
𝘮𝘶𝘢𝘥𝘻𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘢𝘯
95.3K posts




Pagiiiii besssttttt hari kasih sayang gak lapo tah lapo ta km?



Early this morning, a massive fire struck residential areas and rows of kiosks at Kasongan Market, Katingan Regency, Central Kalimantan, Indonesia 🇮🇩(26/26) The fire spread rapidly, destroying nearby buildings. No official details yet on casualties.

Kebayang gak? Seonggok daging ini terus berdetak & ga pernah berhenti/istirahat sedetik pun sejak kamu lahir hingga detik ini. Sudahkah kamu penuhi hak dia dg gak ngerokok, rutin olahraga, ga begadang, ngejaga makan, ga mager jalan kaki, dll? Sudahkah? 🥺

@falla_adinda Bayangin lu udah nikah, ngelayanin suami lu ini itu dari pagi ampe malem tapi suami lu beliin kebutuhan dasar lu aja gak mau. Kata gue cukup bayangin sih jangan dijadiin kenyataan, so be wise girl, jangan sampe nemuin neraka di dunia 🙏



Pada Maret dan April 1980, Soeharto melakukan aksi menggegerkan. Di depan pimpinan ABRI, Soeharto tiba-tiba meracau seperti penjahat super yang bermonolog di film kartun. Dalam monolog itu, Soeharto mengancam akan menculik dan membunuh anggota DPR/MPR yang berani menentangnya. Ia mengancam akan menggerakkan tentara untuk melakukan ini, seolah ABRI adalah gerombolan preman sewaan miliknya dan milik keluarganya pribadi. Saat itu, Soeharto baru saja memulai periode ketiga sebagai presiden. Masa transisi ke periode ketiga ini sebelumnya didahului aksi mengejutkan Hamengkubuwana IX yang tiba-tiba memutuskan mundur meninggalkan pemerintahan sebagai protes terhadap Soeharto yang semakin lalim dan rampok. Mundurnya HB IX tidak datang tiba-tiba, melainkan didahului pembantaian massal di Timor Timur pada 1975, terbongkarnya megakorupsi gila-gilaan Ibnu Sutowo pada 1976 di Pertamina, dan pemilu 1977 yang telat setahun dan hanya diikuti 3 parpol. Berbagai protes terhadap tren otoriter ini dibungkam. Ikrar Mahasiswa 1977 yang menolak pencalonan kembali Soeharto untuk periode ketiga ditumpas. Kampus ITB diserbu dan diduduki pasukan tentara. Tren otoriterisme ini memuncak pada dua monolog aneh yang diberikan Soeharto di markas Kopassus (dahulu Kopassandha) di daerah Cijantung, Jakarta dan di musyawarah petinggi-petinggi ABRI di Pekanbaru. Secara praktis, monolog dimaksudkan sebagai perintah terhadap para komandan tentara yang berkumpul. Perintahnya adalah supaya tentara kembali menculik dan membunuh seperti zaman 1965-1967 apabila situasi yang mengharuskan kembali muncul. Crash out "culik dan bunuh" mengerikan Soeharto jelas tidak lazim keluar dari mulut seorang kepala negara. Skandal mengejutkan ini mengundang kesedihan dan keprihatinan mendalam dari berbagai tokoh negarawan seperti A.H. Nasution, Ali Sadikin, Muhammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, dan berbagai tokoh lainnya. 50 orang negarawan yang berhasil terkumpul kemudian menandatangani surat petisi kepada DPR/MPR supaya dibentuk suatu komisi parlemen untuk menginvestigasi monolog yang tak wajar dan sewenang-wenang itu. Apalagi, yang diancam dibunuh adalah anggota DPR/MPR. Mendengar aksi para penandatangan petisi, ternyata Soeharto sangat marah meledak-ledak. Intel rezim langsung turun. Semua orang yang menandatangani diteror dan ditindas habis-habisan hingga ke depan rumah dan ke dalam rumah mereka. Misalkan A.H. Nasution, secara praktis bapak pendiri institusional ABRI, dilarang untuk bahkan datang ke kondangan atau pemakaman keluarga teman-teman seperjuangannya tanpa restriksi ketat. Pahlawan nasional ini dihinakan, diperlakukan seperti eks tapol PKI, dan dikucilkan. Ketika keluarga Nasution ingin berlibur ke Singapura, Nasution dicekal. Ia terpaksa gabut menunggu di Batam dengan dipelototi intel sedangkan keluarganya berlibur di seberang selat. Anak Nasution yang berprestasi cemerlang sebagi pilot pesawat tempur ikut dicekal. Karirnya buntu. Bukan hanya Nasution yang diperlakukan seperti PKI oleh Soeharto, melainkan juga keturunannya. Nasib serupa menimpa mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin yang kepopulerannya sangat ditakuti dan dicemburui Soeharto, juga berbagai tokoh lain yang menandatangani petisi 50 itu. Mereka semua diperlakukan seperti eks tapol PKI.
















