txt keresahan WNI@KapudS640
Tolong beri saya saran, apakah saya harus bercerai??
Saya sudah menikah dengan pasangan selama 10 tahun.
Suami saya overall baik, setia, tampan, mapan dan bertanggungjawab.
Tidak ada kekurangan fatal seperti kisah-kisah suami biadab lainnya di Quora. Kami menjalani hubungan pernikahan naik turun. Tidak lah buruk, kehidupan seks sehat, relasi keluarga sehat, keluarga berkecukupan, suami saya setia dan dia juga seorang suami dan ayah yang baik (secara umum).
Tapi saya pikir juga hubungan personal kami banyak toxicnya. Tidak sebaik yang dinilai orang.
Satu hal yang jelas, kami amat sangat sering berselisih. Kami rutin ribut hampir 5x seminggu, dari perselisihan kecil hingga perselisihan yang cukup besar atau sangat besar.
Bukan ribut banting-banting barang, tapi ribut mulai dari debat mulut, saling nyolot, perang di WA, saling mendiamkan dan saling abai. Nyaris dalam seminggu pasti terjadi minimal 2–3 kali. Kami seumuran, hanya selisih bulan. Ego kami sama-sama tinggi.
Tapi suami saya juga beberapa kali ngamuk hingga membanting semua barang dihadapannya ketika sedang kalap karena cemburu buta. Termasuk membanting hp saya hingga remuk tak bersisa. Dan pertengkaran kami selalu terjadi di depan anak-anak kami. Anak kami seperti sudah terlalu biasa menyaksikan perselisihan orang tuanya. Saya benar-benar merasa bersalah.
Tapi masalah pemicu perselisihan kami selalu saja hanya karena persoalan-persoalan super sepele. Entah karena cemburunya, sifatnya yang suka membesar-besarkan masalah, dan masalah-masalah sepele lainnya.
Termasuk mengungkit-ungkit masalah di masa lalu. Walaupun sudah pernah selesai dibahas, pasti akan diungkit lagi di kemudian hari. Kami sering bertengkar oleh persoalan yang sama.
Dan baikannya pasti hanya karena berhubungan seks. Jarang sekali baikan karena sama-sama sadar, instrospeksi diri hingga masalahnya tuntas sampai ke akar dan tidak terulang lagi di kemudian hari.
Keharmonisan kami benar-benar terbantu karena hubungan seks semata. Entahlah jika saya sudah tidak bisa melayaninya, saya tidak yakin apakah dia masih menghargai atau menginginkan saya.
Saya sering merasa dia bukan mencintai saya, hanya terobsesi dengan saya.
Kami sudah sering deep talk, pillow talk, berdiskusi dari hati ke hati, tapi perubahannya hanya bersifat sesaat. Bahkan saya berwacana untuk menemui psikolog pernikahan, tapi hanya berakhir wacana. Kami seperti tak tertolong, ego kami luar biasa tingginya dan kami tidak bisa menahan emosi satu sama lain.
Pada akhirnya kami tetap ribut sepanjang waktu. Tidak bisa adem ayem seperti pasutri lainnya.
Kami sudah biasa pagi sayang-sayangan, dan siangnya fakyu-fakyuan, malamnya ena-enaan dan paginya maki-makian lagi. Selalu terjadi seperti itu. Tidak bisa akhur sampai seminggu. Tiga hari tidak ribut pun rasanya tidak pernah.
Tapi kami juga masih sama-sama bisa jatuh cinta dan berdebar, tidak hambar, kami selalu merasa seperti orang pacaran. Hubungan kami seperti roller coaster. Kami tidak sadar diri bahwa kami sudah punya dua anak.
Benar-benar terlalu sering ribut dan baikan. Kami sama-sama sensitif dan tidak dewasa.
Tapi saya sadar kalau kami juga saling mencintai dan saling membutuhkan.
Benar-benar rumit. Bahkan saya bingung, pernikahan saya dan pasangan itu termasuk buruk atau tidak.
Tapi tetap saja, saya lelah harus selalu merasakan emosi tak penting semacam ini seumur hidup. Banyak kekurangannya yang tidak bisa saya tolerir karena selalu membuat saya sakit hati dan merasa tidak dihargai, saya sudah sering ungkapkan dan dia sudah tau, tapi tetap dia lakukan. Tidak bisa mengurangi sama sekali. Dan saya tidak bisa terima.
Dan ada juga sifat saya yang tidak bisa dia tolerir tapi selalu saya lakukan setiap kali saya marah dan sakit hati, karena saya tidak bisa mengatasi ego saya.
Padahal kami sudah bersama selama 15 tahun, tapi kami selalu gagal saling memahami dan saling menerima satu sama lain.
Polanya selalu seperti ini, dia trouble maker, membuat saya sakit hati oleh sikap atau kata-katanya, kemudian saya akan membuat dia kesal dengan memposting foto Selfi di sosial media atau atau membalas chat teman pria, walaupun hanya chat biasa. Saya sengaja karena saya benar-benar kesal. Dan dia pun akan kesal setengah mati karena dia seorang pencemburu buta.
Entah kenapa, saya hanya merasa dicintai ketika saya membuatnya cemburu. Ketika dalam kondisi normal, dia selalu gagal membuat saya merasa dicintai dan dihargai sebagai istri.
Dia sangat posesif, posesif yang sudah cenderung mengganggu, mengekang dan berlebihan. Selalu cemburu dan mempermasalahkan hal-hal kecil. Selalu mencurigai saya. Hidup saya seringkali tidak nyaman dan tidak tenang. Selalu dibayang-bayangi akan melakukan kesalahan dan membuat dia marah.
Saya juga punya trust issue padanya, saya selalu takut dia apa-apain saya jika sedang cemburu buta.
Karena dia suka mengancam lebih baik saya mati daripada dimiliki pria lain.
Sebelum menikah kami pacaran 5 tahun, sifatnya memang sudah begitu, dia sangat posesif, dan abusif jika sedang cemburu. Suka memukul-mukul dada atau kepalanya sendiri dan meninju tembok, jika saya minta putus dia akan mengancam bunuh diri.
Jika kalian tau film After, kami seperti Tessa dan Hardin. Kurang lebih seperti itu toxicnya.
Alasan saya menikah dengannya, karena saya tau dia sangat-sangat mencintai saya. Dia mencintai saya sejak SMA.
Walaupun dia abusif dan tempramental jika cemburu, tapi dia tidak pernah menyakiti saya secara fisik maupun verbal, hanya menyakiti dirinya sendiri.
Dia juga setia dan sangat bertanggungjawab.
Tapi setelah punya dua anak, sifatnya tidak berubah. Selalu pencemburu buta dan mengancam bunuh diri tiap saya minta pisah.
Setiap ada berita tentang pembunuhan atau kekerasan pada seorang wanita karena laki-laki yang posesif dan dilandasi cemburu buta, saya selalu ngeri akan bernasib seperti itu.
Contohnya ketika berita gadis yang tewas karena dipukul dengan kloset. Saya benar-benar ngeri, walaupun saya sangat mengenal dia dan keluarganya dengan baik. Dan saya pun percaya dia sangat baik dan tidak tegaan.
Tapi, ketakutan itu tetap ada.
Saya sangat dilema, apakah alasan perceraian hanya karena ekonomi, KDRT, mertua jahat, selingkuh, judi, tidak bertanggungjawab dan masalah fatal sejenisnya??
Apakah saya kufur nikmat setiap saya berpikir untuk berpisah??
Karena saya selalu merasa takut dan khawatir, merasa terkekang dan tidak bisa leluasa bernafas.
Saya tidak bisa melakukan segala hal yang saya suka dengan tenang.
Suami suka manipulatif, tapi terkadang saya berada di pikiran bahwa mungkinkah saya yang manipulatif? Dia juga pandai gaslighting menurut saya, yang menurut dia, saya juga lah yang suka gaslighting.
Hal itu membuat saya semakin bingung dan merasa buruk.
Jika saya ingin marah, saya merasa dia tidaklah seburuk itu, atau perasaan 'mungkin saya yang kufur nikmat'. Tapi jujur saya sangat sering sakit hati oleh sikap dan cara bicaranya. Bahkan mukanya saja bukan muka yang bersahabat.
Jika orang lain melihat kami, mereka tidak akan percaya bahwa pria itu adalah pria yang sangat bucin dan mengklaim bahwa dia sangat mencintai saya, karena sikapnya dingin, wajahnya tidak ramah, cara bicaranya ketus dan cenderung menyebalkan. Saya sering merasa tidak enak hati. Dia hanya kesetanan saat saya dichat pria lain, atau saat saya posting Selfi sehingga saya dilihat pria lain. Apakah harus seperti itu untuk membuat saya merasa dicintai??
Setiap saya tolak berhubungan selalu drama, walaupun tidak memaksa, tapi selalu mendiamkan saya. Dia tidak pernah mencium atau mencumbu saya tanpa adanya tendensi ke arah seks. Atau pun memeluk dalam keadaan sadar tanpa tertuju pada seks. Dia biasanya memeluk saya hanya saat tidur. Beda dengan saya yang memeluknya karena ingin mengungkapkan rasa cinta atau ingin memberikan atau mendapatkan kenyamanan.
Jika saya tolak pelan-pelan karena suatu hal, emosinya langsung berubah dan mengabaikan saya. Padahal saya bilang, kali ini saya cuma mau dipeluk. Tapi pasti dia hanya mengikuti perasannya. Marah dan tersinggung karena sudah ditolak.
Membuat saya merasa dicintai dengan syarat. Padahal ketika saya menolak pasti karena sikon yang tidak mendukung.
Saya bukan istri yang sulit diajak HB, saya selalu menyenangkan dia di atas ranjang.
Tapi jika ditolak sekali seolah saya istri yang useless.
Tidak HB 2 hari langsung drama seolah sudah sangat lama tidak dilayani. Kadang saya sedang ngantuk berat, capek, stress, dan hati saya sedang tidak nyaman karena masih marah, dia sudah raba-raba saya, jika saya tolak takut tersinggung, akhirnya saya sering melakukan dengan sangat terpaksa walaupun hati saya sangat tidak ikhlas dan saya seperti ingin menangis karena kesal tapi harus tetap keenakan.
Benar-benar membebani saya.
Setiap saya merasa ada yang salah, seolah saya yang harus sadar bahwa tabiat semua pria memang seperti itu. Apakah memang begitu??
Saya selalu merasa sangat membuang waktu dalam pernikahan toxic ini. Saya tidak mau menua dalam pertengkaran dan emosi negatif ini nyaris setiap hari. Karena saya selalu saja kesal oleh sikapnya yang tidak berubah meskipun saya sudah mengatakannya ribuan kali.
Dia bilang dia sangat mencintai saya, tidak bisa hidup tanpa saya, tapi berubah sedikit seperti yang saya mau saja tak bisa. Padahal hanya perubahan kecil untuk kebaikan dia sendiri dan kebaikan bersama.
Contohnya, jangan suka ngegasan, gampang nyolot, atau membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan dia suka sekali pasang muka masam hanya karena moodnya buruk atau ada hal kecil yang mengganggunya.
Sifat itu benar-benar seperti İbunya. Dia suka melihat orang terpojok karena kesalahan, seolah tidak boleh ada yang tidak sempurna atau keliru.
Dan suka mempermalukan saya di depan orang lain, misalnya menegur atau bersikap ketus di depan orang lain.
Benar-benar seperti sifat buruk İbu mertua saya.
Suka sekali meneriaki, ngegas, atau misah misuh hanya karena persoalan sepele.
İbu mertua saya sering memarahi dan ngomel panjang lebar ke Bapak mertua saya dihadapan anak-dan menantunya. Padahal kadang persoalannya amat sangat sepele. Seperti tidak sengaja menumpahkan kecap, atau lupa menyiram pup. Pasti dikuliti habis-habisan didepan kami.
Tapi pakmer saya memang sangat sabar dan sudah memaklumi istrinya.
Contoh lagi, Suami saya sering sekali memarahi adiknya yang remaja di depan saya, saya bilang "Jangan memarahi dia didepan saya, nanti dia malu.. klo mau negur atau marahin pas berdua aja.." tapi dia tidak paham hal-hal semacam itu. Perasaan malu dan sakit hati orang lain seperti sangat sepele baginya.
Sementara dianya sendiri pun ketika melakukan kesalahan dan jika disalahkan pasti tidak terima.
Contoh kecil, misal saya tidak sengaja memecahkan piring, dia akan ngomel panjang lebar dan sangat ketus. Memandang saya penuh penghakiman. Tidak puas kalau ngga nyalah-nyalahin sampai saya terpojok. Atau bahkan mengungkit-ungkitnya di kemudian hari.
Sementara ketika dia memecahkan piring, saya akan sigap membantu membersihkannya tanpa mengucapkan sepatah katapun, karena saya tau, tanpa saya menghakiminya, dia sudah menghakimi dirinya sendiri. Jadi tidak perlu membuat perasaan orang yang sudah buruk semakin buruk. Tidak ada gunanya.
Sudah sering saya ajarkan semacam itu, tetap tidak bisa berubah. Sifat blaming dalam segala hal sudah mendarah daging. Saya yang jadi pasangannya benar-benar capek.
Dia tidak punya kesabaran atau rasa legowo sama sekali.
Saya yang terlahir dari keluarga yang penuh kelembutan dan tidak pernah diperlakukan kasar dan ketus, tidak suka membesarkan masalah, benar-benar sulit untuk menerima sifat itu.
Saya benar-benar tidak tahan.
Tapi apakah alasan semacam ini dibenarkan untuk menggugatnya untuk bercerai? Apakah ini hanya masalah kecil dalam rumah tangga walaupun selalu terulang setiap saat?
Saya takut saya yang tidak sabaran, saya takut saya yang kufur nikmat, saya takut saya tidak akan mendapatkan pasangan yang lebih baik darinya.
Usia saya masih relatif muda untuk menikah lagi. Dan saya masih terbilang menarik dan awet muda walaupun saya sudah beranak 2. Diluaran, orang selalu mengira saya masih abege kuliahan.
Tapi saya tetap takut tidak bisa menemukan pria yang mencintai saya seperti dia.
Dan saya juga takut jika saya minta pisah dan akhirnya dekat dengan pria lain, dia benar-benar akan membunuh saya.
Apa yang harus saya lakukan??
Apakah saya memang istri yang buruk dan tidak tau bersyukur?? Apakah saya biadab karena seringkali membuatnya cemburu untuk membalas sakit hati saya??
Dia tidak ingin dibuat cemburu, tapi tidak bisa membuat saya tidak sakit hati. Bahkan sehari pun tak bisa. Selalu ada sikap dan kata-katanya yang membuat saya tersinggung, down dan illfeel.
Saya sudah sering bilang, "pernikahan kita akan jauh lebih baik hanya dengan kamu merubah sedikit cara bicaramu. İtu saja. Komunikasi kita pasti akan lebih enak. Aku janji tidak akan pernah membuatmu kesal". Tapi nyatanya tidak pernah berhasil, sifat itu terlalu mendarah daging. Bahkan bagi kami, komunikasi itu rasanya percuma, karena hanya akan berujung ke pertengkaran.
WA anak saya usia 9 tahun.
Melelahkan.
cc: Threads