Sabitlenmiş Tweet
Masbikkk
8.4K posts

Masbikkk
@yaanms_
Lagi belajar menulis, member of @Mahasin_awr
Grobogan, Indonesia Katılım Nisan 2020
229 Takip Edilen7K Takipçiler
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi

Jadilah baik karena emang karaktermu itu baik
Berkata@Berkataid
semua cewe bisa jadi cegil, cuma diprivate aja wkwkwk
Indonesia
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi

Part 6 - with Bang Radit.
Tentang Negara Kesatuan Republik Sel dan Kanker.
youtu.be/yO2iVrc-SQo?si…

YouTube
Indonesia
Masbikkk retweetledi

Suatu pagi di IGD, seorang ibu usia lima puluhan datang dengan wajah pucat dan tubuh yang basah oleh keringat dingin.
Keringatnya sampai sebesar biji-biji jagung. Tangannya beberapa kali menekan dada, lalu bergerak ke sisi kiri tubuhnya. Nyeri dadanya menjalar ke lengan kiri.
Napasnya pendek. Wajahnya tegang. Gelisah.
Saya sudah sangat hafal gejala dan tanda ini. Serangan jantung.
Saya mendekat, “Bu, saya mau periksa rekam jantung ibu, ya.”
Belum sempat perawat menyiapkan semuanya, ibu itu langsung menggeleng keras. Ia membuang muka
“Enggak, Dok. Enggak.”
Saya berkata pelan, “Bu, maaf, kemungkinan besar ini serangan jantung.”
Tiba-tiba ia teriak. Suaranya pecah, nyaris histeris.
“Enggak, Dok, enggak!! Saya tidak mungkin serangan jantung, Dok. Saya enggak merokok.”
Saya terdiam sesaat.
“Udah tolongin saya, kasih obat nyeri aja, Dok. Saya mau pulang.”
Di dalam hati, aku langsung menghitung waktu. Dalam kasus seperti ini, aku tahu aku tidak sedang berhadapan dengan jam yang longgar. Aku hanya punya sekitar sembilan puluh menit untuk segera bertindak. Perbedaan hasil antara cepat dan terlambat bisa terasa sangat kontras. Terlalu kontras untuk diabaikan.
Saya menarik napas dalam.
“Ibu ada apa?” tanya saya pelan. “Kok langsung menolak diagnosis saya? Belum saya periksa kok.”
Ia diam.
Matanya bergerak sebentar ke kanan dan ke kiri, menatap perawat-perawat yang berdiri di dekatku. Saya peka. Saya menoleh kepada perawat2 saya. “Tolong bantu pasien lain dulu, ya.”
Ibu itu menunduk. Lama sekali. Lalu dengan suara pelan yang nyaris seperti bisikan, ia berkata, “Ini akibat karma saya, Dok.”
Saya terhenyak.
“Karma?”
Ia mengangguk kecil. “Entah sudah berapa wanita yang telah saya sakiti, Dok.”
Saya menatapnya lebih dalam. “Ibu sakiti siapa?”
Ia menelan ludah. Suaranya gemetar ketika melanjutkan.
“Dok, sebenarnya saya sudah memasukkan beberapa alat ke dada dan ke dua payudara saya, Dok. Gara-gara alat ini, saya berhasil merebut banyak lelaki, suami-suami orang. Alat ini membuat saya tidak bisa ditolak oleh seluruh lelaki yang saya dekati, dan membuat lelaki manapun tertarik terhadap saya dan payudara saya.”
Saya menahan senyum. Jujur saja, saya jarang bertemu laki-laki yang tidak tertarik pada payudara.
Ia melanjutkan, makin tenggelam dalam ceritanya sendiri.
“Saya lakukan ritual memasang alat ke dalam dada bersama seorang laki-laki Orang Pintar dua puluhan tahun yang lalu, Dok.”
Saya kembali menahan senyum.
Apakah ibu ini Ironman?
Ibu itu melanjutkan, “Orang pintar bilang, kamu akan berhasil, tapi kamu akan menerima karma dari alat itu saat usia lima puluhan. Jadi ini karena alat, Dok!”
“Ibu,” jawab saya lembut, “bolehkah saya rontgen? Saya ingin melihat seberapa berbahaya karma dari alat ibu ini.”
Ia menatapku, ragu-ragu, lalu akhirnya mengangguk.
Kami lakukan rontgen.
Dan setelah hasilnya keluar, saya benar-benar takjub.
Ternyata memang ada.
Dua di payudara kiri. Dua di payudara kanan. Dua di bahu kanan dan kiri.
Dalam hati aku berpikir, Orang Pintar itu memang benar-benar pintar. Ia bisa menipu meyakinkan seorang perempuan usia dua puluhan untuk membuka bajunya dan memasang semua ini.
Saya kembali menghadap ibu itu.
“Ibu percaya sama saya, apa pun yang orang pintar itu bilang ke ibu tentang karma alat ini.”
Saya meletakkan tangan di dada sendiri.
“Orang pintar kedua ini akan bilang, ini bukan karena alat itu. Izinkan orang pintar kedua ini bantuin ibu. Saya mau nolongin ibu. boleh enggak?”
Ia diam. Ada jeda panjang sebelum akhirnya ia menjawab dengan suara yang jauh lebih kecil daripada teriakannya tadi.
“Boleh, Dok.”
Begitu kata itu keluar, aku tidak menunda lagi.
Langsung kami lakukan rekam jantung. Kami periksa enzim jantung, troponin I. Kami mulai loading obat. Semua yang harus dikerjakan, kami kerjakan secepat dan setepat mungkin.
Ibu itu akhirnya dirawat beberapa hari.
Dan syukurlah, akhirnya ia sembuh.

Indonesia
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi

Tidak akan hilang darimu apa yang telah ditakdirkan untukmu
x.com/i/status/20400…

مُطمئِنةَ.!@motm2na_
أبشـر🤎..
Ngaliyan, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi
Masbikkk retweetledi

















