ucitea

125 posts

ucitea

ucitea

@ucitea75

Me n my self

Bandung Katılım Mayıs 2026
174 Takip Edilen46 Takipçiler
ucitea
ucitea@ucitea75·
Runtutannya adalah Tuhan menginginkan khalifah di muka bumi adalah manusia yang mempunyai akal pikiran dan pilihan bebas yang otonom dan memberikan petunjuk agar dapat menjaga bumi dengan arahan yang Tuhan inginkan,dimana keputusan yang diambil manusia memiliki akuntabilitas yang mesti dipertanggung jawabkan,karena kalau Tuhan ingin memastikan penjaga bumi sesuai yang Dia inginkan,malaikat saja dari awalnya mengajukan diri dan ditolak Olehnya
Indonesia
0
0
0
105
dyon
dyon@adolffeetler·
@ucitea75 Tujuan mendapatkan free will hingga menjadi "khalifah" tuh buat apa ya? Bukankah bumi menjadi lebih hancur, tidak sesuai apa yang Tuhan inginkan, yaitu merawat dan menjaga bumi sebaik2nya (cmiiw)
Indonesia
1
0
0
223
ucitea
ucitea@ucitea75·
Dan hal ini juga sudah disimbolkan pula oleh pernyataan malaikat terkait rencana besar tuhan pada Al Baqarah 30 "(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “𝐀𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐄𝐧𝐠𝐤𝐚𝐮 𝐡𝐞𝐧𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐦𝐩𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚, 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐚𝐬𝐛𝐢𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐮𝐣𝐢-𝐌𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐮𝐜𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐧𝐚𝐦𝐚-𝐌𝐮?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Indonesia
0
1
2
49
ucitea
ucitea@ucitea75·
Berdasarkan persektif dari konsep,ini dimana saya mencari benang merah antara kenyataan yang ada dan cerita keimanan,hanya satu2nya pendekatan yang paling logis dan tidak bertentangan dengan keimanan adalah, 1. Manusia didesain turun kebumi harus memiliki 2 kompetensi kesempurnaan utama 2. Persepsi memakan buah terlarang tidak menjadi konsekwensi moral tetapi menjadi pembuktian kedua terhadap kompetensi yang tuhan harapkan,dimana ekses daei kompetensi itu adalah melakukan pelanggaran 3. Pelanggaran menurut perspektif saya adalah pembuktian kesempurnaan kompetensi kedua 4. Konsekwensi pelanggaran daoar diliat dari perspektif,kesempuraan akan pilihan bebas,yang dapat dibuktikan di dunia ini 5. Selama tidak terjadi pelanggaran manusia tidak akan pernah turun ke dunia,bukan berarti kesalahannya yang membuat turun,tetapi kapasitas untuk turun yang belum terpenuhi
Indonesia
2
0
4
733
ucitea
ucitea@ucitea75·
Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." , disini sangat jelas dari sisi nabi adam mengakui akan kesalahan dengan melanggar aturan/perintah,>bertaubat > opsi yang ada ketika melanggar peraturan,hal ini tidak akan terjadi jika nabi adam tidak mempunyai dan memiliki opsi pilihan(patuh),disinilah pembuktian pilihan tersebut adalah otonom/diluar dari perintah
Indonesia
0
0
5
1.6K
INIDIA
INIDIA@maulan4rajaf·
@ucitea75 surat al-a'raf ayat 23. Terus tafsir di surat itu apaan?
Indonesia
1
0
2
1.7K
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 1 NABI ADAM TURUN KE DUNIA BUKAN KARENA BERDOSA.Jika disorot dari titik temu Teologi & Filosofi Sains, bumi adalah tujuan utama,ketika Manusia turun karena telah menguasai 2 kapasitas eksistensial tertinggi: Akal Konseptual & Pilihan Bebas (Free Choice) [C].
Indonesia
14
89
2.2K
619.5K
ucitea
ucitea@ucitea75·
Itulah yang diharapkan sebagai manusia,adanya kontrol diri,tetapi opsi pelanggaran menjadi natural/tidak mungkin dihindarkan baik sengaja atau tidak sengaja,contohnya apakah malaikat bisa tergoda oleh setan? Disini kerangka sistematisnya adalah malaikat tidak mungkin tergoda setan karena malaikat tidak mempunyai opsi pilihan,dengan tidak adanya opsi pelanggaran,runtuh pula opsi pilihan dan tidak akan berbeda manusia dengan malaikat
Indonesia
0
0
2
73
Ndrakahaya
Ndrakahaya@ndrakahaya·
Saya paham maksudnya sekarang.. Tapi bukankah argumen itu juga bisa dibalik? Karena pelanggaran pun belum tentu murni autonomous. Bisa juga lahir dari dorongan biologis, impuls, ego, lingkungan, atau bias naluriah. Kalau begitu, kenapa pelanggaran dianggap lebih valid sebagai bukti otonomi dibanding ketaatan sadar? Justru menurut saya pilihan paling otonom adalah ketika seseorang mampu melanggar, punya dorongan untuk melanggar,punya kesempatan melanggar, tetapi tetap memilih taat secara sadar. Karena di situ ada kontrol diri, refleksi, dan keputusan sadar bukan sekadar reaksi terhadap dorongan.
Indonesia
1
0
0
62
ucitea
ucitea@ucitea75·
Bagaimana menentukan 100% bukti ketaatan adalah pilihan independen otonom dari sisi seorang yang jujur? Karena akan tumpang tindih antara kemungkinan patuh atas self free choicenya atau terdoktrin /terprogram untuk patuh,tapi dengan jelas ketika terjadi pelanggaran,100% itu adalah murni keputusan otonom dari orang tersebut,karena tidak ada perintah/bahkan dilarang untuk melanggar
Indonesia
1
0
1
74
Ndrakahaya
Ndrakahaya@ndrakahaya·
Ok mulai menangkap kerangka logikanya. Tapi saya masih penasaran di satu titik: apakah free choice memang hanya bisa dibuktikan lewat pelanggaran? Karena secara filosofis, bukankah memilih untuk taat padahal punya kemampuan melanggar juga tetap bentuk autonomous choice? Misalnya seseorang mampu korupsi tapi memilih jujur, atau mampu membalas dendam tapi memilih memaafkan. Justru di situ kebebasan dan kontrol dirinya terlihat. Jadi apakah pelanggaran benar-benar syarat pembuktian free will, atau hanya salah satu kemungkinan dari free will?
Indonesia
1
0
0
99
ucitea
ucitea@ucitea75·
Pelanggaran adalah pembuktian free choice(merdeka memilih diantara pilihan) ,kalau direnungkan secara logika satu satunya cara membuktikan otonom pilihan adalah keluar dari perintah utama,seperti saya gambarkan dengan larangan anak kecil untuk memakan permen,dan mengapa pula hanya ada satu larangan di surga,sehingga konsep tiada manusia yang tidak berdosa serta opsi pertaubatan itu ada.
Indonesia
1
0
2
124
Ndrakahaya
Ndrakahaya@ndrakahaya·
Saya mulai paham arah berpikirnya. Berarti “pelanggaran” Adam bukan inti masalah moralnya, melainkan mekanisme pembuktian bahwa manusia benar-benar punya free will dan layak menjadi khalifah di bumi. Tapi saya masih penasaran di satu titik: Kalau pelanggaran justru menjadi syarat pembuktian kompetensi manusia, apakah itu berarti manusia memang “harus” melanggar agar desain penciptaannya sempurna? Karena kalau iya, bukankah itu membuat larangan pohon tersebut menjadi semacam tahapan yang pada akhirnya memang harus dilewati? Di situ saya masih mencoba memahami batas antara: “potensi melanggar karena bebas” dan “pelanggaran sebagai kebutuhan desain.”
Indonesia
1
0
3
169
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 55 Maka dari itu, tidak ada satu pun pilihan otonom kita yang luput. Semua ada titik keadilan penyeimbangnya di hari penghakiman akhirat nanti. Kebebasan penuh kita di panggung bumi akan dibayar tunai dengan akuntabilitas mutlak di hadapan Tuhan [C].
Indonesia
1
0
2
619
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 54 Sebab hakikatnya, manusia sebagai Khalifah mengemban 2 tujuan utama: Menjalankan kewajiban dasar (ritual) yang dapat terukur Mengejar kesempurnaan progresif yang dapat terukur lewat kemajuan hidup dari sebelumnya, serta konsisten mengoreksi dosa dengan tobat [C].
Indonesia
1
0
0
335
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 53 Cetak biru pertumbuhan progresif ini ditegaskan di QS. Al-Inshiqaq: 19: "Sungguh, kamu pasti akan melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)." Ini selaras dengan Nafs Muthmainnah (jiwa yang matang), manusia wajib mengalami eskalasi progres kemajuan.
Indonesia
1
0
0
258
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 52 Secara psikologis, saat sampai finis 100 meter, semua pelari akan melepaskan usahanya & membebaskan kewajibannya [C]. Begitu pula saat orang merasa tugas ketuhanannya selesai di ritual (100m); mereka melepas kewaspadaan moral, hingga ego spiritual membajak free choice
Indonesia
1
0
0
214
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 51 Logika ini jawaban kenapa banyak ahli agama justru jatuh berbuat asusila. Karena target mindset mereka hanya berhenti di 100 meter (merasa sudah melunasi kewajiban ritual ), mereka abai dan lupa menyelesaikan kewajiban terkait kesempurnaan sosialnya sebagai Khalifah
Indonesia
1
0
2
245
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 50 Ini menjelaskan kenapa sebagian orang merasa tidak sanggup mencapai titik 100 (ibadah dasar), sementara sebagian orang yang terlatih bisa mencapainya dengan sangat mudah. Namun, bahaya terbesar ketika orang berpikir bahwa titik 100 meter adalah garis akhir segalanyaya
Indonesia
1
0
0
167
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 49 Secara psikologi olahraga, jika orang ditargetkan lari 100 meter, ia akan merasa lelah di meter ke-80 karena otaknya menetapkan batas dekat [C]. Namun jika targetnya diubah menjadi 200 meter, rasa lelah baru muncul di meter 150 [C]. Batas lelah berubah
Indonesia
1
0
0
162
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 48 Perpaduan antara Akal, Pilihan Bebas, Rasa Malu, dan Ibadat inilah dasar bentuk Khalifah yang Tuhan inginkan sejak awal. Tanpa salah satu instrumen ini, kepemimpinan manusia di bumi akan cacat: bisa menjadi robot yang kaku, atau menjadi monster yang merusak [C].
Indonesia
1
0
0
156
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 47 Jadi, inilah potret utuh cetak biru manusia: Tuhan ingin bumi dipimpin oleh makhluk dengan 2 kompetensi kesempurnaan (Akal & Free Choice), dibekali karunia surga berupa moral rasa malu, dan dibimbing oleh kewajiban ibadat [C].
Indonesia
1
0
0
153
ucitea
ucitea@ucitea75·
weet 46 Dari sinilah makna kewajiban Ibadah (QS. Az-Zariyat: 56) menemukan hakikatnya. Makhluk yang memiliki 2 kompetensi diwajibkan beribadah agar fungsi Khalifah berjalan di atas dasar moral. Kita wajib terus belajar & memperbaiki diri selama masih mengemban tugas di dunia [C].
Indonesia
1
0
0
150
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 45 Maka, segala hal di bumi saat ini—tragedi kemanusiaan, ketidakadilan, hingga lompatan teknologi canggih—adalah murni buah dari berfungsinya kompetensi mandiri manusia [C]. Bumi sepenuhnya adalah panggung pertanggungjawaban kita [C]. Kita tidak bisa menyalahkan takd
Indonesia
1
0
0
146
ucitea
ucitea@ucitea75·
Tweet 44 Sebaliknya, kasus ahli ibadah membuktikan bahwa tumpukan amal banyak TIDAK OTOMATIS menghapus dosa kezaliman lain. Hadits tidak menyebut ia kekal di neraka, tapi ia harus mampir ke sana untuk membayar tagihan dosa kezaliman kucing yang sengaja diabaikan tanpa tobat
Indonesia
1
0
0
140