lep ◍•ᴗ•◍

5.7K posts

lep ◍•ᴗ•◍ banner
lep ◍•ᴗ•◍

lep ◍•ᴗ•◍

@ulfaamnf

akun campur-campur.

Indonesia Katılım Ocak 2019
327 Takip Edilen73 Takipçiler
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
The Economist
The Economist@TheEconomist·
Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths econ.st/3RE0Fum Photo: Getty Images
The Economist tweet media
English
499
26.6K
40.3K
3.4M
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
dr. Gia Pratama
dr. Gia Pratama@GiaPratamaMD·
H-1 keberangkatan. Semua yang saya siapkan selama dua bulan terakhir, insyaAllah sudah sampai di titik akhir. Persiapan fisik sudah. Tas emergency berisi alat medis dan obat-obatan untuk jamaah sudah siap. Data medical check up jamaah sudah saya pelajari. Alur rujukan pasien sudah disiapkan. Koper pribadi juga sudah tertata. Kain Ihram pun sudah siap. Sekarang tinggal menata satu hal terakhir. Hati. Semoga tubuh ini kuat. Semoga pikiran ini jernih. Semoga langkah ini dijaga. Semoga setiap keputusan medis yang saya ambil nanti selalu Allah tuntun dengan ilmu, ketenangan, dan kasih sayang. Besok, insyaAllah saya berangkat untuk menjalani Spiritual Journey ini, menjalankan amanah menjaga kesehatan jamaah Haji di Tanah Suci sampai kembali ke Tanah Air. Bismillah. Bismillah ya Allah. Mudahkan. Kuatkan. Lindungi kami semua.
dr. Gia Pratama tweet media
Indonesia
128
130
1.9K
31.6K
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
Anak ogi
Anak ogi@Anak__Ogi·
Byk yg bilang Ahok itu dipenjara Krn dia China dan minoritas, pdhl bukan tapi karna dia jujur dan bangun sistem yg transparan. Nadiem buktinya. Dia Islam dan keturunan Arab, tapi dipenjara juga Krn dia Jujur dan bangun sistem yg transparan. Intinya semakin kalian jujur, idenya bikin banyak keran yg ditutup krn pengadaan2 ga penting, istilah Ahok dulu dana siluman dll maka siap2 disingkirkan dan dihancurkan agar ga ada lagi orang seperti kalian yg berani masuk ke pemerintahan. Dan yg terakhir klo sistem pemerintahan atau pendidikan makin bagus maka para bajingan ga bisa ngatur negara dan rakyat lagi, betul ga? Makanya jgn diam.
Anak ogi@Anak__Ogi

MENGAPA NADIEM HARUS di-KPK-kan Namaku Kandilo’. Guru biasa. Mengajar di sekolah kecil di pelosok Toraja. Sekolah yang kalau hujan deras, suara seng atap lebih nyaring daripada suara guru di kelas. Kadang listrik mati. Kadang sinyal hilang. Kadang kapur tulis habis sebelum bulan berganti. Saya sudah lama jadi guru. Sudah melihat banyak menteri pendidikan datang dan pergi. Ganti kurikulum. Ganti istilah. Ganti slogan. Tapi di sekolah kami, sering kali yang berubah hanya spanduk di dinding kantor. Dulu kami di kampung terbiasa pasrah. Dana sekolah datang entah kapan. Barang datang entah dari mana. Kadang jumlahnya tidak sesuai cerita di atas. Kepala sekolah bingung. Guru bingung. Orang tua murid lebih bingung lagi. Tapi semua dianggap biasa. “Memang begitu dari dulu.” Lalu datang era Nadiem Makarim. Awalnya saya juga ragu. Anak muda kota. Bekas pengusaha. Apa dia tahu susahnya sekolah di gunung? Apa dia pernah lihat murid jalan kaki satu jam hanya untuk belajar? Ternyata ada yang berubah pelan-pelan. Bukan gedung mewah. Bukan pidato besar. Tapi sistem mulai terbuka. Kami mulai bisa melihat data. Dana BOS mulai lebih jelas. Penggunaan anggaran lebih ketat. Banyak hal mulai masuk aplikasi. Awalnya kami para guru tua mengeluh. Ribet. Susah. Belajar lagi. Tapi lama-lama kami sadar: justru karena semuanya tercatat, orang mulai sulit bermain-main. Dulu kalau ada barang datang ke sekolah, kami hanya tanda tangan. Tidak tahu harga sebenarnya. Tidak tahu prosesnya bagaimana. Sekarang semuanya punya jejak. Ada laporan. Ada pengawasan. Ada transparansi. Pelan-pelan budaya takut mulai pindah. Bukan guru yang takut. Tapi mereka yang selama ini nyaman di ruang gelap. Saya ingat pertama kali sekolah kami dapat perangkat digital. Anak-anak kampung senangnya bukan main. Mereka pegang laptop seperti memegang jendela ke dunia lain. Ada muridku yang pertama kali melihat peta dunia bergerak di layar. Matanya berbinar. Saya masih ingat itu. Memang tidak semua berjalan mulus. Internet kami sering hilang. Guru-guru banyak yang belum siap. Tapi setidaknya ada usaha bergerak maju. Ada rasa bahwa sekolah kampung juga diperhatikan. Bahwa anak-anak desa juga punya hak mengenal dunia digital. Sayangnya, perubahan selalu punya musuh. Semakin sistem terbuka, semakin banyak orang gelisah. Saya ini cuma guru kampung. Tapi saya tahu satu hal: orang yang hidup dari sistem yang kacau pasti tidak suka kalau semuanya jadi transparan. Sebab kalau semua terang, permainan jadi sulit. Makanya saya sedih melihat Nadiem Makarim seperti diburu habis-habisan. Seolah-olah semua yang ia lakukan salah. Padahal kami di bawah ini merasakan sendiri ada sesuatu yang mulai berubah. Tidak sempurna, iya. Tapi bergerak. Yang paling saya takutkan bukan soal satu orang menteri jatuh. Yang saya takutkan: orang-orang baik setelah ini jadi takut masuk memperbaiki pendidikan. Takut dicurigai. Takut dikriminalisasi. Takut dilawan oleh mereka yang terganggu kenyamanannya. Dan kami di kampung akhirnya kembali begini lagi. Menunggu spanduk baru. Menunggu slogan baru. Tapi aku, si Kandilo' akan komitmen pada satu hal, bahwa korupsi yang paling berbahaya adalah mencuri masa depan anak-anak. Salam pembebasan Kandilo' Kisah guru diatas sama seperti kesaksian para saksi di pengadilan. Semoga dibaca @habiburokhman @BennyHarmanID

Indonesia
50
1.2K
3.4K
340K
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
やま
やま@yama_kb·
自分のスウェットを紹介するアパレル店員あむ🫶🏻 ※音あり
日本語
5
586
4.8K
169.8K
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
guys lu pada tau gk ini berita paling lawak sih hari ini ada cerita pembangunan jembatan di Karanganyar hasil gotong royong gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Harusnya kabar bagus dong. Tapi yang bikin warga geleng-geleng justru pas momen peresmiannya. Katanya warga sampai nyeletuk: “ini biaya bangun jembatannya jangan-jangan lebih murah daripada biaya seremoni peresmiannya.” Karena peresmiannya disebut ramai banget: ada potong pita, acara formal, penyambutan, konsumsi, perlengkapan acara, sampai urusan akomodasi tamu. Belum lagi kalau yang datang banyak pejabat atau rombongan: transportasi, pengamanan, dokumentasi, konsumsi, dan kebutuhan teknis lainnya. Dan ini yang sering bikin rakyat sensitif. Bukan karena gak mau ada apresiasi. Tapi kadang yang dibutuhkan warga itu jembatannya berfungsi dengan baik… selesai. Bukan seremoni berlebihan yang kesannya lebih mahal dari manfaat simboliknya. Rakyat tuh simpel: jalannya bagus → senang jembatan jadi → senang akses lancar → senang Yang bikin kesel itu kalau substansi kecil, pencitraan besar. Kalau memang proyeknya untuk rakyat, fokusnya harus di hasil yang benar-benar dipakai warga tiap hari. Bukan bikin acara megah cuma buat foto lalu upload caption “demi masyarakat.” Warga sekarang makin kritis. Mereka bisa bedain mana pembangunan beneran, mana yang terlalu sibuk sama seremoni.
Lambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet media
Indonesia
1.2K
1.9K
9.1K
773K
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
M. Ridha Intifadha
M. Ridha Intifadha@RidhaIntifadha·
Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal. ======== Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya. Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.
M. Ridha Intifadha tweet mediaM. Ridha Intifadha tweet media
Indonesia
354
21.2K
40K
569.6K
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
lep ◍•ᴗ•◍ retweetledi
fahri salam
fahri salam@fahrisalam·
“Kamu dari TVRI harusnya enggak boleh bertanya seperti itu,” kata Teddy. “Siapa yang nyuruh kamu?” Bagaimana Seskab Teddy mengatur arus informasi Istana dan mengancam wartawan plus petinggi media. Artikel lanjutan dari serial 'Dead Press Society", baca: projectmultatuli.org/bencana-inform…
Indonesia
484
17.3K
34.5K
2.4M