kadang yang perlu kita luruskan bukan karyanya, tapi cara kita memahaminya. menganggap satu adegan dalam video klip sebagai bentuk normalisasi perilaku justru menunjukkan betapa dangkalnya cara kita membaca karya. seni sejak dulu tidak pernah diciptakan untuk menjadi buku panduan moral yang steril, melainkan untuk merepresentasikan realitas, emosi, dan perspektif manusia apa adanya.
yang juga sering dilupakan, audiens bukan sekumpulan orang tanpa nalar yang langsung meniru apa yang mereka lihat. masyarakat punya kemampuan berpikir, menilai konteks, dan memisahkan mana ekspresi artistik dan mana perilaku yang pantas dijadikan teladan. ketika setiap visual langsung dianggap berbahaya, sebenarnya yang sedang kita lakukan adalah merendahkan kapasitas publik itu sendiri.
lebih jauh lagi, jika logika ini terus dipakai, maka banyak karya seni harus disensor hanya karena ada kemungkinan disalahartikan. film tidak boleh menampilkan kekerasan, musik tidak boleh menampilkan kegelisahan, sastra tidak boleh menyinggung realitas yang pahit. padahal justru di situlah fungsi seni, memotret kehidupan dengan jujur, bahkan ketika kenyataan itu tidak selalu nyaman dilihat.
jadi sebelum buru buru menuduh sebuah karya sebagai bentuk normalisasi, mungkin yang lebih perlu diperkuat adalah kedewasaan kita dalam membaca karya. karena sering kali yang bermasalah bukan ekspresinya, melainkan cara sebagian orang terlalu cepat menghakimi tanpa benar benar memahami konteksnya.