Scientiz

78 posts

Scientiz banner
Scientiz

Scientiz

@scientizid

Katılım Mart 2026
52 Takip Edilen84 Takipçiler
Scientiz retweetledi
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷@AryHHAry·
Keren ini pertanyaannya 👇🏻 Singkatnya: ruang bisa ke segala arah, waktu hanya maju 1 arah ken "panah waktu" (arrow of time) dari hukum kedua termodinamika (jelasnya nanti saya sertakan link tweet lama. Entropi (kekacauan) di alam semesta terus naik sejak Big Bang yg super teratur. Makanya telur pecah tdk bisa balik utuh sendiri, kopi dingin tdk panas lagi spontan. Secara matematis fisika bisa dibalikkan reversible, tapi realitas makro tdk simetris krn kondisi awal alam semesta entropi rendah. Jadi waktu terasa linear irreversible. Itu aja intinya! Link post lama di reply 👇🏻
mfwahyudi@20firman_

@AryHHAry Nanya bang, kan kayanya kita hidup di 4 dimensi. Lalu mengapa "waktu" kita itu irreversible? Kaya kurus aja kedepan ga bisa kebelakang, kesamping

Indonesia
1
2
17
807
Scientiz retweetledi
Code Geek
Code Geek@codek_tv·
Math classmates be like…
Code Geek tweet media
English
4
11
219
21.8K
Scientiz retweetledi
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷@AryHHAry·
Skala Kardashev bilang kita baru Type 0.7. Tapi yg bikin saya mikir: semakin tinggi tipe peradaban, semakin brutal entropi yg mrk hasilkan. Apakah Type III akhirnya "mengalahkan" arrow of time.. atau justru menjadi manifestasi tertinggi dari hukum termodinamika itu sendiri? Jadi penasaran..
Physics In History@PhysInHistory

The Kardashev Scale ranks civilizations by energy control, from planetary (Type I) to stellar (Type II) to galactic (Type III). Proposed in 1964 by astrophysicist Nikolai Kardashev, it envisions future tech levels of advanced civilizations.

Indonesia
0
2
2
208
Scientiz retweetledi
Math Magazine
Math Magazine@sonukg4india2·
Calculus Symbols
Math Magazine tweet media
Français
0
95
620
13.6K
Scientiz retweetledi
Abakcus
Abakcus@abakcus·
The simplest way to visualize the set of numbers. Utterly useful diagram!❤️ [bit.ly/3hETqNE]
Abakcus tweet media
English
5
62
375
12K
Scientiz retweetledi
Alex Smith
Alex Smith@ninja_maths·
One underrated feature of mathematical maturity is recognizing structure quickly. Not just solving the problem, but seeing what kind of object you’re looking at, what tools are likely relevant, and what hidden simplifications might exist.
Alex Smith@ninja_maths

A common theme on the SAT exam is the idea of exploiting a problem's structure to reduce the amount of time and effort it takes to solve problems. The difference can mean precious minutes saved when students are under immense time pressure. Take this example from the SAT bank. There's a quick-and-easy way to solve it, and there's a harder way. Let's discuss the harder way first. Some students will look at this problem and say to themselves, "Systems of equations, great! I know how to solve those". They'll then spot the parentheses in the second equation and immediately think, "The distributive law, great! I know what to do here". They'll then "simplify" the second equation and then proceed to solve the resulting system. These are exactly the skills taught in a standard curriculum, and the student has every reason to think that this is the correct approach. But here's the problem - they've unwittingly made the problem more difficult! Solving it this way turns out to be more time-consuming and error-prone than the quick-and-easy way, and this mistake could cost them precious minutes and points on the exam. On the other hand, some students will immediately spot the quick-and-easy way. This involves observing that (2x + 3y) is present in both equations. Students simply need to replace (2x+3y) with 5 in the second equation, and the resulting equation can be solved in just a couple of seconds! One of our goals in developing the missing middle is to train students to develop automaticity in recognizing and exploiting structure within equations. Dealing with the "missing middle" in this case means providing students with explicit, scaffolded practice, helping them to spot structures within equations and exploit them in a wide variety of scenarios. Developing automaticity in recognizing structure plays an important role, too. The goal is for this kind of pattern recognition to be automatic, especially when we want students to be able to generalize this concept to other types of problems. It's of no use if students learn this and subsequently forget it, or revert to previous methods when the pressure is on. In other words, automaticity is key!

English
1
6
82
4.3K
Scientiz retweetledi
GN Aardbeien
GN Aardbeien@defalahoktavian·
Mari kita berhenti jadi USA follower, mulai jadi JP/KR follower, kemudian jadi ASEAN trend setter. Saya, petani Lembang, gengsi, pertanian di Chiang Mai, Chiang Rai, lebih maju:) this is wake up call, untuk muda-mudi. better late than never:) Majulah Pertanian Indonesia:)
din 🐼@daynari_

picking strawberries tapi di tawangmangu 🍓🌿

Indonesia
12
368
1.8K
19.1K
Scientiz
Scientiz@scientizid·
@agedkiss Riil kok, ditunggu lanjutannya ya. Nanti disambung di thread bawahnya
Indonesia
0
0
2
150
saylaa
saylaa@agedkiss·
@scientizid mauuu kak, jgn iseng doang pls bnrn adain!!!
Indonesia
1
0
0
169
Scientiz
Scientiz@scientizid·
Mau iseng, kalo misalkan diadain kelas gratis tiap 2 hari sekali PK, PM, PU sama LBI (Fisika dan Kimia) bareng alumni ITB pada mau ga ya? Like ♥️ & retweet 🔁 kalo mau yaa!!
Indonesia
152
309
735
10.6K
Scientiz retweetledi
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷
Kita sering menganggap hukum fisika sebagai sesuatu yg mutlak, tdk tergoyahkan. Benarkah? 🤔🤔 Tapi alam semesta selalu punya cara halus untuk mengingatkan kita: “Belum, ada yg lebih dlm dari yg kalian pahami.” Penemuan terbaru ini luar biasa memukau lho.. Di graphene yg ultra-murni, pada titik Dirac, keadaan khusus di mana material ini bkn sepenuhnya konduktor listrik maupun insulator..elektron2 berhenti berperilaku sbg partikel individu. Mrk mengalir bersama membentuk cairan kuantum yg hampir sempurna. Coba bayangkan deh: kekentalannya begitu rendah (encer), mendekati plasma super-panas yg pernah mengisi alam semesta hanya bbrp saat setelah Big Bang. Lebih halus drpd apa pun yg kita temui di materi biasa. Yg paling menakjubkan: aliran panas dan muatan listrik terpisah sepenuhnya. Hukum Wiedemann–Franz yg sdh dipegang teguh selama lebih dari 1 abad, tiba2 dilanggar hingga lebih dari 200 kali lipat. Ini pelanggaran terbesar yg pernah tercatat. Graphene bkn lagi sekadar “material ajaib” untuk teknologi masa depan. Ia sekarang menjadi laboratorium hidup di meja kita.. tempat kita bisa mempelajari fenomena ekstrem yg dulu hanya bisa diamati di black hole, quark-gluon plasma, atau di dlm akselerator partikel raksasa. Luar biasa indah. 1 lapis atom karbon tipis ini mampu meniru kondisi awal alam semesta. Apa yg kita anggap “mustahil” hari ini, besok bisa menjadi dasar teknologi baru: sensor ultra-sensitif yg mendeteksi medan listrik atau magnet sekecil apa pun. Semakin takjub dan optimis dgn potensi material seperti graphene.. tapi merasa kecil krn menyadari betapa sedikit yg kita ketahui tentang realitas kuantum di sekitar kita.
Massimo@Rainmaker1973

In a stunning breakthrough, electrons in graphene have exhibited behavior long considered impossible by physicists. At the material's Dirac point—a critical electronic state where graphene is neither fully a metal nor an insulator—the electrons cease behaving like individual particles and instead flow collectively as a nearly perfect quantum liquid. This strange fluid is extraordinarily smooth, with a viscosity so low it rivals the ultra-hot plasma that existed in the early universe or is recreated in modern particle accelerators—far smoother than any known behavior in ordinary solid matter. The most shocking discovery: heat and electric charge decoupled completely, resulting in the largest violation ever observed of the Wiedemann–Franz law. This fundamental rule, which has held for over a century in all conventional metals, states that heat and electrical conductivity should move in lockstep. In graphene's quantum fluid, however, the ratio deviated by more than 200 times from the expected value. This makes graphene far more than just a wonder material—it serves as a remarkable laboratory for exploring extreme quantum phenomena once thought observable only in black holes, quark-gluon plasmas, or the conditions inside massive particle colliders. Beyond its fundamental importance, this ultra-clean, highly responsive quantum behavior could lead to revolutionary applications, including next-generation ultra-sensitive sensors capable of detecting minute electrical or magnetic fields with unprecedented precision. ["Universality in quantum critical flow of charge and heat in ultraclean graphene." Nature Physics, 13 August 2025]

Indonesia
1
26
145
6.9K
Kirim mfs? Cek bio!
Kirim mfs? Cek bio!@sbmptnfess·
Kebayang ga sih kalau sistem masuk kampus di Indonesia diganti pake essay personal, portofolio, dan interview kayak di luar negeri, bukan cuma nebak pilihan ganda A-E? Kira-kira bakal lebih fair ga? ptn!
Indonesia
149
26
1.4K
202K
Scientiz retweetledi
Kiyan Abhinaya Azkalif
Kiyan Abhinaya Azkalif@yourmathsphere·
Sebenarnya kasus kayak gini sama kayak lagi bahas kemiskinan struktural. NggK bisa salahin murid aja, tapi nggak bisa dilempar ke guru aja. Artinya, kesalahan ini bisa jadi karena pihak ketiga(termasuk orangtua/wali murid)
xel@axelisontwt

Kesalahan terbesar ngajarin fisika tuh karena seolah it’s all rumus buat ngerjain soal diketahui ditanyakan, padahal di belakangnya ada logika yang harus kenceng. Lama-lama matematika juga kayak gitu hm. Commodification of eksak ig 😭😭

Indonesia
4
11
21
843
Scientiz retweetledi
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷
Kebanyakan orang blg, "Aku bkn tipe yg suka berpikir tentang cara aku berpikir sendiri." Salah besar. Kamu sebenarnya sgt mampu. Semua orang mampu. Hanya saja pikiran kita sdh terlalu penuh. Dipenuhi scroll tanpa henti, podcast, opini orang lain, dan kebisingan yg membuat kita takut diam. Padahal di momen2 tiba2 diam itu.. saat kamu bertanya: “Knp aku bereaksi begini?” “Dari mana ketakutan ini dtg?” “Apakah ini benar2 aku?” Itulah metacognition muncul. Bentuk kecerdasan tertinggi yg dimiliki manusia. Seperti gelombang kuantum yg akhirnya kolaps dan menjadi pemahaman yg jernih. Kita jarang memberi ruang untuk itu. Kita takut kesunyian krn di dalamnya kita harus bertemu diri kita yg sebenarnya. Padahal di situlah semesta dlm diri mulai mengembang. Bayangkan suatu hari quantum AI kita juga bisa melakukan hal yg sama, bkn hanya menjawab, tapi memahami “knp aku menjawab seperti ini”. Mungkin saat itulah batas antara mesin dan kesadaran benar2 kabur. Apakah kamu berani memberi ruang diam hari ini supaya pikiranmu bisa “mikir tentang dirinya sendiri”? Semakin dlm kita paham cara kita berpikir, semakin luas semesta yg terbuka di depan kita.
𝙰𝚛𝚢 𝙷𝙷@AryHHAry

Hmm.. pernah tdk kamu tiba2 diam dan terpikir: “Kok aku mikir begini ya?" "Knp aku takut?" "Knp aku memilih ini?” Ternyata itu namanya metacognition, kemampuan untuk berpikir tentang pikiran kita sendiri. Para ilmuwan blg, ini adalah jenis kecerdasan paling tinggi yg dimiliki manusia. Bkn hanya pintar menjawab pertanyaan, tapi pintar memahami diri sendiri: knp kita suka begini, knp kita takut begitu, dan bgmn kita bisa jadi lebih baik. Ya bayangkan saja kalau AI quantum kita nanti juga bisa seperti itu.. bisa “mikirin dirinya sendiri”, seperti manusia. Mungkin itu yg akan membuat dunia benar2 berubah. Hmm.. kamu sering berpikir tentang cara berpikirmu sendiri tdk? Cerita dong.. Semakin dlm kita paham diri, semakin luas semesta kita.

Indonesia
0
2
5
344
Scientiz retweetledi
Kiyan Abhinaya Azkalif
Kiyan Abhinaya Azkalif@yourmathsphere·
Saya suka banget dengan orang yang cara ngajarin cara cepat dengan include cara umumnya(kayak video ini) Karena kalau bentuk akarnya berbeda, yang belajar jadi nggak gelagapan... Kok ini "nggak berlaku ya cara cepatnya". Karena bisa jadi ada 2 kemungkinan : > Nggak tau cara yang umum, atau > Nggak tau bahwa itu hanya berlaku kasus itu.
Sid@side_xml

Gak tau pernah dibahas di sini atau belum, tapi aku ada trik buat nurunin betuk akar yang pasti kepakai di #utbk Jangan lupa tonton sampai habis supaya kalian paham trik ini datangnya dari mana ya! #studytwt

Indonesia
0
27
197
4.1K
Scientiz retweetledi
Sid
Sid@side_xml·
Gak tau pernah dibahas di sini atau belum, tapi aku ada trik buat nurunin betuk akar yang pasti kepakai di #utbk Jangan lupa tonton sampai habis supaya kalian paham trik ini datangnya dari mana ya! #studytwt
Indonesia
3
76
570
13.6K
cipaw²⁶ 🪼 free tag
cipaw²⁶ 🪼 free tag@cirengkedut·
🚨 OPEN MEMBER FGD BATCH 2 🚨 Halo teman-teman 👋🏻 Kami buka lagi oprec untuk member FGD batch 2 yapp 🤩 Kuotanya cuma 59 orang dan diutamakan yang 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝘃𝗼𝗹𝘂𝗻𝘁𝗲𝗲𝗿 𝗺𝗲𝗻𝘁𝗼𝗿 𝘀𝗮𝗮𝘁 𝘇𝗼𝗼𝗺. CP: @cirengkedut @Edinvburgh @rwooism A thread 🧵
cipaw²⁶ 🪼 free tag tweet media
Indonesia
220
25
152
10K
Scientiz
Scientiz@scientizid·
Kalo banyak yg mau, nanti diinfoin besok guys. Dishare yak biar kakaknya mau kalo rame 😭🙏
Indonesia
2
1
12
655