Kalanara Mahardika 🎬✨@KalanaraDika
Kalau Darah Kuyang Dites DNA, Hasilnya Gimana?
Hal yang wajar untuk ditanyakan di jam 1.30 pagi oleh seorang vtuber kucing oyen.
Sebagai mutual yang baik, akan aku jawab pertanyaan ini dengan singkat.
Pertama, kita perlu sepakat dulu soal lore-nya. Dalam folklor Kalimantan, kuyang bukan hantu biasa. Dia bukan arwah gentayangan, bukan makhluk dimensi lain.
Kuyang adalah perempuan hidup yang menjalani ritual ilmu hitam tertentu sampai kepalanya bisa lepas terbang malam-malam, lengkap dengan organ dalam yang masih menggantung. Tubuhnya tetap tidur di rumah. Dia mungkin punya KTP, bahkan masih punya utang di koperasi merah putih.
Implikasinya: kalau dia berdarah dan darahnya ketinggalan di TKP, itu bukan darah supernatural. Itu darah manusia biasa.
Pertama, species confirmation. Tes DNA akan langsung bilang: ini Homo sapiens.
Kedua, jenis kelamin. Dari kromosom yang terbaca, lab bisa langsung konfirmasi XX, alias perempuan.
Ketiga, haplogroup. Ini bagian yang keren. Dari mtDNA (DNA mitokondria yang diwariskan lewat jalur ibu), ilmuwan bisa menentukan haplogroup si empunya darah. Populasi Kalimantan, terutama suku Dayak dan Banjar, punya pola haplogroup yang cukup terdokumentasi dalam jurnal antropologi genetik.
Kemungkinan besar hasil tesnya bukan, "Ini Mbak Intan dari desa Batu Lintang."
Tapi bisa keluar, "Individu ini kemungkinan besar keturunan populasi Austronesia dengan komponen Dayak yang kuat, perkiraan asal geografis Kalimantan Tengah atau Selatan."
Keempat, estimasi usia biologis. Analisis panjang telomere dari sampel darah bisa memberikan estimasi rentang usia si pemilik darah. Jadi kita bisa tahu kuyang ini kemungkinan berusia, katakanlah, 40 sampai 45 tahun.
Hasilnya? Kamu punya gambaran seseorang yang sangat spesifik: perempuan, paruh baya, keturunan Dayak, dari wilayah tertentu di Kalimantan. Tapi kamu tetap nggak tahu siapa dia.
Salah Satu Masalah Serius di Indonesia
Indonesia tidak punya database DNA nasional untuk masyarakat umum. PUSLABFOR Polri memang punya kapabilitas forensik DNA, tapi isinya sangat terbatas, sebagian besar hanya sampel dari kasus kriminal yang sudah masuk proses hukum. Tidak ada registry sipil.
Artinya profil yang berhasil disusun tadi hanya akan jadi cold case.
Satu-satunya jalan untuk identifikasi individual adalah kalau ada keluarga si kuyang yang mau sukarela menyerahkan sampel DNA mereka untuk perbandingan. Dan jelas nggak ada yang mau ngacungin tangan dan bilang, "Permisi, saya mau submit DNA, soalnya saya curiga anak saya jadi kuyang."
Ada beberapa kemungkinan anomali yang cukup creepy, tapi masuk akal secara saintifik.
Satu: chimera.
Kondisi medis langka di mana seseorang punya lebih dari satu set DNA berbeda dalam satu tubuh, biasanya karena penyerapan sel embrio kembar di kandungan. Kalau kuyang menjalani ritual yang mengubah struktur selularnya, dan hasilnya terbaca sebagai DNA chimera di lab, laporan forensiknya akan membingungkan semua orang.
Dua: DNA terdegradasi sempurna.
Sampel yang tidak bisa dibaca sama sekali. Bisa karena proses transformasinya yang bikin material biologisnya tidak stabil.
Tiga: profil DNA yang cocok dengan seseorang yang sudah terdaftar meninggal.
Bukan tidak mungkin kalau database kriminal Polri kebetulan punya sampel dari seseorang yang sudah "meninggal" di atas kertas.
Indonesia punya lebih dari 270 juta jiwa, tapi secara forensik genetik kita masih sangat underinfrastructured.
Untuk kasus biasa saja sulit, apalagi untuk mengejar kepala dan organ terbang.