Sabitlenmiş Tweet
kj ☾
1.9K posts

kj ☾ retweetledi
kj ☾ retweetledi

Cry during the degree. Cry after the degree. Cry for the job. Cry after the job. Cry for residency. Cry after the residency.
But, just keep studying. Keep studying. While you keep crying. Thanks.
۟@prdkyu
Please study hard. you can cryyyyyyyyyy after you get that degree.
English
kj ☾ retweetledi

“diam berarti consent” your future lawyer has a rapist mentality..... women really need a gun omfg
sampahfhui@sampahfhui
[anak fhui bikin grup isinya lecehin perempuan tiap hari???]
English
kj ☾ retweetledi
kj ☾ retweetledi
kj ☾ retweetledi

Jika kita membedah Sejarah dengan pisau analisis struktural, kita akan menemukan bahwa Islamofobia, Queerfobia, dan bahkan Kristenofobia adalah cipta kondisi sosial yang sengaja dipelihara. Kapan kita sadar tentang hal ini?
Ketiganya merupakan gejala dari penyakit yang sama: sebuah sistem imperialis dan kapitalis yang sangat bergantung pada konflik horizontal agar sistem tersebut tetap bertahan.
Imperialis Eropa tidak menaklukkan dunia hanya dengan kekuatan senjata; mereka menaklukkannya dengan memanipulasi identitas. Untuk mengontrol populasi yang jauh lebih besar dari mereka, kaum imperialis memetakan, mengkategorikan, dan menciptakan hierarki di antara penduduk lokal. Mereka memberikan hak istimewa kepada satu kelompok agama atau etnis, sambil merampas hak kelompok lain.
Ketika kemerdekaan diraih, batas-batas negara sering kali digambar sembarangan oleh mantan penjajah, meninggalkan bom waktu berupa konflik etnis dan agama, seperti di India dan Pakistan, bahkan penjajahan Israel di Palestina.
Luka sejarah ini kemudian diwariskan. Konflik agama tak lebih merupakan warisan dari strategi pecah-belah ini. Alih-alih menyadari bahwa sumber penderitaan mereka adalah struktur ekonomi pascakolonial yang menindas, masyarakat diakar-rumput dimanipulasi untuk melihat tetangga mereka yang berbeda agama sebagai ancaman.
Kapitalisme membutuhkan kelas pekerja yang terpecah belah. Jika seluruh masyarakat kelas pekerja (apapun agama, ras, dan orientasi seksualnya) menyadari bahwa mereka memiliki kepentingan ekonomi yang sama, seperti upah yang layak, perumahan, akses kesehatan, mereka akan bersatu dan "meninju ke atas" (punching up) ke arah segelintir elit yang menguasai kekayaan.
Islamofobia: Sejak era Perang Dingin berakhir dan berganti dengan narasi War on Terror, Islamofobia diproduksi secara massal oleh kompleks militer-industri. Ketakutan terhadap Islam digunakan untuk melegitimasi invasi imperialis demi penguasaan sumber daya dan membenarkan anggaran militer triliunan dolar untuk melindungi kepentingan nasional. Di tingkat domestik, pekerja kerah biru di negara Barat dibuat percaya bahwa imigran Muslim-lah yang "mencuri pekerjaan mereka," bukan korporasi yang memindahkan pabrik untuk mencari buruh murah.
Queerfobia: Kapitalisme sangat bergantung pada struktur keluarga inti tradisional (heteronormatif) sebagai unit ekonomi dasar untuk mereproduksi tenaga kerja baru (anak-anak/buruh masa depan) dan membebankan kerja-kerja perawatan yang tidak dibayar (mengurus anak, memasak) kepada perempuan. Eksistensi kelompok queer dianggap mengancam efisiensi jalur perakitan ini. Selain itu, politisi sayap kanan sering kali memicu kepanikan moral terkait isu LGBTQ+ murni untuk mendistraksi pemilih dari kegagalan pemerintah dalam menyediakan jaring pengaman sosial.
Kristenofobia: Di beberapa wilayah non-Barat, minoritas Kristen sering kali dijadikan kambing hitam oleh elit lokal (oligarki) yang gagal menyejahterakan rakyatnya. Di sisi lain, di negara-negara Barat mayoritas Kristen, politisi populis sering menciptakan narasi palsu bahwa "Kekristenan sedang diserang" agar kelas pekerja kulit putih yang miskin tetap mendukung kebijakan pro-miliarder, demi "mempertahankan nilai-nilai agama."
Ketika seorang pekerja yang kesulitan membayar tagihan listriknya diajarkan untuk membenci tetangganya yang seorang gay, atau ketika seorang penganut agama tertentu diajarkan untuk mencurigai imigran yang berbeda keyakinan, energi perlawanan mereka tersedot habis.
Inilah yang disebut sebagai konflik horizontal atau punching sideways. Masyarakat terlalu sibuk berdebat tentang siapa yang berhak menggunakan toilet umum atau membangun tempat ibadah, sementara para CEO korporasi besar terus menghindari pajak dan memotong hak-hak buruh.
Media massa yang dikuasai konglomerat dan algoritma media sosial meraup keuntungan (engagement) tertinggi dari kemarahan dan polarisasi. Sentimen kebencian adalah komoditas yang sangat menguntungkan.
Sejarah mengajarkan kita satu hal yang pasti: elitisme dan kapitalisme paling takut pada solidaritas.
Selama Islamofobia, queerfobia, dan Kristenofobia dilihat sebagai "masalah moral" atau "benturan peradaban"—dan bukan sebagai alat kendali politik-ekonomi—status quo akan tetap aman. Sebagai masyarakat, kita harus mulai mengenali siapa yang sebenarnya menuai keuntungan secara materiel ketika orang-orang di kelas bawah saling menghancurkan. Cui bono?
Pembebasan sejati tidak akan terjadi dengan menindas sesama kelompok yang terpinggirkan, melainkan dengan mengarahkan kemarahan kolektif kita ke atas, membongkar sistem yang sengaja memecah belah kita sejak awal.
Referensi:
D'Emilio, J., 'Capitalism and Gay Identity', dalam A. Snitow, C. Stansell, dan S. Thompson (eds.), Powers of Desire: The Politics of Sexuality, New York, Monthly Review Press, 1983.
Federici, S., Caliban and the Witch: Women, the Body and Primitive Accumulation, New York, Autonomedia, 2004.
Harvey, D., A Brief History of Neoliberalism, Oxford, Oxford University Press, 2005.
Herman, E. S., dan Chomsky, N., Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media, New York, Pantheon Books, 1988.
Kumar, D., Islamophobia and the Politics of Empire, Chicago, Haymarket Books, 2012.
Mamdani, M., Define and Rule: Native as Political Identity, Cambridge, MA, Harvard University Press, 2012.
Said, E. W., Orientalism, New York, Pantheon Books, 1978.

🍉iwin🍉@niwseir
Ini bukan islamophobia tapi minoritas-phobia. Negara ini melanggengkannya dengan peraturan bersama 2 menteri dalam negeri dan agama. Peraturan ini membuat pendirian rumah ibadah/kegiatan ibadah wajib mendapatkan izin dari warga mayoritas. Kartu mati untuk minoritas jenis apapun.
Indonesia
kj ☾ retweetledi
kj ☾ retweetledi














