tetapiwan
83.2K posts

tetapiwan
@tetapiwan
suka dipijat.. makan apalagi, suka travelling juga dong... kadang-kadang baca
Jakarta Capital Region, Indone Katılım Aralık 2016
549 Takip Edilen25.2K Takipçiler

Goals nya apa
Kalo euean doang
Pilih yg ganten badan bagus
mimolio@mimxlio
Ketiganya naksir sama kalian tapi harus pilih satu saja diantara: 1. Cowok ganteng badan bagus 2. Cowok tajir melintir 3. Cowok pintar IQ tinggi Alasannya?
Indonesia
tetapiwan retweetledi
tetapiwan retweetledi

Tetangga Mbah Sadiman dulu apa gak malu ya? Orang lagi pusing bukitnya gersang, si mbah nekat jual kambingnya buat beli bibit beringin malah diketawain satu kampung dibilang gila.
Dulu pas bukit di Wonogiri itu abis kebakaran dan kering parah, si mbah ini malah nekat nanem beringin tiap hari selama 20 tahun lebih tanpa dibayar. Tetangganya pada nyorakin karena beringin kan dianggap mistis sama angker wkwk.
Tapi sekarang belasan ribu pohon yang dia tanem sendirian udah jadi hutan lebat, terus malah ngasilin banyak sumber mata air baru. Ujung-ujungnya warga desa yang dulu ngatain dia gila sekarang bisa dapet air bersih gratis buat bertani. Sukses membungkam satu kabupaten sih ini.
Sampai sekarang, mbah masih suka naik ke bukit buat ngecek pohon-pohonnya. Beliau pernah bilang, upah terbesar buat dia itu bukan uang, tapi ngeliat warga kampungnya udah gak kesusahan air bersih lagi pas musim kemarau.
nasib si mbah sekarang udah tenang banget, dihormatin satu kabupaten, dan hidupnya berkah karena berhasil membungkam omongan tetangganya pake karya nyata.
Sehat selalu Mbah Sadiman! 😭 Maturnuwun, sungkem beneran gue.


Indonesia

@tetapiwan Tapi bocil sekarang ngubah gaya jualan, omiw,
Gara2 mereka barang ready hanya di mall tertentu dengan harga normal, ngantri naujubilah kayak di pim kemaren.
di marketplace kudu preorder 30 hari dengan harga normal pula.
Dulu sebotol 50ml 150an, sekarang digoreng 250-300 PO pula
Indonesia
tetapiwan retweetledi

Temenku yang Konghucu pernah nggak sengaja masukin adiknya ke pondok. Gini ceritanya.
Awalnya, papa dan mamanya memutuskan pensiun dan tinggal di panti jompo yang jauh dari rumah. Temenku, sebut saja Koko, disuruh mengurus bisnis keluarga dan semua urusan rumah tangga di kampung halamannya, satu daerah di Jambi. Dia punya satu adik laki-laki yang selisih umurnya cukup jauh.
Hampir setahun setelah orang tuanya tinggal di panti jompo, adiknya sudah waktunya masuk SMP. Koko punya ide: gimana kalau adiknya dimasukkan ke boarding school seperti dirinya dulu, tapi di Jawa aja supaya lebih murah. Sebenarnya Koko yang sudah menginjak 30 tahun mulai gelisah kebelet nikah, jadi sibuk kencan sana-sini. Alhasil dia agak males ngurus adiknya andai tetap di rumah. Ide cemerlang itupun disampaikan ke orang tuanya, dan mereka setuju.
Lalu Koko mulai mengetik kata kunci “boarding school” di gugel. Dia telusuri berbagai website dan foto-fotonya, sampai akhirnya menemukan satu yang menurutnya bagus, modern, dan sejuk karena terletak di dataran tinggi di Pulau Jawa. Setelah menelpon pihak sekolah, dia langsung membayar semua biaya yang diperlukan.
Tibalah hari adiknya harus masuk asrama, sebelum tahun pelajaran dimulai. Koko sempat chat di group Line bilang agak males karena harus antar adiknya sampai ke sana. Sore harinya aku video call dia mau nunjukin fidget spinner yang waktu itu lagi populer di Indonesia. Eh, mukanya kecut banget. Aku langsung tanya, “Gimana sekolah adek lu?”
Dia jawab, “Wah kacau, ini boarding school Islam ternyata.”
Aku tambah heran, “Lha kok bisa? Kan lu udah survei.”
“Iya, waktu cari informasi gua cuma baca fasilitasnya sama lihat fotonya doang. Lagian ini sekolah namanya ga ada nuansa Islaminya.” katanya.
“Terus sekarang gimana? Mau dipindahin?” tanyaku lagi.
“Nanti aja, udah terlanjur. Paling ga jalanin dulu satu semester sambil cari sekolah lain,” jawabnya.
“Papa le tau nggak?”
“Ga tau lah. Bisa batal pensiun papa wa kalo denger.”
Ya sudah, semua berjalan normal. Hampir satu semester berlalu masih aman-aman aja, jadi Koko pun nunda-nunda untuk mindahin adiknya. Saat Imlek, adiknya dipulangkan dan diwanti-wanti supaya ga cerita apa-apa. Aman juga. Koko jadi semakin ngeremehin risiko itu.
Masuk bulan kesepuluh, tiba-tiba orang tuanya kangen adiknya dan minta ke Jawa. Singkat cerita, akhirnya orang tuanya tahu. Adiknya dipindahin ke sekolah lain di kota lain. Koko dihukum ga boleh ngurus bisnis keluarga, ATM-nya diambil, dan ga dikasih uang jajan. Kalau lapar ya makan makanan yang ada di rumah. Papanya juga ga ngajak dia ngomong hampir tiga tahun, sampai akhirnya papanya mutusin pensiun lagi.
Sekarang adiknya sudah kuliah dan masih hafal al-Fatihah. Tapi Si Koko masih belum nikah.
lea@avoccdo
ga, soalnya kristen
Indonesia
tetapiwan retweetledi

seberapa keren TODDLER kalian?
Aku duluan ya 🙏
Pas antri kasir swalayan,
ada ibu2 nyrobot antrian di dpnku,
kutegor utk antri, dia jwb:
👹: "aduh itu anakku kasihan kl nungguin antri lama"
🧕: tetep antri Bu"
👶: Tante, jgn kasihan sm anak Tante doang.
Aku jg anak2 capek jg kl nunggu Tante bayar.
👹: "saya cuma beli ini doang dek"
👶: "malu dong Tante, kaya gak berpendidikan aja gak mau antri, aku anak TK aja bisa antri"
Lalu mundur antri dia,
dan yg antri di blkgku pd TOS sm anakku
cc:threaddotika
Indonesia
tetapiwan retweetledi

Lucunya Negeri +62,
1. PAM = Perusahaan Air Minum... airnya gak bisa diminum
2. MBG = Makan Bergizi Gratis... gak bergizi dan gak gratis
3. IKN = Ibu Kota Negara... statusnya bukan ibukota negara
4. KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi... korupsinya malah makin merajalela
5. DPR = Dewan Perwakilan Rakyat... rakyatnya tidak terwakili
6. BPJS Kesehatan = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan... sehatnya tidak terjamin
7. PLN = Perusahaan Listrik Negara... listriknya sering mati
8. Pajak = katanya untuk rakyat... yang menikmati bukan rakyat
9. KRL = Kereta Rel Listrik... listriknya sering padam, keretanya tetap jalan padat
10. UMP = Upah Minimum Provinsi... minimumnya betul, tapi tidak cukup untuk hidup layak
11.
12.
13.
Apa lagi nih+62
Indonesia

@aryaoctav Salfok nya bukan sama tete nya
Tapi sama nipples nya
Loh ..
Loh...
Indonesia
tetapiwan retweetledi

Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia

Sering ..
Gua batesinnya
Nagih 3x
Setelah itu gak mau nagih
Mau dipulangin, Alhamdulillah
Gak dipulangin, gua gak jatoh misikin
Tapi...
Jangan harap orang itu
Minta tolong ke gua lagi
Minta air putih aja
Gak bakalan gua kasih
ayra@airmineralle
Emang kalian pernah minjemin uang ke orang trus gak balik?
Indonesia
tetapiwan retweetledi

@tetapiwan Amasa? Kopi aja nih? Ga susu aja?
Ini ada langsung dari sumbernya soalnya ☺️🤣
Indonesia
tetapiwan retweetledi
tetapiwan retweetledi

@gugugugugunnn Nanti. Bikinin aku kopi yg enak ya...
Sambil kita chit chat
Kalo ada temennya pempek, boleh dah
Indonesia
tetapiwan retweetledi

👩🏻💼maaf bu, kelas 1 lg penuh.
jd bapak dititip dulu sementara di kelas 3 ya.
nanti kalo udah kosong, bapak dipindahin ke kelas 1.
👩🏻bisa kasih estimasi kpn ga ka? ini yg mau masuk kelas 1 hrs waiting list dulu ya?
👩🏻💼 betul ibu. kebetulan yg antri utk kelas 1 lumayan ibu
(tiba-tiba sepupu telp)
🧕🏻 itu ayah kok dititip ke kelas 3?
peraturannya ga gitu. mana petugas bpjsnya? biar aku yg jelasin. ternyata petugasnya nolak bicara dg sepupuku.
🧕🏻itu aku kirim peraturannya.
dikirimlah PMK 71 Tahun 2013 pasal 22 seperti di atas. (kasih liat ke petugasnya)
👩🏻 ka, maaf. ini peraturannya gini
👩🏻💼 (pas baca lgsg agak heboh karena cari² kamar kelas 1 sama vip)
🧕🏻 pasti skrg mereka lbh gigih cari kelas 1 kan?
pasti bakal diusahain bgt itu ayah ttap masuk kelas 1 👩🏻 iya bener 5 menit kemudian...
👩🏻💼 bu, bapaknya kita titip sementara di kelas vip B ya. nanti sekitar jam 18.30 kita pindahin ke kelas 1 sesuai hak pasien ya bu.
👩🏻oya baik ka. terima kasih.
cc:threadszyc

Indonesia










