Sabitlenmiş Tweet
Wandering Tales
28.1K posts

Wandering Tales retweetledi

Tau gak kalian kalau ternyata ibu kita masih menyimpan 'kenangan biologis' tentang diri kita dalam bentuk sel-sel tubuh kita saat masih di kandungan?
Kenangan biologis ini tidak berlaku untuk anak yang dilahirkan, tapi juga bisa berlaku untuk anak yang keguguran, atau meninggal dalam kandungan.
Jadi ada fenomena yang namanya 𝗳𝗲𝘁𝗮𝗹-𝗺𝗮𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝗹 𝗺𝗶𝗰𝗿𝗼𝗰𝗵𝗶𝗺𝗲𝗿𝗶𝘀𝗺, yaitu sel janin di kandungan menyeberang lewat plasenta masuk ke aliran darah ibu hamil.
Yang menarik adalah sel janin ini akan tetap ada setelah kita dilahirkan, bahkan kemudian menetap di organ-organ ibu kita dalam waktu yang lama. Salah satu penelitian menunjukkan kalau sel-sel janin itu dapat 'masih terdeteksi' hingga 27 tahun setelah kelahiran.
Selain itu, sel-sel janin ini juga dapat membantu ibu-nya bila mengalami cedera. Contohnya adalah sel-sel janin ini ditemukan di jaringan parut bekas operasi Caesar dan jaringan jantung yang cedera pasca serangan jantung.
Fenomena ini sebenarnya masih menjadi misteri, karena manfaat pastinya belum diketahui dan apakah bisa memunculkan efek buruk pada kesehatan ibu itu juga belum diketahui.
Semoga bermanfaat!
Sumber:
Bianchi (2018). The Inadvertent Discovery of Human Fetal Cell Microchimerism.
Dr. AK 🇮🇳@docakx
Tell me a beautiful medical fact.
Indonesia
Wandering Tales retweetledi

Namanya Gembus, dia salah satu kawan saya yang cukup sering saya ceritakan di dalam tulisan-tulisan dan buku-buku saya. Sosoknya jenaka tetapi bras-bres, santai tapi tak kenal kompromi, murah senyum tetapi tegas, sangat N'Golo Kanté.
Dulu, ia bekerja di bengkel las Laksana Teknik Terminal Lama. Setelah itu, ia diajak oleh salah satu kerabatnya untuk menggarap proyek pengerjaan jalan di Jakarta Timur. Tahun lalu, ia seharusnya geser ke IKN untuk mengerjakan beberapa proyek di sana, tapi ia menolak dan lebih memilih untuk tetap mroyek di Jakarta. IKN adoh, kata Gembus.
“Nek perkoro adoh, Jakarta yo podo-podo adoh,” timpal Paijo, kawan saya yang lain.
“Iyo, tapi adoh’e Jakarta ki isih luwih iso dibayangke mbangane adoh’e IKN,” terang Gembus, “Nek pengin bali, gari numpak Santoso. Nek IKN, pengin bali kudu nyarter mobil njuk numpak pesawat, abot duite, bingung carane.”
Gembus pulang ke Magelang setahun dua kali, ditambah saat momen-momen tertentu, misal saat libur tahun baru atau ada anggota keluarganya yang menyelenggarakan hajatan.
Gembus memang jarang pulang, tetapi saya dan kawan-kawannya yang lain rutin memantau aktivitas kehidupan Gembus di perantauan sana melalui unggahan-unggahan Whatsapp story-nya yang lumayan rutin, setidaknya untuk ukuran pekerja proyek.
“Uripmu saiki ketoke luwih penak yo, Mbus,” tanya Niko, beberapa waktu lalu saat Gembus pulang.
“Penak piye?” timpal Gembus.
“Lha yo penak, story-mu saiki wis ora tau sambat koyo biyen, saiki kerep’e malah posting video sholawatan karo lagu-lagu reggae.”
Saya yang mendengar analisis Niko tersebut seketika tersenyum, sebab ingatan saya langsung terlempar pada kebiasaan Gembus yang memang suka memposting hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaannya di perantauan.
Kadang ia memposting foto secangkir kopi dengan caption “Wayahe”, lengkap dengan backsound lagu dangdut koplo “Wegah Tukaran”. Lain waktu, ia mengunggah video hujan deras lengkap dengan caption “Alam’e ra iso diajak kerja sama, garapan akeh malah udan.” Kali lain, ia mengunggah foto gambar jalan raya yang masih anyar dengan caption “Hasil prakarya Bandung Bondowoso!”
Singkat kata, walau kami paham bahwa sosial media tak melulu merupakan representasi kehidupan yang sebenarnya, tapi kami bisa sedikit meraba kehidupan Gembus di perantuan melalui story-story Whatsappnya.
Mangkanya, ketika Niko menganalisis kebiasaan Gembus yang belakangan makin sering memposting video-video sholawat dan lagu-lagu reggae alih-alih foto-foto aktivitas pekerjaannya, saya agak penasaran juga, apa gerangan yang terjadi, apakah memang seperti analisis Niko yang mengatakan bahwa hidup Gembus sekarang sudah enak, atau bagaimana?
Walau tak terlalu menggebu untuk ingin tahu, tapi dalam hati, saya menunggu juga apa penjelasan Gembus di balik kebiasaan barunya belakangan ini.
“Wah, kowe ki ra ngerti ilmu nylamur og, Nik,” jawab Gembus.
Nah, ini dia, batin saya. Penjelasannya sudah mulai dijlentrehkan. Tirai penasaran saya mulai tersibak.
“Nylamur piye?” Niko penasaran.
“Nek aku posting video-video sholawat kuwi ora berarti uripku penak, justru kuwi tanda nek aku gek ora nduwe duit. Wong nek ra nduwe duit kuwi kudu disedul karo sing apik-apik ben ora gampang emosi. Ben ora gampang osa-asu. Lha yo video sholawat kuwi sing tak ngge nyedul.”
Demi mendengar penjelasan itu, saya tentu saja tertawa. Tertawa karena melihat betapa seriusnya Gembus menjelaskan, dan lebih tertawa lagi karena saya tak menyangka, betapa tak terduganya isi penjelasannya.
“Ha nek pas posting lagu Three Little Birds kuwi, berarti kowe pas seneng mergo nduwe duit?” cecar Niko
“Kuwi yo salah. Nek aku posting lagu reggae kuwi artine aku bar bayaran, tapi duite langsung entek ngge mbayar bon mandor.”
Tawa pecah makin tak terkendali.
“Bajingaaaaaan….”
Saya pikir, ini bukan kesalahan Niko yang gagal memaknai makna ekstrinsik yang terkandung di dalam video-video Whatsapp story Gembus, ini murni karena kedalaman makna postingan-postingan Whatsapp story Gembus yang memang terlalu tinggi dan subliminal, nyaris adiluhung.
Saya yakin, bahkan pakar semiotika sekelas Roland Barthes pun tidak akan bisa menebak dengan presisi apa yang ingin Gembus sampaikan melalui video-video sholawat dan lagu-lagu reggae-nya itu.
Gara-gara Gembus, sholawat kini tak lagi sama di mata kami. Gara-gara Gembus, Bob Marley kini tak lebih dari sinyal tagihan bon yang harus dibayar setelah gajian.
Dan yang paling penting, gara-gara Gembus, kami makin yakin, sosial media adalah fana, sambat abadi.

Indonesia
Wandering Tales retweetledi

Biasa ndog muwww,, darimana duitnyaaa
David Alfa Sunarna@davidsunarna
Gua kemarin abis ketemu bocah 25 tahun (perintis) yang usaha kapal tongkang. Dia sistemnya sewa, bisnisnya profitable, kapal jalan terus. Begini sebenernya biasa, cuma kurang ekspos aja anak muda kayak kita. Jadi pemainnya itu-itu aja. Makanya anak muda Indonesia shifting lah mindsetnya, jadi pengusaha, jangan pekerja terus. Biar kalau liat jualan kapal tongkang, kita gak heran. Bukan bermaksud apa2 mas @bardanslm cuma mau nasehatin anak muda aja. Peace ✌️
Indonesia
Wandering Tales retweetledi
Wandering Tales retweetledi

Kemarin sekitar pukul 13.30 diundang ke 29 Coffee Adisucipto untuk diskusi singkat. Aku pesan ojol.
Selama perjalanan, pengemudinya diam. Dan ... kebablasan sampai di seberang bandara.
"Maaf, kelewatan, Pak. Ini kita harus muter lagi," katanya.
Aku turun dari motor dan berkata," Gak apa2, Mas. Gak usah muter. Saya jalan kaki saja dari sini. Lha kenapa e, kok kayaknya lagi banyak pikiran?"
"Iya, Pak. Lagi banyak pikiran macem2," jawabnya lirih.
"Pikirkan yang bisa dipikir saja, Mas. Nggak semua kedu dipikirkan. Malah mumet nanti," jawabku sambil menyodorkan uang 20 ribuan.
"Lho, kan sudah gopay, Pak. Bapak gak apa2 jalan kaki? Jauh lho, Pak," katanya.
"Gak apa2. tetep bintang 5 kok. Ini ambil aja 20 ribunya, siapa tahu perlu beli obat sakit kepala," jawabku sambil tertawa.
Sontak dia ikut ngakak," Terima kasih, Pak. Kayaknya ini untuk makan saja, gak buat beli obat sakit kepala. Obat sakit kepala gak bikin kenyang."
Mungkin "pemberian" dari kita tak seberapa, tapi bisa jadi, yang sedikit itu bisa mengubah hari orang lain.
Indonesia

@MenteriPekerja Kalau santai ya 5 detik.
Kalau buru-buru wusss 2 detik.
Indonesia

@SosmedAnu beberapa lelaki menyembunyikan kondisi ekonomi dan segala utangnya hanya demi memperjuangkan keluarganya tetap baik-baik saja.
Indonesia




