Sabitlenmiş Tweet
biar apa
17.4K posts

biar apa retweetledi
biar apa retweetledi

N2-N1 level kanji/vocab in 11 months.
🧵Gw spill cara speedrun, gak perlu textbook yang bikin ngantuk:



Lutfi@LutfiHidayatR
Sebagai yg tinggal di sini, kalau kalian gak ngebet2 banget buat tinggal lama di jp, this is not worth it. N2 is not worth the time investment
Indonesia
biar apa retweetledi

gais kalo kalian lagi reading slump, bisaa banget baca buku buku ilustrasi disini!!! bener bener meningkatkan mood bacaa karena secantikkk itu ilustrasinya dan ceritanya dari bermacam macam kisah negara. REKOMENDET 🎈🩷🫡😻💖💫🌤️🌟
letsreadasia.org




Indonesia
biar apa retweetledi

@_firdausaa @hrdbacot Mbaak aku dari kota sebelah pengen eksplor soloo 😫 ayo berteman biar punya temen klayapan!
Indonesia

Masuk Q2 2026 #TaliKasihHRDbacot dibuka malam ini sampai besok. silahkan buat yang mau cari teman hobi, mentor satu profesi atau pasangan buat masa depan, drop your profile here!
Jangan lupa post selfie terbaik, cantumin juga hobi, pekerjaan, domisili, tujuan ikutan even dan hashtag #TaliKasihHRDbacot
kindly reminder risk and reward ditanggung sendiri, mincot cuma RTin aja
Monggooo
Indonesia
biar apa retweetledi
biar apa retweetledi
biar apa retweetledi

The main reason Galileo noticed the craters and mountains on the Moon was his training in painting- thanks to the chiaroscuro (light and shadow) technique he taught at the Accademia del Disegno in Florence,he realized the shadows indicated a three-dimensional surface structure; meanwhile, the Englishman Thomas Harriot, who observed the Moon with a telescope around the same time, didn't have this training and therefore described the surface shadows merely as a *strange spottedness.*
James Lucas@JamesLucasIT
Galileo's first sketches of the moon after viewing it through his telescope in 1609
English
biar apa retweetledi

drive.google.com/drive/folders/…
Minasan, konnichiwa. Aku izin up kembali ya untuk gdrive ini 😊
Untuk materi Bahasa Jepang sampai dengan persiapan JLPT ini insyaallah sudah lengkap ya. Silahkan gunakan dengan sebaik mungkin untuk belajar Bahasa Jepang dan mempersiapkan JLPT 😊❗

Indonesia
biar apa retweetledi
biar apa retweetledi

Izin saya menambahkan konteks biar diskusinya lebih tajam.
Kasus ini bukan cuma soal "jasa editing dihargai Rp 0." Itu memang bagian paling mencolok dan bikin emosi, tapi masalah strukturalnya lebih dalam. Amsal Christy Sitepu itu videografer yang bikin video profil untuk 20 desa di Kabupaten Karo, masing-masing Rp 30 juta. Videonya jadi, sudah tayang di YouTube, dan 20 kepala desa yang jadi saksi di persidangan bilang tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Satu pun tidak ada yang komplain.
Yang bikin masalah adalah, auditor Inspektorat Karo menetapkan harga wajar cuma Rp 24,1 juta per video. Selisih Rp 5,9 juta dikali 20 desa, jadilah "kerugian negara" Rp 202 juta. Dan di dalam perhitungan RAB versi auditor itu, lima komponen pekerjaan kreatif, yaitu penciptaan ide/konsep, cutting, editing, dubbing, dan penggunaan mic/clip-on, semuanya dipatok Rp 0. Nol. Alasannya? Tidak ada kwitansi fisik pembelian dari pihak ketiga. Karena proses editing itu terjadi di kepala dan di depan layar komputer, bukan beli semen yang ada notanya.
Nah, ini yang perlu kita lihat lebih jernih. Logika auditor itu memang cacat, tapi cacatnya bukan karena orangnya bodoh. Cacatnya karena Standar Harga Satuan di hampir semua pemda di Indonesia memang tidak punya acuan untuk menghargai kerja kognitif. Pemda fasih menghitung harga semen per sak, aspal per ton, konsumsi rapat per orang.
Tapi tarif per jam kerja editor video? Biaya amortisasi lisensi software editing? Tidak ada pedomannya. Jadi ketika auditor dihadapkan pada komponen yang tidak bisa dibuktikan dengan nota belanja fisik, mereka ambil jalan paling "aman" secara birokrasi, yaitu menolkannya, daripada dianggap subjektif oleh BPK di atasnya nanti.
Tapi bukan berarti itu bisa dibenarkan Yah.
Menolkan nilai editing sama saja bilang bahwa raw video bisa langsung jadi video koheren tanpa campur tangan manusia.
Menolkan ide kreatif sama saja bilang storyboard, konsep visual, dan narasi itu muncul dari udara kosong. Ini penyangkalan total terhadap kekayaan intelektual.
Dan ada masalah hukum yang mungkin luput dari perhatian publik. Amsal didakwa pakai Pasal 3 UU Tipikor, yang intinya soal "menyalahgunakan kewenangan karena jabatan." Masalahnya, Amsal itu vendor swasta. Dia tidak pegang jabatan di pemerintahan, tidak punya akses untuk mencairkan dana APBDes, tidak punya wewenang administratif apa pun.
Yang punya wewenang otorisasi pencairan dana itu justru kepala desa. Tapi 20 kepala desa itu cuma dijadikan saksi, bukan tersangka. Yang ditahan justru penyedia jasanya. Agak aneh kalau dipikir, ya.
Saya nggak bilang Amsal pasti benar seratus persen. Bisa saja ada selisih harga yang perlu dipertanyakan.
Tapi kalau memang ada kelebihan bayar, mekanisme koreksinya seharusnya lewat jalur administrasi atau perdata, bukan langsung dilompati jadi pidana korupsi. Apalagi dengan nominal yang kalau dipecah per desa cuma selisih kurang dari Rp 6 juta.
Besok, 30 Maret, Komisi III DPR akan gelar RDPU soal kasus ini. Dan vonis dijadwalkan 1 April. Semoga majelis hakim punya keberanian untuk melihat bahwa ada yang salah dengan cara kita menghargai kerja kreatif di negara ini.
Karena kalau preseden ini dibiarkan, siapa yang berani ambil proyek pemerintah lagi?
Ini perspektif saya yah, bisa jadi ada sudut yang belum saya lihat.
Indonesia
biar apa retweetledi

At 40, Franz Kafka (1883-1924), who never married and had no children, walked through the park in Berlin when he met a girl who was crying because she had lost her favourite doll. She and Kafka searched for the doll unsuccessfully. Kafka told her to meet him there the next day and they would come back to look for her.
The next day, when they had not yet found the doll, Kafka gave the girl a letter “written” by the doll saying “please don’t cry. I took a trip to see the world. I will write to you about my adventures.”
Thus began a story which continued until the end of Kafka’s life.
During their meetings, Kafka read the letters of the doll carefully written with adventures and conversations that the girl found adorable.
Finally, Kafka brought back the doll (he bought one) that had returned. “It doesn’t look like my doll at all,“ said the girl.
Kafka handed her another letter in which the doll wrote: "my travels have changed me.” the little girl hugged the new doll and brought her happy home.
A year later Kafka died. Many years later, the now-adult girl found a letter inside the doll. In the tiny letter signed by Kafka it was written:
“Everything you love will probably be lost, but in the end, love will return in another way.”

English
biar apa retweetledi
biar apa retweetledi
biar apa retweetledi
biar apa retweetledi
biar apa retweetledi

biar apa retweetledi
biar apa retweetledi



























