lux
33.7K posts

lux
@rendellux
||暗闇の途中で歩き続ける仙人|| ||百合賊|| ||百合盗賊|| ||She/Her||
Closet Katılım Ağustos 2023
85 Takip Edilen289 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet

Bakso besar, bihun, mie kuning, tahu goreng, pangsit goreng, siomay, bawang goreng, daun bawang, kuah, gak pakai sayur lain.
Eat Simple@eatsimple_x
Apa racikan bakso favoritmu guys? 🫵🏻
Indonesia

Ketoprak, soalnya ada bihunnya.
Aarav.@AaravMavren
kalian lebih suka gado-gado atau ketoprak?
Indonesia
lux retweetledi

Why Don't Catholics Celebrate Any Saints During Holy Week?
A quick look at the Catholic liturgical calendar might surprise you: during Holy Week (from Palm Sunday through Holy Saturday), there are no feast days honoring saints. No memorials, no optional celebrations, just the solemn focus on Christ's Passion, Death, and waiting for the Resurrection.
Do you know why?
Holy Week is the absolute heart of the Christian year. It commemorates the central events of our faith: Jesus' triumphal entry into Jerusalem, the Last Supper, His agony in the garden, betrayal, trial, crucifixion, and burial. These days form the Sacred Paschal Triduum, the "high holy days", where the Church invites us to enter deeply into the mystery of salvation.
The Church deliberately clears the calendar so nothing distracts from Jesus alone. Saint feasts, which normally enrich the year with examples of holy lives, take a back seat. The liturgy strips away extras: altars are bare, images and statues are often veiled during Passion tide, and the focus narrows entirely to the suffering and love of Christ.
This isn't new.
Even in older traditions, major saint feasts could sometimes occur in the lead-up to Holy Week, but once Palm Sunday arrives, the priority shifts completely. The Passion narratives dominate the readings.
Good Friday has no Mass at all,only the solemn Celebration of the Lord's Passion.
Holy Saturday is a day of quiet waiting, with the Church in stillness before the Easter Vigil explodes with joy.
It's a beautiful reminder: all the saints point to Christ.
Their holiness flows from His sacrifice. During these sacred days, we don't honor the saints instead of Jesus, we honor Him first and foremost, remembering that without His Passion and Resurrection, there would be no saints to celebrate at all.
After Easter, the calendar fills back up with joy and the witness of the holy ones.
But for now, in Holy Week:
Eyes on Jesus,
Eyes on the Cross
Eyes on the empty tomb to come.
Peace ➕

English
lux retweetledi
lux retweetledi

Facts every Catholic should know about the Holy Thursday;
On Holy Thursday during the Last supper, Jesus instituted the sacrament of Holy Orders when He said,
'Do this in memory of me'(Luke22:19).
This moment is considered the foundation of the Catholic priesthood,as Jesus gave His apostles the authority to Consecrate the Holy Eucharist .
2. The first Mass
The last supper wasn't just a meal,it was the very first Eucharistic Celebration. During the meal,Jesus instituted the Eucharist saying;
'This is my body, This is my blood'
Holy Thursday is also called Maundy Thursday from the Latin word 'Mandatum', meaning 'Command'
Jesus commanded his disciples to love one another and to continue celebrating the Eucharist as He did
3 The Washing of the Feet
Jesus washed the feet of his discplies,a task usually reserved for servants.
Through this humble act,He taught that true leadership is serving others.
4. The Eucharist is removed, and the Altar is stripped .
After Mass,the Blessed Sacrament is taken from the tabernacle and placed in a side Altar or a Chapel for adoration.
The Altar is stripped bare and decorations are removed,symbolizing Jeuss being taken away and left alone before His passion.
5.Start of the Sacred Triudum
Holy Thursday kicks of the Triduum-the 3 holiest days of the church year:
Holy Thursday, Good Friday and Easter .
It's not just a day but the start of Jesus journey to the Cross and the Resurrection.

English
lux retweetledi

@ItsAllGoodManFR Beneran gak bisa makan ini wkwk, sama kepiting juga.
Pernah coba yang dalam bentuk olahan macam dimsum pun, udah berasa sakit di tenggorokan dan mulai gatal
Indonesia

@rendellux Naurrrrrrr dari semua makanan... 😞🥀
Indonesia
lux retweetledi
lux retweetledi
lux retweetledi
lux retweetledi

Before the Portuguese captured Malacca, the 4 original Malay pot & pan methods, each with subtypes:
- Panggang (grilling)
- Singgang (boiling)
- Rendang (dry-fry, originally much drier)
- Pindang (low-water simmer until “dry” not singgang, originally less watery)
Puspa Wangsa@puspawangsa
Thread: History of rendang 🧵 1/ Rendang comes from an ancient Austronesian method. Key roots: dang = to dry (sun/heat) gang = to cook over fire → early ways to cook & preserve food
English
lux retweetledi

@himery_iddm I've always typed it with an English name first, like "Catholic Church in Tokyo" or "Tokyo's Cathedral" when searching it on a website, and then I'll search it on Google Maps.
For mass information, I'll click the website link that is attached to it.
English
lux retweetledi
lux retweetledi

Izin menjelaskan kenapa hasil gula darah berbeda setiap alat ...
Glucometer memang punya toleransi ±15%, beda sensor & kalibrasi, plus faktor strip dan cara ambil darah. Jadi angka bisa beda sedikit.
Gula darah normal sebenernya berapa sih ??
Patokan simpelnya ...
Gula darah puasa :
- Normal (puasa): <100 mg/dL
- Prediabetes: 100–125 mg/dL
- Diabetes: ≥126 mg/dL (harus konfirmasi ulang)
Kalau cek 2 jam setelah makan:
- Normal: <140 mg/dL
- Prediabetes: 140–199 mg/dL
- Diabetes: ≥200 mg/dL
Gula darah sewaktu (random):
- Normal: <140 mg/dL
- Prediabetes: 140–199 mg/dL
- Diabetes: ≥200 mg/dL (apalagi kalau ada gejala: sering haus, kencing, turun BB)
Prediabetes itu fase “abu-abu” belum sakit, tapi sudah mulai bermasalah.
Kabar baiknya masih bisa balik normal kalau diperbaiki dari sekarang.
Les Perles du 15 🚑@lesperlesdu15
La glycémie ou l'art du à peu presque
Indonesia
lux retweetledi

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, semoga Tuhan memberimu damai dan kebaikan.
Pada hari Rabu Pekan Suci ini kita semakin dekat dengan misteri sengsara Tuhan. Injil hari ini memperlihatkan kepada kita suasana menjelang pengkhianatan. Yesus mengetahui dengan jelas apa yang akan terjadi. Ia tahu bahwa salah seorang murid-Nya akan menyerahkan Dia. Ia tahu bahwa jalan yang ada di hadapan-Nya adalah jalan penderitaan dan salib. Namun Yesus tidak mundur. Ia tetap teguh melaksanakan kehendak Bapa. Apa yang Ia katakan kepada para murid sungguh terjadi seperti yang Ia nyatakan. Bahkan ketika Ia berkata bahwa salah seorang dari mereka akan menyerahkan Dia, peristiwa itu benar-benar terjadi. Yesus menghadapi semuanya dengan keteguhan hati dan ketaatan kepada Bapa-Nya.
Matius 26:14-25 membawa kita pada negosiasi paling tragis dalam sejarah peradaban. Yudas mendatangi para imam kepala dan melontarkan pertanyaan yang sangat bernuansa kapitalistik: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Kesepakatan jatuh pada angka 30 keping perak. Secara historis dan hukum Taurat (Keluaran 21:32), ini adalah harga kompensasi standar untuk seorang budak yang mati diseruduk lembu.
Adegan ini adalah sebuah absurditas tingkat tinggi. Sang Sabda yang menciptakan alam semesta, yang nilainya tak terhingga, direduksi secara sosiologis menjadi komoditas pasar yang sangat murahan. Yudas mengidap patologi psikologis yang sering kita temui di zaman modern: ia tahu harga dari segala sesuatu, tetapi tidak memahami nilai dari apa pun. Iman diubah menjadi proposal bisnis. Ketika Yesus di ruang perjamuan menelanjangi rencana ini, respons Yudas adalah manipulasi psikologis klasik: "Bukan aku, ya Rabi?" Sebuah penyangkalan defensif demi menyelamatkan citra diri di depan publik, sekaligus bukti kebusukan batin yang tersembunyi rapat di balik jubah kesalehan.
Sikap ini selaras dengan nubuat dari Nabi Yesaya. Di sana kita mendengar kata-kata yang sangat kuat: “Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Hamba Tuhan itu tetap setia walaupun harus menghadapi penghinaan, penderitaan, dan penolakan. Gereja melihat nubuat ini digenapi dalam diri Yesus. Ia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh adalah jalan salib, tetapi Ia tidak menghindarinya. Ia menghadapi semuanya dengan ketaatan penuh kepada kehendak Bapa.
Karena itu kisah Yudas bukan hanya kisah tentang pengkhianatan seorang murid. Kisah ini juga memaksa kita berdiri di depan cermin realitas yang memalukan. Kita sering kali memosisikan diri sebagai hakim atas Yudas, seolah-olah pengkhianatan adalah hak paten eksklusif miliknya pada dua ribu tahun yang lalu. Namun, jika kita membedah keseharian kita dengan pisau kejujuran, maka mungkin kita tidak jauh beda dari Yudas, karena sering kita melakukan "transaksi gelap" yang serupa.
Setiap kali kita mengompromikan kebenaran demi promosi jabatan, (ingat ada begitu banyak orang Kristen meninggalkan imannya demi jabatan & harta duniawi) setiap kali kita memanipulasi sesama demi keuntungan finansial sesaat, atau setiap kali kita mengabaikan suara hati nurani demi sekadar penerimaan sosial (social acceptance), kita sesungguhnya sedang mengantongi 30 keping perak kita sendiri.
Saudara-saudari terkasih,
Rabu Pekan Suci ini mengajak kita untuk memeriksa kembali hati kita sendiri. Apakah hati kita tetap tinggal dalam terang Tuhan, ataukah perlahan-lahan menjauh dari-Nya? Jika kita pernah jatuh, jangan pernah kehilangan harapan. Jangan biarkan keputusasaan menutup hati kita dari belas kasih Tuhan.
Yesus tetap setia melaksanakan kehendak Bapa sampai akhir, walaupun Ia tahu bahwa jalan itu akan membawa-Nya kepada salib. Kesetiaan itulah yang membuka jalan keselamatan bagi dunia. Semoga kita pun belajar berjalan dalam terang Tuhan, dan selalu percaya bahwa kasih dan belas kasih-Nya lebih besar daripada dosa manusia. Amin.

Indonesia
lux retweetledi
lux retweetledi

Coba liat aja, berapa kali orang di sosmed, saat mereka mengkritik isi buku malah menyamakan pendapat karakter fiksi dengan ideologi si penulis?
Kalau karakter utama psikopat, dikira penulis pro-kejahatan; Kalau ada karakter punya sifat buruk A, B, dan C, dikira penulisnya menyokong perilaku A, B, dan C. Karakter utamanya penuh khayalan & menolak realita? Dikira penulis mendukung khayalan tersebut
Cara membaca kritikus2 begini sangat simplistik, kayak anak SD yang baca kutipan cerita di buku paket sekolahnya, seolah-olah tafsiran cerita selalulah "perilaku karakter ini boleh ditiru", jadi begitu ada karakter yang morally flawed, langsung dipikirnya penulisnya juga begitu
Kritikus2 begini tak bisa mikir dikit aja; Tak pernah terpikir: "Oh karakter ini sengaja digambarkan jahat & munafik sebagai bentuk kritik sosial, perilaku ini tak pantas diikuti"
Jean-Pierre Clotaine@jpclotaine
Banyak orang ga bisa baca dan menafsirkan isi literatur sesuai konteksnya, tapi pede banget pas ngomong dan mengkritik. Masih mending kalau terjadi sesekali aja (wajar, orang pintar pun kadang ga fokus). Lah ini konsisten gagal pahamnya 😂
Indonesia










