sofie syarief

79.1K posts

sofie syarief banner
sofie syarief

sofie syarief

@sofiesyarief

Usually a journalist, writing stuff about media and democracy, currently a PhD student. Views are my own.

Jakarta, Indonesia Katılım Şubat 2010
974 Takip Edilen33.5K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
sofie syarief
sofie syarief@sofiesyarief·
"Diogenes, if you learn to praise the emperor, you wouldn't be eating lentils." "And if you learn to live of lentils, you needn't have to praise the emperor."
English
10
34
173
278.3K
sofie syarief retweetledi
BBC News Indonesia
BBC News Indonesia@BBCIndonesia·
Aparat, termasuk militer, disinyalir menggunakan narasi antek asing terhadap jurnalis dan aktivis untuk membungkam suara-suara kritis. Hal ini berujung pada teror fisik seperti yang menimpa Andrie Yunus. Demikian disampaikan Amnesty International. bbc.in/4uWp90e
Indonesia
43
2.9K
5K
61.1K
sofie syarief retweetledi
The Japan Times
The Japan Times@japantimes·
Indonesian authorities used online disinformation campaigns to brand activists and journalists as "foreign agents" and silence dissent, sometimes leading to physical threats, Amnesty International said. ebx.sh/zikbcA
English
583
20.7K
29.2K
2.2M
sofie syarief retweetledi
The Straits Times
The Straits Times@straits_times·
From ‘glass cars’ to dollar remarks, Prabowo’s verbal slips draw laughs – but at what political cost? bit.ly/43j6mR2
English
70
3.3K
5.3K
94.5K
sofie syarief retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths economist.com/leaders/2026/0…
English
183
7.4K
12.8K
461.2K
sofie syarief retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
To avoid fiscal calamity, President Prabowo Subianto must change course. To find out how, register to read the full story (it’s free) economist.com/leaders/2026/0…
English
137
2.7K
6K
619.6K
sofie syarief retweetledi
Reuters
Reuters@Reuters·
Indonesia rupiah hits new record low despite currency intervention, president downplays fall reut.rs/3Rfs9GF reut.rs/3Rfs9GF
English
39
749
1.3K
51.3K
sofie syarief
sofie syarief@sofiesyarief·
The Economist can milk this article however much it wants, and I'll just keep reposting because much of the country's media landscape doesn't even have the balls to say what needs to be said.
The Economist@TheEconomist

Its president, Prabowo Subianto, must stop trying to squelch opposition in the legislature, media and civil society. Dissent that cannot find an outlet in politics will spill onto the streets economist.com/leaders/2026/0…

English
20
4.4K
9.2K
185.1K
sofie syarief retweetledi
Wicaksono Management LC
Wicaksono Management LC@bigdigjohnny·
Buat yang MALAS MEMBACA tapi BUKAN PARJO PARCOK. Saya bantu translasi article the Economist biar ga IKUTAN DUNGU teriak antek asing dan "semua akan hilang ketika IHSG bullish": "Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, pernah menyaksikan negaranya hancur sebelumnya. Itu terjadi pada tahun 1998, saat krisis keuangan Asia. Kala itu, runtuhnya ekonomi memicu protes massa dan tumbangnya bapak mertua Pak Prabowo, Suharto, seorang diktator yang terkenal korup. Peristiwa itu juga melemparkan Pak Prabowo, yang sempat berharap bisa menggantikan Suharto, ke dalam pengasingan politik. Butuh waktu seperempat abad baginya untuk merangkak kembali, hingga akhirnya berhasil meraih kursi nomor satu pada tahun 2024. Jadi, Anda mungkin berpikir dia akan sangat berhati-hati terhadap krisis fiskal lainnya: Anda salah. Pemimpin negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia ini telah memusatkan kekuasaan dan mengelilingi dirinya dengan sekelompok penjilat. Dia mendepak menteri keuangan yang dihormati dan menggantinya dengan Purbaya Yudhi Sadewa, yang pernah menyebut IMF "bodoh" dan mengatakan kepada The Economist pada bulan April bahwa presiden tidak perlu khawatir tentang "perkembangan ekonomi global [atau] harga minyak dunia". Para pelaku bisnis di Indonesia takut untuk bersuara, mungkin karena Pak Prabowo adalah mantan jenderal antikritik dengan rekam jejak hak asasi manusia yang dipertanyakan, atau mungkin karena belakangan ini dia kerap mengintimidasi bisnis-bisnis besar. Pak Prabowo tampaknya mengisolasi diri dari kenyataan. Jadi, dia mungkin tidak akan mendengarkan nasihat yang masuk akal. Namun, inilah beberapa masukan untuknya. Proyek-proyek kesayangannya tidak terjangkau. Sebelum perang Iran, menghabiskan proyeksi 10% dari anggaran hanya untuk dua proyek saja—makan siang gratis di sekolah dan jaringan 80.000 koperasi desa—hanya sekadar pemborosan. Sekarang, krisis energi telah menghapus semua ruang untuk melakukan kesalahan. Pak Prabowo harus mengubah arah atau menghadapi risiko krisis. Dia harus memotong pengeluaran untuk proyek-proyek kesayangannya, atau memangkas subsidi bahan bakar fosil Indonesia yang sangat besar, atau melanggar undang-undang yang membatasi defisit anggaran sebesar 3% dari PDB. Setiap pilihan memiliki risiko. Memangkas proyek mubazirnya akan membuatnya tampak lemah. Membiarkan harga energi naik akan mengundang kerusuhan. Jadi, Pak Prabowo mungkin akan mengambil jalan ketiga: membiarkan defisit menembus batas hukumnya. Itu akan menjadi sebuah kesalahan. Memang benar, batas 3% adalah angka sewenang-wenang yang disalin-tempel dari Perjanjian Maastricht Eropa. Namun sejak krisis 1998, angka itu telah menjadi sinyal bahwa pemerintah Indonesia serius menjaga disiplin fiskal. Sekarang para investor mulai cemas. Pembayaran bunga sebagai bagian dari pendapatan pemerintah melonjak tajam. Lembaga pemeringkat kredit sedang bersiap untuk menurunkan peringkat. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, modal asing senilai $6 miliar telah keluar dan rupiah telah melemah sebesar 11% terhadap dolar ke rekor terendah. Menjebol batas anggaran akan mendorong biaya pinjaman menjadi lebih tinggi. Bahkan saat dia membuat ekonomi menjadi lebih genting, Pak Prabowo juga mengikis demokrasi Indonesia. Oposisi legislatif hampir sepenuhnya dilumpuhkan, dan proposal untuk mengakhiri pemilihan langsung gubernur provinsi bukan merupakan pertanda baik. Masyarakat sipil diintimidasi. Ruang untuk berbeda pendapat sangat sedikit, dan jika ada, minim pergulatan kreatif antar-gagasan yang saling bersaing. Terlalu banyak hal yang bergantung pada naluri seorang mantan tentara tunggal yang mendapat saran buruk. Dia perlu mendengar kebenaran yang pahit. Ya, bahan bakar murah memang populer. Namun hal itu mendorong konsumsi di tengah situasi kelangkaan. Ya, orang-orang menyukai makan siang gratis di sekolah. Namun memberikannya kepada semua orang adalah pemborosan. Lebih bijaksana untuk fokus pada ibu hamil dan balita dari keluarga miskin, yang membutuhkan nutrisi lebih baik guna mencegah stunting (tengkes). Ya, petani Indonesia kerap diperas oleh tengkulak saat membeli pupuk. Namun ada cara yang lebih murah untuk mengatasi hal ini ketimbang membangun 80.000 koperasi desa, yang kemungkinan besar justru rentan korupsi. Dan ya, batas defisit 3% bisa saja dinaikkan suatu hari nanti. Namun pertama-tama, Pak Prabowo harus meyakinkan pasar bahwa keuangan Indonesia berada di tangan yang aman. Persimpangan jalan baru Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam seperempat abad terakhir. Di bawah serangkaian pemerintahan yang cukup pragmatis, pendapatan per kapita telah meningkat lebih dari dua kali lapor dan demokrasi mulai berakar. Pak Prabowo bukanlah penguasa kleptokratis seperti mendiang bapak mertuanya, tetapi dia sedang mengikis kemajuan yang telah dicapai negaranya sejak masa-masa kelam dulu. Presiden harus berhenti mencoba membungkam oposisi di legislatif, media, dan masyarakat sipil. Perbedaan pendapat yang tidak menemukan saluran dalam politik akan tumpah ke jalanan, seperti yang terjadi dalam kerusuhan tahun lalu. Bersikeras bahwa oposisi harus "sopan" adalah resep yang suatu hari nanti justru bisa mengubahnya menjadi kekerasan. Masih ada harapan. Pak Prabowo peduli dengan warisan kepemimpinannya. Jadi, dia perlu menyadari bahwa negara kepulauan yang sangat besar, luas, dan multi-etnis seperti Indonesia tidak bisa begitu saja diberi perintah layaknya sebuah unit tentara. Indonesia membutuhkan seorang panglima tertinggi yang mendengarkan banyak suara, bukan yang mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang hanya bisa berkata "ya""
The Economist@TheEconomist

Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths econ.st/3RE0Fum Photo: Getty Images

Indonesia
166
19.9K
43.5K
1.3M
sofie syarief
sofie syarief@sofiesyarief·
Media held hostage by the government? Nah. You signed up for complicity years ago.
English
0
5
17
705
sofie syarief retweetledi
仮面
仮面@lurino·
Economist diblok masih ada archivenya… malah gak perlu subscribe untuk baca. Emang bego aja mimin2nya… malah jadi banyak yang nyari kan
Indonesia
0
7
26
2.2K
sofie syarief retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
Defenders insist that Prabowo Subianto has adapted to Indonesia’s rowdy democracy. Critics argue that he wants to reverse 28 years of reform. Whatever his intentions, dangers loom economist.com/briefing/2026/…
English
68
1.8K
3.5K
78.3K
sofie syarief retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
Prabowo Subianto is centralising power, marginalising opposition and spending beyond Indonesia’s means. He could undo 20 years of economic and political progress economist.com/briefing/2026/…
English
265
9.2K
14.4K
616.6K
sofie syarief retweetledi
Aaron Connelly
Aaron Connelly@ConnellyAL·
🧵 Prabowo Subianto is chipping away at the political and economic settlements that have been the foundation of Indonesia's hard-won stability since the Asian financial crisis. In @TheEconomist's Briefing this week, @EthanYWu and I take in the first 18 months of his presidency.
Aaron Connelly tweet mediaAaron Connelly tweet media
English
32
1K
2.5K
140.3K
sofie syarief retweetledi
Ahmad Arif
Ahmad Arif@aik_arif·
Saya rangkum poin-poin penting dari tulisan @TheEconomist terkait Indonesia terbaru. Silakan renungkan sendiri: The Economist menilai pemerintahan Prabowo Subianto terlalu boros secara fiskal dan makin otoriter secara politik. Program makan gratis dan koperasi desa dianggap membebani anggaran di tengah penerimaan pajak melemah dan subsidi energi membengkak. Defisit mendekati batas 3% PDB, dengan risiko penurunan rating utang, pelemahan rupiah, dan keluarnya modal asing. Pencopotan Sri Mulyani Indrawati disebut sebagai tanda melemahnya disiplin fiskal. Kekuasaan politik dan ekonomi dinilai makin tersentralisasi melalui Danantara, BUMN, dan pelemahan independensi Bank Indonesia. Artikel juga menyoroti menguatnya peran militer dan melemahnya oposisi parlemen, memunculkan kekhawatiran kembalinya pola Orde Baru. The Economist menyebut gaya sentralisasi dan kontrol elite Prabowo lebih mirip Sukarno, tetapi kekhawatiran publik terhadap militerisme mengingatkan pada era Soeharto. Meski begitu, The Economist mencatat Prabowo belum sepenuhnya represif dan masih menunjukkan beberapa sikap moderat. Kesimpulan utamanya: Indonesia dinilai sedang bergerak menjauh dari semangat Reformasi, dengan risiko ekonomi dan demokrasi yang sama-sama meningkat.
Ahmad Arif@aik_arif

Kalau yang nulis orang Indonesia bakal dicap antek asing nih. Nah, sekarang yang nulis dari luar beneran. Artinya, mata dunia semakin terbuka tentang situasi di Indonesia. Dan ini bukan hanya media Barat, sebelumnya Kamar Dagang China juga komplain ttg situasi Indonesia. Apa masih akan menggunakan narasi antiasing untuk delegitimasi kritik dan masukan? Khawatir rupiah bakal terus nyungsep.

Indonesia
65
4.9K
9.2K
220.6K