shaaaa | NO TRAGEDY 🌹

6.4K posts

shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 banner
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹

shaaaa | NO TRAGEDY 🌹

@shafistrying

Ngehype apapun: Hearts2Hearts | TWS | Anton | Kdrama | Books (sometimes) | apapun yg lucu2 dan masuk akal

Katılım Mayıs 2023
257 Takip Edilen163 Takipçiler
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
chh🍀
chh🍀@ukh_tami·
260517 - ASEA 2026 sskrrrrr !! keren banget coy dapet bosang 🥳 selamat uri hatuha kalian sangat pantas mendapatkannya 🥹🫂💕 🏆ASEA The Platinum (Bonsang) - ASEA 2026 Speech 🎤🧁🌻🫛 #Hearts2Hearts #하츠투하츠 #H2H @Hearts2Hearts
Indonesia
9
395
2.3K
27.2K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
chh🍀
chh🍀@ukh_tami·
Congratulations ciwi ciwi keren 😘 🏆Best Female Grup - ASEA 2026 Speech 🎤 🍓🌴😊 #Hearts2Hearts #하츠투하츠 #H2H @Hearts2Hearts
Polski
12
715
3.8K
40.3K
YAPPINGFESS
YAPPINGFESS@yappingfess·
Yap! Aku voter 02 dan mau minta maaf sam orang Indonesia, sender awalnya pilih Prbowo big respact. Ternyata efeknya malah gini, sender kecewa banget sumpah. Maaf ya 😭😭
Indonesia
2.1K
261
4.6K
397.8K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
bia
bia@bersuwara_·
semua gara gara wowo
bia tweet media
Indonesia
34
5.9K
17K
97.9K
Irilrahmanr
Irilrahmanr@catonlythoughts·
Hi guys kenalin gue iril, single 30 taun, kerja jadi quality lead di malaysia. Gue da kerja di beberapa negara dan gue bisa bilang skill data tuh global. Pasti dibutuhin. Gue biasanya bahas data dari yang simple sampe complicated, ayo networking sama gue gakan rugi.
Irilrahmanr tweet mediaIrilrahmanr tweet mediaIrilrahmanr tweet mediaIrilrahmanr tweet media
Indonesia
278
202
4.1K
131.8K
jai
jai@mantan_kamuu·
@yelvyah Soalnya ga ada pilihan lagi. Kandidat yg lainnya anis 🤣 Sama ganjar 🤣
Indonesia
31
0
8
12.7K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
mazi
mazi@yelvyah·
otak lu pada kemana jing waktu pemilihan presiden malah pilih prabowo
Indonesia
286
19.9K
53.4K
588.5K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada nama yang menurut gue perlu dibahas lebih serius dari yang selama ini dibahas media. Letkol Teddy Indra Wijaya. Sekretaris Kabinet. Bukan menteri. Bukan jenderal bintang empat. Tapi dalam konteks kebebasan pers dan kontrol informasi di pemerintahan Prabowo dia adalah satu nama yang paling banyak disebut oleh para jurnalis yang berbicara di balik anonimitas. Apa yang terjadi di bencana Sumatra dan di mana Teddy masuk: Akhir November 2025. Banjir dan longsor menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. BMKG sudah memberikan peringatan delapan hari sebelumnya. Tidak ada rapat darurat. Tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah pusat. Saat bencana meluas Prabowo tetap menjalani agenda seperti biasa. Rapat soal koperasi. Ketemu Menteri Kelautan. Menerima Ratu Belanda. Baru di tanggal 27 November setelah 72 orang meninggal dan 54 orang hilang rapat penanganan bencana digelar. Dan per Januari 2026, korban tercatat 1.199 orang meninggal dan 114 orang hilang. Di tengah semua itu ada wartawan bernama Rina yang dikirim liputan ke Aceh. Lebih dari tiga minggu di lapangan. Dia melihat beras menumpuk di posko tapi tidak disalurkan. Seorang pria yang istrinya harus diamputasi tapi tidak bisa karena tidak ada alat. Orang-orang yang mengaku sudah siap bunuh diri karena tidak kuat lagi. Rina melakukan siaran langsung. Dia tumpahkan semua yang dia lihat. Dan Teddy Indra Wijaya Sekretaris Kabinet menonton siaran itu dari Jakarta. Lalu Teddy menghubungi pemilik media tempat Rina bekerja. Mengamuk. Dan meminta pemimpin redaksi media itu diganti. Bukan insiden tunggal ini pola: Wartawan lain bernama Indira yang dikirim ke Padang mengalami hal serupa. Setelah dia melapor bahwa bantuan belum datang dan pemerintah belum terlihat atasannya langsung menelepon. "Next, jangan sebut kalau belum ada bantuan masuk, ya." "Tapi memang belum ada bantuan. Faktanya begitu." "Cerita soal dampaknya aja. Tapi jangan kasih tahu kalau bantuan belum masuk." Indira akhirnya siaran langsung di depan sebuah ekskavator yang membersihkan sisa longsor bukan karena ada kemajuan nyata, tapi karena itu satu-satunya hal yang bisa terlihat seperti "pemerintah bekerja." "Maksa banget," kata Indira. Teddy dan pola Orde Baru yang sangat familiar: Project Multatuli yang menginvestigasi ini menarik perbandingan yang sangat tepat dan sangat tidak nyaman. Di era Orde Baru tidak ada larangan tertulis soal apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan. Yang ada adalah telepon. Pejabat atau perwira militer tertentu menelepon petinggi redaksi untuk memberi arahan, teguran, atau larangan atas isu tertentu. Tidak perlu SK. Tidak perlu aturan resmi. Cukup satu telepon dari orang yang tepat dan seluruh redaksi paham apa yang harus dilakukan. Apa yang dilakukan Teddy? Persis sama. Menelepon pemilik media. Mengamuk. Meminta pemred diganti. Tanpa surat resmi. Tanpa proses hukum. Cukup satu telepon. Yang paling ironis Teddy adalah simbol harapan yang berubah menjadi simbol yang lain: Banyak yang dulu berharap besar pada sosok militer muda yang masuk lingkaran dalam Prabowo. Ada harapan bahwa generasi baru perwira akan membawa cara kerja yang berbeda. Lebih profesional. Lebih terukur. Yang kita saksikan sekarang adalah seseorang yang menggunakan posisinya sebagai Sekretaris Kabinet posisi administratif, bukan posisi keamanan untuk mengontrol arus informasi tentang kegagalan pemerintah dalam menangani bencana. Bukan mengontrol berita palsu. Bukan melawan disinformasi. Tapi meminta media tidak memberitakan bahwa bantuan bencana belum datang saat bantuan memang belum datang. Dan Teddy tidak merespons pertanyaan dari Project Multatuli: Pertanyaan dikirim ke nomor pribadinya dan ke email resmi humas Setkab. Tidak ada respons sampai artikel diterbitkan. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada bantahan. Hanya diam. Ketika seorang Sekretaris Kabinet bisa menelepon pemilik media dan meminta pemimpin redaksi diganti hanya karena wartawannya melapor bahwa bantuan bencana belum datang itu bukan soal satu orang yang arogan. Itu adalah sistem yang memang dirancang untuk memastikan bahwa rakyat hanya mendengar apa yang penguasa mau mereka dengar. Dan sistem seperti itu pernah kita kenal. Namanya Orde Baru. Dan kita butuh 32 tahun untuk keluar dari sana. ⚠️ Disclaimer: Berdasarkan investigasi Project Multatuli dalam serial Dead Press Society. Semua nama wartawan disamarkan untuk melindungi sumber. Teddy Indra Wijaya tidak merespons pertanyaan yang diajukan sampai artikel diterbitkan.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
241
4.7K
8.7K
333.8K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
XYZ
XYZ@KristonyHarahap·
@LambeSahamjja Pelajaran penting dr kasus ini dan lainnya : mulai skrg gak usah sok2 ngabdi ke negara gagal ini, percuma juga, bisa apes berakhir di balik jeruji. Kalo pun mau 'ngabdi', ya buat nilep aja.... Kalo Anda pintar dan cerdas, segera menjauh, berkarya aja buat keluarga, itu udah keren
Indonesia
1
8
159
7.4K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir. Dan dia ngomongnya bukan sebagai pembela Nadiem. Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja. Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah: Ahok bilang dengan sangat tegas: pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika. Chromebook itu bukan laptop biasa. Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus. Harganya jauh lebih terjangkau dari laptop konvensional. Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau. Ahok kasih contoh nyata. Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar. Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia. Itu bukan mimpi. Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada. "Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan. Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia." Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat: Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang: "Saya pikir ini sengaja." Logikanya sederhana dan sangat keras. Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai. Lebih sulit dibohongi. Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu. Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa. Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan. MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama. Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana. "Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus, kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?" Yang paling menohok soal survei dan legitimasi: Ahok tidak berhenti di situ. Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas. Pemerintah melakukan survei. Rakyat bilang mereka suka makanan gratis. Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG. Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan. Tapi Ahok membaliknya: kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata. Itu bukan preferensi yang genuine. Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi. "Mereka juga pintar. Dia survei, Pak. Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi." Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun: Ahok tidak membela Nadiem secara personal. Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah: Menteri itu tidak pernah menyentuh anggaran secara langsung. Menteri membuat kebijakan. Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya. Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah: apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit? Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri? PPATK sudah menjawab: tidak ada. Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun. "Saya pikir ya ini soal profesionalisme. Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya." Ahok tidak sedang bicara soal Chromebook sebagai produk. Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa: apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa? MBG memberikan makan hari ini. Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup. Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan. Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
319
11.1K
23.9K
937.7K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
Bad News From Indonesia
Date cancelled, Dia anggep semua berita buruk tentang Indonesia itu hoax yang dibuat untuk menjatuhkan citra bangsa. Adalagi?
Bad News From Indonesia tweet mediaBad News From Indonesia tweet mediaBad News From Indonesia tweet mediaBad News From Indonesia tweet media
Indonesia
1
255
750
6.5K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
bia
bia@bersuwara_·
jujur ga beres
bia tweet media
Indonesia
54
11.6K
31K
216K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
Lucunya Negeri +62, 1. PAM = Perusahaan Air Minum... airnya gak bisa diminum 2. MBG = Makan Bergizi Gratis... gak bergizi dan gak gratis 3. IKN = Ibu Kota Negara... statusnya bukan ibukota negara 4. KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi... korupsinya malah makin merajalela 5. DPR = Dewan Perwakilan Rakyat... rakyatnya tidak terwakili 6. BPJS Kesehatan = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan... sehatnya tidak terjamin 7. PLN = Perusahaan Listrik Negara... listriknya sering mati 8. Pajak = katanya untuk rakyat... yang menikmati bukan rakyat 9. KRL = Kereta Rel Listrik... listriknya sering padam, keretanya tetap jalan padat 10. UMP = Upah Minimum Provinsi... minimumnya betul, tapi tidak cukup untuk hidup layak 11. 12. 13. Apa lagi nih+62
Indonesia
153
9.5K
26.7K
466.6K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
Diow
Diow@diowkrn·
tolong lancarkanlah rezeki kita semua kecuali voters 02🙏🏻
Indonesia
125
8.2K
21.7K
199.8K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
kieya taulany ★
kieya taulany ★@sushiohyul·
stop ributin kpop guys, nih negara kita udah mau jadi negara mbg.. kalian siap hidup berdampingan dengan ompreng? tuh rupiah lu udah 17.600 per 1 usd 😭
Indonesia
72
4.6K
17.8K
172.9K
shaaaa | NO TRAGEDY 🌹 retweetledi
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
Nasib +62 seminggu terakhir : - Putusan MK : Jakarta tetep ibu kota, gak jadi IKN - Sambo Kuliah S2 di lapas - Nadiem divonis 18 + 9 tahun - Ibam divonis 4 tahun - Andrie Yunus gak sopan dan ber etika, makanya disiram air keras - Nonton Film Dokumenter dilarang - Lembaga tinggi negara bikin cerdas cermat aja, juri nya blunder Ada yg mau nambahin?
Indonesia
411
15.6K
40K
697.8K