukkin kalau dia positif hamil anak keempat. Ibunya dan ibu mertuanya cuman ketawa aja pas Kim Donghyun ngabarin anak keempat "Kenapa sih kamu kok mau-maunya melalui kesulitan ini lagi?" (ngurus anak bayi lagi) Anak keempatnya Kim Donghyun tuh laki-laki. Jadi punya 2 anak laki-laki & 2 anak perempuan. m.entertain.naver.com/now/article/07…
Bintang tweet media
Indonesia
17
57
2.6K
470K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Kalkulasi risiko yang sangat masuk akal di kondisi ekonomi sekarang. Daripada berspekulasi pindah ke sistem baru yang stabilitasnya belum teruji dan berisiko buntung di masa probation. Di pasar tenaga kerja saat ini, fungsi pertahanan (risk mitigation) sering kali memang harus didahulukan daripada fungsi ekspansi.
Indonesia
0
0
16
4.1K
Ali 👊🏻
Ali 👊🏻@mhuseinali·
In this economy… Udah nolak 4 offering letter karena lebih takut kena layoff pas masih probation di tempat baru, daripada kena layoff sekarang dan cair pesangon 🫠
Indonesia
5
9
335
37.3K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
@ardisatriawan Pertanyaan paling logis yang langsung bikin skakmat. Mana ada waktu buat eksperimen, ethical clearance, dan olah data riil kalau sebulan rata-rata 9 kali terbang
Indonesia
1
4
114
4K
Satria / RelayPoint
Satria / RelayPoint@relaypoint_·
Lebih dari 110 penerbangan per tahun itu bukan lagi skala perjalanan peneliti, tapi jadwal terbang flight attendant. Kebocoran anggaran grant sebesar ini bisa terjadi karena sistem seleksi global hanya mencentang kesesuaian format dokumen di atas kertas tanpa memeriksa kelogisan frekuensi output risetnya. Mirisnya, kuota dana terbang yang harusnya bisa dipakai oleh ratusan peneliti jujur malah habis buat membiayai liburan keliling dunia pelaku
Indonesia
0
4
41
2K