⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨
35.7K posts

⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨
@siparklee
surviving on delusion and iced coffee
ncthings Katılım Nisan 2012
681 Takip Edilen1.1K Takipçiler
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi

KOK BISA-BISANYA GUE TAU DARI MEDIA LUAR???
Weather Monitor@WeatherMonitors
A massive fire is burning in a gas pipeline following an explosion this morning in Gampong Blang Rubek, Lhoksukon District, North Aceh Regency, Aceh Province, Indonesia 🇮🇩 (May 22)
Indonesia
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi

Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.

Indonesia
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi

“Rakyat kita tidak bermimpi kehidupan yang kaya-raya.”
Meanwhile gue tiap hari MANIFESTING:
- Pengen beli ini itu tanpa harus pusing lihat harga
- Pengen jalan-jalan keliling Indonesia sampai luar negeri
- Pengen konseran di berbagai negara
- Pengen beli merch K-pop yang diinginkan tanpa mikir dua kali
- Pengen ganti HP kalau mau, tanpa harus nunggu rusak dulu
- Pengen jajan apa pun yang lagi diinginkan
- Pengen bahagiain orang tua dan bisa beliin apa pun yang mereka mau
Jadi… rakyat mana sih yang nggak pengen hidup kaya raya??? 😭
Indonesia
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi

Kalian mau tau gak tololnya pemerintah itu apa? Di Papua dibikin program swasembada pangan, tapi yang ditanam padi sedangkan makanan pokok orang Papua itu sagu.
Kalau emang niatnya mau swasembada pangan, yang diperbanyak itu tanaman yang menghasilkan sagu karena sagu termasuk salah satu pangan. Tapi nyatanya apa? Yang ditanam padi, sedangkan warlok Papua gak terbiasa nanem padi.
Nah yang lebih bikin kesel tuh, di Papua juga bakal ditanamin sawit, jagung, dan tebu. Alasannya? ENERGI BARU TERBARUKAN tapi malah buka lahan baru dengan membabat hutan.
Yang jadi pertanyaan tuh, kenapa harus buka lahan baru? Kenapa gak manfaatin lahan gambut yang sebenernya bisa direkayasa ulang buat nanem sawit, jagung, dan tebu?
Indonesia
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi

Pak anies menang pilkada tapi dapet cap politik identitas sampe sekarang.
Padahal yg maju paling depan nuntut Ahok juga prabowo wkwk
sini gw jelasin satu satu:
1. Sejak 2012 ahok udah sering singgung masalah politik identitas (anies masih rektor), puncaknya ya pas penistaan agama 'al maidah'
2. Yang menunggangi demo, prabowo sama jokowi
3. Yang ikut laporin itu habiburrahman dari gerindra.
4. Yang memberatkan di persidangan, kesaksian dari ma'ruf amin yg kemudian diangkat jadi wapres (politik identitas??)
5. Cuma karna Anies lawannya dan menang, celakanya dia yg harus menanggung semua tuduh2an itu sampe sekarang wkwkwk


Fajar Nugros@fajarnugros
Andai pas Pilgub gak bawa2 politik identitas mungkin saya udah jadi pendukungnya..
Indonesia
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi
⋆𝐚𝐧𝐧𝐦𝐞𝐫𝐢𝐜𝐚𝐧𝐨 retweetledi





















