the vra h
543 posts

the vra h
@thevrach
akun ngebucin nomor 1282298282922 kadang jadi tempat pelarian dari kejenuhan dan kecapean juga sih~
kepo Katılım Mart 2021
31 Takip Edilen8 Takipçiler

@steflandelwill @wajdilan pas masih kuliah akupun mengalami, yg udah diajarin konsep / materi a-c, tiba2 soal mengenai materi d keluar 😔
Indonesia

@steflandelwill @wajdilan perasaan OP ga minta ulang exact questions before deh…
yg dia minta kan soal yang CARANYA emg udah pernah diajarin sebelumnya… ya spt yg masnya bilang, yg udah diajarin core conceptnya kan…
kalo conceptnya aja blm diajarin sebelumnya, masa iya pas lg ujian muncul tbtb😔
Indonesia

wah, jadi tb pas ngetik ini ke stranger, kondisi w jg sebenernya lagi ngerasa stress bgt karena TA wkwkwk
one year later, already graduated, sudah kerja juga~
the vra h@thevrach
@_1902fm @xybber @_gasabaran kak jangan didengerin ya omongan kayak gitu. yang tahu kondisi ekonomi dan keluarga kan kamu tapi org luar bisa aja asal judge. semangat sidangnya, semoga lancar🫶
Indonesia

@seren0tpity @Taekrok bukan gamau ada fee, tapi emang itu feenya ga ngotak anjrit
emang kocak. udah diperes pemerintah sendiri, eh ini mau normalisasi diperes sesama😹
Indonesia

@indomeyeah @shuacrush W bingung bahas mamahnya mulu, sama yg bersangkutan gimana? dah izin?
Indonesia

@suputra20820 @karirfess pabrik mana ini, cikarang bisa jadi memang dapet belasan juta. tapi dikira semua org tinggal di cikarang?😔
Indonesia

@karirfess Jaman dah berubah sekarang lulus SMK dah cukup buat kerja di pabrik gaji belasan juta. Yang sarjana malah ketuaan sekolah akhirnya nganggur atau cuma jadi guru ngenezz hidupnya
Indonesia

Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia

@hynchnz @mytimekie @aleepinkskz wkwkwk balesannya gitu doang🤣🤣🤣🤣🤣 emang kalian tuh playing victimnya kenceng banget anjay, ga terlalu kaget juga sih
Indonesia

gwehj bsru nmu org yg gsukak bgd sm hinata, bner2 kea hater garis krass😭 @mytimekie what did my boy do lmao
anału❤️🔥@swiftstrange
@shoyocel o maybe i just don’t like hinata lmao it’s really not that deep
Indonesia







