zid riz

3.3K posts

zid riz banner
zid riz

zid riz

@riz_zid

benci munafiqun

Gurun sbg Kadal Katılım Ağustos 2022
316 Takip Edilen64 Takipçiler
Denis Malhotra
Denis Malhotra@denismalhotra·
Pace dengan santai menjawab, “Ah tidak, sa memang sengaja minum cepat-cepat,” kemudian menunjuk ke papan harga minuman, “karena kalau dingin nanti harga berubah [teh panas Rp2.500, teh dingin Rp4.000].”
Indonesia
0
0
0
153
Denis Malhotra
Denis Malhotra@denismalhotra·
Ini kayak MOP tentang seorang pace memesan teh hangat di sebuah warung. Begitu teh tiba di meja, pace langsung menenggaknya satu napas sampai habis. Pelayan yang kaget sontak bertanya, kenapa minum buru-buru, pace, apa tidak takut lidah melepuh?
Mbak kun@empty__core

Lah??

Indonesia
1
2
4
904
zid riz
zid riz@riz_zid·
@sarbinsimarmata @DokterTifa Pembohong, pembual, pengkhianat.... dan yg terakhir PENGECUT!... Gelar yg akan dikenang dalam sejarah bangsa ini.
Indonesia
0
0
2
287
Rados Naga Rimba
Rados Naga Rimba@sarbinsimarmata·
@DokterTifa Bila undang undang mengatakan Jokowi bisa tidak hadir ngapain harus hadir? Siapa kau rupanya maka selera mu harus dituruti. Kalau bisa hanya lawyer Jokowi kenapa?
Indonesia
14
0
8
2.1K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
"Anda bisa menipu semua orang untuk sementara waktu, dan sebagian orang untuk selamanya. Namun, anda tidak bisa menipu semua orang untuk selamanya" (Abraham Lincoln) Jika ada persidangan atas Laporan Polisi anda kepada saya, pak Jokowi, anda harus datang. Tidak bisa mangkir. Kemarin-kemarin anda bisa mangkir. Tetapi untuk Laporan Polisi yang anda buat dengan nama saya, persidangan akan membuat anda HARUS HADIR sebagai saksi pelapor. Dan, atas 709 dokumen yang disita oleh POLDA dan disiapkan menjadi barang bukti, saya sudah siapkan lebih dari 2.000++ pertanyaan yang harus anda jawab secara langsung, tidak bisa diwakilkan. Dan persidangan WAJIB terbuka, sehingga 280 juta rakyat akan mendengarkan jawaban anda atas 2.000++ pertanyaan saya atas 709 dokumen itu. Dan saya pastikan, butuh sekitar 4 tahun sidang bahkan lebih untuk menyelesaikan 2.000 pertanyaan itu. Belum lagi pertanyaan saya terhadap 130 saksi yang meringankan anda. Saya sebagai tersangka, berhak untuk bertanya kepada mereka di persidangan nanti, dan mereka WAJIB menjawab semua pertanyaan saya. Setiap saksi akan saya tanya tiga hari tiga malam sampai saya puas. Saya sudah menduga siapa saja mereka: orang-orang yang mengaku-ngaku sebagai teman kuliah, teman KKN, teman SD, SMP, SMA, Guru-guru, Dosen-dosen, saya sudah membuat daftar siapa saja mereka, sudah saya buat profil mereka, sudah saya investigasi mereka, dan dengan ilmu Neuroscience saya sudah bisa mengidentifikasi jawaban dan penjelasan apa yang dicangkokkan di otak mereka. Saya pastikan saya akan bikin mereka terkencing-kencing dengan ribuan cecaran pertanyaan saya, selama berhari-hari, selama bertahun-tahun. Dan pada satu titik di antara hari-hari sidang itu, KEBENARAN yang semurni-murninya, sejelas-jelasnya, seterang benderangnya, tentang Ijazah anda, juga masa lalu anda, juga siapa sebenarnya anda, akan terbuka. Jika anda tidak mencabut Laporan Polisi anda, mari kita siapkan kesehatan fisik, kesehatan mental, kesehatan otak, dan kesehatan jiwa, untuk menjalankan persidangan, yang akan saya buat sangat panjang dan sangat lama, sangat rumit, sangat complicated, sangat menghabiskan dana negara, dan sangat membuat siapapun Lansia dengan penyakit Autoimun berat, tak akan sanggup menghadapinya. Anda menuduh saya dengan pasal bukan main-main. Pasal dengan ancaman hukuman 6 tahun, 8 tahun, 12 tahun. Artinya anda ingin menghancurleburkan, menghabisi hidup saya, itulah kekejaman dan kejahatan yang luarbiasa dilakukan oleh mantan Presiden kepada rakyatnya yang bertanya atas sebuah Dokumen Publik: Ijazah Presiden. Karena itu, dengan segenap kekuatan batin, kekuatan jiwa, kekuatan otak dan kecerdasan saya, akan saya hadapi anda di pengadilan, jika memang anda ingin pengadilan terjadi. Ingat, Laporan Polisi anda yang buat, maka, anda pak Jokowi, HARUS HADIR!
Dokter Tifa tweet mediaDokter Tifa tweet media
Indonesia
395
1K
2.9K
39.8K
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
BREAKING: Mahasiswa demo di Kementerian Pendidikan desak program MBG dihentikan
Indonesia
352
15.1K
46.6K
759.7K
zid riz retweetledi
@Topi_Merah Influenza pilek
MENGINGAT LUPA TENTANG FITNAH ROY PANCI...ULAH PARA TERMUL
Indonesia
19
186
442
6.1K
white_ranger
white_ranger@white_ranger_85·
@AraituLaki Kamu enggak tau SOP ya, itu prosedur, sekretaris kabinet bertanggung jawab atas kondisi dan situasi di dalam mobil, memastikan tidak ada barang berbahaya di dalam nya yang bisa mencelakakan presiden
Indonesia
4
0
1
1.4K
TahooMan™️
TahooMan™️@AraituLaki·
Kalo Udah Ngambek… Mo di depan Banyak orang mah Bodo Amat, Langsg aja DULUAN MASUK MOBIL‼️ Perempuan mah gitu….🫢😮‍💨
Indonesia
524
1.9K
5.9K
364.3K
Semut Hitam
Semut Hitam@SemutHitam80008·
@liputan6dotcom Jujur sajalah, di desa2 MBG itu bermanfaat sekali, tapi bagi lawan politik bowo ini kesempatan buat ngegasaknya.
Indonesia
13
0
0
758
Suaminya Icha
Suaminya Icha@nona_icha7486·
@DokterTifa Ngaku ngaku dokter. Bukannya praktek nyembuhin orang sakit malah ngelonte di X. Tifaaa tifaaa. Hatimu sudah terlalu busuk. Kepengen bener lu disebut pahlawan? Corong masyarakat anti jokowi? Haha. Buka saja lah jilbabmu itu. Ngelonte gak usah tanggung tanggung.
Indonesia
19
0
17
2.7K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Penghinaan paling sadis, paling brutal, paling biadab dari Fufufafa alias Gibran, tanpa tedeng aling-aling, straight to the head, kepada Presiden Prabowo Subianto. Alih-alih ditakedown, pelaku bukan saja dibiarkan. Malah diberi jabatan Wapres.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
221
1.5K
3.9K
53.9K
Miss Tweet |
Miss Tweet |@Heraloebss·
Tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Sayangnya aki-aki satu ini cuma dapat umur saja.
Indonesia
353
62
323
329.3K
Dokter Tifa
Dokter Tifa@DokterTifa·
Seandainya ada sidang Ijazah Jokowi Tentang IP ini tentu jadi salah satu bagian yang bakal saya cecar kepada pak Jokowi di ruang sidang, jika memang ada sidang Bukan hanya soal keganjilan 3 nilai IPK yang berbeda yang diklaim sebagai nilai milik Joko Widodo IPK pertama dengan nilai IPK <2,00 adalah nilai yang dinyatakan Joko Widodo sendiri di tanggal 29 Juni 2013. IPK kedua dengan nilai IPK 3,05 dinyatakan oleh Bareskrim tanggal 22 Mei 2025 iPK ketiga dengan nilai IPK >2,5 dinyatakan oleh Rektor UGM tanggal 28 November 2025 Maka dengan senang hati saya akan menyiapkan 200an pertanyaan seputar IPK ini, jika memang ada ruang sidang kasus Ijazah. Pelapor, saya pastikan hadir. Jika tidak, dia tidak lebih dari seorang Penipu.
Dokter Tifa tweet media
Indonesia
392
1.2K
3.4K
61.5K
zid riz retweetledi
Minda 🦅
Minda 🦅@MindaXtv·
Saat lagu ini dinyanyikan Ungu, rasanya biasa² aja, tapi ketika Kakek ini menyanyikannya dg sepenuh hati, sungguh menyentuh hati ... 😭
Indonesia
35
232
952
32.5K
arik_suryo GUSDURIAN
arik_suryo GUSDURIAN@arik_suryo·
@DokterTifa Ya sudah Bu dokter lanjut aja kalau penelitian anda benar jangan kayak roi panci.. pengen bebas aja hehehe tapi omong omong yang diteliti bukan ijasah asli masak bisa membuktikan kalau itu ijasahnya palsu 😀 pengen meneliti piring kaca tapi yang diteliti piring plastik hehehe
Indonesia
17
1
8
3.5K
BP™
BP™@BangPino__·
Dahlah... Nyesel foto bareng pak Anies... 🤣🤣
Indonesia
307
3.2K
19.5K
328.5K
zid riz
zid riz@riz_zid·
@prabowo Apakah mbg bermanfaat?....... "TIDAAAK!!! "
Indonesia
0
0
0
14
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto@prabowo·
Selamat Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026.
Prabowo Subianto tweet media
Indonesia
1.1K
250
1.4K
179.8K
JokoWowo
JokoWowo@MrMjab0001·
@JkntolwihDongo @riz_zid @kang___L Nazi membunuh sesama bangsa Jerman itu namanya genosida, kalau kerang seperti penjatuhan bom Hiroshima dan Nagasaki yang mana ada yang bilang itu genosida yang ada itu perang
Indonesia
2
0
0
18
L
L@kang___L·
Kira² kapan di cetaknya?
L tweet media
Indonesia
747
660
2.1K
303.8K
pena kantor 🍉
pena kantor 🍉@pena_kantor·
@Iqbalnyamala Nafas dulu nder, jangan nafsu matahkan argumen dulu 😂 skrng alasannya GK SEMPAT??? Ngurus 1 sungai gk mampu? Jokowi ngatur venue di 2 kota yg mendadak kok bisa? Kenapa? kerjanya lamban ya? Ohh iya lupa, dulu pernah jd bawahannya Jokowi tp dipecat. Uppsss
Indonesia
5
0
0
1.8K
Beternak Kelulut
Beternak Kelulut@Iqbalnyamala·
Dulu ARB diejek karena idenya menggunakan waring untuk mengurangi bau yang keluar dari parit. Gw coba jelasin secara ilmiah, termul dan pendukung gubernur bokep nggak percaya, maklumlah IQ 78. Ternyata sekarang ide itu diterapkan di luar Jakarta.
Beternak Kelulut tweet media
Indonesia
129
297
4K
389.8K
zid riz
zid riz@riz_zid·
Dan aparat melarat keparat pengkhianat yg masih getol menghamba kpd rezim bejat!!
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia. Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026. Dan datanya bukan dari sembarang sumber. Dari Forbes. Dari LHKPN. Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah. Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas: 50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026. APBN Indonesia? Rp3.800 triliun. Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh. Satu tahun. Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu. Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari. Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam. Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri: Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih. Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang. Dua belas orang. Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun. Siapa? Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma. Ada juga Menteri Perumahan Rakyat. Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya. Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri: Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI. Dua ratus lima puluh dua tahun. Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun. Itu bukan angka. Itu absurditas. Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri. Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama. Di antara satu korps yang sama. Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya: Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili. Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta. Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili. Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak. Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap: Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa? Rp93 triliun per tahun. Sembilan puluh tiga triliun. Setiap tahun. Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang. Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar. Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun. Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh. Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan. Hanya dari 50 orang. Hanya 2%. Per tahun. Tapi itu tidak terjadi. Dan Celios menjelaskan kenapa: Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan. Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi. Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan. Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh. Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini: Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir. Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki. Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan. Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas. Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian. Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret: Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen. Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek. Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya. Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan. Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama. 50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya. Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini. Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya. Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.

Indonesia
0
0
0
11
zid riz retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia. Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026. Dan datanya bukan dari sembarang sumber. Dari Forbes. Dari LHKPN. Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah. Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas: 50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026. APBN Indonesia? Rp3.800 triliun. Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh. Satu tahun. Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu. Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari. Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam. Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri: Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih. Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang. Dua belas orang. Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun. Siapa? Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma. Ada juga Menteri Perumahan Rakyat. Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya. Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri: Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI. Dua ratus lima puluh dua tahun. Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun. Itu bukan angka. Itu absurditas. Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri. Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama. Di antara satu korps yang sama. Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya: Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili. Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta. Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili. Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak. Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap: Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa? Rp93 triliun per tahun. Sembilan puluh tiga triliun. Setiap tahun. Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang. Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar. Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun. Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh. Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan. Hanya dari 50 orang. Hanya 2%. Per tahun. Tapi itu tidak terjadi. Dan Celios menjelaskan kenapa: Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan. Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi. Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan. Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh. Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini: Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir. Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki. Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan. Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas. Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian. Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret: Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen. Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek. Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya. Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan. Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama. 50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya. Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini. Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya. Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
Lambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet media
Indonesia
226
4.1K
7K
212.2K