hahaha retweetledi
hahaha
725 posts

hahaha retweetledi

Istilahnya “Mental overhead”, yaitu energi otak yang terpakai cuma buat nginget-nginget task yang belum dikerjain.
Kita mikir sesuatu itu butuh lama, padahal kalau langsung dikerjain, kelar dalam 90 detik. Contohnya:
- Bales chat singkat sekedar "oke"
- Bayar bill bulanan
- Cuci piring setiap abis makan
- Buang sampah kalo udah penuh

Indonesia

@collegemfs Kak, malah aku binggung banget nih kak, kenapa ya latbeng aku tuh berulang terus pembahasan nya, gimana sih sebenernya membuat latar belakang yang dari umum ke khusus, sedih rasanya, lelah
Indonesia
hahaha retweetledi

@collegemfs Halo kak, boleh nanya ga, aku berulang kali ngulang latar belakang, aku sudah berusaha untuk buat latar belakang aku yang dari umum ke khusus. Tapi entah bagaimana rasanya seperti aku itu bodoh sekali, rasanya seperti tidak memikirkan ide itu, boleh kasih saran baiknya bagianana?
Indonesia
hahaha retweetledi

Orang-orang bilang “if he wanted, he would.”
Dan aku juga dulu percaya banget sama kalimat itu.
Sampai akhirnya psikologku bilang:
“Kadang bukan karena dia gak sayang, tapi karena dia memang belum siap.
Bisa jadi mentalnya lagi capek, emosinya belum stabil, atau hidupnya masih berantakan.”
Di situ aku baru sadar, ternyata hubungan gak selalu soal siapa yang lebih cinta.
Kadang juga soal siapa yang sedang sama-sama belajar mengerti keadaan satu sama lain.
Because sometimes, love is not only about being understood,
but also learning to understand.
Indonesia
hahaha retweetledi
hahaha retweetledi
hahaha retweetledi
hahaha retweetledi
hahaha retweetledi

40 pelajaran hidup dari Raditya Dika yang bikin gue diem setelah dengernya.
1. Gak apa-apa jadi orang aneh.
2. Jangan gosipin orang!
3. Kita gak sepenting itu buat orang lain.
4. Usahakan minimalis!
5. Kerja ringan kalau dicicil.
6. Kerja ringan kalau barengan.
7. Ide ada kalau dicatat.
8. Belajar dari yang terbaik.
9. Belajar dari yang tidak punya pengalaman.
10. Melamun adalah bagian dari proses kreatif.
11. Waktu ada kalau kita ciptakan.
12. Pakai uang untuk membeli waktu.
13. Jangan lupa bermain-main!
14. Punya hobi baru adalah cara termudah untuk merasa seru lagi.
15. Fokus ciptakan core memory yang indah!
16. Jangan membuat keputusan waktu sedih, marah atau galau!
17. Belajar bilang ‘iya’ ke hal yang kita bilang ‘tidak’.
18. Belajar berani berkata ‘tidak’.
19. Main game adalah cara termudah untuk kabur ke dunia lain.
20. Dikritik berarti punya ruang untuk tumbuh.
21. Jalan kaki min. 30 menit sehari.
22. Selalu tepat waktu!
23. Takut biasanya datang dari ketidaktahuan.
24. Menyesal lebih seram dari rasa takut.
25. Kalau ada yang ganjel, ngomong aja.
26. Semua orang punya keahliannya sendiri.
27. Tahu bahwa kita gak bisa semuanya.
28 Beli barang buat diri sendiri.
29. Belajar sabar.
30. Reputasi datang dari tindakan.
31. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
32. Baca buku adalah cara terbaik untuk masuk ke pemikiran orang lain.
33. Dengerin podcast sesuai minat.
34. Selalu belajar dimanapun dan kapanpun!
35. Investasi terbaik adalah pendidikan.
36. Storytelling adalah skill paling berguna.
37. Orang yang gasuka kita, kadang ga ngerti kita.
38. Investasi yang baik adalah investasi yang membosankan (duit)
39. Pastikan perjalanannya sama menyenangkannya sebagaimana tujuannya.
40. Hiduplah dengan cinta!
Ternyata dewasa tuh bukan soal paling sukses tapi paling bisa nerima hidup aja 😔

Indonesia
hahaha retweetledi
hahaha retweetledi

Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang.
Jadi ada penelitian yang memeriksa otak anak-anak yang mengalami kekerasan atau konflik keluarga menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging).
Nah hasilnya menunjukkan adanya aktivitas yang jauh lebih tinggi di dua area otak yang penting untuk deteksi ancaman dan respon stress. Nama area otaknya adalah anterior insula dan amigdala.
Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi “siap siaga” terus-menerus), mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur.
Nah risikonya adalah dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, regulasi emosi, dan masalah kesehatan mental lainnya, meskipun anak tersebut belum menunjukkan gejala psikiatri saat itu.
Yang perlu diperhatikan adalah temuan pada otak anak ini bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah pasti mengalami kerusakan otak permanen.
Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat.
Penelitian ini justru menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman untuk perkembangan otak anak.
Semoga bermanfaat!
All day Astronomy@forallcurious
🚨: Brain scans have revealed children living with unstable families (excessive, arguing, abusive and neglectful) have brain changes similar to combat soldiers after active duty
Indonesia
hahaha retweetledi
hahaha retweetledi

iya, ini real banget dan kadang capeknya di situ, tapi di sisi lain, jadi dewasa juga bukan berarti harus selalu “kuat terus” tanpa jeda. tetap bisa jalanin tanggung jawab, tapi juga belajar cari ruang aman buat ngerasain semuanya setelahnya.
karena manusia bukan mesin, kita cuma lagi “tetap jalan” sambil bawa banyak hal di dalam diri. dan itu valid.
Indonesia
hahaha retweetledi
hahaha retweetledi

















