Dendro retweetledi

W pernah research jg tentang ini dulu kepo seperti ini, So Harga keekonomian BBM itu tidak hanya ditentukan oleh RON (Research Octane Number), tapi juga oleh biaya produksi, distribusi, komponen impor, dan volume produksi.
Pertalite (RON 90) itu volumenya sangat besar dan BBM subsidi yang banyak dikonsumsi. Karena permintaan tinggi, kilang dalam negeri harus mengimpor komponen tertentu (seperti alkylate atau reformate) untuk menaikkan RON dari 88 ke 90, jadi biaya produksinya bisa lebih tinggi per liter dibanding Pertamax yang diproses serta dr fraksi yang berbeda
Lalu untuk Pertamax (RON 92) diproduksi dengan skala lebih kecil, tetapi dengan spesifikasi yang lebih stabil dan rantai pasok yang berbeda. Biaya keekonomiannya tidak selalu lebih tinggi hanya karena RON-nya lebih besar.
Rp16.088 untuk Pertalite tanpa subsidi itu bukan harga tetap,
Itu emrupakan estimasi dari Kementerian ESDM pada periode tertentu (misal 2022-2023)
yang menghitung biaya produksi + margin + pajak + komponen impor.
Sementara harga keekonomian Pertamax (tanpa subsidi) sekitar Rp13.500-Rp14.500 pada periode yang sama jg
Jadi untuk menganggap bahwa RON lebih rendah pasti harga keekonomian lebih murah, keliru .
Pada industri migas, hal itu pun tidak selalu benar karena biaya pengolahan dan komposisi impor bisa membuat BBM RON menengah (90) lebih mahal diproduksi daripada RON 92, terutama jika kilang tidak dirancang untuk RON 90 🙂
Hilik Ku Aink We Lah 😬@KangSemproel
Menurut guwah ini adalah PEMBOHONGAN PUBLIK How come Pertamax yang tidak dicover subsidi bisa dijual di angka di bawah 13,000, sementara bensin yang katanya dibantu subsidi dari pemerintah 6 ribu. bisa dijual 10.000 Pertamax RON92 tanpa subsidi >> 13.000 an Pertalite RON90 JIKA tanpa subsidi >> 16.088 Masa RON 90 yg kualitasnya dibawah Pertamax harganya aslinya bisa lebih mahal
Indonesia



























