
Ini bukan polisi grammar ya, dan orang juga bebas campur Indo-Inggris di medsos. Tapi kasus “I’m not being overpriced” menarik banget dibahas karena yang bikin viral bukan grammar-nya — melainkan pilihan katanya, tone, dan konteks sosialnya. “Humblebrag” sendiri adalah perilaku pamer sambil pura-pura rendah hati. Seseorang ingin menunjukkan prestasi, privilege, atau keberuntungannya, tetapi dibungkus dengan kalimat merendah, keluhan, atau self-deprecating agar tetap terlihat humble. Istilah ini dipopulerkan oleh komedian Harris Wittels sekitar tahun 2010-an, lalu makin populer di era media sosial karena sering muncul di Twitter/X, Instagram, TikTok, sampai menfess. Brag = pamer secara langsung Humblebrag = pamer yang dibungkus dengan kesan rendah hati atau keluhan Contohnya ada di kalimat ini: “Tolong dibaca lagi plis, gw bilang banyak orang kayak gitu, bukan semua :). And I’m not being overpriced, gw orang biasa-biasa aja…” Masalahnya, overpriced dalam bahasa Inggris dipakai untuk barang atau jasa yang harganya terlalu mahal dibanding nilainya. Contoh: “This coffee is overpriced.” Jadi ketika dipakai untuk diri sendiri, maknanya malah terdengar seperti: “Aku nggak dijual terlalu mahal.” 🧐 Kalau maksud aslinya adalah: “Gw nggak sok” atau “Gw nggak pamer”, maka kata yang lebih tepat: - pretentious - arrogant - showing off Yang lebih natural: “And I’m not being pretentious.” atau “I’m not trying to show off.” Jadi ini bukan cuma “salah Inggris”, tapi contoh bagaimana satu pilihan kata bisa mengubah makna, tone, dan cara netizen membaca identitas seseorang di media sosial. Cc @txtfromj_

















