Sundanese™

6.3K posts

Sundanese™ banner
Sundanese™

Sundanese™

@ryanmyusup

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya.📌Akan tetapi janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu. ®️

West Java, Indonesia Katılım Şubat 2021
248 Takip Edilen254 Takipçiler
Sundanese™ retweetledi
b3'doel
b3'doel@B3doel___·
Dana 30 milyar lebih. Juara 1 dapat 10 juta. WOW....
b3'doel tweet media
Indonesia
1.2K
4K
14K
548.3K
Sundanese™
Sundanese™@ryanmyusup·
@LambeSahamjja Kebodohan rakyat yang terus dipelihara.. Agar rakyat bodoh bisa diperalat oleh para penguasa..
Indonesia
0
0
0
4
Sundanese™ retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili. Di tengah rupiah Rp17.700. Di tengah badai PHK yang mengintai. Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan. Di tengah anggaran pendidikan yang dipotong 44% untuk MBG. Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan: Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa. Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu: Seribu Layar Bioskop Di desa. Dari APBN. Dari uang pajak rakyat. Di 2027. Dan ini yang paling menggelikan: Alasannya mulia. Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah. Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal. Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu: Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa? Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung: 88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1. IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia. Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara. 50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis. Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan. Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak. Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang. Tapi DPR punya solusi: Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak. Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada. Bukan perpustakaan desa. Bukan laboratorium sains. Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur. Tapi bioskop. Dan ini logika yang paling sederhana: Dr. Tirta sudah bilang: rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten. Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya. Ahok sudah bilang: kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas. Mahfud MD sudah bilang: demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar. Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya. Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop. Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur. Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya. Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya. Dan ini yang paling menohok: Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan Tidak butuh bioskop. Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78. Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing. Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian. Karena bioskop tidak mengubah nasib. Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah. Dan angkanya bicara sendiri: 1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN. Uang yang sama bisa dipakai untuk: menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai. Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu. Tapi yang diusulkan adalah bioskop. DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat. DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat. Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop. Rakyat yang pintar akan tanya: kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa? Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema? Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional? Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
608
4.8K
9.6K
431.6K
Sundanese™ retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
206
6.9K
19.4K
840.6K
Sundanese™
Sundanese™@ryanmyusup·
@KapudS640 Saya termasuk gen milenial, tak elok menggeneralisir kesalahan 1 orang tapi satu generasi yang kena imbasnya, intinya balik lagi pada attitude seseorang.
Indonesia
0
0
0
4
txt keresahan WNI
txt keresahan WNI@KapudS640·
Dapat info dari staf gudang... Bener2 gen Z gak tau diri... Baru kerja 1 minggu, eh gak masuk 2 hari tanpa pamit.. Akhirnya di wa lah, jawabannya enteng banget hiling Gimana ya kedepan mental2 orang seperti ini dalam menjalani hidup? Dimana2 banyak PHK, dapat kesempatan kerja tidak dimanfaatkan dengan semestinya.. cc:threadabdi
txt keresahan WNI tweet media
Indonesia
422
93
1.1K
440.6K
Sundanese™
Sundanese™@ryanmyusup·
@LambeSahamjja Mirisnya para pemuja embege bomat dengan kalimat "menuju kehancuran", yang ada dipikiran mereka yang penting income masuk!! Semoga bisa segera di "NEPALKAN"??
Indonesia
0
0
0
4
Sundanese™ retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada fakta yang menurut gua adalah yang paling jarang disampaikan secara jujur oleh pemerintah tapi paling penting untuk dipahami rakyat. Utang Indonesia nyaris Rp10.000 triliun. Bukan Rp10 triliun. Bukan Rp100 triliun. Rp10.000 triliun. Sepuluh ribu triliun rupiah. Dan dalam tiga bulan pertama tahun ini saja utang bertambah Rp282,52 triliun. Artinya rata-rata setiap bulan Indonesia nambah utang hampir Rp100 triliun. Dan tahun ini ada jatuh tempo utang lama sebesar Rp833 triliun yang harus dibayar atau diperpanjang dengan utang baru. Artinya pemerintah harus cari pinjaman baru Rp833 triliun hanya untuk menutup utang lama yang jatuh tempo belum termasuk defisit tahun ini yang terus melebar. Ini yang disebut gali lubang tutup lubang. Dan lubangnya makin lebar setiap hari. Sekarang lihat apa yang menjadi beban terbesar yang mendorong utang terus naik. MBG Rp335 triliun per tahun. Rp1,2 triliun per hari. Tapi dari jumlah sebesar itu Badan Pangan Nasional sendiri mengakui potensi pemborosan mencapai Rp14 triliun per tahun hanya dari makanan yang tidak termakan dan dibuang. CELIOS menghitung lebih spesifik Rp1,75 triliun per minggu dari makanan yang berakhir di tempat sampah. Belum termasuk Rp1 triliun untuk motor listrik yang tidak ada hubungannya dengan makan anak. Rp6,9 miliar untuk kaos kaki. Rp113 miliar untuk EO. Dan biaya kesehatan untuk 33.626 pelajar yang keracunan yang juga ditanggung dari anggaran MBG yang sama. Jadi dari Rp335 triliun yang dikucurkan sebagian besar untuk niat mulia memberantas stunting kenyataannya adalah makanannya dibuang triliunan rupiah per tahun anggarannya bocor untuk pengadaan tidak relevan dan sebagian produknya mengandung boraks yang meracuni anak-anak yang seharusnya dilindungi. Kopdes Merah Putih tidak kalah berat bebannya. Total alokasi yang disorot mencapai Rp240 triliun. Sudah terealisasi Rp174 triliun per Januari 2026. Cicilan APBN Rp40 triliun per tahun. Dan 35.000 manajer koperasi sudah digaji dari APBN selama dua tahun pertama padahal koperasinya sendiri belum terbukti menghasilkan satu rupiah pun. Ekonom memperingatkan ini dengan sangat serius. Ada risiko besar koperasi-koperasi ini hanya jadi papan nama untuk menyalurkan bantuan sosial sementara manajernya menyedot gaji tetap dari kas negara setiap bulan. Bisnisnya belum jalan tapi gajinya sudah jalan. Dan PMK Nomor 7 Tahun 2026 memaksa 58 persen dana desa dialihkan ke Kopdes. Lebih dari separuh uang untuk membangun desa jalan irigasi posyandu penerangan kini tersedot untuk koperasi yang belum terbukti menguntungkan masyarakat desa. Akibat dua program ini ditambah tekanan fiskal lainnya Moody's dan Fitch sudah mengubah outlook Indonesia menjadi negatif. Dan ini bukan sekadar label. Ini berdampak langsung ke dompet rakyat. Ketika outlook negatif investor mulai meminta imbal hasil lebih tinggi untuk mau memegang surat utang Indonesia. Yield SBN naik. Spread melebar. Artinya setiap kali pemerintah menerbitkan utang baru yang harus dilakukan terus menerus karena utang lama terus jatuh tempo biayanya lebih mahal. Dari setiap Rp100 penerimaan negara sudah Rp16 sampai Rp17 langsung habis hanya untuk bayar bunga. Bukan pokok utangnya. Bukan untuk bangun jalan bukan untuk bayar guru bukan untuk beli obat di puskesmas. Hanya untuk bunganya saja. Dan angka itu akan terus naik selama utang terus bertambah dan bunga yang diminta investor terus naik karena mereka melihat risiko fiskal Indonesia semakin tinggi. Yang paling menyakitkan dari seluruh situasi ini adalah satu ironi yang tidak bisa ditutup-tutupi. Purbaya sendiri yang menyebut APBN 2026 sebagai survival mode. Dia sendiri yang bilang tidak ada ruang untuk stupid mistake lagi. Tapi dua program yang lembaga rating internasional sebut sebagai ancaman fiskal paling signifikan tetap berjalan tanpa pemangkasan dengan alasan keputusan sudah final dan tidak akan diubah. Diagnosa benar. Tapi obatnya adalah melanjutkan apa yang menyebabkan sakitnya. utang hampir Rp10.000 triliun itu bukan angka yang jatuh dari langit. Ada alasan konkret kenapa utang naik Rp282 triliun dalam tiga bulan. Ada program-program dengan anggaran raksasa yang sebagian besar uangnya bocor tidak efisien dan hasilnya jauh dari yang dijanjikan. Yang membayar konsekuensinya bukan pejabat yang memutuskan programnya. Yang membayar adalah Rp16 dari setiap Rp100 pajak yang kamu bayar langsung habis untuk bunga utang saja. Angka itu akan terus naik. Dan selama program-program yang menjadi beban fiskal itu tidak dievaluasi secara serius maka lubangnya akan terus digali dengan uang yang makin mahal dipinjamnya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
259
1.7K
3.2K
92.8K
Sundanese™ retweetledi
jakartalk
jakartalk@Jakartalk·
Berdasarkan putusan terbaru per 12 Mei 2026, Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa Jakarta Ibu Kota Negara Indonesia. FYI, anggaran untuk IKN per 2025 aja udah 75 triliun. Terus gak jadi apa-apa. Bisa bangun berapa sekolah itu harusnya😭😭😭
jakartalk tweet media
Indonesia
2.4K
17.2K
56.7K
5.8M
Sundanese™ retweetledi
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
SIAP2 PEJUANG UMR, SEUMUR HIDUP NYICIL RUMAH RUMAS LUNAS, HIDUP TUNTAS KRONOLOGI HIDUP ORANG YANG AMBIL KPR 40 TAHUN: Umur 25 : Tanda tangan akad, senyum lebar, foto di depan rumah. Caption Instagram: "New chapter!" Umur 30 : Nikah. Anak lahir. Pampers mahal. Cicilan? Tetap jalan. Umur 40 : Anak minta uang study tour. Motor butuh ganti. Cicilan? Masih jalan. Umur 50 : Anak wisuda, minta dibeliin laptop baru. Cicilan? Santai, masih jalan. Umur 60 : Pensiun. Gaji berhenti. Cicilan... tinggal dikit lagi nih kayaknya? Umur 65 : LUNAS. Sertifikat di tangan. Air mata di pipi. Kamu : "AKHIRNYA! INI RUMAH GUE!" Anak : "Makasih ya Pak, btw aku mau kerja di luar kota." Cucu : "Rumah Opa jauh dari mana-mana, Pak." LU MATI, RUMAH SUDAH LUNAS DAN UJUNGNYA TIDAK TERPAKAI KARENA DI UJUNG KULON SANA Yang lucu sekaligus sedih: solusi krisis perumahan yang ditawarkan bukan "harga rumahnya ditekan" atau "spekulan tanahnya diatur", tapi "tenang, utangnya kita perpanjang aja jadi 40 tahun biar cicilannya kecil." Jenius. Masalah affordability diselesaikan dengan cara bikin orang utang lebih lama. Sementara harga tanah tetap naik, developer tetap untung, dan bank paling sumringah di antara semua pihak. Tapi ya sudahlah. Setidaknya kamu punya sesuatu untuk diwariskan. Meski kamu sendiri baru benar-benar memilikinya di usia yang sudah tidak sekuat dulu. Selamat datang di generasi yang kerjanya bukan untuk hidup, tapi untuk mencicil hak hidup.
Hidup sebagai +62 tweet media
Indonesia
65
271
618
77.1K
Sundanese™ retweetledi
CELOTEH RECEH 🤑
CELOTEH RECEH 🤑@M45Broo_·
Setuju... 😁✍️
CELOTEH RECEH 🤑 tweet media
Indonesia
330
3.1K
12.9K
103.1K
Sundanese™ retweetledi
muklas
muklas@mukaikhlas·
yang pengen bubarin mbg boleh retweet
Indonesia
191
69.9K
57.7K
1.1M
Sundanese™ retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Baca berita tuh jujur kondisi negara ini meresahkan. 1. Dollar ke rupiah 17.400. 2. BBM di luar jawa langka. Bisa antri 3 jam. 3. Harga tiket pesawat naik 20-40%. 4. Kebutuhan pokok pada naik semua. Minyak goreng sekarang 2L 48rb. 5. IHSG <7000, big banks ambruk. 6. PHK massal di kratau steel osaka 7. MBG tetap jalan Gatau deh coba tambahin lagi cc:threads
Indonesia
132
1.7K
4.6K
97.9K
Sundanese™
Sundanese™@ryanmyusup·
@tempodotco Harus seluruh BEM seindonesia tolak alih fungsi akademik jadi masak memasak.
Indonesia
0
0
0
9
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
JUST IN: BEM IPB Menolak Kampus Mengelola Dapur MBG
Indonesia
127
2.3K
11.2K
460.1K
Sundanese™ retweetledi
dino kecepit
dino kecepit@ripbotttt·
makan gratis jadi tai, pendidikan gratis jadi tau.
Indonesia
205
25.4K
70.1K
600.3K
Sundanese™ retweetledi
mchlrs
mchlrs@mchlrs_·
@LambeSahamjja Ya kan buat menang pemilu di indonesia butuh pengangguran dan ormas. Kalau ormas ditindak tegas, nanti pemilunya gimana? Yang mau dijanjiin jabatan siapa? Gak bisalah. Emang penting dipelihara ormas ini di Indonesia. Hidup ormas
Indonesia
0
6
63
5.8K
Sundanese™ retweetledi
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
KAMPUS DISURUH MASAK? WHAT?? "Tugas kami mendidik, bukan memasak!" Rektor UI Seminggu belakangan ini, dunia pendidikan Indonesia diramaikan oleh satu permintaan yang bikin banyak rektor mengernyitkan dahi. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana meminta perguruan tinggi turut membuka Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG). Bukan sekadar wacana permintaan ini disampaikan langsung dalam Forum U25 yang dihadiri para rektor dari 24 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di Makassar, seiring peresmian dapur MBG pertama di lingkungan kampus di Universitas Hasanuddin. ALASAN BGN: BUKAN SEKADAR MASAK-MASAKAN BGN punya argumen yang lebih luas dari sekedar "tolong buatin nasi boks". Ini alasannya: 1. Kampus = Gudang Ilmu + Sumber Daya Dadan menegaskan bahwa teknologi, SDM, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi dinilai sangat bermanfaat bagi program MBG, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis. 2. SPPG = Lab Hidup untuk Mahasiswa SPPG di kampus dimaksudkan sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik, sekaligus laboratorium hidup untuk mengembangkan riset dan inovasi mulai dari teknologi pertanian, pengolahan pangan, hingga manajemen rantai pasok. 3. Skala Kebutuhannya BESAR banget Satu unit SPPG saja membutuhkan sekitar 8 hektare lahan sawah untuk suplai beras, 19 hektare lahan jagung untuk pakan ternak, dan 3.700–4.000 ekor ayam petelur untuk kebutuhan protein harian. BGN menilai kampus punya kapasitas untuk menyuplai semua itu dari civitas akademikanya sendiri. 4. Penggerak Ekonomi Lokal SPPG di kampus diharapkan jadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal, menciptakan kolaborasi antara kampus, petani, peternak, dan UMKM dalam satu sistem ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. RESPONS REKTOR UI: TUNGGU DULU! Rektor UI, Heri Hermansyah, menegaskan bahwa tugas utama perguruan tinggi adalah pendidikan, penelitian, riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat bukan operasional dapur. Jika pun ada SPPG, seharusnya dikelola oleh unit usaha kampus yang relevan, bukan universitas itu sendiri. PRO VS KONTRA Yang PRO: Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menilai pelibatan kampus dalam MBG merupakan langkah strategis karena kampus memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan sistem pangan berbasis ilmu pengetahuan, dari produksi hingga konsumsi dan gizi. Yang KONTRA: Akademisi dari Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas HKBP Nommensen mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh diperlakukan sebagai ruang operasional proyek. Kampus harus tetap menjadi institusi yang menjaga kebebasan berpikir dan otonomi intelektual. LBH Makassar bahkan mengkritik keras Unhas yang sudah terlanjur membangun dapur MBG, menyebutnya menyimpang dari mandat Tridharma Perguruan Tinggi dan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Niat BGN sebenarnya mulia melibatkan kampus sebagai knowledge hub yang mengintegrasikan sains, riset, dan praktik dalam program gizi nasional. Tapi pertanyaannya tetap relevan: apakah ini tugas kampus, atau seharusnya ada lembaga lain yang mengambil peran operasional ini? Yang jelas, antar "kampus sebagai mitra riset" dan "kampus sebagai pengelola dapur" itu bedanya jauh banget. Dan Rektor UI sudah memilih jawabannya dengan elegan Gimana menurut kamu? Kampus seharusnya ikut masak atau cukup kasih resep ilmiahnya? Komen di bawah!
Hidup sebagai +62 tweet media
Indonesia
409
2.7K
7.9K
170.7K
Sundanese™
Sundanese™@ryanmyusup·
@tijabar Paling bener hukuman bagi para koruptor potong tangannya ato penjara ratusan tahun tanpa ada remisi sekaligus harus dimiskinkan.
Indonesia
0
0
0
5
t°Jabar
t°Jabar@tijabar·
KASUS PROYEK IJON BEKASI EMANG GAK ADA OBAT! Laporan pandangan mata langsung dari Pengadilan Tipikor Bandung nih lur. Terdakwa Sarjan baru saja kena todong tuntutan 2 tahun 3 bulan penjara gara-gara main ijon proyek bareng Bupati Bekasi Ade Kunang. Jujur ya kalau denger angka tuntutannya mah berasa liat diskon lebaran. Bayangin aja suap miliaran tapi tuntutannya cuma seumur jagung plus denda 150 juta. Wah kalau dendanya gak dibayar cuma ganti kurungan 70 hari doang. Asa enteng pisan ya lur padahal ini urusan ngerampok duit rakyat. Praktik ijon ini emang juara deh kreatifitasnya. Belum juga aspal digelar atau pondasi ditanam tapi setoran awal sudah masuk kantong duluan buat amankan posisi. Meuni gercep pisan kalau urusan bagi-bagi jatah mah. Nama Ade Kunang juga makin santer disebut sebagai sutradara di balik layar drama bagi-bagi proyek di Bekasi ini. Jaksa KPK menilai si Sarjan ini beneran terbukti melanggar pasal suap penyelenggara negara. Penonton sidang di sini cuma bisa geleng-geleng kepala liat kelakuan para elit swasta sama pejabat daerah yang kompak banget kalau urusan dhuwit. Coba kalau urusan benerin jalan rusak atau urus rakyat bisa sekompak ini mah Bekasi pasti udah jadi Dubai. Nya kitu tea ari iman geus kagoda ku cuan mah poho kana dosa lur. Sekarang mah tinggal nunggu nasib si Sarjan di tangan hakim setelah nanti bacain pledoi. Semoga aja hukumannya gak makin diskon ya biar gak jadi kebiasaan buruk buat yang lain. Urang Kawal terus kasusna nya! #BekasiIjonGate #TipikorBandung #KorupsiBekasi #HukumLembek #Infobekasi #Bekasi #Korupsi
t°Jabar tweet media
Indonesia
4
6
17
1.4K
Sundanese™ retweetledi
Denni Sauya
Denni Sauya@denni_sauya·
😭😭 Sangat menyedihkan... Seekor harimau dan 2 ekor gajah ditemukan mati dihari yg sama.
Denni Sauya tweet media
Indonesia
46
680
1.8K
116K
Sundanese™
Sundanese™@ryanmyusup·
@DaedeTheDJ @Jennnyyyyyy Betull,, ini pelajaran matematika basic untuk anak kecil, dilihat komenan banyak sekali yang jawab ngasal, antara gak paham ato sengaja jawab salah.
Indonesia
0
0
0
11
Daede
Daede@DaedeTheDJ·
@Jennnyyyyyy 4 x 7 = 28 7 - 4 = 3 7 + 4 = 11 ? = 11 I see these "super hard" math problems every day, and the comments always make me weep for the future of humanity.
English
41
18
994
20.3K
Jenny
Jenny@Jennnyyyyyy·
This is harder than it looks 😏 Difficulty - Pro 🤠
Jenny tweet media
English
6.7K
141
1.3K
593.1K