Pandororo

4.8K posts

Pandororo banner
Pandororo

Pandororo

@ssashyya

kadang komedi kadang serius

tempat keluh kesah Katılım Nisan 2020
399 Takip Edilen352 Takipçiler
Pandororo retweetledi
agni
agni@fahkta·
Otak kalian tuh mikirnya fight fight mulu, klo ga violence. Padahal cewe² yg kerja di male dominated fields ga pengen fight. Ga ada gitu mikir cewe² muak ke bengkel karena di-mansplain, dicatcall. Yg diinginkan tuh cuma rasa aman, bukan cari pembuktian dan fight ini itu.
JEWGONDESE@sugondese6666

gwe setuju banget. banyakin usaha usaha kusus cewe kek gini. biar nantinya kalian bisa buktiin dengan data, lebih capable cewe ato cowo di berbagai bidang. fair fight inimah

Indonesia
42
4K
15K
312.4K
Pandororo retweetledi
konde.co
konde.co@konde_co·
Konde Fellas tau nggak sih kalau per Januari 2026 harga tiket Museum Nasional Indonesia itu naik 2 kali lipat? 😢💔 Di tengah rendahnya literasi sejarah, museum seharusnya dapat menjadi wadah yang menyenangkan untuk belajar memahami sejarah Indonesia. Sayangnya, kenaikan harga ini justru membuat museum menjadi ekslusif, terlebih tidak ada tarif khusus untuk mahasiswa/pelajar, padahal mereka adalah pengunjung paling aktif untuk kebutuhan akademik dan literasi. Merawat museum memang bukan hal mudah dan membutuhkan biaya. Hanya saja, tanpa transparansi yang jelas dan subsidi silang, kenaikan harga Musuem Nasional hanya membuat warga semakin sulit mengakses ruang belajar. Dan seharusnya di sini lah peran pemerintah dalam pemerataan akses literasi dan pendidikan yang inklusif. Kalau menurut Konde Fellas, bagaimana? Yuk, diskusi di kolom komentar! 😆 #JalanJalanPerempuan #MusuemNasional #LiterasiSejarah
Indonesia
18
363
1.2K
379.8K
Pandororo retweetledi
Aerith | SUPPORT TXT 📌
Aerith | SUPPORT TXT 📌@findanyworth·
padahal perempuan bikin ginian untuk keselamatan dan kenyamanan diri, bukan buat pembuktian ke laki-laki. tapi laki-laki selalu ngerecokin karena tersinggung ngerasa perempuan sudah lancang masuk ke ranah mereka. emg ketakutan terbesar laki-laki itu disentil egonya.
JEWGONDESE@sugondese6666

gwe setuju banget. banyakin usaha usaha kusus cewe kek gini. biar nantinya kalian bisa buktiin dengan data, lebih capable cewe ato cowo di berbagai bidang. fair fight inimah

Indonesia
18
910
3.1K
48.5K
Pandororo retweetledi
Lynda Ibrahim
Lynda Ibrahim@lyndaibrahim·
Perempuan Brasil usia 20, ketemu laki usia 22 via medsos. Setelah ketemu IRL di gym, si laki berulangkali kirim surat & bunga. Si perempuan tidak minat. Si laki ngamuk, nusuk puluhan kali, sampai si perempuan koma sebulan. Tahun 2026. Bukan 1026. Patriarki yg tak kunjung mati.
BBC News Indonesia@BBCIndonesia

Seorang perempuan bernama Alana Rosa ditikam berulang kali karena menolak ajakan kencan seorang pria. Pelakunya, Luiz Felipe Sampaio, diadili dengan tuduhan percobaan pembunuhan. Kasus ini memicu percakapan mengenai kekerasan berbasis gender.

Indonesia
26
1.8K
7.2K
178.5K
Pandororo retweetledi
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.    "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.  Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung?  Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Indonesia
59
6.5K
18K
1.3M
Pandororo retweetledi
AXHXO 🍀
AXHXO 🍀@axhxo1·
“I want to send a big big shoutout to all the artists pushing k-pop culture and we hope this generational movement lasts.” Ever the humble man #BANGCHELLA #Coachella2026
English
34
4.6K
21.3K
561.8K
Pandororo retweetledi
Writing Corner.
Writing Corner.@pencorner·
good night, heavy hearts.
Writing Corner. tweet media
English
9
2.8K
8.9K
136.9K
Pandororo retweetledi
Floresa
Floresa@floresadotco·
Kami berjalan bersama Yohanes Flori melewati hari-hari paling berat dalam hidupnya: sejak ia ditangkap tahun lalu hingga divonis bebas pada 10 April. Mengapa kami memutuskan menulisnya saat tak ada media lain di Ruetng yang mau? Baca selengkapnya di sini: floresa.co/dari-redaksi/8…
Floresa tweet media
Indonesia
2
352
533
34.7K
Pandororo
Pandororo@ssashyya·
eh knp mua udh pada penuh dah emg udh tau tanggal wisuda apa ya
Indonesia
1
0
1
129
Pandororo retweetledi
Geoffrey 🇵🇸🇺🇦🇦🇲🇹🇼
Men to men: Akui aja kalo kita emang problematik kok. Kalopun lo gak pernah KS, minimal lo pernah ngediemin (enabler). Mengakui bukan bikin kita jadi better/suci/ngapus dosa, tapi menurut gw itu langkah pertama untuk jadi a better man.
agni@fahkta

Sebenernya cewe yg udah pada tau klo kebanyakan grup tongkrongan laki² bakal bahas cewe in a degrading way. Yg gue gedeg itu laki² sibuk not all men. Ngomong "Obrolan kayak gini wajar buat laki²" tapi giliran cewe² cautious ke semua cowo, malah ngamok merasa "digeneralisasi"

Indonesia
168
3.5K
13.6K
658.8K
Pandororo retweetledi
Tanyarl 💚
Tanyarl 💚@tanyakanrl·
💚 Cuma mau ngingetin, barangkali lupa atau belum tau. LANY, The Neighbourhood, Juicy Luicy itu pelaku KS, teman-teman. Jangan tutup mata.
Indonesia
833
22.2K
96.2K
2.2M
Pandororo
Pandororo@ssashyya·
pengecut abis
Indonesia
0
0
0
37
Pandororo
Pandororo@ssashyya·
too much nggak kalau minta TOP tiba2 muncul ke stage....
Indonesia
0
0
0
26