sab retweetledi
sab
5K posts

sab
@sabtyping
living quietly, dreaming loudly。♡| soft thoughts, slow morning✧*| fueled by matcha🍵and coffee☕
Katılım Nisan 2020
1K Takip Edilen1K Takipçiler
sab retweetledi
sab retweetledi

tanda Allah sayang kita yg kita sering ga sadar :
🔅dikasih rasa bersalah saat ngelakuin maksiat
🔅dikasih rasa gelisah kalo belom solat
🔅dikasih keinginan untuk ibadah
🔅dikasih rasa sadar diri sebagai pendosa
🔅dikasih dorongan untuk bertaubat
🔅digerakkan untuk berdoa
karena nyatanya, banyak org even muslim sekalipun yg udh ga dikasih rasa rasa ini sama sekali🥲
Indonesia
sab retweetledi

kalo kalian pikir dosa dosa kalian ‘terlalu’ banyak sampai tidak diampuni,
please dont. please dont think like that.
justru itu artinya kalian meremehkan Allah, karena Allah Maha Penyayang lagi Maha Penerima Taubat.
rahmatNya bahkan lebih besar dan lebih luas dari dosa dosa kita, sebesar apapun dosa kita. pintu taubatnya terbuka 24/7. PASTI kita akan diampuni selama ajal belum datang🫶
Allah tuh justru seneng banget kalo kita sadar sama dosa kita dan minta ampun sering sering. Allah seneng bgt kalo hambaNya ngemis ngemis minta apapun ke Dia. sebaik itu Allah ke kita🥹
jadi gaada dosa yg ga diampuni. mau itu zina, judi, riba, bahkan syirik sekalipun DIAMPUNI selama taubat sebelum nyawa kita dicabut.
little did we know, justru perasaan ‘Allah kayanya muak deh sama aku’ ‘dosaku gaakan diampuni ama Allah’ ‘kok doaku ga terkabul kabul? Allah benci aku ya’ dst itu bisikan setan…biar kita ga doa dan taubat…
PLEASE LAWAN SETANNYA! Allah loves us more than we know☝️💖
Indonesia

@cirengtepungg nah ini, komunikasinya aja benerin sama pemahamannya juga
Indonesia

Justin Bieber jadi headliner termahal di sepanjang sejarah coachella dengan bayaran 173 miliar rupiah.
Setelah liat anggaran MBG, ternyata Justin Bieber murah
Tinggal libur MBG 5 hari, bisa bikin coachella di indo. Bayangin seberapa banyak turis yang akan datang 🙃
sebutsaja fer@ferdidwjlnt
semua opini tentang program makanan bergizi gratis (MBG) :
Indonesia

@tanyakanrl MBG lu noh stop, transparansi anggaran deh mending, ke rekening mana aja tuh gedenya
Indonesia

@aniesbaswedan ini tuh jadi gimana sih arah gerak negara tuh sebenernya. memperbaiki internal terlihatnya engga, ke eksternal pun terlihatnya tidak. kita ini mau dibawa kemana ya pak? negara ini mau diapakan..
Indonesia

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia













