bapak pulang larut matanya sayu,senyumnya utuh
di dompetnya hanya ada seonggok ktp tapi hatinya dipenuhi harapan
“kamu harus lebih dari bapak”,katanya. padahal aku ingin seperti bapak- kuat,sabar,tak banyak bicara, tapi selalu ada
-taufan jagat
mutahan sajak, diiringi muntahan kematian tetap menajadi teman dalam sudut kesunyian mulai kembali membuka jalan dan terus berjalan hingga kembali pada ketiadaan
kasur reot di pojok kamar, sudah tak empuk,tapi tetap sabar menampung mimpi-mimpi yang kelelahan
kadang ia berdecit lirih bukan protes sih,hanya mengingatkan saja. bahwa rindu pun butuh disandarkan
-Taufan jagat
dahulu bapak yang menyuarakan keadilan pulang-pulang beliau babak belur.
sekarang aku yang menyuarakannya,gantiin bapak.tapi,pulang- pulang bapak menangis hingga matanya bengkak.
maaf ya pak. keadilan belum sepenuhnya ditegakkan,malah aku yang ilang.
Ketika aku melihat sebuah pisau aku tak inging memegang nya. Ketika aku begitu marah, gigiku bergemeletuk begitu tidak berimannya aku menolak untuk membuka mataku selama berhari hari.