Wandering Tales

28.1K posts

Wandering Tales banner
Wandering Tales

Wandering Tales

@walkingwhale_

Run, Rabbit Run!!

Katılım Kasım 2010
207 Takip Edilen418 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Wandering Tales
Wandering Tales@walkingwhale_·
Ada yang memilih merayakan angka 35 dengan 5x7. Ada pula yang memilih memakai 7x5.
Indonesia
1
0
1
97
Wandering Tales retweetledi
bukan retno
bukan retno@rewellls·
Saya dan suami niat ke Papua jadi dosen karena kampusnya menawarkan beberapa privilege yang tidak ada di Jawa, ternyata kampusnya menipu. Sekarang saya dan suami jobless. Jadi, saya jual buku-buku ini demi bertahan hidup sehari-hari. Pengiriman dari Surabaya. Koleksi pribadi.
Indonesia
154
4K
17.3K
675.7K
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Tau gak kalian kalau ternyata ibu kita masih menyimpan 'kenangan biologis' tentang diri kita dalam bentuk sel-sel tubuh kita saat masih di kandungan? Kenangan biologis ini tidak berlaku untuk anak yang dilahirkan, tapi juga bisa berlaku untuk anak yang keguguran, atau meninggal dalam kandungan. Jadi ada fenomena yang namanya 𝗳𝗲𝘁𝗮𝗹-𝗺𝗮𝘁𝗲𝗿𝗻𝗮𝗹 𝗺𝗶𝗰𝗿𝗼𝗰𝗵𝗶𝗺𝗲𝗿𝗶𝘀𝗺, yaitu sel janin di kandungan menyeberang lewat plasenta masuk ke aliran darah ibu hamil. Yang menarik adalah sel janin ini akan tetap ada setelah kita dilahirkan, bahkan kemudian menetap di organ-organ ibu kita dalam waktu yang lama. Salah satu penelitian menunjukkan kalau sel-sel janin itu dapat 'masih terdeteksi' hingga 27 tahun setelah kelahiran. Selain itu, sel-sel janin ini juga dapat membantu ibu-nya bila mengalami cedera. Contohnya adalah sel-sel janin ini ditemukan di jaringan parut bekas operasi Caesar dan jaringan jantung yang cedera pasca serangan jantung. Fenomena ini sebenarnya masih menjadi misteri, karena manfaat pastinya belum diketahui dan apakah bisa memunculkan efek buruk pada kesehatan ibu itu juga belum diketahui. Semoga bermanfaat! Sumber: Bianchi (2018). The Inadvertent Discovery of Human Fetal Cell Microchimerism.
Dr. AK 🇮🇳@docakx

Tell me a beautiful medical fact.

Indonesia
24
1.2K
7.2K
290.9K
Wandering Tales retweetledi
Agus Mulyadi
Agus Mulyadi@AgusMagelangan·
Namanya Gembus, dia salah satu kawan saya yang cukup sering saya ceritakan di dalam tulisan-tulisan dan buku-buku saya. Sosoknya jenaka tetapi bras-bres, santai tapi tak kenal kompromi, murah senyum tetapi tegas, sangat N'Golo Kanté. Dulu, ia bekerja di bengkel las Laksana Teknik Terminal Lama. Setelah itu, ia diajak oleh salah satu kerabatnya untuk menggarap proyek pengerjaan jalan di Jakarta Timur. Tahun lalu, ia seharusnya geser ke IKN untuk mengerjakan beberapa proyek di sana, tapi ia menolak dan lebih memilih untuk tetap mroyek di Jakarta. IKN adoh, kata Gembus. “Nek perkoro adoh, Jakarta yo podo-podo adoh,” timpal Paijo, kawan saya yang lain. “Iyo, tapi adoh’e Jakarta ki isih luwih iso dibayangke mbangane adoh’e IKN,” terang Gembus, “Nek pengin bali, gari numpak Santoso. Nek IKN, pengin bali kudu nyarter mobil njuk numpak pesawat, abot duite, bingung carane.” Gembus pulang ke Magelang setahun dua kali, ditambah saat momen-momen tertentu, misal saat libur tahun baru atau ada anggota keluarganya yang menyelenggarakan hajatan. Gembus memang jarang pulang, tetapi saya dan kawan-kawannya yang lain rutin memantau aktivitas kehidupan Gembus di perantauan sana melalui unggahan-unggahan Whatsapp story-nya yang lumayan rutin, setidaknya untuk ukuran pekerja proyek. “Uripmu saiki ketoke luwih penak yo, Mbus,” tanya Niko, beberapa waktu lalu saat Gembus pulang. “Penak piye?” timpal Gembus. “Lha yo penak, story-mu saiki wis ora tau sambat koyo biyen, saiki kerep’e malah posting video sholawatan karo lagu-lagu reggae.” Saya yang mendengar analisis Niko tersebut seketika tersenyum, sebab ingatan saya langsung terlempar pada kebiasaan Gembus yang memang suka memposting hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas pekerjaannya di perantauan. Kadang ia memposting foto secangkir kopi dengan caption “Wayahe”, lengkap dengan backsound lagu dangdut koplo “Wegah Tukaran”. Lain waktu, ia mengunggah video hujan deras lengkap dengan caption “Alam’e ra iso diajak kerja sama, garapan akeh malah udan.” Kali lain, ia mengunggah foto gambar jalan raya yang masih anyar dengan caption “Hasil prakarya Bandung Bondowoso!” Singkat kata, walau kami paham bahwa sosial media tak melulu merupakan representasi kehidupan yang sebenarnya, tapi kami bisa sedikit meraba kehidupan Gembus di perantuan melalui story-story Whatsappnya. Mangkanya, ketika Niko menganalisis kebiasaan Gembus yang belakangan makin sering memposting video-video sholawat dan lagu-lagu reggae alih-alih foto-foto aktivitas pekerjaannya, saya agak penasaran juga, apa gerangan yang terjadi, apakah memang seperti analisis Niko yang mengatakan bahwa hidup Gembus sekarang sudah enak, atau bagaimana? Walau tak terlalu menggebu untuk ingin tahu, tapi dalam hati, saya menunggu juga apa penjelasan Gembus di balik kebiasaan barunya belakangan ini. “Wah, kowe ki ra ngerti ilmu nylamur og, Nik,” jawab Gembus. Nah, ini dia, batin saya. Penjelasannya sudah mulai dijlentrehkan. Tirai penasaran saya mulai tersibak. “Nylamur piye?” Niko penasaran. “Nek aku posting video-video sholawat kuwi ora berarti uripku penak, justru kuwi tanda nek aku gek ora nduwe duit. Wong nek ra nduwe duit kuwi kudu disedul karo sing apik-apik ben ora gampang emosi. Ben ora gampang osa-asu. Lha yo video sholawat kuwi sing tak ngge nyedul.” Demi mendengar penjelasan itu, saya tentu saja tertawa. Tertawa karena melihat betapa seriusnya Gembus menjelaskan, dan lebih tertawa lagi karena saya tak menyangka, betapa tak terduganya isi penjelasannya. “Ha nek pas posting lagu Three Little Birds kuwi, berarti kowe pas seneng mergo nduwe duit?” cecar Niko “Kuwi yo salah. Nek aku posting lagu reggae kuwi artine aku bar bayaran, tapi duite langsung entek ngge mbayar bon mandor.” Tawa pecah makin tak terkendali. “Bajingaaaaaan….” Saya pikir, ini bukan kesalahan Niko yang gagal memaknai makna ekstrinsik yang terkandung di dalam video-video Whatsapp story Gembus, ini murni karena kedalaman makna postingan-postingan Whatsapp story Gembus yang memang terlalu tinggi dan subliminal, nyaris adiluhung. Saya yakin, bahkan pakar semiotika sekelas Roland Barthes pun tidak akan bisa menebak dengan presisi apa yang ingin Gembus sampaikan melalui video-video sholawat dan lagu-lagu reggae-nya itu. Gara-gara Gembus, sholawat kini tak lagi sama di mata kami. Gara-gara Gembus, Bob Marley kini tak lebih dari sinyal tagihan bon yang harus dibayar setelah gajian. Dan yang paling penting, gara-gara Gembus, kami makin yakin, sosial media adalah fana, sambat abadi.
Agus Mulyadi tweet media
Indonesia
21
113
673
61.2K
Wandering Tales retweetledi
😁
😁@ngawuratoto·
Rasane koyok dipateni bar kuwi diuripke meneh, trus dadi pahlawan tapi kalah karo raja iblis, gagal harem.
Indonesia
1
0
0
22
Wandering Tales retweetledi
LKMN HATHAWAY
LKMN HATHAWAY@goodmanlukman·
Untung grup wa umur-umur segini isinya cuma: 1. Penasaran sebuah fakta 2. Bertanya pada Meta ai 3. Meta ai ga tau tapi ngeles dan menyebar hoaks 4. Mengkroscek hoaks yang dilontarkan Meta ai 5. Menghujat Meta ai Gitu terus tiap hari huhuhu
Indonesia
0
1
1
76
Wandering Tales retweetledi
picoez
picoez@picoez·
Kemarin sekitar pukul 13.30 diundang ke 29 Coffee Adisucipto untuk diskusi singkat. Aku pesan ojol. Selama perjalanan, pengemudinya diam. Dan ... kebablasan sampai di seberang bandara. "Maaf, kelewatan, Pak. Ini kita harus muter lagi," katanya. Aku turun dari motor dan berkata," Gak apa2, Mas. Gak usah muter. Saya jalan kaki saja dari sini. Lha kenapa e, kok kayaknya lagi banyak pikiran?" "Iya, Pak. Lagi banyak pikiran macem2," jawabnya lirih. "Pikirkan yang bisa dipikir saja, Mas. Nggak semua kedu dipikirkan. Malah mumet nanti," jawabku sambil menyodorkan uang 20 ribuan. "Lho, kan sudah gopay, Pak. Bapak gak apa2 jalan kaki? Jauh lho, Pak," katanya. "Gak apa2. tetep bintang 5 kok. Ini ambil aja 20 ribunya, siapa tahu perlu beli obat sakit kepala," jawabku sambil tertawa. Sontak dia ikut ngakak," Terima kasih, Pak. Kayaknya ini untuk makan saja, gak buat beli obat sakit kepala. Obat sakit kepala gak bikin kenyang." Mungkin "pemberian" dari kita tak seberapa, tapi bisa jadi, yang sedikit itu bisa mengubah hari orang lain.
Indonesia
63
161
1.6K
96K
Menteri Pekerja RI
Menteri Pekerja RI@MenteriPekerja·
kalian ke tempat kerja berapa menit perjalanan?
Indonesia
1.7K
36
904
144.8K
Wandering Tales
Wandering Tales@walkingwhale_·
@SosmedAnu beberapa lelaki menyembunyikan kondisi ekonomi dan segala utangnya hanya demi memperjuangkan keluarganya tetap baik-baik saja.
Indonesia
0
0
0
1.1K
Anu
Anu@SosmedAnu·
Anu tweet media
ZXX
253
80
4K
616.9K
Wandering Tales
Wandering Tales@walkingwhale_·
Pola tidur ini hanya bisa dikembalikan dengan kembali menjadi pekerja.
Indonesia
0
0
1
39
Wandering Tales
Wandering Tales@walkingwhale_·
Langsung mbrambang krungu takbir
Indonesia
0
0
1
20
LKMN HATHAWAY
LKMN HATHAWAY@goodmanlukman·
Saya akan kembali ke kota saya, Semarang, sebagai rakyat biasa~~ ~sayonara to itta kimi no~~ ~kimochi wa wakaranai kedo~~
Indonesia
1
0
0
106
Wandering Tales
Wandering Tales@walkingwhale_·
Sampai pada angka 35 ini, semoga saya masih diberi nikmat kepekaan untuk membaca tanda-tanda dari Illahi. Karena saya yakin keputusan ini akan berdampak sangat besar untuk 7 tahun berikutnya.
Indonesia
0
0
0
24
Wandering Tales
Wandering Tales@walkingwhale_·
Dan pada akhirnya, pada hal-hal seputar kehidupan yang tidak mampu kita kendalikan, ada baiknya kita lepaskan dan serahkan pada ahlinya.
Indonesia
1
0
0
25
Wandering Tales
Wandering Tales@walkingwhale_·
Ada yang memilih merayakan angka 35 dengan 5x7. Ada pula yang memilih memakai 7x5.
Indonesia
1
0
1
97