🍞🫘🥛

254 posts

🍞🫘🥛 banner
🍞🫘🥛

🍞🫘🥛

@roti0les

akun baru netes🍳

Katılım Nisan 2026
61 Takip Edilen37 Takipçiler
🍞🫘🥛 retweetledi
Cow
Cow@haloopulici·
gw tebak, duluan idr 19k daripada 19 juta lapangan kerja itu
Indonesia
233
9.3K
33.9K
272.6K
🍞🫘🥛 retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media. Letkol Teddy Indra Wijaya. Sekretaris Kabinet. Bukan menteri. Bukan jenderal bintang empat. Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas. Apa yang terjadi di bencana Sumatra dan di mana Teddy masuk: Akhir November 2025. Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BMKG sudah memberikan peringatan delapan hari sebelumnya. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat. Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa. Rapat soal koperasi. Ketemu Menteri Kelautan. Menerima Ratu Belanda. Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar. Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang. Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh. Lebih dari tiga minggu di lapangan. Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan. Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat. Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi. Rina melakukan siaran langsung. Dia tumpahkan semua yang dia lihat. Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet menonton siaran itu dari Jakarta. Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk. Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti. Bukan insiden tunggal ini pola: Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa. Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon. "Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya." "Tapi memang belum ada bantuan. Faktanya begitu." "Cerita soal dampaknya aja. Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk." Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja." "Maksa banget," kata Indira. Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar: Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman. Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Yang ada adalah telepon. Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu. Tidak perlu SK. Tidak perlu aturan resmi. Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan. Apa yang dilakukan Teddy? Persis sama. Menelepon pemilik media. Mengamuk. Meminta pemred diganti. Tanpa surat resmi. Tanpa proses hukum. Cukup satu telepon. Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain: Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo. Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda. Lebih profesional. Lebih terukur. Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif, bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana. Bukan mengontrol berita palsu. Bukan melawan disinformasi. Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang. Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli: Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab. Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada bantahan. Hanya diam. Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan. Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar. Dan sistem seperti itu pernah kita kenal. Namanya Orde Baru. Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
102
1.5K
2.8K
109.3K
🍞🫘🥛
🍞🫘🥛@roti0les·
BUKA X ENERGI GW KEKURAS ABIS ANJ
Indonesia
0
0
0
2
🍞🫘🥛 retweetledi
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
Rupiah Melemah, Prabowo: Selama Purbaya Senyum, Tenang Saja "Purbaya sekarang populer banget. Selama Purbaya bisa senyum, tenang aja enggak usah kalian khawatir itu."
tempo.co tweet mediatempo.co tweet media
Indonesia
405
421
3.4K
483.5K
🍞🫘🥛
🍞🫘🥛@roti0les·
@madebyshunda ada 3 kemungkinan, buzzer malu ngeliat kelakuan wowok, dana buzzer menipis, mungkin dah sadar & nyesel milih wowo(?)💆
Indonesia
0
0
0
180
🍞🫘🥛 retweetledi
A Professional Overthinker
A Professional Overthinker@rizalakbarm_·
prabowo nih ditanyain soal IHSG anjlok bilangnya "rakyat desa ga main saham", sekarang pas rupiah lagi lemah ngomongnya "rakyat desa nggak pakai dollar". rakyat desa rakyat desa mulu ajg, lu itu presiden bgst, bukan lurah.
Indonesia
302
23.3K
48.8K
483.5K
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto@prabowo·
Kondisi rupiah saat ini adalah bukti ekonomi bangsa telah salah urus bung @DavidEfendhi. Hampir semua nilai tambah, dinikmati bangsa asing.
Indonesia
2.5K
18.3K
20.9K
0
🍞🫘🥛
🍞🫘🥛@roti0les·
@tanyarlfes mana kemarin yg milih 02 krn gibran ganteng, dia nolong kalian ga? cuih
Indonesia
0
0
0
673
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 harus nunggu sampe segininya dulu baru pada setuju ya 😭
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
200
1.1K
12.8K
151.7K
🍞🫘🥛
🍞🫘🥛@roti0les·
@tanyarlfes jokowi harus nunggu beberapa tahun baru keliatan busuknya. si wowok dari pilpres kemarin udah keliatan busuk, plenger & dongo
Indonesia
0
0
1
560
🍞🫘🥛 retweetledi
Low33
Low33@LowL0ck·
@TxtdariHI Bagi sebagian org, butuh 2-3 tahun utk sadar kalo Mulyono itu bajingan..Tapi cuma hitungan hari utk sadar kalo wowo ini bangsatnya luar biasa
Indonesia
5
104
1.3K
42.4K
TxtdariHI
TxtdariHI@TxtdariHI·
Wallahi we are finished
TxtdariHI tweet media
English
2.9K
16.8K
49K
1.3M
🍞🫘🥛
🍞🫘🥛@roti0les·
@tanyakanrl HAHH PERASAAN DULU PAS SD MASIH 15K😭😭😭😭😭😭😭
Indonesia
0
0
0
58
Tanyarl 💚
Tanyarl 💚@tanyakanrl·
💚 mampir ke gramed dan syok banget sekarang komik semahal ini??😭
Tanyarl 💚 tweet media
Indonesia
900
722
9K
381.9K
🍞🫘🥛
🍞🫘🥛@roti0les·
@ARSIPAJA tp jujur semenjak rupiah melemah & prabowo makin pleger, buzzernya pada menghilang even di tiktok. kalah telak kah?😭
Indonesia
0
0
0
40
Jejak digital.
Jejak digital.@ARSIPAJA·
Prabowo: "Rupiah begini dolar begini. Orang rakyat di desa nggak pakai dolar kok! Ya kan?"
Indonesia
15.5K
19.9K
62.9K
10.7M
Molly
Molly@yfs199·
@trunkszoldyck Udah 2x begini dlu sama istri pertama juga hamidun
Indonesia
3
0
22
33.8K
versace
versace@trunkszoldyck·
telah lahir anak virgoun yang diberi nama : “Perfexio Muthmain Virgoun” 🥰
versace tweet media
Indonesia
282
70
3.8K
1.8M
gara
gara@anggarasamvdr·
lu pernah ga?
gara tweet media
Indonesia
1.3K
2.2K
13.8K
424.7K
txt onlineshop
txt onlineshop@txtdarionlshop·
Saking mahalnya biaya langganan disney karna naik terus sekarang ada tiktok live nya buat jualan disney😭🫠
txt onlineshop tweet media
Indonesia
60
33
1.1K
346.2K