Sabitlenmiş Tweet
SaPi
1.1K posts

SaPi retweetledi
SaPi retweetledi

Dan satu hal yang harus kalian tau:
ALLAHUAKBAR INI MASIH BULAN APRIL COY LAMA BENERRRRR
Nasya ⋆୨୧⋆ 🇵🇸@blissfulfancy
emang bulan april gila bgt pengeluaranny😭😭😭 gpp Allah bersama gen Z😭😭🫶🏻🫶🏻
Indonesia
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi

Gue baru tahu kalo ternyata cahaya matahari ternyata bisa punya manfaat terhadap gangguan mental
Jadi ada penelitian yang melibatkan lebih dari 80 ribu orang dewasa yang menggunakan sensor accelerometer di pergelangan tangan untuk mengukur paparan cahaya secara objektif selama 7 hari.
Nah pas baca hasilnya gue jujur cukup amaze, karena gak nyangka kalo 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗽𝗮𝗽𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗰𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝘀𝗶𝗮𝗻𝗴 𝗵𝗮𝗿𝗶 (𝗱𝗮𝘆𝗹𝗶𝗴𝗵𝘁 𝗲𝘅𝗽𝗼𝘀𝘂𝗿𝗲), 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗮𝘀𝗼𝘀𝗶𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗿𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵 𝗿𝗶𝘀𝗶𝗸𝗼 𝗴𝗮𝗻𝗴𝗴𝘂𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝗹 𝗯𝗲𝗿𝗮𝘁.
Secara spesifik, orang-orang yang mendapat cahaya matahari siang lebih banyak punya risiko lebih rendah untuk terjadinya:
-Major Depressive Disorder (depresi berat)
-PTSD (gangguan stres pasca-trauma)
-Psikosis
-Self-harm (perilaku menyakiti diri)
Mekanismenya adalah cahaya matahari membantu mengatur ritme sirkadian tubuh kita. Ia membantu otak dan tubuh tahu kapan harus waspada, kapan harus istirahat, mengatur hormon kortisol di pagi hari (yang sehat), dan membuat kita lebih siap menghadapi stress sehari-hari.
Cahaya matahari, terutama saat pagi hari, diketahui dapat mengaktifkan sel-sel khusus di retina mata yang mengirim sinyal ke otak untuk menyesuaikan jam internal. Efeknya adalah tidur menjadi lebih baik, mood lebih stabil, energi lebih terjaga, dan risiko depresi turun hingga 20% di kelompok dengan paparan cahaya siang tertinggi
Semoga bermanfaat!
Nicholas Fabiano, MD@NTFabiano
Greater daylight exposure is associated with a reduced risk of mental disorders. Sunlight is the most underrated antidepressant.
Indonesia
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi

Ini relate bgt dgn kata2 guru fisika SMA dulu saat memberitahu beliau saya pilih jurusan fisika di kampus dkt SMA:
"Kamu pilih masuk fisika, berarti fisikanya bodoh. Kalau yg pintar fisikanya tdk akan memilih belajar fisika lagi."
Kdg saya merasa paling tdk paham saat membaca paper sekalipun tentang fisika teoretis atau mekanika kuantum, dan AI.
Tapi setelah baca tulisan Martin A. Schwartz ini, saya baru sadar..
Itu bkn kekurangan, tapi justru tanda bahwa saya sedang berada di jalur yg benar.
Schwartz bilang:
“Produktif stupidity berarti kita dgn sadar masuk ke wilayah yg belum kita pahami. Kita merasa tdk tahu bkn krn kita tdk tahu, tapi krn kita sdg mengejar sesuatu yg lebih besar dari pengetahuan kita saat ini.”
Di fisika, ini terjadi setiap kali kita bicara singularitas, quantum entanglement, atau gelombang gravitasi yg entah bgmn menakjubkan seperti cinta yg tdk terduga. 😁
Kita tdk tahu jawabannya. Dan itu justru yg membuat kita terus mencari.
Sama halnya di dunia Quantum AI dan etika teknologi yg sdg dibangun sekarang, menciptakan sesuatu yg mungkin suatu hari akan “lebih pintar” dari kita. 🤷🏼♂️
Kita berada di posisi yg awkward: merasa tdk paham di hadapan masa depan yg belum jelas.
Tapi justru di situlah letak keindahannya. Semakin nyaman kita dgn ketidaktahuan, semakin dlm kita bisa menyelam ke dlm misteri alam semesta dan ke dlm misteri diri kita sendiri.
Saya belajar dari artikel ini:
Jgn terburu2 ingin terlihat pintar (untuk apa hanya terlihat, padahal.. 😁😁). Yg penting adalah terus mau merasa tdk tahu dgn jujur.
Krn hanya orang yg berani merasa tdk tahu yg akhirnya menemukan sesuatu yg benar2 baru.
Hmm.. kamu pernah merasa “bodoh” saat sdg mendalami sesuatu yg kamu cintai?
Baik itu sains, AI, filsafat, ekonomi, budaya, atau bahkan hubungan manusia?
Yuk kita merasa tdk tahu bareng2. Siapa tahu justru dari situ lahir pemahaman yg lebih dlm. 🔥
Curious Minds@CuriousMindsHub
The importance of stupidity in scientific research:
Indonesia
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi

Ibaratnya kalo lagi olahraga pertama kali ya. Badan pegel semua, ngerasa lemah padahal you’re getting stronger than before.
Di segala hal, when you’re getting better it feels like you’re getting worse. Merasa bodoh krn banyak gak tau. Perasaan bodoh dibutuhin di proses belajar.
Curious Minds@CuriousMindsHub
The importance of stupidity in scientific research:
Indonesia
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi
SaPi retweetledi






























