Indiv ✨

27K posts

Indiv ✨ banner
Indiv ✨

Indiv ✨

@skyxbluew

୧ ‧₊˚ WOMEN & GIRL AREA 🎀🌷; ✨ beauty, fashion, random stuff ; check my review on #DivMereview / on Highlights ‧₊˚ ⋅* ‧₊

Katılım Ağustos 2017
990 Takip Edilen4.6K Takipçiler
Indiv ✨
Indiv ✨@skyxbluew·
@baseconvo Pak udahlah miskin pake jahat pula, harusnya yang menyesal itu anak bapak, sia2 anaknya berhasil melalui pembuahan menjadi janin, lalu lahir ke dunia, eh ternyata dapet bapak jahat kayak anda
Indonesia
0
0
0
60
💭 baseconvo
💭 baseconvo@baseconvo·
💭 TITIPAN aku bersyukur terlahir sebagai perempuan, tapi sayangnya bukan di hidup yang sekarang. I wish I lived in a world di mana ayah nggak mandang kehadiran aku sebagai sebuah penyesalan.
💭 baseconvo tweet media
Indonesia
902
778
15.2K
562K
Indiv ✨
Indiv ✨@skyxbluew·
@okedexh @eplizws @baseconvo Berarti bapakmu miskin? Kalo ortu kaya biasanya gak bakal berharap atau minta ke anaknya, malah orang kaya tuh didiknya yg harusnya ngasi ke anak ya orang tua bukan sebaliknya
Indonesia
0
0
0
99
Indiv ✨ retweetledi
dr. Akhada Maulana, Sp.U, MARS🔻
Boleh sy kasih insight sebagai mahasiswa FK UGM d Tahun 1998. Kalau itu ekonomi benar2 drop dan mengena sekali ke masyarakat lapisan bawah. Diluar masalah anjloknya nilai rupiah dan krismon d asean. Cari uang sulit. Antri beras dan minyak juga (kayak tahun 65-66). Kemudian mahasiswa yg bukan dr golongan menengah ikut kena. Shg samoai dibuka kantin Rp 1.000,00 d UGM bagi mahasiswa yg tdk mampu. Sebagai perbandingan nasi sayur lengkap dengan ayam dan 1 lauk lain sekitar Rp 4-5 ribu. Sehingga terjadi kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat bawah. Meletuslah demo tiap Jum'at di Jogja sejak Agustus/September 1997. Merembet k kota2 lain di Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Memasuki Tahun 1998 setiap demo hampir pasti berakhir dengan bentrokan dgn aparat, karena mahasiswa sudah mulai frustasi karena tuntutannya tdk terealisir. Ditambah dengan krisis yang semakin memburuk namun nepotisme dan kolusi tetap dipertontonkan oleh penguasa Orba. Meledaknya ya saat pengumuman Kabinet Pembangunan ke-7. Dimana disitu mbak Tutut juga masuk sbg Menteri. Demo tambah marak dimana2. Kemudian menjelang Mei 1998, masyarakat mulai membantu mahasiswa. Sehingga hampir pasti demo2 berakhir dengan kerusuhan dan berujung perusakan fasilitas umum (saat itu belum terjadi penjarahan). Puncaknya ya Mei 1998, terjadi beberapa kerusuhan besar di Jakarta, Surakarta, dan Medan. Ya udah, tumbanglah Pak Harto. Saat ini mahasiswa masih bs nongkrong di Coffee Shop. Sebagian masyarakat bawah juga masih bs hidup layak. Semoga peristiwa 1998 tdk terulang lagi. Doakan Indonesia tetap aman. Bi'idznillaah.
Lambe Saham@LambeSahamjja

Yang kelahiran 98 keatas bagi info dong apakah ada kesamaan dengan yang terjadi sekarang??

Indonesia
10
48
313
29.8K
Indiv ✨ retweetledi
Nello
Nello@kudanielbintik·
List pekerjaan yang tidak usah dilanjutkan oleh generasi selanjutnya: 1. Guru, dosen 2. Nakes dan tenaga medis 3. Seniman 4. Selanjutnya apa lagi ya? Coba sebutin di bawah. (Buat yang gak paham, ini satir karena pekerjaan2 ini sangat tidak dihargai).
Indonesia
151
697
3.1K
50.1K
Indiv ✨ retweetledi
$dr_regi
$dr_regi@regisipayung·
@shapirowilk @drnewstwit Di tempat gw ada yg lebih extrime.. Dokter bedah digestif, bilangnya saya ga butuh uangnya.. Yg penting pasien mau operasi. Kasusnya saat itu usus bocor karena infeksi. Gw udah bilang berkali-kali, sistim kesehatan Indonesia masih berjalan karena murah hatinya nakes semua
Indonesia
3
93
517
8.7K
Indiv ✨ retweetledi
Indiv ✨ retweetledi
elzgatza
elzgatza@liogtttscrp·
Standar ganda banget. Wanita full dirumah ngurus anak= beban suami, kapan aja bisa ditinggalin, kalau suami mokad kelabakan…. Tambahin sendiri Wanita bekerja ninggal anak NITIP NENEK= beban ortu, nenek tidak dirancang untuk menjaga cucu, ibu tega …tambahin sendiri Wanita bekerja titip anak di daycare= daycare terbaik adalah ibu sendiri, ibu tega Wanita bekerja dititipin ke sus= sus gk tlaten “makanya jagain sendiri” BACOT!!!!
elzgatza@liogtttscrp

MINIMAL EMPATINYA DANN STOP JADI IBU-IBU PICK ME!!!! Kasus daycare di Jogja bikin gw makin sadar: dunia sering terlalu kejam pada sosok “Ibu”. Seolah setiap keputusan seorang ibu untuk anaknya selalu siap dihakimi. “tatapan”, “ucapan” ataupun “komentar” yang dilontarkan oleh orang2 dengan entengnya nggak akan pernah dilupa. Salah satunya untuk keputusan masukin anak ke daycare. “Jahat banget, tega bener ibunya!” - salah satu ucapan yang melekat dan diucapkan dengan entengnya…. oleh seorang Ibu juga. Padahal keputusan daycare bukan hasil cap cip cup kembang kuncup. Percayalah, ada riset, ada diskusi panjang, ada pertimbangan matang. Nggak sebentar, nggak asal 🙂 Gw percaya, banyak ibu-ibu pekerja ataupun non pekerja yang mengalami “proses” serupa, yang akhirnya memutuskan memilih daycare. Proses yang mungkin nggak bisa dilihat orang lain. Ibu juga manusia. Menghakimi atas apa yang dipilih untuk anaknya tentunya justru menjadi beban tambahan. Padahal keputusan ya diambil bareng suami kan? 😉 Jadi, stop deh. Siapa kita men‑judge keputusan orang lain yang bahkan nggak tahu apa saja di baliknya? For a mother, the burden is already heavy enough. BE KIND! Kalau ga bisa, diem aja mending 🫵🏻

Indonesia
53
1.3K
3K
89.3K
Indiv ✨ retweetledi
Andriantod
Andriantod@Andri_an79·
Serius lu doain krismon di negara sendiri demi profit lu yg ga sampe 50k itu? Mending jadi tukang parkir aja, dapat 80k sehari tanpa harus nunggu negara hancur
Andriantod tweet media
Indonesia
498
2.1K
13.6K
554.7K
Indiv ✨ retweetledi
Wakgim
Wakgim@gimbot75·
Bang feri ini ya kalo ngomong suka ceplas ceplos gini, gak takut apa ya?
Wakgim tweet media
Indonesia
261
10.4K
36.1K
365.3K
Indiv ✨ retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
411
20.2K
50.1K
1.2M
Indiv ✨
Indiv ✨@skyxbluew·
@yappingfess Udah jelas2 tulisannya sd negeri, pake nanya lagi 😭
Indonesia
0
0
0
169
YAPPINGFESS
YAPPINGFESS@yappingfess·
yap! "itu sekolah negeri kak?" bukan bang itu swasta SD SWASTA 8 KILMURY
YAPPINGFESS tweet media
Indonesia
1.7K
8.2K
67.3K
2.5M
Indiv ✨
Indiv ✨@skyxbluew·
@tanyarlfes Pengen punya anak tapi gila perempuan, orang kayak gitu gak layak buat punya anak
Indonesia
0
0
1
68
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 INI GILA GA SIH 😔😔😔😔😔😔
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
3.5K
192
5.7K
525.6K
Indiv ✨
Indiv ✨@skyxbluew·
@afrkml Di konoha yang kyak gini gak perlu sertifikasi, sama aja kayak dukun2an
Indonesia
0
0
0
112
Catholic 𐕣
Catholic 𐕣@myshawti·
Orang dewasa aja efeknya sampai biru-biru apalagi yang balita
Indonesia
498
272
2.9K
653.4K