@blauesein “Kenapa kamu selalu menyentuh tubuhku tanpa izin!”
Pemuda bermarga Minagi itu menahan tangan Kokoro. Raut wajahnya penuh amarah, juga rasa ingin yang barangkali gagal disembunyikan.
“Kalau aku beri izin, apa kamu benar-benar akan menandai seluruh tubuhku?”
@blauesein “Aku hanya... tidak siap kalau orang-orang mulai melemparkan pertanyaan demi pertanyaan tentang hubunganku.”
Kini, Ryousei membuang muka karena terlalu malu menghadapi Kokoro.
“Makanya jangan buat tanda yang bisa terlihat muda orang luar, Kokoro...”
@blauesein “Aku tidak mesum dan aku malu apabila orang-orang memperhatikan tandamu padaku seakan-akan aku objek penglihatan!”
Ryousei mengerucutkan bibir dengan kesal, meski napasnya tercekat dan tubuhnya menegang akibat cengkeraman Kokoro pada lehernya.
@blauesein Namun, dia mendapati diri menengadahkan kepala seakan-akan memberi ruang untuk Kokoro.
“Mmh...” Terlepas juga desahannya.
“Dasar mesum. Apa kamu tidak malu meninggalkan begitu banyak tanda di leherku? Bagaimana kalau ditatap terus?”
@blauesein Benar, apa saja, tetapi Ryousei sama sekali tidak menyangka lehernya akan menjadi target pertama. Pasalnya, leher dia terlampau sensitif dan merupakan bagian paling sulit ditutupi kalau Kokoro meninggalkan tandanya di sana. Rupanya Ryousei salah berbicara.
@blauesein “Mau semua kerinduanku dibayar lunas.” Tegas suaramu, terlihat tidak akan mudah dibujuk oleh Kokoro melalui apapun.
“Lakukan apa saja yang bisa kamu lakukan. Aku masih kesal denganmu karena kamu menghilang. Jangan harap aku luluh semudah itu.” Ah, gawat, ya?
@separatedream Satu tangannya melingkar pada pinggang rampingmu, satu lainnya sibuk membelai pipimu. “Maaf, sayang...” Dia bubuhkan kecup pada bibirmu sekali lagi dengan lembut. Tangannya tak berhenti membelai.
“Sekarang aku sudah di sini. Sayangku, ingin apa?”
@blauesein “Mmh...”
Sayangnya, kamu lemah terhadap bibir Kokoro dan keajaiban yang dibawanya sehingga suaramu terlepas dengan sendirinya. Sial, pikirmu, pemuda ini selalu bisa membuatmu kalah padanya.
“... Aku juga merindukanmu,” bisikmu, tanganmu perlahan memeluk. “Kamu tega, Kokoro.”
@separatedream Sebab tidak mendapat reaksi yang diinginkan, Kokoro menjilat bibir bawahmu sebelum ia gigit pelan.
“Rindu cantikku, Ryousei.”
Kokoro pun rindu padamu. Sangat. Rasanya ia ingin sekali membawamu kemana-manaーkalau saja dirinya bisa.
You took a glance at his eyes, the same eyes that drew you in at first sight, and now have trapped you with him.
“I would stop you if you go too far,” Your hand went up to his hair, brushing it gently between your fingers. “But, I believe you won't.”
His hand settles on @separatedream thigh, firm yet unhurried, as if grounding himself in your presence. His eyes remain locked onto yours—steady, intent—like he is trying to read every unspoken thought behind them.
Then he leans in. His lips find your neck first, slow and ...
No, this wasn't how things supposed to go. You're not supposed to feel pleasant by his touches alone, and yet here you are, whimpering and squirming under him.
“Kokoro...” You whined this time, and you didn't even realize. “Be gentle...” / @blauesein
Though the way Kokoro was treating you says many; you weren't going to have a quiet night, you assume. You knew the walls would need to work harder to stifle obscene sounds that may appear here and there.
“Ah—I feel it...”
Your pants was beginning to feel tighter.
“... Be gentle, or...?” You hoped Kokoro would know what you're talking about without you saying it out loud. It was embarrassing, but a small part of you wanted to feel him whole. You didn't want him to hold back. / @blauesein
Your legs created more gap in between, a quiet welcome for Kokoro to lean and rest his body on. Your arms are wrapped around his shoulders, pulling him close so there was no gap between you and him.
“Will you...” You breathed out between the kiss.