ucitea
125 posts

Sabitlenmiş Tweet

Runtutannya adalah Tuhan menginginkan khalifah di muka bumi adalah manusia yang mempunyai akal pikiran dan pilihan bebas yang otonom dan memberikan petunjuk agar dapat menjaga bumi dengan arahan yang Tuhan inginkan,dimana keputusan yang diambil manusia memiliki akuntabilitas yang mesti dipertanggung jawabkan,karena kalau Tuhan ingin memastikan penjaga bumi sesuai yang Dia inginkan,malaikat saja dari awalnya mengajukan diri dan ditolak Olehnya
Indonesia

Dan hal ini juga sudah disimbolkan pula oleh pernyataan malaikat terkait rencana besar tuhan pada Al Baqarah 30 "(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “𝐀𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐄𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐡𝐞𝐧𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐦𝐩𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚, 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐬𝐛𝐢𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐮𝐣𝐢-𝐌𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐜𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐦𝐚-𝐌𝐮?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Indonesia

Berdasarkan persektif dari konsep,ini dimana saya mencari benang merah antara kenyataan yang ada dan cerita keimanan,hanya satu2nya pendekatan yang paling logis dan tidak bertentangan dengan keimanan adalah,
1. Manusia didesain turun kebumi harus memiliki 2 kompetensi kesempurnaan utama
2. Persepsi memakan buah terlarang tidak menjadi konsekwensi moral tetapi menjadi pembuktian kedua terhadap kompetensi yang tuhan harapkan,dimana ekses daei kompetensi itu adalah melakukan pelanggaran
3. Pelanggaran menurut perspektif saya adalah pembuktian kesempurnaan kompetensi kedua
4. Konsekwensi pelanggaran daoar diliat dari perspektif,kesempuraan akan pilihan bebas,yang dapat dibuktikan di dunia ini
5. Selama tidak terjadi pelanggaran manusia tidak akan pernah turun ke dunia,bukan berarti kesalahannya yang membuat turun,tetapi kapasitas untuk turun yang belum terpenuhi
Indonesia

Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." , disini sangat jelas dari sisi nabi adam mengakui akan kesalahan dengan melanggar aturan/perintah,>bertaubat > opsi yang ada ketika melanggar peraturan,hal ini tidak akan terjadi jika nabi adam tidak mempunyai dan memiliki opsi pilihan(patuh),disinilah pembuktian pilihan tersebut adalah otonom/diluar dari perintah
Indonesia

Itulah yang diharapkan sebagai manusia,adanya kontrol diri,tetapi opsi pelanggaran menjadi natural/tidak mungkin dihindarkan baik sengaja atau tidak sengaja,contohnya apakah malaikat bisa tergoda oleh setan? Disini kerangka sistematisnya adalah malaikat tidak mungkin tergoda setan karena malaikat tidak mempunyai opsi pilihan,dengan tidak adanya opsi pelanggaran,runtuh pula opsi pilihan dan tidak akan berbeda manusia dengan malaikat
Indonesia

Saya paham maksudnya sekarang.. Tapi bukankah argumen itu juga bisa dibalik?
Karena pelanggaran pun belum tentu murni autonomous. Bisa juga lahir dari dorongan biologis, impuls, ego, lingkungan, atau bias naluriah.
Kalau begitu, kenapa pelanggaran dianggap lebih valid sebagai bukti otonomi dibanding ketaatan sadar?
Justru menurut saya pilihan paling otonom adalah ketika seseorang mampu melanggar,
punya dorongan untuk melanggar,punya kesempatan melanggar,
tetapi tetap memilih taat secara sadar.
Karena di situ ada kontrol diri, refleksi, dan keputusan sadar bukan sekadar reaksi terhadap dorongan.
Indonesia

Bagaimana menentukan 100% bukti ketaatan adalah pilihan independen otonom dari sisi seorang yang jujur? Karena akan tumpang tindih antara kemungkinan patuh atas self free choicenya atau terdoktrin /terprogram untuk patuh,tapi dengan jelas ketika terjadi pelanggaran,100% itu adalah murni keputusan otonom dari orang tersebut,karena tidak ada perintah/bahkan dilarang untuk melanggar
Indonesia

Ok mulai menangkap kerangka logikanya.
Tapi saya masih penasaran di satu titik:
apakah free choice memang hanya bisa dibuktikan lewat pelanggaran?
Karena secara filosofis, bukankah memilih untuk taat padahal punya kemampuan melanggar juga tetap bentuk autonomous choice?
Misalnya seseorang mampu korupsi tapi memilih jujur, atau mampu membalas dendam tapi memilih memaafkan. Justru di situ kebebasan dan kontrol dirinya terlihat.
Jadi apakah pelanggaran benar-benar syarat pembuktian free will, atau hanya salah satu kemungkinan dari free will?
Indonesia

Pelanggaran adalah pembuktian free choice(merdeka memilih diantara pilihan) ,kalau direnungkan secara logika satu satunya cara membuktikan otonom pilihan adalah keluar dari perintah utama,seperti saya gambarkan dengan larangan anak kecil untuk memakan permen,dan mengapa pula hanya ada satu larangan di surga,sehingga konsep tiada manusia yang tidak berdosa serta opsi pertaubatan itu ada.
Indonesia

Saya mulai paham arah berpikirnya.
Berarti “pelanggaran” Adam bukan inti masalah moralnya, melainkan mekanisme pembuktian bahwa manusia benar-benar punya free will dan layak menjadi khalifah di bumi.
Tapi saya masih penasaran di satu titik:
Kalau pelanggaran justru menjadi syarat pembuktian kompetensi manusia, apakah itu berarti manusia memang “harus” melanggar agar desain penciptaannya sempurna?
Karena kalau iya, bukankah itu membuat larangan pohon tersebut menjadi semacam tahapan yang pada akhirnya memang harus dilewati?
Di situ saya masih mencoba memahami batas antara:
“potensi melanggar karena bebas” dan “pelanggaran sebagai kebutuhan desain.”
Indonesia



