dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD
Suatu Pagi di IGD, seorang bapak datang bersama putranya.
Saya memperhatikan tubuhnya sejak ia masuk pintu IGD. Badannya kurus sekali. Keringat membasahi pelipisnya. Tangannya gemetaran.
Matanya menonjol, seperti selalu terbelalak. Leher bagian depannya tampak sedikit membesar. Napasnya cepat.
Saya menyapa beliau dan putranya dengan senyum.
“Halo, Pak.”
Beliau menatap saya lama. Bibirnya bergetar.
“Dok... lupa ya... sama saya?”
Suaranya terdengar bergetar, seakan ada gemuruh di dalam dadanya.
“Dokter... yang bantuin... saya waktu Covid.”
Bicaranya patah-patah, tetapi cepat sekali, sampai saya butuh beberapa detik untuk memahami.
Seketika saya ingat.
Bapak ini dulu pasien saya. Yang paling saya ingat, beliau romantis sekali dengan istrinya. Selama di rumah sakit, mereka hampir selalu bergandengan tangan. Istrinya selalu duduk di samping ranjang, memandang beliau seperti sedang menjaga separuh hidupnya.
Perubahan tubuhnya hari itu membuat saya pangling. Terutama matanya yang menonjol.
“Oh iya, Pak. Saya ingat. Ibu apa kabar?”
Putranya yang menjawab.
“Ibu sudah enggak ada, Dok. Hashimoto disease. Bapak kena Graves’ disease.”
Saya terdiam sebentar.
Graves’ disease adalah penyakit autoimun yang membuat kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid berlebihan. Kondisi ini disebut hipertiroid.
Itu menjelaskan banyak hal.
Kenapa bapak menjadi kurus sekali. Kenapa matanya menonjol dan Kenapa tangannya tremor.
“Agus, Bapak ke bed satu ya. Cek suhu, pasang oksigen, monitor tanda vital.”
“Mari, Pak.”
Putranya melanjutkan cerita.
“Ibu dulu hipotiroid, Dok. Lemas terus. Lemaknya jadi enggak terkontrol. Jantungnya bengkak. Daya pompanya turun. Sampai akhirnya kena serangan jantung.”
Saya mengangguk pelan.
Pedih sekali.
Suami istri ini seperti memiliki takdir yang saling bercermin. Masalahnya sama-sama di kelenjar tiroid, tetapi bergerak ke arah yang berlawanan.
Kelenjar tiroid itu seperti knop kompor di tubuh manusia. Ia mengatur sebesar apa api metabolisme menyala.
Kalau apinya terlalu besar, tubuh masuk ke keadaan hipertiroid. Jantung berdebar, tubuh gemetar, berat badan turun, keringat berlebihan, dan organ-organ bekerja terlalu cepat.
Kalau apinya terlalu kecil, tubuh masuk ke keadaan hipotiroid. Badan lemas, metabolisme melambat, berat badan mudah naik, kolesterol terganggu, jantung ikut terbebani.
Dua-duanya berbahaya.
“Dalam lima bulan terakhir, Bapak sudah enggak mau minum obat rutin, Dok,” kata putranya. “Hari ini ke sini karena mual, muntah-muntah, dan diare.”
Saya menatap putranya.
“Enggak minum obat lima bulan?”
Ia mengangguk khawatir.
Apa pun yang dikhawatirkan putranya, saya sepuluh kali lebih khawatir.
“Dok!”
Agus berteriak dari sisi ranjang.
Saya menoleh ke monitor.
Nadi 150. Lalu naik terus.
“Suhu 39,5 derajat,” lapor Agus.
Di dalam kepala, saya mulai menghitung skor Burch-Wartofsky.
Demam. Takikardia. Gejala saluran cerna. Gangguan sistemik. Riwayat putus obat.
Angkanya bergerak cepat di kepala saya.
25 + 10 + 10 + 20.
Ini Badai tiroid.
Saya mendekat ke pasien.
“Agus, pasang infus.”
“Siap, Dok.”
“Bowo, cek darah. Pasang kateter, cek urinnya. Ella, ambil RL, siapkan PTU tablet 600 mg, paracetamol drip, bisoprolol, sama dexa ampul.”
Saya memeriksa leher bapak. Teraba pembesaran tiroid, dan terdengar bruit halus di sana. Aliran darahnya deras, seperti organ kecil berbentuk kupu-kupu di bawah jakun itu sedang bekerja terlalu keras.
Lalu saya menempelkan sensor EKG di dada beliau.
“Pak, jangan tidur dulu ya, Pak.”
Beliau mengangguk.
Anehnya, ia tersenyum.
Kami mengelilingi bapak. Semua sibuk, tetapi setiap orang tahu tugasnya.
Saya membaca monitor tanda vital dan EKG. Angka dan grafik di sana membuat dada saya ikut tegang.
“ini SVT. Tensi mulai turun.”
Semua menengok ke monitor.
“Perlu kardioversi.” saya melihat ke tim saya.
Mereka paham. Kardioversi berarti memberi kejutan listrik ke jantung dengan energi terukur, untuk mengembalikan irama jantung ke jalur yang benar.