Windayulia Sari
15 posts



@AghaarXx Ra aku mau lanjut s2, tapi aku takut bgt nglangkah. Tapi aku GK mau nyerah sama mimpiku 🫠
Indonesia

Ulama itu diambil keberkahannya dengan ilmu dan doa, bukan dengan gambarnya.
Di antara fitnah terbesar di tengah masyarakat hari ini (yang mungkin saya termasuk pelakunya) adalah anggapan, atau setidaknya hasrat, bahwa keberkahan ulama dapat “diambil” hanya dengan bergambar bersama mereka. Lebih jauh lagi, muncul persepsi di kalangan awam bahwa siapa pun yang pernah bergambar dengan seorang ulama tertentu otomatis dianggap sebagai murid sejatinya, seakan-akan setiap ucapan dan sikapnya di masa depan adalah representasi dan legitimasi dari sang ulama.
Saya pernah menemukan seseorang yang mengaku sebagai murid dari ulama A dengan menunjukkan fotonya. Setelah saya tanya, apa saja faedah yang kamu dapatkan, dia berpikir lama, dan berujung mengalihkan topik.
Wallahi, ini termasuk fitnah yang besar.
Dahulu, bagaimana cara kita mengenal bahwa fulan benar-benar murid dari fulan? Apakah melalui gambar? Tidak. Hubungan murid dan guru dikenal melalui ilmu, cara berbicara, cara memahami masalah, kedalaman istidlal, adab terhadap khilaf, dan ketertautan metodologi. Pada masa lalu, satu-satunya cara membuktikan kedekatan dengan seorang ulama adalah melalui ilmu yang dibawa dan diajarkan, bukan melalui visual yang terpampang melalui lensa kamera semata.
Keberkahan ulama tidak terletak pada potret, tetapi pada ilmu yang diajarkan dan doa yang dipanjatkan. Adapun gambar, ia pada dasarnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Fungsinya harusnya kembali kepada dua hal, agar seseorang dapat mengenali sang ulama, lalu dari pengenalan itu mengalirlah kebermanfaatan berupa ilmu, dan doa.
Maka, jika gambar tidak mengantarkan pada tujuan tersebut, tidak menambah ilmu, tidak meluaskan manfaat, atau tidak menjaga amanah keilmuan, lalu untuk apa ia diagungkan?
Menghormati ulama adalah dengan belajar sungguh-sungguh dari ilmunya, dan tidak menjadikan kedekatan "simbolik" sebagai legitimasi keilmuan.
Apakah saya anti bergambar dengan para ulama? Tidak sama sekali. Yang saya tekankan justru adalah kenyataan pahit bahwa tidak sedikit ulama yang dirugikan hanya karena ada orang yang mendakwakan dirinya sebagai murid, padahal ia tidak pernah benar-benar belajar. Sebab gambar sering kali dijadikan “bukti kedekatan”, lalu dipakai sebagai legitimasi untuk berbicara, berfatwa, atau bersikap seolah-olah mewakili sang ulama. Di titik inilah fitnah bermula, dan ulama kerap menjadi korban dari klaim yang tidak pernah mereka izinkan.
Padahal, lintasan pertama yang seharusnya hadir dalam benak seorang penuntut ilmu ketika berjumpa dengan ulama bukanlah gambar, melainkan ilmu atau doa. Gambar hanyalah alternatif. Itulah adab yang diwariskan para salaf. Mereka duduk, mendengar, memahami, lalu mengambil manfaat, bukan mengabadikan momen demi "pengakuan sosial".




Indonesia

@AghaarXx Kk kamu suka kopi panas atau dingin? Saya pernah bikinin kopi buat bpk, saya aduk kopi pakai air panas, terus saya campur air es. Saya pikir, hari lagi panas cocok utk minum saat itu, tapi kagak diminum. Kta mama sya, saya slh bikin😂 gimana mau punya suami

Indonesia
Windayulia Sari retweetledi

"Saya pikir, sebagian besar akan dari anggaran juga kan, dari APBN juga," kata Purbaya. finance.detik.com/berita-ekonomi…
Indonesia

Tantangan mbg food waste. Ketika byk anak tidak menghabiskan makanan karena ketidaksesuaian selesa, otomatis itu terjadi pemborosan dana anggaran dan tujuan peningkatan gizi akan susah dicapai. Butuh ada monev secara realbtimee dan perlu menyesuaikan menu preferensi lokal #mbg
Indonesia
Windayulia Sari retweetledi

Menurut Dr. Firman Kurniawan, digitalisasi pemerintah selama ini sering salah fokus. Aplikasi dibuat sangat banyak, tapi hanya sebagian kecil yang benar-benar digunakan. Data berpindah ke berbagai sistem, aplikasi lama ditinggalkan, dan pengawasan melemah.
Kondisi ini membuka celah kebocoran data. Masalahnya bukan kurang teknologi, tapi lemahnya tata kelola dan pemetaan kebutuhan dalam transformasi digital.
#polridigital
#transformasipolri
#keamanandata
#stikpodcast
Indonesia
Windayulia Sari retweetledi

Pernah kah kita menyadari...
Digitalisasi Kok Masih Setengah Hati?
Katanya KTP elektronik, tapi tetap disuruh fotokopi kalau mau urus administrasi.
SIM digital?
Harus tetap bawa fisiknya, kalau nggak bisa kena tilang.
Sertifikat tanah elektronik?
Kalau hilang tetap harus cetak ulang sendiri!
Bansos pakai sistem digital SIKS-NG, tapi yang dapat bantuan masih aja orang kaya.
Aplikasi pajak Coretax dibuat buat efisiensi, tapi ribetnya nggak ketulungan!
Dulu PeduliLindungi wajib diinstal, masuk mal harus scan-sekarang malah jadi museum digital.
Jadi, ini digitalisasi atau cuma proyek? Kenapa sih hal kecil gini aja harus bohong?
Indonesia


