
Zona Istirahat
64.7K posts




jalan siang siang juga gua hajar kalo di bandung mah



Penjelasan KDM soal Gasibu ini berubah-ubah, ini menunjukan jika perencanaan revitalisasi kawasan ini tidak dibuat dan dipikirkan secara matang Ini @dprdjawabarat mau diam saja gitu? Makan gaji buta? Hih






PP tahun 1987 teu dibarengan rencana tata ruang jeung jaringan jalan. Bayangkeun komuter sa Bandung Timur numplek di dua jalan utama (da eweuh deui). Terus alur ti dua jalan utama ngahiji di Cinunuk, DUAAARRRR

@SarjanaEksu lebih yakin BUMI balik 400 an even Up, daripada BBCA apalagi BUMN bank balik ATH nya. Yang minus 20 persen BBCA Skrang. Pindah ke BUMI, di rentang waktu sama (akhir tahun) udah balik modal plus untung untungnya.

DKI ini udah kayak negara sendiri. Diterjang efisiensi pun tidak goyah bun.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akan gratiskan 103 sekolah swasta di Jakarta, gelontorkan dana Rp253, 6 Miliar.

Hit me with a random fact:

bukan di sekitar aku tapi waktu ke Bandung cobain tempat makan ayam goreng ENAKKK banget.. Sekarang nyari di jakarta ada yang jual kayak gini gak😭😭 Namanya ayam goreng seruni


nomor 3 betul. klo invest leher keatas di suatu hal bisa: - naikin probabilitas income lo naik 3 kali lipat sebanyak 30%, dan - menghemat waktu trial-error sendiri beberapa bulan itu aja udah worth it. inget resource paling langka dan berharga yang lo punya adalah waktu.

semua opini tentang perokok

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Karena ramai sekali di linimasa... Saya coba menonton jawaban Prof. Stella Christie, khususnya soal Market Value di kalangan teman-teman @direktoridosen Q: Seandainya Prof Stella dikasih wewenang untuk membuat kebijakan yang seluas-luasnya. Apa yang pertama kali diubah atau dibikin, diperbarui based on your background? Kalau tidak ada obstacle soal anggaran, enggak ada birokrasi lah. Seorang peneliti itu ada kegeraman individu karena kita sudah tahu knowledge-nya, tapi praktiknya tidak begitu A: Wah ini bisa panjang. Tapi saya kasih yang pendek ya, yang paling penting. Talent Development. Dan saya akan bahkan khusus untuk universitas kita. Kita belum sepenuhnya menghargai secara tepat betapa pentingnya talent kita di Universitas. Artinya pada saat ini, ada suatu problem yang jarang diketahui oleh publik, yaitu begitu sulitnya seorang dosen pindah dari suatu PTN ke PTN lainnya. Dan ini tidak terjadi di negara yang saya sudah lama, seperti di Amerika Serikat maupun di Tiongkok dan saya sangat tahu tentang iklim Eropa. Kalau di tempat-tempat lain, masing-masing individu dosen itu mempunyai kekuatan karena dialah yang menghasilkan hasil riset, dialah yang sungguh-sungguh dicari oleh universitas. Jadi kalau seorang yang sangat mampu, yang sangat berhasil meritokrasi ini, nanti akan dicari oleh Universitas lain, ditawarkan gaji yang lebih tinggi. Di sini susah, karena kita pakai sistem PNS yang semuanya sama rata gitu. Kita harus memberikan market value kepada talent kita terutama di akademia. Tentu saja banyak yang kita bisa ubah. Tapi kalau di swasta, ini sudah market value. Di akademia, di Indonesia, kita belum. Dan ini luar biasa, menjadi impediment kita untuk menghasilkan industri dan perekonomian berbasis sains dan teknologi. Karena kalau kita tidak mempunyai market value terhadap talent kita, terhadap dosen-dosen kita... mereka tidak akan berlomba-lomba menghasilkan pemikiran dan inovasi yang paling baik. Saya gampang saja. Kalau kita tanya, apakah kita punya startup industry yang berbasis teknologi di Indonesia. Tidak ada. Korea punya Samsung. China punya ya sudah tidak disebut lagi, punya banyak banget, Huawei. Tentu saja industri paling maju pada saat ini, paling masif dan banyak uang adalah industri AI, berbasis teknologi. Semua itu berbasis riset. Kita tidak punya itu, atau masih sangat sedikit. Karena kita tidak punya riset yang kompetitif. Kenapa kita risetnya tidak kompetitif, bukan karena dosen-dosen kita tidak mampu, mereka sangat mampu. Tetapi mereka tidak punya insentif untuk menghasilkan yang paling kompetitif karena mereka bahkan untuk bisa dipindah dari satu universitas ke universitas lain itu pun sulit. Jadi ekosistem... beberapa sudah saya mulai, insentif untuk melakukan riset yang terbaik. Insentif finansial kepada orangnya. Kemampuan ini sebagai di-market value. Jadi apa yang mereka kerjakan itu harusnya di-value oleh market dengan sekian. Kita harus bisa berani menginvestasikan, mendatangkan, atau memberikan gaji dan remunerasi yang setara dengan yang dihasilkan. Secara gampang adalah kita belum menghasilkan sesuatu yang kompetisi berdasarkan kualitas di universitas kita. Q: Jadi poinnya adalah memberikan apresiasi by market. Jadi setiap individu itu didorong untuk bisa menghasilkan riset berkualitas dengan insentif yang lebih baik gitu. Jadi itu misinya Prof Stella sekarang. A: Ya itu misi saya. Udah satu yang sudah saya kerjakan. Saya berhasil mengubah, tentu saja dibantu oleh seluruh teman-teman di Kementerian, berhasil mengubah regulasi. Tadinya kita tidak diperbolehkan untuk memberikan insentif finansial bagi dosen-dosen yang memenangkan riset grant funding dari Kementerian. Sejak Januari tahun ini, itu sudah diubah dan teman-teman kita yang berhasil memenang riset grant, mereka mendapatkan insentif finansial langsung kepada dirinya. to the pocket Q: Jadi sekarang dosen, penghasilannya mungkin harusnya lebih baik. Dosen yang berprestasi A: Yes, dosen yang berprestasi. Ini mungkin saya mungkin bicara blak-blakan. Banyak keluhan, mungkin kemarin juga kita lihat ada di koran, berita di PTS Perguruan Tinggi Swasta bahwa gaji-gaji dosen ini miris ya. Yang akan saya bicarakan ini mungkin akan dapat banyak hujatan. Tapi begini, saya sangat mengerti kemirisan ini. Tetapi, terus terang teman-teman, kita tidak bisa menyelesaikan kemirisan gaji ini hanya dengan menetapkan misalnya batas... oke, harus setidaknya sekian. Karena, ini berarti kita lagi-lagi tidak memakai market value. Kita harus... perguruan tinggi kita harus berkompetisi. Dan gaji dan remunerasi itu harus berdasarkan kualitas dan kompetisi. Jadi, bukannya saya tidak prihatin. Sangat prihatin. Tetapi yang kita ingin lakukan adalah bagaimana membentuk ekosistem agar remunerasinya itu lebih tinggi dan setara dengan kualitas yang dihasilkan. Dan jangan sampai ada satu yang tidak pernah tersebut, tetapi saya ingin menyebutkannya. Di Indonesia ini, kita berpikir akademia, universitas, perguruan tinggi itu adalah suatu yang notabene-nya harus dikerjakan tanpa kompetisi. Jadi harus disediakan anggarannya, semuanya harus mendapatkan, terbagi-bagi. Dan tidak sama dengan persaingan industri, persaingan di swasta. Itu adalah suatu pemikiran yang menurut saya, sama sekali salah. Kemajuan sains dan teknologi di semua negara itu karena kompetisi. Dan inilah yang harus kita akui. Dan kalau kita mau menjadi bangsa maju, kita harus bersama-sama untuk 'ayo, kita mau berkompetisi'. Jangan takut kompetisi. Dan jangan berharap dan jangan memikirkan bahwa karena itu di Perguruan Tinggi, tidak perlu kompetisi.


Ok fitur Bandar/Action bisa bantu kita apa saja? 👇👇👇 1. Scalping Awal Market🕘 Udah sering aku jelasin ya Segitiga ke kanan itu kunci. Aku kemarin baru scalping di RATU. Jadi waktu pagi2 BANDAR ke kanan, ritel ke kiri, harga lagi turun awalnya. Aku lebih suka yg gini. Kriteria org beda2 ya. Langsung gercep aku masuk aja. Dan kejual di 6750, dari buy 6625. Scalping harus cepet2 ya guys.

Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok Wamendikti Goblok

@RestuAwalliddin serius nanya, gub harapan pendukung persib itu yg seperti apa, atau, realnya: siapa?
