Kadang hidup bukan soal dapat semua yang kita mau. Tapi soal menghargai apa yang sudah ada, sambil sabar menunggu hal baik yang sedang dalam perjalanan.
Sejauh apa pun pergi, jangan lupa pulang, karena rumah adalah tempat paling indah dan ternyaman…
Selain itu, di rumah juga ada wifi gratis, nasi hangat dan orang tua yang selalu tanya.
“Sudah makan belum?” 😄🏡
Hidup adalah proses, hidup adalah belajar tanpa ada batas umur tanpa ada kata tua.
Jatuh berdiri lagi, kalah mencoba lagi dan gagal bangkit lagi.
Selama hati masih mau berharap kepada-Nya, selama do'a masih terangkat ke langit selalu ada jalan untuk memperbaiki diri.
Makan adalah ikhtiar untuk menguatkan jasmani, sedangkan ibadah adalah jalan untuk meneguhkan rohani.
Tubuh yg kuat tanpa jiwa yg terarah hanya akan berjalan tanpa makna. Sebaliknya, jiwa yg ingin dekat kepada Tuhan pun membutuhkan raga yg sehat tuk bersujud dan berbuat kebaikan.
Manusia itu ada tiga macam.
1. seperti makanan, selalu dicari dan dibutuhkan kehadirannya.
2. seperti obat, mungkin tak selalu dirindu, tapi sangat berarti saat dibutuhkan.
3. seperti penyakit, kehadirannya membuat resah, ditakuti, bahkan dijauhi.
Hidup tidak bergantung pada validasi manusia,sebab pengakuan yg dicari dari sesama sering kali hanya memperhalus bentuk kesombongan yang tersembunyi.
Nilai diri tak ditentukan oleh tepuk tangan,melainkan oleh keikhlasan dlm melangkah dan ketulusan dlm mnjalani amanah kehidupan.
Dalam keheningannya, hujan turun sebagai rahmat dibelantara Ramadan, ketika jiwa sedang belajar menahan dan membersihkan diri, hujan menjadi simbol penyucian yang lembut. Ia tidak memaksa, hanya hadir dan kehadirannya cukup untuk menyejukkan.
Tadz saya mau tanya; kenapa kita masih maksiat dlm bulan Ramadlon padahal setan dibelenggu ?
Ngustad ; Tapi nafsu kita tidak dibelenggu, jadi jangan salahin setan terus kalau bermaksiat. Atau kita memang telah jadi setan (Nauzubillah)