an

723 posts

an banner
an

an

@suarnaras

:3

Germany Katılım Aralık 2023
13 Takip Edilen10 Takipçiler
an retweetledi
ntang
ntang@prkdlx·
Kenapa fast learner cepat lupa? Ternyata ini penjelasan ilmiah sederhananya Fast learner punya kemampuan untuk menyerap informasi baru dgn cepat, yang memungkinkan mereka untuk beradaptasi dengan baik dalam berbagai situasi. Tp, ada sisi lain yang perlu diperhatikan: kecenderungan untuk mudah lupa. Knp? Pertama, otak kita memproses informasi dalam tiga tahap: encoding, storage, dan retrieval. Fast learner sering kali fokus pada tahap encoding, yaitu menyerap informasi baru. Tapi, ketika informasi tsb ga diproses lebih lanjut ke tahap storage (penyimpanan), akan sulit untuk mengaksesnya kembali (retrieval). Selain itu jg bisa disebabkan overload informasi. Fast learner sering terpapar banyak informasi dalam waktu singkat. Ketika otak terlalu banyak menerima informasi, detail2 kecil cenderung terabaikan dan ga tersimpan dgn baik dalam memori jangka panjang. Terus gmn caranya agar fast learner ga cepet lupa?
ki 𓍝 | gap²⁵@whoisrifkiii

kelebihan: fast learner kekurangan: pelupa

Indonesia
97
8.8K
39.1K
861.1K
an
an@suarnaras·
@c0ttones WOWWWWW, CONGRASTTTTT BABYYY 🥺❤️ keren banget ih
Indonesia
1
0
0
9
kkkasaৎ²⁷
kkkasaৎ²⁷@c0ttones·
ternyata psts mat wajib ku beneran dapet 100 🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
Indonesia
5
0
0
71
an retweetledi
txtdrimedia
txtdrimedia@txtdrimedia·
THIS 💯💯
txtdrimedia tweet media
English
53
25.8K
90.3K
538.4K
an retweetledi
Aisa! ★
Aisa! ★@sorenavistha·
Temen-temen, gak ada namanya politik tidak mempengaruhi kita, siapapun presidennya. Mungkin bukan hari ini, bisa jadi hari esok. Bukan kita, tapi bisa jadi anak-anak kita. Jadi jangan asal pilih, jangan masa bodoh. Jangan gak peduli. Hidup kita itu diikat politik.
Indonesia
12
14.6K
28.8K
376.1K
an retweetledi
Nur Hasyim
Nur Hasyim@KANGMASBO·
Prodi-prodi humaniora yang sudah terpinggirkan akan semakin tidak dianggap penting karena dipandang nggak relevan dengan Industri.
Indonesia
22
1.9K
7.8K
139.6K
an
an@suarnaras·
rispek 🫡
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.

Čeština
0
0
0
10
an retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
419
20.8K
51.7K
1.3M
an
an@suarnaras·
@Mimbloon ADUH LUCU BANGET LAGI 😭😭😭
Indonesia
0
0
0
180
an retweetledi
Araa .☘︎ ݁˖
Araa .☘︎ ݁˖@awharaa·
kadang yang menurut kita hurt banget, di orang lain cuma small thing yang lewat aja. bukan karena dia jahat, emang beda aja cara ngerasanya. kita expect dimengerti, tapi dia bahkan nggak kepikiran. jadi kadang bukan siapa” yang salah, we’re just not on the same page.
Indonesia
167
11.2K
25.5K
378.5K
bilek
bilek@rasabersalahhh·
kicau kicau mania on repeat 🫵😭
English
623
34.1K
85.3K
1.8M
an retweetledi
ajiarchive.psd
ajiarchive.psd@sukaberbicara·
tidak ada ruang untuk pelaku ks.
ajiarchive.psd tweet media
Indonesia
56
19K
44.3K
434.9K
an retweetledi
hellen
hellen@peachyslen·
teach your son, educate your son, jangan cewe doang yg disuruh ati-ati tp anak cowo lu juga disuruh BUAT JADI MANUSIA NORMAL. jadi manusia normal yg baik aja udah bare minimum masih perlu diajarin, jadi besarin ajarin tu anak laki-laki lu pada
Indonesia
37
32.9K
61.9K
642.3K
an retweetledi
joan
joan@pengwinningg·
EDUCATE🫵🏻YOUR🫵🏻SON
English
96
75.2K
154.8K
1.7M
an
an@suarnaras·
emang iblis mereka tuh
Indonesia
0
0
0
10
an retweetledi
dhanya 🦢
dhanya 🦢@typingmybest·
Sebenernya yg bikin sedihnya lg: kenapa ya saat defending case KS, kita seringkali perlu bawa narasi “bayangin kl itu terjadi ke ibu/kakak/adik/pasangan kalian” dulu cuma utk nyadarin hati nurani laki-laki about how fucked up sexual violence is.. Why isnt basic humanity enough :(
adolf@asyncawaitx

men to men: tolong banget evaluasi isi obrolan tongkrongan atau grup WA (or apapun) circle lo pada. kalo temen lo udah mulai objektifikasi perempuan, ngelecehin fisik pake bahasa kotor buat becandaan, and you do absolutely nothing about it? you're part of the problem jangan pernah berlindung di balik "namanya juga cowok" atau "ah elah cuma locker room talk doang, aslinya mah kita respect kok". it's a fucking bullshit. mindset jelek itu tumbuhnya dari hal-hal sampah yang lo normalisasi di circle lo sendiri. kalo lo udah terbiasa ngeliat perempuan cuma sebatas objek buat bahan fantasi di grup, pelan-pelan empati lo ke mereka bakal mati solid sama temen tuh ada batasnya. diem dan ikut ketawa pas temen lo ngelecehin orang itu bukan solid, tapi lo lagi jadi enabler gausah muluk-muluk sok pahlawan. minimal kalo ada temen lo yang mulai sangean ga jelas di obrolan langsung tegor. kalo ditegor malah ngegas dan ngatain lo so suci, mending leave. tongkrongan kek gitu ga ada valuenya sama sekali buat lo buat lo yang milih diem aja pas temen lo ngerendahin perempuan di grup, sadar ga sih kalo diemnya lo itu yang ngasih validasi ke mereka buat terus jadi predator?

Indonesia
93
21.4K
49.2K
770.9K
an retweetledi
Dosen Kesayanganmu
Dosen Kesayanganmu@direktoridosen·
🚨18+ kronologi kasus chat grup mahasiswa FH UI yang disusun ulang secara sederhana dan netral: 1). Pada 11 April 2026 malam, akun X bernama @sampahfhui mengunggah thread berisi tangkapan layar percakapan dari sebuah grup WhatsApp mahasiswa FH UI. Isi obrolan tersebut berupa komentar vulgar sehari-hari, objektifikasi tubuh perempuan, lelucon cabul terhadap foto Instagram mahasiswi, serta penggunaan frasa seperti “diam berarti consent” dan “asas perkosa”. Thread itu dengan cepat menjadi viral dan ditonton jutaan kali. 2). Diduga Anggota grup tersebut bukan mahasiswa biasa. Banyak di antaranya menjabat sebagai pimpinan organisasi kemahasiswaan, ketua angkatan, serta calon panitia ospek. Beberapa nama yang muncul dalam screenshot antara lain VH, IK, DY, RM, SP, dan beberapa lainnya. 3). Keesokan harinya, 12 April 2026, Fakultas Hukum UI menerima laporan resmi mengenai dugaan pelanggaran kode etik mahasiswa yang juga berpotensi mengandung unsur tindak pidana terkait pelecehan seksual. 4). Pada hari yang sama, Dekan FH UI Parulian Paidi Aritonang mengeluarkan pernyataan resmi. Fakultas mengecam keras konten yang merendahkan martabat manusia dan bertentangan dengan nilai etika akademik. Mereka menyatakan sedang melakukan penelusuran dan verifikasi secara serius serta menyeluruh, sambil meminta publik menahan diri dari penyebaran informasi yang belum terverifikasi. 5). Berbagai organisasi internal seperti BEM FH UI dan badan semi otonom lainnya juga mengeluarkan pernyataan sikap yang mengutuk perilaku tersebut dan mendukung proses penanganan. 6). Hingga 13 April 2026, kasus ini masih dalam tahap investigasi internal Fakultas Hukum UI. Belum ada pengumuman nama resmi yang terbukti terlibat maupun sanksi yang dijatuhkan. Publik terus menanti langkah konkret dari pihak kampus. 🌱saya kira kasus ini menjadi pengingat yang cukup keras bahwa, di sebuah fakultas yang seharusnya menjadi tempat lahirnya pemahaman hukum dan etika yang tinggi, masih saja ditemukan sikap yang meremehkan batas-batas penghormatan terhadap sesama. 🌱harapan kami, proses yang sedang berjalan tidak hanya membersihkan nama baik institusi, tetapi juga menjadi pelajaran nyata agar budaya semacam ini tidak lagi dianggap sebagai “guyonan biasa” di kalangan mahasiswa. cc : @lowongandosenx / @dosenkesmas / @habiburokhman / @taufikbasari / @oncemkl
Dosen Kesayanganmu tweet media
sampahfhui@sampahfhui

[anak fhui bikin grup isinya lecehin perempuan tiap hari???]

Indonesia
125
4.3K
17K
1.2M