ramengimanh

2.7K posts

ramengimanh banner
ramengimanh

ramengimanh

@tweetngab

kang batu Katılım Mayıs 2021
35 Takip Edilen31 Takipçiler
ramengimanh
ramengimanh@tweetngab·
jadi ya normal aja, kadang puji kadang kita maki haishh atur wis
Indonesia
0
0
0
31
ramengimanh
ramengimanh@tweetngab·
yoi, balik ke prinsip kalau bagus kita puji kalau jelek kita maki 😆
Jett@AsterixBook

@tokotanX Rule 1. jgn percaya politikus , apresiasi kerjanya klo bner tp jgn pernah fans die hard, selalu skeptis se kinclong apapun personanya di publik Ga ada yg 100% suci lets be real, di Indonesia we pick the lesser evil imo

Indonesia
1
0
1
89
bertt
bertt@bertttt_04·
eh di pogung kidul matlis terus kek ada suara yang meledak, itu apaan dah
Indonesia
1
0
3
1.3K
ramengimanh
ramengimanh@tweetngab·
memang luar biasa kageogama ni inpo sangat kencang WAKAKAK
ramengimanh tweet media
Indonesia
0
0
0
38
ramengimanh
ramengimanh@tweetngab·
kata pengantar aja dulu, revisinya nanti 🤪🤪🤪🤪
Indonesia
0
0
0
52
Hidup sebagai +62
Hidup sebagai +62@Hidupsebagai62·
Mohon maaf nih Pak... Bapak itu menteri sperti apa? Bingung sampe skarang apa kerjanya
Hidup sebagai +62 tweet media
Indonesia
418
164
2.2K
160K
ramengimanh
ramengimanh@tweetngab·
DJ HOTEL ROOM KANE PISANN EUY
HT
0
0
0
50
bertt
bertt@bertttt_04·
bisingnya lah abang kamar sebelah ni tiap malam main game teriak-teriak
Indonesia
1
0
0
54
ramengimanh retweetledi
Kopipait
Kopipait@zugag·
@SeekHustle Kesalahan nadim adalah membuat sesuatu yg ribet, mahal, cuan utk oknum tertentu menjadi: 1. Mudah, cepat, kilat 2. Murah dan hasilnya banyak, bisa dipakai lebih banyak org 3. Tidak ada cuan/cashback utk oknum tertentu.. Dan itu tidak disenangi kaum boomer alias orang2 lama...
Indonesia
13
186
1.8K
41.5K
ramengimanh
ramengimanh@tweetngab·
Wok @prabowo baca Wok (jadi penasaran setiap di mention begini, mimin yang megang akun X Prabowo baca ga ya)
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, Ferry Irwandi baru bedah kenapa rupiah terus melemah dan cara dia menjelaskannya menurut gue paling jujur d an paling tidak takut nyalahin siapapun. Intinya satu: rupiah melemah bukan karena satu sebab. Dan jangan percaya siapapun yang bilang ini semua salah satu pihak saja. Yang sering salah kaprah di medsos: Ada yang bilang santai saja rupiah lemah justru menguntungkan eksportir. Kelihatannya masuk akal, tapi Ferry langsung potong: ekspor kita hanya tumbuh 0,9% sementara impor tumbuh 7,18%. Artinya yang benar-benar diuntungkan rupiah lemah itu jumlahnya sangat kecil dibanding total penduduk Indonesia. Jadi itu bukan jawaban yang komprehensif itu setengah kebenaran yang dipakai untuk menenangkan orang. Ada juga yang bilang ini bukan urusan Kemenkeu ini murni urusan Bank Indonesia. Ferry juga langsung bantah. Kurs itu dipengaruhi fiskal, moneter, kebijakan pemerintah, dan kepercayaan pasar sekaligus. Tidak bisa dilempar-lempar tanggung jawabnya. Dan ada yang bilang ini sudah lebih parah dari 1998. Itu juga tidak tepat. Yang bikin 1998 jadi krisis bukan angka kursnya tapi percepatannya. Rupiah naik 600% dalam waktu sangat singkat dari Rp2.400 ke Rp15.000. Sekarang pelemahan terjadi bertahap belum sekategoris itu. Tapi bukan berarti aman. Tiga lapis penyebab yang harus dipahami: Pertama — faktor eksternal. Dolar sedang sangat kuat karena dunia sedang tidak baik-baik saja. Konflik Timur Tengah belum selesai. Suku bunga Amerika tidak turun-turun. Kalau lo punya uang dan harus memilih antara simpan di negara berkembang yang volatile atau di Amerika yang bunganya tinggi dan dolarnya menguat jawabannya jelas. Modal terus mengalir keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia. Dan rupiah jadi salah satu yang paling tertekan. Tapi ini bukan alasan untuk santai. Karena seharusnya kita tidak semelemah ini kalau domestik kita kuat. Kedua — faktor domestik. Di sinilah masalah yang tidak bisa disembunyikan. Pendapatan negara Q1 2026 naik 10,5%. Tapi belanjanya naik 31,4% totalnya Rp815 triliun dalam satu kuartal. Dari jumlah itu Rp610 triliun adalah belanja pemerintah pusat saja. Ekspor tumbuh 0,9% impor tumbuh 7,18%. K ebutuhan dolar meningkat tapi pemasukan dolar tidak ngejar. Subsidi energi naik lebih dari 266% hampir Rp118 triliun atau sekitar 30% dari APBN. Ini harus dilakukan untuk menjaga daya beli. Tapi ketika digabung semua tekanan lain yang paling terbeban tetap nilai tukar. Siklus mematikannya begini: rupiah melemah beban APBN untuk bayar kewajiban dolar makin besar tekanan ke rupiah makin dalam rupiah melemah lagi. Ketiga — kepercayaan yang sudah mulai retak. Dan ini yang paling berbahaya. Ferry bilang dengan sangat kesal: ketika pejabat publik di konferensi pers bilang bangga bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% kita di atas Amerika, Singapura, Korea itu bukan prestasi komunikasi. Itu memalukan secara intelektual. Karena siapapun yang belajar ekonomi bahkan di level mahasiswa tahu: jangan bandingkan pertumbuhan negara berkembang dengan negara maju. Sizing-nya sudah beda. Amerika tumbuh 2% itu sudah luar biasa. Ruang tumbuhnya hampir habis. N egara berkembang harusnya dibandingkan sesama negara berkembang. Taiwan tumbuh 13% lebih dengan government spending hanya 3%. Vietnam tumbuh 7% lebih dengan government spending di bawah 5%. Sementara kita 5,61% dengan government spending naik 21,8% dalam satu kuartal. Ketika pejabat bicara seperti itu market mendengar. Dan yang mereka dengar bukan kebanggaan. Yang mereka dengar adalah sinyal bahwa pemerintah tidak jujur tentang kondisi yang sebenarnya. Ketidakpercayaan itu mendorong lebih banyak modal keluar. Dan rupiah makin tertekan. Solusi yang Ferry tawarkan: Satu — benarin komunikasinya. Bicara jujur dan objektif justru lebih dipercaya market daripada klaim yang mudah dibantah data. Dua — struktur APBN harus dibenahi. Belanja tidak efisien harus dipotong. Kalau MBG dilanjutkan jalankan dengan cara paling efektif dan paling transparan. Ruang fiskal tidak boleh terus tergerus oleh belanja yang tidak terukur. Tiga — parkir dolar supaya tidak gampang keluar. Kebijakan DHE yang mulai dijalankan adalah langkah benar. Tapi insentifnya harus menarik bukan hanya pemaksaan. Empat — BI, OJK, dan Kemenkeu harus sinergi. Jangan saling salah-salahan. Jangan kebijakan satu lembaga menabrak kebijakan lembaga lain. Karena kalau tidak sinergi rupiah akan terus melemah bahkan ketika masing-masing sudah bekerja keras sendiri-sendiri. Rupiah di Rp17.500 bukan karena satu orang salah atau satu lembaga gagal. Ini kombinasi tiga lapis sekaligus dan selama ketiganya tidak ditangani bersama secara serius angka hari ini bukan yang terakhir. Dan selama pejabat publik masih lebih sibuk membandingkan diri dengan Amerika daripada jujur tentang kondisi domestik yang sebenarnya kepercayaan pasar tidak akan pulih. Dan tanpa kepercayaan tidak ada intervensi BI yang cukup kuat untuk menahan rupiah sendirian.

Indonesia
0
0
0
45
ramengimanh
ramengimanh@tweetngab·
@UGM_FESS kalau kamu rencana masuknya Agustus, DM aku Nder... aku butuh orang untuk operan kos
Indonesia
1
0
0
40
ramengimanh
ramengimanh@tweetngab·
titik tertinggi kesibukan: jarang post di second
Indonesia
1
0
1
77