zed

25.8K posts

zed

zed

@seaofmatchaa

how do you call a sad of coffee? a depresso

Katılım Mart 2018
1.3K Takip Edilen1.3K Takipçiler
zed retweetledi
yan
yan@cogoligii·
jangan jahat2 ya gess sama orang, not all pain and trauma can be heal asap
Indonesia
99
23K
52.5K
812.6K
zed retweetledi
✶
@mendadaknih·
Ternyata ga pernah cerita sama siapapun itu ngaruh banget sama cara kita ngomong ya, jadinya kalo ngomong belibet & susah ngejelasin
Indonesia
785
13.7K
64.5K
1M
zed retweetledi
potha
potha@bvttercrisp·
the little things women like. <3
potha tweet mediapotha tweet mediapotha tweet mediapotha tweet media
English
58
4.1K
18.2K
294.4K
zed retweetledi
sya
sya@arsenatasyas·
Ibaratnya kalo lagi olahraga pertama kali ya. Badan pegel semua, ngerasa lemah padahal you’re getting stronger than before. Di segala hal, when you’re getting better it feels like you’re getting worse. Merasa bodoh krn banyak gak tau. Perasaan bodoh dibutuhin di proses belajar.
Curious Minds@CuriousMindsHub

The importance of stupidity in scientific research:

Indonesia
44
8.3K
23.8K
483.1K
zed retweetledi
NINA - ꦤꦶꦤ
NINA - ꦤꦶꦤ@noichil·
Malu bawa hape android Malu bawa tumbler 50ribuan Malu pake motor Kalo 'identitas/kebanggaan' selalu diletakkan pada barang, maka itu tanda kamu mulai memupuk sifat materialistis.
Tanyarlfes@tanyarlfes

💚 just ask ing : (

Indonesia
174
8.6K
37.1K
535.1K
zed retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak. Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG. Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain: -Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri -Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah. Yang menarik dari studi ini adalah: Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control) 𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡 Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
Nicholas Fabiano, MD@NTFabiano

Addiction to short-form videos is associated with reduction of brain activity in the frontal lobe and weakened focus.

Indonesia
200
7K
17.4K
706.8K
zed retweetledi
nya.
nya.@slythheryn·
nabung 50-60% dari gaji tuh ga applicable buat kondisi ekonomi skrng, dimana inflasi naiknya ampe 30% tapi ga diikuti dengan kenaikan gaji yg setara. boro2 nabung, ga nabung aja udah ngos2an menuhin biaya hidup (kalo hidup di atas kaki sendiri)
lunar🌖 ✨@lunarbier

kalian nabung berapa persen dari gaji kalian? ada ga yg nabung 50-60% dari gaji? temenku adaa gini, dia beneran hemat pengeluaran, beneran hemat bahkan bajunya cuma itu-itu aja, hape masih versi lama, ga mentingin gaya hidup sama sekali

Indonesia
15
1.5K
3.7K
85.9K
zed retweetledi
Mas Pur
Mas Pur@rasjawa·
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA. Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?" Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Mas Pur tweet mediaMas Pur tweet media
Indonesia
288
7.1K
25.7K
1.4M
zed retweetledi
Giddy
Giddy@GiddyDubz·
@lunamuse_ You dont tell a woman to smile. You want her smile, it's your job to put it on her face.
English
4
52
2.1K
55.6K
zed
zed@seaofmatchaa·
Nyesek banget rasanya. Langsung throwback ke masa kecilku dimana penuh kekerasan dan segala emosiku itu invalid, bahkan sampai sekarang emosiku itu invalid hehe. Intinya klo aku disakiti aku harus diem2 aja gitu ya? Walau hal sepele yg bikin sakit aku harus diem gitu ya?
Indonesia
0
0
0
37
zed retweetledi
Prima プリマ 🦉
Prima プリマ 🦉@primawansatrio·
Jadi inget dulu sering dimarahin ortu karena ngelakuin kesalahan, terus akhirnya terpaksa bohong biar ga dimarahin. Terus pas ketahuan bohong, ditanyain kenapa kok berani bohong? Aku jawab, “soalnya kalau jujur nanti dimarahin.” Ortu respon, “ya kalau ga mau dimarahin jangan berbuat salah dong.” Sempet bingung gimana caranya ya haha. Akhirnya jadilah pribadi yang risk-averse (menghindari resiko), supaya ga melakukan kesalahan. Atau ya bohongnya mesti lebih jago biar ga ketahuan. Pas udah dewasa (lulus kuliah), tau ga sehat. Akhirnya pelan2 merbaiki pola pikir dan karakter sendiri, dan akhirnya menerapkan pola pengasuhan yang sehat ke anak supaya ga kejadian di anakku. Breaking the cycle 😄
Ayo Kita Bahas@Ahmaadnajib

Sebenarnya, anak-anak yang "jago bohong" dari strict parents itu sedang mempraktikkan cara bertahan hidup paling dasar. Dalam psikologi, ini adalah mekanisme pertahanan diri yang muncul ketika kejujuran tidak lagi menawarkan rasa aman, melainkan ancaman hukuman. Saat ruang untuk berbuat salah ditutup rapat, otak anak otomatis beralih ke mode survival. Ayo kita bahas:

Indonesia
104
4K
20K
663.7K
zed retweetledi
ren.
ren.@bandaryaoi·
@yappingfess Tell me. Is it normal for us, girls, ketika pacaran, berperilaku kek pengemis gini dengan banyak mau serta minta diprovide ini itu, padahal BARU PACARAN??? Standar dan pola pikir kek gini really pissed me off. Cant you provide yourself, sampe harus ngemis ke laki yang BELUM SAH?
Indonesia
237
5.1K
40.7K
817.7K
zed
zed@seaofmatchaa·
Yulia baltschun kurang mantep apa coba, bisa - bisanya suaminya selingkuh. Sebenernya yg dicari cowok tu apasih, dikasih yg perfect masih aja matanya jelalatan
Indonesia
0
0
2
688
zed retweetledi
Tubagus Siswadi W
Tubagus Siswadi W@tb_siswadi·
Lagi rame kasus grup wa mahasiswa UI mau berpendapat dari sisi medis khususnya psikologi, karena saya bukan polisi moral 😆 Kenapa banyak cowok bisa nyaman ngomongin perempuan secara objektifikasi di grup privat? Karena ada yang namanya “disinhibisi online”. Saat merasa aman, anonim, dan “cuma di grup”, otak kita jadi lebih berani ngeluarin sisi yang biasanya ditahan. Ditambah lagi efek peer pressure. Di otak, ini berkaitan dengan sistem reward: • Dapet respon “haha”, “anjir”, “setuju” • Dianggap lucu, dianggap bagian dari circle • Dopamin naik. Lama-lama, perilaku itu “dipelajari” sebagai sesuatu yang menyenangkan dan normal. Masalahnya? Kalau terus diulang, ini bisa mengarah ke desensitisasi. Empati ke perempuan turun. Perempuan gak lagi dilihat sebagai manusia utuh… tapi jadi objek. Ini bukan hal sepele. Dalam banyak studi psikologi, objektifikasi yang terus-menerus bisa jadi pintu awal ke: • Pelecehan verbal • Pelecehan seksual • Bahkan kekerasan seksual Jadi ini bukan cuma “becandaan cowok”. Ini soal pola pikir yang dibentuk pelan-pelan… sampai batasnya jadi kabur. Makanya penting banget buat sadar: Kalau kalian cuma bisa bonding dengan cara merendahkan orang lain, itu bukan bonding. Itu conditioning. Dan kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma ke orang lain… Tapi ke cara otak memandang manusia..
Indonesia
46
4.4K
10.2K
291.2K