ؘ@sejak2006
Malam ini kita adakan debat spesial. Jack Dorsey (pendiri & mantan CEO Twitter) vs Elon Musk (pemilik X/Twitter sekarang). Silakan!
Jack Dorsey:
Elon, aku menghargai kamu beli Twitter. Tapi kamu mengubahnya jadi mesin politik dan drama. Twitter seharusnya jadi public square yang netral, bukan tempat satu orang mendominasi. Kamu terlalu banyak ikut campur, terlalu impulsif. Keputusan harus dibuat secara kolektif, bukan berdasarkan mood malam hari.
Elon Musk:
Haha, Jack… kamu terlalu idealis. Dulu waktu kamu jadi CEO, Twitter jadi sarang sensor, shadow ban, dan bias kiri yang parah. Mereka ban Donald Trump, tapi biarkan pemimpin Iran dan Taliban bebas ngomong. Itu bukan public square, itu public toilet yang dikontrol segelintir orang. Aku beli dengan harga $44 miliar supaya kebebasan berbicara benar-benar terjadi.
Jack Dorsey:
Kebebasan berbicara bukan berarti kebebasan menipu orang, Elon. Kamu justru bikin platform ini penuh bot, hate speech, dan konspirasi. Algoritma kamu sekarang malah mempromosikan konten yang bikin orang marah karena itu yang bikin engagement tinggi. Kamu bilang “free speech”, tapi sebenarnya “free speech for whoever I agree with”.
Elon Musk:
Salah besar. Aku justru merilis seluruh algoritma ke publik biar orang bisa audit. Aku kurangi shadow ban. Aku buka Community Notes supaya orang bisa koreksi berita palsu. Hasilnya? X sekarang lebih transparan daripada zaman kamu. Dulu Twitter seperti partai politik berpakaian perusahaan teknologi. Sekarang minimal jujur soal biasnya.
Jack Dorsey:
Kamu ubah Twitter jadi X, mau jadi “everything app” seperti WeChat. Itu ambisius, tapi kamu malah bikin orang bingung. Twitter dulu sederhana: 280 karakter buat berbagi pikiran. Sekarang penuh video panjang, live streaming, shopping, dan crypto. Kamu hilangkan soul-nya.
Elon Musk:
Soul-nya? Soul Twitter dulu adalah sensor dan kebangkrutan. Aku selamatkan perusahaan ini dari bangkrut. Revenue dari subscription (X Premium) naik drastis. Iklan memang turun, tapi itu karena aku bersihkan bot dan brand safety. Lebih baik perusahaan sehat dengan prinsip daripada perusahaan “baik” tapi mati pelan-pelan.
Jack Dorsey:
Kamu terlalu fokus ke “freedom”, tapi lupa ke tanggung jawab. Platform sebesar ini punya dampak ke masyarakat, pemilu, bahkan kerusuhan. Kamu terlalu percaya manusia bisa mengatur dirinya sendiri tanpa aturan yang kuat.
Elon Musk:
Justru sebaliknya, Jack. Aku percaya pada humanity dan market of ideas. Kalau ide buruk, biarkan dikalahkan ide yang lebih baik. Bukan kamu atau tim kecil yang memutuskan mana yang boleh muncul. Itu namanya otoritarianisme berbalut kebaikan.
Moderator:
Terima kasih Jack dan Elon.
Kita rehat sejenak untuk ikuti jeda pariwara