




Tama Ramadhani
26.8K posts

@tamaRMD
Dont give up to reach your dreams






Libur panjang - ternyata harga minyak dunia tembus USD 105. US Yield mendadak naik tajam kembali. Dollar index menguat Senin, rupiah maybe bisa tembus 17.800 IHSG bakal makin crash. Bahaya ini, kalau minyak dunia tembus USD 110. Krisis rupiah bisa terjadi. Deja Vu 1998. Kuncinya : selat Hormuz. Selama belum dibuka, harga minyak dunia tetap akan liar. Dan polanya berulang : Harga minyak naik >> US Yield naik >> Dollar menguat >> Rupiah makin crash >> IHSG makin jebol. Rupiah makin parah karena : - Setiap kenaikan harga minyak dunia bikin APBN makin jebol (krn subsidi BBM naik tajam). - Setiap kenaikan dollar, bikin hutang RI makin tinggi dan akhirnya beban hutang APBN juga makin meroket. - Bunga hutang RI dalam dollar juga naik, harus bersaing dengan US Yield yg tinggi (dan jauh lebih aman). Tekanannya dobel dobel : - Hutang RI dalam dollar makin mahal sebab bunga naik - Hutang RI dalam dollar makin mahal sebab rupiah makin anjlok - Ditambah beban subsidi minyak makin meroket Di saat yg sama defisit APBN sudah amat tinggi di kuartal 1 2026. Pasar takut APBN akan makin jebol di kuartal 2 dan 3, saat beban subsidi minyak naik tajam (gegara harga minyak dunia yg naik pesat). To be honest : mulai ada perasaan self fulfilling prophecy. Maksudnya : rupiah makin anjlok karena semua beban di atas. Dan saat rupiah makin anjlok, beban di atas makin berat. Akhirnya rupiah makin anjlok tanpa batas. Ngeri kalau lingkaran setan ini terjadi. Kebijakan MONETER BI kurang ada impak bagi penguatan rupiah secara signifikan, kalau sumber utama tak diatasi. Yakni kebijakan fiskal yang terlalu boros. Solusi cepat untuk hadapi KRISIS RUPIAH : - pangkas anggaran MBG hingga 60% - 70% - subsidi BBM dikurangi 30% (sembari dorong transportasi EV). - kurangi anggaran kopdes : 50%. Devil's Advocate harus berani muncul di hadapan pak Presiden. Bilang baik-baik : pak, ini risikonya jika fiskal tak dibenahi.


Dampak Dollar ke Rupiah bagi Rakyat Desa


Sangat jarang banget nongkrong di coffeeshop, sendiri, dan bawa laptop. Tapi buat yang melakukan ini, cobain aja install ekstensi Chrome Remote Desktop (remotedesktop.google.com) di laptop dan HP. Jadinya bisa tetap gerakin laptop dari HP. Nyalain kamera di laptop kalau perlu.


Potret sapi termahal di dunia, berhasil terjual di Brasil dengan harga mencapai Rp78 Miliar.


Jujur baru tau kalo 1 Kina = hampir 4K Rupiah Selama ini gua kemana aja yak

ternyata bener, pembunuh mimpi nomer 1 tuh ekonomi ya.

Saking banyaknya yang maling susu formula di sini sampai digembok semua 🥲🥲🥲


Dari semua kota kolonial Hindia Belanda, favorit gue nomor satu memang Surabaya. 🫡



kalo dijejerin gini, keliatan banget ya logo yang designnya well-thought


Your tattoo isn’t just decorative ink: it’s a permanent trigger that keeps your immune system locked in a lifelong cycle of chronic inflammation. As soon as the ink is injected into your skin, your body recognizes the pigment particles as foreign invaders. Immune cells called macrophages immediately swarm the area and attempt to swallow them up. But because they can’t actually break down the ink, the macrophages eventually die, releasing the pigment back into the surrounding tissue — only for a new wave of macrophages to arrive and repeat the process. This endless cycle is what keeps the tattoo permanently visible, while also maintaining a state of ongoing, low-level inflammation in the skin. Over time, some of these ink particles migrate through the lymphatic system and accumulate in the lymph nodes, placing constant stress on the body’s defense mechanisms. Emerging research suggests this internal ink buildup may interfere with normal immune function, potentially reducing the effectiveness of certain vaccines, including mRNA types. Additionally, many tattoo inks contain heavy metals like nickel and cobalt. Combined with the chronic inflammation, this has been linked to a modestly elevated risk of lymphoma and skin cancer. While tattoos remain a powerful form of self-expression, they represent a complex, decades-long biological conflict between your immune system and foreign substances embedded in your skin. [Nielsen, C., Jerkeman, M., & Jöud, A. S. (2024). Tattoos as a risk factor for systemic lymphoma: A population-based case-control study. eClinicalMedicine]

Mendikti soal LPDP Libatkan TNI: Agar Disiplin dan Tidak Culture Shock cnnindonesia.com/nasional/20260…


