gregg@bill_qw
Ada satu hal yang menurutku lebih menarik daripada perdebatan soal LGBT itu sendiri, yaitu bagaimana sebuah label bisa mengubah cara kita memandang seseorang.
Misalnya ada komentar ini yang mengatakan:
"Kalau laki-laki sudah declare LGBT, berarti cara ngomongnya kemayu, jalannya melambai, penampilannya aneh."
Sekilas terdengar biasa.
Padahal tanpa sadar dia baru saja melakukan dua lompatan berpikir.
Lompatan pertama adalah mengubah stereotip menjadi karakter individu.
Padahal "LGBT" adalah sebuah label. Sedangkan cara bicara, cara berpakaian, gestur, atau ekspresi diri adalah karakter yang bisa sangat berbeda pada setiap orang.
Ada laki-laki gay yang sangat maskulin.
Ada laki-laki heteroseksual yang berbicara lembut.
Ada juga laki-laki heteroseksual yang berpenampilan nyentrik.
Artinya, label tidak otomatis menjelaskan seluruh karakter seseorang.
Dalam psikologi, otak manusia memang suka menyederhanakan dunia dengan kategori. Ini membantu kita berpikir lebih cepat. Masalahnya kategori sering kali berubah menjadi stereotip, lalu stereotip diperlakukan seolah-olah selalu benar untuk setiap individu.
Lompatan kedua yg terjadi adalah..
Karena anak-anak memang mudah meniru, muncul kesimpulan:
"Kalau dia mengajar anak, berarti anak-anak akan meniru karakter LGBT"
di sini ada dua hal yang berbeda:
Anak-anak memang belajar dengan cara meniru. Itu didukung banyak penelitian.
Tetapi dari "anak meniru cara bicara atau gestur seseorang" langsung melompat ke "anak akan menjadi LGBT" adalah hubungan sebab-akibat yang membutuhkan bukti tambahan, bukan sekadar dugaan.
Yang menarik, pola berpikir seperti ini tidak hanya terjadi pada isu LGBT.
Hari ini mungkin labelnya LGBT.
Besok bisa suku tertentu.
Lusa bisa agama tertentu.
Minggu depan bisa profesi atau pilihan politik.
Begitu sebuah label muncul, otak sering berhenti melihat individu, lalu mulai melihat stereotip kelompoknya.
Menurutku, di situlah kita perlu lebih hati-hati.
Karena semakin cepat kita menyimpulkan seseorang dari labelnya, semakin besar kemungkinan kita sedang berbicara tentang stereotip, bukan tentang orang yang sebenarnya.