prm

6.4K posts

prm banner
prm

prm

@thisispramie

lah iya kata gua mah santai saja hidup ini

Katılım Mayıs 2019
331 Takip Edilen226 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
prm
prm@thisispramie·
THREAD review (opini personal) nonton story series game yakuza dari yakuza 0 sampe yg terbaru 🕴🏻🗡️
Indonesia
1
0
2
13.2K
prm retweetledi
☆
@eternitymindd·
Halo! Aku open adopt kitten bermahar, domisili Jakarta Selatan/Depok. - Ras Ragdoll - Udah dikasih obat cacing & kutu - aktif & sehat - Induk sudah full vaksin termasuk vaksin rabies - ngerti pake litter box Kalau minat boleh dm aja yaa
☆ tweet media
Indonesia
1
4
1
224
prm retweetledi
𝐍𝐨𝐳𝐞𝐥⚚ノゼル
Sama kayak "demo tu jangan rusuh kalo aspirasinya mau didenger" Lah aksi kamisan yg rutin dilakuin bertahun-tahun dan ga rusuh aja gapernah didengerin? Jangankan didenger, dihadiri aja enggak.
Tanyarl 💚@tanyakanrl

💚 "kritik harus sopan" "Itumah buli bukan kritik" Plis deh, ribuan oeang bilang ENGGAK di depan mukanya langsung aja gak didenger. Apalagi kritik di medsos dengan lemah lembut bak putri keraton 😭 yakin mau 2 periode? 🤣

Indonesia
21
5.2K
14.1K
137.9K
☆
@eternitymindd·
ADUH MAU NONTON THE WEEKND
Indonesia
1
0
0
41
prm retweetledi
Sumatera Adil & Federal
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera·
Setelah gajah Sumatera ditemukan mati 2 ekor kini ditemukan lagi se-ekor harimau Sumatera di temukan mati di bentang alam seblat bengkulu. Kamis 30 april 2026 Bengkulu. Buk @susipudjiastuti 🙏 Source: tempo.co/lingkungan/set…
Sumatera Adil & Federal tweet media
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera

Lagi dan lagi, mati di areal konsesi korporasi. 2 ekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) mati dlm areal PT Bentara Arga Timber (BAT)

Indonesia
255
13.3K
29.5K
708.5K
prm retweetledi
Sumatera Adil & Federal
Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera·
Lagi dan lagi, mati di areal konsesi korporasi. 2 ekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) mati dlm areal PT Bentara Arga Timber (BAT)
Sumatera Adil & Federal tweet mediaSumatera Adil & Federal tweet mediaSumatera Adil & Federal tweet media
Indonesia
198
7.7K
16.6K
1.1M
prm
prm@thisispramie·
baru nonton witch hat atelier, pantesan aja si kembaran gojo dipanggilnya kipli wkwkwk
Indonesia
0
0
0
50
prm
prm@thisispramie·
kemarin lg ngantri FM di belakang mba2 yg chat sama pacarnya, bubble text cowonya kayak “aku jemputt yaaa”, “dekett kokkk byy”, “gapapaa” sedangkan bubble text cewenya “kaga”, “udah gausah”, “lagian udh sore jg” WKWKWKW
Indonesia
1
0
2
98
prm retweetledi
Noah’s Ark 🚢
Noah’s Ark 🚢@NoahsArk1000·
Godzilla VS Israel
English
111
9.3K
64.7K
1M
prm retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Bismillahirrahmanirrahim. Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya. Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan. Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka. Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
Ibrahim Arief tweet media
Indonesia
229
7.7K
13K
373.8K
prm
prm@thisispramie·
pusing banget make coretax, siapa si yg bikin
Indonesia
0
0
0
116
prm retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ini salah satu berita yang menurut gue paling mengerikan yang keluar hari ini dan bukan karena dramatis, tapi karena implikasinya sangat nyata terhadap keselamatan jutaan anak Indonesia. BPOM secara resmi mengakui di depan DPR: mereka belum pernah melakukan sampling makanan MBG. Sama sekali. Karena tidak ada anggaran. Mari kita letakkan ini dalam konteks yang benar: Program MBG sudah berjalan berbulan-bulan. Sudah menjangkau 27.000 SPPG di seluruh Indonesia. Sudah menyerap Rp60 triliun anggaran. Dan selama itu semua tidak ada satu pun sampel makanan yang diuji oleh BPOM. Tidak ada verifikasi independen bahwa makanan yang masuk ke mulut anak-anak kita itu aman. Tidak ada pengujian laboratorium resmi. Tidak ada audit kualitas dari lembaga yang berwenang. Dan angkanya membuat gue tidak habis pikir: MBG: Rp60 triliun sudah terserap. Hampir Rp1 triliun per hari. Anggaran BPOM untuk mengawasi program ini yang tersedia saat ini: Rp2,9 miliar. Bukan Rp2,9 triliun. Bukan Rp2,9 miliar per bulan. Total Rp2,9 miliar. Perbandingannya: anggaran pengawasan keamanan pangan untuk program yang menelan Rp60 triliun hanya 0,005% dari total anggaran program itu sendiri. Dan kondisinya lebih buruk dari sekadar kekurangan anggaran: BPOM sebelumnya sudah mengajukan anggaran Rp196 miliar untuk pengawasan MBG. Sudah disetujui. Tapi kemudian ada kewajiban pengembalian dana ke bendahara umum negara artinya dana itu dipotong dan tidak bisa digunakan. Ada juga dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui Komisi IX DPR tapi sampai hari ini belum bisa dieksekusi karena masih menunggu tahapan administrasi yang entah kapan selesainya. Jadi BPOM punya anggaran di atas kertas tapi tidak bisa digunakan. Sementara makanan untuk jutaan anak terus dikirim setiap hari tanpa pengujian. Dan ini yang paling ironis: Kepala BPOM Taruna Ikrar bilang mereka sudah melatih 32.000 lebih tenaga ahli untuk mengawasi SPPG. Tapi tidak ada anggaran untuk mengambil dan menguji satu pun sampel makanan. Jadi kita punya 32.000 orang terlatih tapi tidak ada alat ukur yang bisa membuktikan bahwa makanan yang mereka awasi itu aman. Itu seperti punya 32.000 dokter tapi tidak ada satu pun alat diagnosa. Mereka bisa melihat. Tapi tidak bisa membuktikan. Konteks yang membuat ini semakin mengerikan: Kita sudah tahu bahwa 6.457 orang dilaporkan terdampak keracunan MBG angka yang BGN sendiri laporkan ke DPR. Belatung ditemukan dalam makanan MBG dan diakui sendiri oleh Hashim Djojohadikusumo. Kasus keracunan terjadi di Duren Sawit, Bantul, dan berbagai daerah lain. Dan selama semua itu terjadi lembaga yang seharusnya bertugas memverifikasi keamanan pangan itu tidak pernah melakukan satu pun uji sampel karena tidak ada anggaran. Yang tidak masuk akal dari seluruh situasi ini: BGN punya anggaran untuk: Motor listrik Rp1,2 triliun Digitalisasi Rp3,1 triliun Semir sepatu Rp1,25 miliar Sikat semir Rp272 juta Tapi BPOM lembaga yang bertugas memastikan makanan itu tidak meracuni anak-anak hanya tersisa Rp2,9 miliar yang bisa digunakan. Prioritas anggaran ini mengatakan sesuatu yang sangat jelas tentang apa yang dianggap penting dalam program ini dan apa yang tidak. Pertanyaan yang harus dijawab: Satu — Selama berbulan-bulan program MBG berjalan tanpa pengawasan sampling BPOM, siapa yang bertanggung jawab memastikan keamanan pangan dari 27.000 SPPG itu? Dua — Apakah BGN tahu bahwa BPOM tidak bisa melakukan sampling karena tidak ada anggaran? Kalau tahu — kenapa tidak ada tindakan untuk mengalokasikan anggaran yang memadai? Tiga — Apakah 6.457 korban keracunan itu bisa dicegah kalau sampling BPOM berjalan sejak awal? Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Tapi pertanyaannya sangat valid dan harus ditanyakan. Empat — Dana swakelola Rp675 miliar yang sudah disetujui tapi belum bisa dieksekusi apa yang menghalanginya dan siapa yang bertanggung jawab atas kemacetan administrasi itu? Bottom line: Indonesia menjalankan program makan gratis terbesar dalam sejarahnya dengan anggaran hampir Rp1 triliun per hari tanpa pengujian keamanan pangan yang independen. Bukan karena teknologinya tidak ada. Bukan karena BPOM tidak mau. Tapi karena anggarannya tidak tersedia sementara di sisi lain uang mengalir untuk motor listrik dan semir sepatu. Ini bukan kelalaian kecil. Ini adalah kegagalan sistemik dalam memprioritaskan keselamatan anak-anak di atas kepentingan pengadaan dan administrasi. Dan yang paling mengejutkan dari semua ini bukan fakta bahwa BPOM tidak punya anggaran. Yang paling mengejutkan adalah bahwa program senilai Rp60 triliun ini diizinkan untuk terus berjalan hari demi hari tanpa mekanisme pengawasan keamanan pangan yang paling dasar sekalipun. atau ini bukan program makan bergizi atau cara menghabiskan anggaran dengan gaya??
Lambe Saham tweet media
Indonesia
187
2.6K
4.2K
274.3K
prm retweetledi
Jawa Pos
Jawa Pos@jawapos·
Mantan konsultan Kemendikbudristek Ibrahim Arief alias Ibam tidak kuasa menahan tangis saat mendengar tuntutan 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 190 hari. Ibam merasa kasus dugaan korupsi Chromebook yang menjerat dirinya merupakan kriminalisasi. Sementara, istri Ibam, Dwi Afriati pun tidak kuasan menahan tangis. Ia menyesalkan atas tuntutan penjara yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap suaminya. Afriati pun merasa keberatan atas tuntutan pembayaran uang pengganti Rp 16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara. Menurutnya, tuntutan pembayaran uang pengganti itu sangat berat baginya dan keluarga. Baca selengkapnya di jawapos.com
Indonesia
96
1.7K
4K
621K
prm retweetledi
Ibrahim Arief
Ibrahim Arief@ibamarief·
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi. Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas". Saya tolak, ngga mau bohong & zalim. Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka. Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua. Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan. Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan: Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong. Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran. Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak. Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.” Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran. Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar. Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia. Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe. Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif. Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah. Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan. Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir. Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan. Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan... Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan. Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini. Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini. Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara. Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Ibrahim Arief tweet media
Tom Wright@TomWrightAsia

UPDATE: Ibrahim Arief (Ibam) — the tech consultant facing 15 years — just told a press conference he was coerced to turn on Nadiem but refused to do so. In 30 years, the playbook hasn’t changed. A deeply corrupt legal system used to intimidate and coerce ordinary Indonesians.

Indonesia
372
8.5K
12.1K
721.1K
prm retweetledi
Tom Wright
Tom Wright@TomWrightAsia·
BREAKING; Indonesia’s Attorney General has charged Ibam with 15 years in prison and IDR16.5b in fines. Let’s be clear, there is no crime. This is a political witch-hunt by dark forces who didn’t like changes in the education ministry. Indonesia’s legal system is broken. Verdict in two weeks.
Tom Wright@TomWrightAsia

Meet Ibrahim Arief. A top-tier Indonesian engineer involved with some of the nation's best-known tech unicorns. Now he's under arrest, awaiting trial in a politicized case that's deeply hurting Indonesia's reputation. His story is distressing. 1/6

English
93
5.3K
9.7K
310K
prm retweetledi
Citayem Union
Citayem Union@curbmyname·
> nolak offer perusahaan luar negeri, milih TURUN gaji demi bantu negara > hasilnya: dituntut 22,5 tahun penjara tanpa bukti aliran dana emang kaga usah lagi dibantu ini negara
Ibrahim Arief@ibamarief

Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara? Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu. Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun. Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai. Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain. Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi. Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook. Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa: 1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN. 2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal. 3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu. 4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan. 5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian. Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam. Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka. Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam. Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan. Ibam dituntut 22,5 tahun penjara. Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja. Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam. Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek. Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan. JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun. Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara. Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan. Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga. Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum. Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi. Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun... Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit. Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus. Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini? Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara? Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian. Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi. Jakarta, 16 April 2026 Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)

Indonesia
69
5.4K
11.2K
214.5K