Rahmah

2.2K posts

Rahmah banner
Rahmah

Rahmah

@strwberryte

enjoyy

Katılım Eylül 2020
499 Takip Edilen435 Takipçiler
Rahmah retweetledi
Kementerian Kegelapan
Kementerian Kegelapan@kemgelapan·
"SAYA BERTANYA KEPADA SAUDARA-SAUDARA, MBG BERMANFAAT ATAU TIDAK?" "WADUH 😹"
Indonesia
953
15.9K
39K
1.2M
cha ྀི
cha ྀི@fairestwin·
SAFRIE JULE NGACO BGT😭 kasian anak anaknya😔
cha ྀི tweet mediacha ྀི tweet media
Indonesia
815
1.5K
24.7K
1.5M
Rahmah
Rahmah@strwberryte·
Update: masih nunggu, dengan pinggang sakitt. Ngga ada hilalnya beliau
Indonesia
0
0
0
9
Rahmah
Rahmah@strwberryte·
Nunggu bimbingan, pinggang sakit bgtt ihh haid pertamaa
Indonesia
1
0
0
24
Rahmah
Rahmah@strwberryte·
@empty__core Jujur semuanyaa enakkk, tapi favorit aku capcay, sambal, sama sambal goreng buatan mamah. Sumpahh enakk bgttttttt
Indonesia
0
0
0
40
arawr
arawr@flllowiee·
Kalo ucapan adalah doa, bulan depan pengen apa?
Indonesia
5.8K
1.1K
15.9K
874.8K
Rahmah
Rahmah@strwberryte·
Tapi ngga tau kenapa kalo makan pake piring ini kerasa lebih nikmat?? Apa cuma sugesti ya?
AlexBenelli@jawharie__

@txtdrkuliner Menurut aku piring miskin tuh kyk gini😭

Indonesia
0
0
0
15
Rahmah
Rahmah@strwberryte·
Dari tadi nangisin berita kecelakan kereta api di bekasi. Ya allah semoga para korban segera pulih dan yang meninggal semoga diterima amal ibadahnya, aamiin. Sedih banget ya allah
Indonesia
0
0
0
86
Rahmah retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
419
20.8K
51.7K
1.3M
Rahmah
Rahmah@strwberryte·
Ya allah ini hujan gede bgtt
Indonesia
0
0
0
31
Sadam Permana
Sadam Permana@sadampermana_w·
KASUS SYEKH AHMAD AL MISRY diduga melakukan pele*c3han ke santri laki-laki, bahkan dilakukan di TEMPAT IBADAH. Saat melakukan tindakan membuat santri bertanya “Kenapa ia melakukan hal tersebut?” dan dijawab “Rasullah juga melakukan hal itu kepada Ali”
Sadam Permana tweet mediaSadam Permana tweet media
Indonesia
1K
5.4K
26.7K
1.8M
Rahmah retweetledi
Cow
Cow@haloopulici·
ekonomi kalau wujudnya manusia udah gua pukulin ajg
Indonesia
129
6.2K
22.6K
207.8K
Rahmah
Rahmah@strwberryte·
Ngeliat kasus yg sma 1 purwakarta miris bangett. Anak anak sekarang emang ngga ada sopan sopannya sama guru. Kok mereka berani gitu ya ngacungin jari tengah serempak di belakang gurunya, terus di up ke sosmed. Udah minim etika bodoh lagii🥲
Indonesia
0
0
0
174
Rahmah
Rahmah@strwberryte·
Hari ini ngeluarin duit 800k buat lcd laptop🥲
Indonesia
0
0
0
25
Rahmah retweetledi
Woodsy Corner.
Woodsy Corner.@muncorner·
semua skripsi milik allah 🪵
Indonesia
61
1.8K
5.1K
82.5K
UPPIFESS
UPPIFESS@uppifess·
!upi ada yg pernah service laptop di gerlong gak yah? Kalo ada pliss infoin yah, soalnya sender perlu buat ngerjain skripsi😭
Indonesia
2
0
0
3.1K
Rahmah retweetledi
Gümiho.
Gümiho.@OHMYV3NUS·
Gümiho. tweet media
ZXX
664
10.9K
49.2K
568.2K