Sulaiman Sujono

26.5K posts

Sulaiman Sujono banner
Sulaiman Sujono

Sulaiman Sujono

@ssujono

Someone with a peculiar taste for legal, defence, and security issues

Jakarta Katılım Ağustos 2009
2.1K Takip Edilen1.5K Takipçiler
DSZN8𓀀
DSZN8𓀀@Neduszn8·
Liverpool 2005 champions league lineup Guess the missing player?💨 LEVEL: VERY DIFFICULT 🤯
DSZN8𓀀 tweet media
English
1.2K
109
808
192.6K
atomic dust
atomic dust@debuatomik·
@rdmakbar Maaf mas saya nggak peduli kata2 sophisticatedmu, saya tetep bilang pemerataan fasilitas jd hal fundamental yg perlu dilihat dulu. Saya ketua yayasan PAUD dan Madrasah Diniyah di daerah. Semua inovasi tech gugur ketika liat wali murid nggak bisa bayar kecuali pake hasil kebun.
Indonesia
58
989
3.3K
153.7K
Sulaiman Sujono
Sulaiman Sujono@ssujono·
Satu sisi, sisi lainnya dalam pandangan sy: bisa jadi tipologi terror ya begitu bentuknya, kalau rapi dan sampai hilang nyawa standardnya seperti kasus Munir. Bacaan rekomendasi, buku Pak Busyro Muqoddas: Hegemoni Rezim Intelijen
novel baswedan@nazaqistsha

Ini Hakim peradilan Militer kok nggak ada empatinya thd korban. Kalo pandangan Hakim seperti yang dikatakan ini, artinya Hakim seperti sedang mendorong perbuatan jahat serupa dilakukan lg oleh pelaku atau orang lain dgn lebih profesional. Bgmn mungkin akan bersikap obyektif dlm membuat putusan? 🙈 instagram.com/reel/DX_7wcZDC…

Indonesia
0
0
0
158
Sulaiman Sujono retweetledi
Koh iYon
Koh iYon@wiyokooo·
Di monas malah ga ada mengheningkan cipta untuk 16 buruh perempuan ini. Malah dangdutan bareng prabowo yg buka-buka baju. Aku yg bukan keluarga aja sakit hati. Harusnya masih masa berkabung, penuh duka. Mereka yg jadi korban itu juga buruh, mereka juga pekerja. Astagaaa
kim 🍵@matcha_creamyy

stasiun bekasi timur, kamis 30/4/2026 pagi awalnya cuma ada 2 bunga, menjelang sore malem makin banyak bunganya dari pihak KAI disediakan meja supaya bunganya ga ditaruh bawah, eh lama-lama bunga yang diatas meja membludak jadi ditaruh dibawah, sama pihak KAI dikasih alas supaya bunganya ga di lantai gini aja mewek 😭😭 rest in peace wanita hebat 🥀 al fatihah

Indonesia
222
19.4K
49.6K
907.9K
Sulaiman Sujono
Sulaiman Sujono@ssujono·
Kembali menarik nafas dan mengutuk para pengubah BOPB di UI plus petinggi lembaga kemahasiswaan yang waktu itu mendukung BOPB dimana asalnya sistem asesmen berkeadilan menjadi pilihan bayar penuh vs keringanan. Bajingan kalian.
Ardianto Satriawan@ardisatriawan

"Pak TU Kampus" "Iya gimana?" "Ini kok saya dapet UKT tertinggi? Penghasilan Orang Tua saya gak segede itu?" "Coba saya cek, kasih nama sama NIM?" "Debi Pak, ini NIM saya." "..." "Ini ibu kamu PNS? Dosen?" "Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada." "Waduh, kalau PNS emang biasanya UKT tertinggi, memang gitu aturannya di kampus ini." "Hah? Terus gimana Pak?" "Coba kamu apply KIPK. Ini dicek ya syaratnya." *** "Bu Dinas Sosial." "Iya gimana?" "Saya mau cek orang tua saya di desil berapa di DTSEN, saya mau daftar KIPK." "Minta NIK orang tua ya." "Ini Bu, tolong dicek" "Sebentar ya" "..." "Ini ibu kamu PNS? Dosen?" "Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada." "Waduh, kalau PNS pasti kehapus dari DTSEN. Dari jaman DTKS juga rutin diapus. Perintah menteri sosial. Memang aturannya gitu." "Hah? Terus gimana Bu?" "Coba kamu pakai surat keterangan tidak mampu atau slip gaji ortu buat daftar KIPK." *** "Pak Lurah, saya mau minta SKTM buat daftar KIPK" "Kamu bukannya Debi, anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?" "Iya Pak" "Lah, penghasilannya bukannya lumayan?" "Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada." "Bentar saya cek dulu aturannya, Ibu PNS kan ya?" "Iya Pak" "Saya kemarin dapet instruksi dari Pemda sini, katanya kalau PNS gak boleh dapet SKTM. Jadi saya gak berani keluarin." "Hah? Terus gimana Pak?" "Coba langsung pakai slip gaji Ibu ke Dikbud." *** "Bu Dikbud." "Iya gimana?" "Saya mau daftar KIPK, cuma data ortu saya gak ada di DTSEN sama Pak Lurah gak bisa ngeluarin SKTM. Jadi pakai slip gaji." "Sebentar saya cek ya." "Ini slip gaji ibu kamu? PNS? Dosen?" "Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada." "Waduh, kalau PNS emang gak bisa daftar KIPK. Kemarin pejabat tim teknis KIPK udah bilang kalau PNS gak boleh sama sekali." "Sama sekali Bu? Gaji Ibu saya cuma segini?" "Iya. Bahkan Golongan I juga gak boleh. Memang aturannya begitu." "Hah? Terus gimana Bu?" "Coba ke bank aja sama Ibu, siapa tahu bisa ada pinjaman" *** "Bu CS Bank" "Iya gimana?" "Saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya" "Baik Bu, saya cek dulu" "..." "Bu Lala, setelah kita cek penghasilan dan riwayat finansial, kita gak bisa kasih pinjaman." "Kenapa Bu?" "Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi. Saya gak berani Bu, nanti saya yang kena." "Waduh, terus gimana ini Bu?" *** "Pak TU kampus, saya gak bisa dapet KIPK Pak" "Udah coba pinjam bank?" "Gak bisa Pak, penghasilan Ibu saya gak cukup." "Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus" *** "Mas fintech, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?" "Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun" "Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?" "Iya Mbak" "Waduh, itu segede biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya" "Memang aturannya segitu pinjaman kita." *** "Pak TU Kampus" "Iya gimana?" "Misalkan saya mau nunda kuliah jadi tahun depan, buat ngumpulin duit dulu, bisa gak?" "Jadi gak daftar ulang pertama?" "Iya." "Gak bisa, kalau udah lulus ujian tahun ini, kamu diblacklist dari ikut ujian lagi tahun depan." "Hah?"

Indonesia
0
2
0
470
Sulaiman Sujono retweetledi
LFC ID
LFC ID@LFC_ID·
Otak overthinking gue abis nonton full video interview Gerrard & Mo ini, ada semacam kekhawatiran dari bbrp kalimat Mo. Barangkali klean yg udah nonton punya feel yg sama ... Interview ini, menurut gue nih, kek versi yang jauh lebih elegant dari outburst nya dia akhir tahun lalu. >>> Tentang gimana Klopp handle pemain. Ini kek clue situasi dressing room sekarang. Kata dia, Klopp ga perlu ngomong banyak, pemain udah tau harus fight kek mana. >>> I'm happy that I'm leaving now. Ditutup dengan It's time to leave Kek dia udah muak banget dengan situasi klub sekarang >>> Pas ditanya situasi dressing room, Mo jawab dengan elegan bahwa bergantinya squad emang bikin bonding berubah juga. Tapi dia bilang smoga pemain yg ada (nanti) bisa pertahanin kek jaman Mo >>> Request dia buat nanti kasih apresiasi juga ke Hendo ini, kedengarannya biasa. Tapi ini kek seruan atas "kekecewaan" dia terhadap "kultur" manajemen yg mengesampingkan romantisme. Kek kalo ke pemain, kok B aja gitu. Padahal pemain jelas punya kontribusi besar terhadap kesuksesan klub. Hendo itu kapten lhoh mau gimana juga. Pas ngomongin hal ini, dia ke Gerrard jg bilang "Lo tau lah gimana seharusnya" Sebuah seruan, meski secara bisnis emang ada lah itu mengesampingkan romantisme, tapi ini Liverpool Football Club, gak gini adatnya. youtu.be/qhzPLzcqPLA?si…
YouTube video
YouTube
Indonesia
13
54
220
36.1K
Sulaiman Sujono
Sulaiman Sujono@ssujono·
@WOLF_of_IHSG Ga yakin. Peneliti kontraterorisme? Masih ada yang jauh lebih baik, berpengalaman, kenal sistem, dan sama-sama perempuan. Apalagi konsultan keamanan internasional. Masuk wilayah konflik ga menjamin kepakaran.
Indonesia
0
0
0
302
DiaryTrader
DiaryTrader@WOLF_of_IHSG·
The next Meutya Hafid kah ini nanti ? ✍️peneliti kontraterorisme 👨‍🎤Konsultan keamanan internasional 🕶️tenaga ahli utama di Kantor Staf Presiden (KSP) Indonesia 🕵️‍♂️satu dari sedikit orang Indonesia yang pernah masuk langsung ke wilayah konflik aktif di Afghanistan, Filipina Selatan, Aceh, dan Papua.
DiaryTrader tweet mediaDiaryTrader tweet media
Indonesia
37
20
237
53.2K
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
@Feynman_Abal2 - Ada dan tidak adanya UN - UN sebagai penentu kelulusan atau tidak itu dua isu yang berbeda, kak 😅 Yang saya tuliskan itu soal urgensi adanya UN Yang kakak tuliskan itu UN sebagai penentu kelulusan
Indonesia
5
2
6
662
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Kenapa UN Sebaiknya Tidak Dihapus? Setelah mendengarkan "Pahlawan Perlu Tanda Jasa" alias pertunjukan stand-up comedy spesialnya Abdur Arsyad.... saya jadi menyetujui perlunya Ujian Nasional (UN) di dunia pendidikan. Ada beberapa argumen menarik yang disampaikan Abdur karena dia tidak setuju UN dihapus 1. Anggapan UN harus dihapus karena kerap dianggap tidak adil. Sekolah tiga tahun, tapi ditentukan kelulusannya dalam tiga hari. Itu memang tidak adil. Tapi kalau demikian, disebut apa kehidupan kita ini? Kita selalu di-judge dalam waktu singkat. Sebagai contoh, pembuatan film yang bisa bertahun-tahun, itu ditentukan dalam hitungan hari di bioskop. Kalau penontonnya sedikit, film-nya langsung turun layar. Contoh lainnya, pertunjukan satu set Stand Up Comedy itu harus lucu di tiga menit awal. Kalau tidak, akan sulit sampai hitungan jam. Contoh lainnya, pilot itu akan diapresiasi saat 8 menit ketika take off dan 3 menit ketika landing. Tidak peduli jam penerbangan sudah lama, kalau pilot membuat pesawatnya goyang luar biasa, pasti akan menuai kritik. 2. Anggapan UN harus dihapus karena membuat siswa stres. Pertanyaannya, yang membuat stres itu apakah UN-nya... atau orang tua, keluarga, guru, kepala sekolah, dinas pendidikan, kementerian pendidikan, masyarakat, termasuk kita semua? UN kerap ditanggapi dengan berlebihan. Misal dulu, setiap jelang UN, ada saja momen siswa-siswa dikumpulkan, diajak refleksi berjamaah, sembari membayangkan orang tua meninggal. Stres ini akhirnya membuat takut. Ketakutan itu bisa membuat kemampuan seorang siswa tidak keluar maksimal. Ketakutan bukan hanya pada siswa, tetapi juga orang tua yang takut mendapatkan stigma negatif masyarakat. 3. Anggapan UN harus dihapus karena diuji dengan kemampuan atau pertanyaan yang sama. Justru menurut keyakinan Abdur, di sinilah letak adilnya. Karena dari Sabang sampai Merauke, uji kompetensi dasar yang sama itu menjadi salah satu indikator pemerataan pendidikan di Indonesia. Contoh, saat UN masih ada, pemerintah bisa melihat pertanyaan yang sama itu mungkin akan berbeda. Soal nomor 5 misalnya bisa jadi dapat dikerjakan oleh siswa di kota, tetapi tidak di desa. Dari situlah, ada evaluasi mulai dari guru, bahan ajar, kurikulum, dsb. Harapannya, kemampuan dasarnya jadi merata. Analogi lainnyanya.. kompetisi AFF itu Indonesia tidak pernah juara. Negara lain sudah pernah juara. Artinya, kita harus perbaiki sepak bola kita, bukan kompetisi AFF-nya yang dihapus. ======= Abdur juga menceritakan tentang banyak sekolah yang sebelumnya dikenal sebagai sekolah buangan, sekolah-sekolah ala Crows Zero. Ketika UN masih ada, sekolah-sekolah ini tingkat kelulusannya di bawah 50%. Ketika UN dihapus, sekolah-sekolah ini tingkat kelulusannya selalu 100%. Kenapa kelulusannya harus 100%? Karena kalau tidak 100%, Kepala Sekolah akan dipanggil Dinas Pendidikan. Karena tingkat kelulusan ini jadi indeks pengembangan manusia yang bisa dipakai sebagai bahan Pilkada. Bayangkan sejak 2015, banyak siswa lulus tingkat SMA tapi sebenarnya tidak layak lulus. Lalu sekarang, kita mengeluh masalah bonus demografi. Orang stunting pemikiran di mana-mana, itulah hasil dari sistem pendidikan kita tanpa UN. ======== Menurut keyakinan Abdur, kembalikan Ujian Nasional-nya. Tapi kan tidak semua orang bisa matematika? Ya kita buat syarat: UN-nya itu ada, tapi mata pelajaran yang diujikannya itu dipilih oleh siswa berdasarkan bakat dan minatnya. Hal ini pun sesuai dengan Kurikulum Merdeka yang tengah berjalan saat ini. Karena kelas 2 dan 3 SMA, siswa itu boleh memilih pelajaran yang dia suka. Artinya, kalau siswa sudah dipilih yang disuka dan dikuasainya, masa sih tidak mau UN? Se-bakat-bakat dan se-minat-minatnya seseorang, harus ada standar. UN ini bisa juga linier dengan jurusan yang dia akan ambil di kampus. Misal, siswa mau kuliah film di IKJ, maka UN-nya adalah seni, bahasa, sejarah. Misal, mau kuliah MIPA di UI, maka UN-nya adalah matematika, fisika, kimia. Misal, mau jadi driver gojek, maka ujian SIM sana. ======== Abdur juga menyampaikan banyak guru yang mengeluh ketika UN dihapus, siswa-siswa itu tidak punya motivasi belajar. Karena siswa tidak ada target, akhirnya tidak ada yang dikejar di sekolah. Jadinya tidak ada motivasi, tidak ada tantangan. Bayangkan, orang sekolah-tidak sekolah, belajar-tidak belajar, lulus juga akhirnya. Jadi buat apa belajar?
M. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
24
93
242
13.3K
Sulaiman Sujono
Sulaiman Sujono@ssujono·
Yak.. Aroma pidana nya kuat sekali..
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, ada kabar duka yang sangat berat hari ini dan di baliknya ada cerita yang menurut gue harus diketahui semua orang. dr. Myta Aprilia Azmi meninggal dunia pada 1 Mei 2026 dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal. Tapi sebelum dia meninggal ada surat resmi dari IKA FK Unsri yang mengungkap fakta-fakta yang sangat mengkhawatirkan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ini bukan sekadar dokter yang sakit lalu meninggal: Berdasarkan investigasi internal dan kronologi tertulis yang dikumpulkan IKA FK Unsri ada empat temuan yang menurut gue perlu lo baca dengan sangat serius. Pertama — beban kerja yang tidak manusiawi. Dr. Myta menjalani tiga bulan tanpa libur di bangsal dan IGD. Tiga bulan. Tanpa libur. Dan selama itu dia bekerja tanpa supervisi dokter definitif melanggar aturan Kemenkes yang jelas menyatakan dokter internship statusnya dokter magang, bukan pekerja tetap rumah sakit. Kedua — kelalaian medik yang sangat mengkhawatirkan. Dr. Myta sudah melaporkan gejala sakit sejak Maret 2026. Tapi dia tetap dipaksa menjalani jadwal jaga malam dalam kondisi sesak napas berat dan demam tinggi. Yang paling mengejutkan: saturasi oksigennya sudah menyentuh 80% sebelum akhirnya mendapat penanganan yang layak. Saturasi 80% itu bukan kondisi ringan. Itu kondisi darurat yang seharusnya langsung ditangani. Ketiga — dugaan malapraktik administratif. Obat Sulbacef kosong di rumah sakit. Dan pasien yang merupakan tenaga kesehatan di wahana tersebut yaitu dr. Myta sendiri diminta mencari obat sendiri di luar. Dokter yang sakit disuruh cari obatnya sendiri. Keempat — tindakan intimidasi dan upaya penutupan informasi. Ada arahan dari oknum pembimbing untuk merahasiakan kondisi dr. Myta agar tidak terjadi prolong atau perpanjangan masa internsip. Dan ada narasi gaslighting yang menyerang para dokter internship ketika mereka menyuarakan hak dasar kesehatan mereka dengan sebutan "generasi Z lembek." Ini bukan kasus individual. Ini adalah cerminan sistem: Yang membuat kasus ini lebih dari sekadar tragedi personal adalah konteksnya yang sangat sistemik. Dokter internship di Indonesia berstatus dokter magang bukan pegawai tetap. Tapi dalam praktiknya mereka diperlakukan seperti tenaga kerja penuh tanpa perlindungan yang memadai. Tidak ada batasan jam kerja yang ditegakkan. Tidak ada supervisi yang dijamin. Tidak ada mekanisme yang melindungi mereka ketika mereka sakit dan membutuhkan istirahat. Dan ketika mereka berani bersuara mereka dibungkam dengan label "lembek." Dokter yang sesak napas dengan saturasi 80% dan demam tinggi tetap dipaksa jaga malam. Ini bukan tentang ketabahan atau dedikasi. Ini adalah eksploitasi yang berpotensi fatal. Dan terbukti fatal. IKA FK Unsri bergerak dan ini langkah konkret yang mereka tuntut: Surat resmi tertanggal 30 April 2026 dari Ketua Umum IKA FK Unsri, dr. H. Achmad Junaidi, Sp.S(K)., MARS., ditujukan langsung kepada Menteri Kesehatan RI. Isinya empat tuntutan. Audit menyeluruh terhadap RSUD K.H. Daud Arif sebagai wahana internship dan evaluasi kelayakan oknum pembimbing yang terlibat dalam kronologi ini. Perlindungan agar tidak ada sanksi administratif atau ancaman prolong terhadap dr. Myta dan rekan-rekan internship lain yang mengalami beban double job akibat kekosongan posisi. Somasi administratif kepada RSUD agar memberikan penjelasan resmi dan pertanggungjawaban atas pengabaian kondisi klinis dr. Myta sejak awal sakit. Dan tidak menutup kemungkinan langkah hukum jika ditemukan unsur pidana terkait kelalaian yang mengancam jiwa. Yang paling menohok dari seluruh cerita ini: Dr. Myta Aprilia Azmi sudah melewati bertahun-tahun kuliah kedokteran yang keras. Sudah melalui koas. Sudah lulus ujian. Sudah berhasil sampai di tahap internship tahap terakhir sebelum resmi menjadi dokter penuh. Dan di tahap itu dia jatuh sakit, melaporkan kondisinya, tidak didengar, tetap dipaksa bekerja, saturasi oksigennya jatuh ke 80%, dan akhirnya tidak sempat menikmati gelar dokter yang sudah dia perjuangkan bertahun-tahun. Sementara ada oknum pembimbing yang sibuk memikirkan bagaimana supaya kondisinya tidak menyebabkan prolong bukan bagaimana supaya dia bisa sembuh. Untuk semua dokter internship yang sedang membaca ini: Kalian bukan "generasi Z lembek." Kalian adalah manusia yang berhak atas jam kerja yang manusiawi, supervisi yang layak, dan penanganan medis ketika kalian sakit. Itu bukan privilege. Itu hak dasar. Dan untuk sistem yang selama ini menganggap dokter internship sebagai tenaga kerja murah tanpa perlindungan kasus dr. Myta harus menjadi titik balik. Bukan hanya menjadi trending topic sehari lalu dilupakan. Semoga dr. Myta Aprilia Azmi mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga perjuangan ini tidak sia-sia. Al-Fatihah. cc: threads

Indonesia
0
0
1
174
Sulaiman Sujono retweetledi
adit surowidjojo
adit surowidjojo@dittolongdit·
kutbah jumat ini menyinggung fenomena suic1de beruntun di malang. ada satu kutipan khatibnya membekas. “kita sudah gagal sebagai sebuah masyarakat saat lebih peka terhadap issue sosmed, alih-alih pada tetangga yang mulai merasa dinginnya, tingginya besi jembatan menenangkan.”
adit surowidjojo tweet media
Indonesia
85
4.9K
19.6K
330.1K
Sulaiman Sujono
Sulaiman Sujono@ssujono·
Terhitung sejak April 2026 ini, saya tidak lagi terafiliasi dengan UNODC Indonesia. Dengan demikian segala ucapan dan tindakan saya tidak terkait dan tidak ada sangkut pautnya dengan UNODC Indonesia. Terima kasih 🙏
Indonesia
0
0
2
213
Oni Suryaman
Oni Suryaman@OniSuryaman·
Unpopular opinion. Bisa gak sih rekrutmen tentara dari akmil itu dihilangkan. Jadi gak ada sekolah yang setelah lulus langsung jadi perwira. Kalau mau jadi perwira, harus masuk dari bintara dan tamtama. Nah, perwira itu diseleksi dari bintara yang punya kemampuan. Boleh lah ada jalur fast track dari bintara yang memang terlihat berprestasi dan pintar.
Indonesia
72
37
422
118.1K
Sulaiman Sujono
Sulaiman Sujono@ssujono·
@RidhaIntifadha @0xAlansari JR UU BHP itu seru, karena ga semua kampus negeri bulat suaranya menolak. Seingat sy, hanya BEM UI dan BEM ITB yg bulat menolak dan membuat kajian spesifik soal itu.
Indonesia
0
0
0
35
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
@0xAlansari karena masih ada semangat dari mahasiswa yang berhasil menolak pelaksanaan UU Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) UU BHP berhasil dicabut dalam judicial review di MK. Eh beberapa tahun kemudian ada UU Dikti. Kami melakukan Judicial Review. Tapi saat itu, gagal.
Indonesia
1
1
2
1.2K
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Tema skripsi saya "komersialisasi pendidikan sbg bentuk kejahatan korporasi" Tema itu terinspirasi senior kami yg nulis "Pengaruh Neoliberalisme terhadap Korporatisasi dan Komersialisasi Universitas Publik: Studi Kasus UI" Kok ga ada takut-takutnya dan hebatnya... LULUS 😭
M. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
39
406
2.7K
54.8K
Sulaiman Sujono
Sulaiman Sujono@ssujono·
Mungkin wacana ini adalah buah perubahan bertahun-tahun pak. Sama seperti sosiologi dan antropologi hukum yang 'turun kasta' dari mata kuliah wajib jadi mata kuliah pilihan di fakultas hukum. Pak Anies benar bahwa harus seimbang. Perlu diingat juga bahwa pada akarnya, pendidikan tinggi di Indonesia itu untuk mendapatkan 'tenaga-tenaga pemimpin penyelenggara segala kewajiban negeri dan masyarakat yang penting-penting' yg disertai biaya pendidikan serendah-rendahnya dan bebas bagi yg tidak mampu sampai pendidikan tinggi.
Sulaiman Sujono tweet media
Indonesia
0
0
2
278
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
420
20.8K
51.7K
1.4M
Sulaiman Sujono
Sulaiman Sujono@ssujono·
@erasmus70 Bisa banget ngebayangin rasanya. Gw mungkin ga se sabar Mba Asfin 😂
Indonesia
0
0
1
950
Sulaiman Sujono retweetledi
Dudes Posting Their W’s
Dudes Posting Their W’s@DudespostingWs·
A runner cramped up just before the finish line at the Boston Marathon, and a few other runners stopped to help him get across.
English
736
4.4K
58.6K
4.5M