Boleh

784 posts

Boleh banner
Boleh

Boleh

@yeaao_0

im horizontal

Katılım Nisan 2025
33 Takip Edilen21 Takipçiler
CEK PINNED!
CEK PINNED!@sbmptnfess·
Diliat dari kasus dibawah berarti ITB tuh kampus yg diskriminatif ya kalau misal S1nya bukan di ITB? PTN!
CEK PINNED! tweet media
Indonesia
239
631
14.9K
994.9K
Boleh retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, ada kasus yang menurut gue perlu lo dengar karena ini bukan cuma soal satu anak di satu sekolah di Pemalang. Ini adalah cerminan dari sesuatu yang jauh lebih besar. Seorang orang tua di Randudongkal, Kabupaten Pemalang sebut saja Bapak ini memposting sesuatu di media sosialnya. Isinya dua hal: kritik terhadap implementasi MBG dan pengingat bahwa sekolah negeri dilarang memungut biaya LKS dan infak berdasarkan aturan pemerintah yang sudah berlaku. Dia tidak menyebut nama sekolah anaknya. Tidak menyebut nama kepala sekolah. Tidak menyebut nama guru siapapun. Tapi anaknya Mas Azhim, siswa SD N 01 Banjarayar dikeluarkan dari sekolah. Yang terjadi secara kronologis: Bapak ini memposting kritik soal MBG dan pungutan liar di sekolah negeri di akun media sosialnya. Kepala sekolah memanggil dia. Dan setelah pertemuan itu anaknya diberhentikan secara sepihak. Tidak ada surat resmi pemberhentian yang prosedural. Tidak ada proses klarifikasi yang fair. Tidak ada mekanisme banding. Satu pertemuan dan anak itu tidak boleh masuk sekolah lagi. Dua bulan lebih Mas Azhim tidak mengikuti pelajaran. Dua bulan lebih seorang anak SD kehilangan haknya atas pendidikan bukan karena dia berbuat salah, tapi karena bapaknya berani bicara. Dan di atas itu semua Mas Azhim juga mengalami bullying. Bukti percakapan yang beredar dan ini yang paling mengejutkan: Ada screenshot percakapan WhatsApp yang beredar. Pihak sekolah melalui salah satu guru membalas pesan si Bapak dengan kalimat yang menurut gue sangat mengungkapkan segalanya: Meskipun njenengan tidak menyebutkan identitas sekolah, tapi kan masyarakat tahu kalau Mas Azhim sekolah di SD N 01 Banjarayar, jadi menggiring opini publik ke SD kami. Berhenti sebentar di sini. Pihak sekolah sendiri yang mengakui bahwa yang jadi masalah bukan tindakan si Bapak secara hukum tapi dampak reputasi ke sekolah. Bukan soal anak yang melanggar aturan. Bukan soal proses belajar yang terganggu. Tapi soal opini publik yang mengarah ke SD mereka. Artinya anak ini dikeluarkan bukan karena dia salah. Tapi karena bapaknya membuat sekolah tidak nyaman di mata publik. Apa yang dilakukan si Bapak itu sebenarnya? Dia mengingatkan bahwa sekolah negeri tidak boleh memungut biaya LKS dan infak. Ini bukan opini. Ini fakta hukum. Permendikbud dan berbagai regulasi turunannya sudah jelas melarang pungutan di sekolah negeri yang sudah mendapat BOS Bantuan Operasional Sekolah. Sekolah negeri mendapat dana BOS dari APBN untuk membiayai operasional sekolah. Dana itu sudah termasuk untuk pengadaan buku, alat tulis, dan kebutuhan belajar siswa. Memungut LKS tambahan di atas BOS adalah pelanggaran regulasi. Si Bapak tidak mengarang. Dia mengingatkan aturan yang memang ada. Dan untuk itu anaknya dikeluarkan. Soal kritik MBG yang dia sampaikan dan ini relevan dengan konteks yang lebih besar: Kita sudah bahas panjang lebar soal MBG dari Rp340 miliar yang menurut Mahfud MD hanya sampai ke makanan dari total triliunan yang dianggarkan, sampai 33.000 kasus keracunan, sampai 1.720 SPPG yang tutup tapi tetap dibayar Rp6 juta per hari. Orang tua yang kritis terhadap MBG bukan musuh program. Mereka adalah orang-orang yang paling langsung terdampak ketika program itu tidak berjalan dengan baik. Anak-anak merekalah yang makan makanan dari program itu. Anak-anak merekalah yang keracunan ketika standar sanitasinya tidak terpenuhi. Mengkritisi MBG bukan kejahatan. Mengkritisi sekolah yang memungut biaya ilegal bukan kejahatan. Tapi di Banjarayar Pemalang melakukan dua hal itu ternyata cukup untuk membuat anakmu kehilangan akses pendidikan. Ini bukan hanya masalah satu sekolah ini adalah masalah sistemik: Yang terjadi di sini adalah penggunaan kekuasaan institusional untuk membungkam kritik warga. Dan yang dikorbankan bukan si orang tua tapi anaknya yang tidak berdaya. Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat kejam justru karena targetnya bukan si pengkritik secara langsung. Targetnya adalah orang yang paling dicintai oleh pengkritik itu anaknya sendiri. Kalau lo mau membungkam seseorang tanpa kelihatan melanggar hukum secara terang-terangan sakiti anaknya. Itu yang terjadi di sini. Dan kalimat dari guru itu tadi "menggiring opini publik ke SD kami" menunjukkan bahwa ini adalah keputusan yang diambil secara sadar untuk melindungi reputasi institusi, bukan untuk kepentingan terbaik anak didik mereka. Apa yang seharusnya terjadi secara hukum: Pertama — sekolah tidak punya kewenangan hukum untuk mengeluarkan siswa secara sepihak hanya karena orang tuanya mengkritik di media sosial. Ini melanggar hak anak atas pendidikan yang dijamin Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan UUD 1945 Pasal 31. Kedua — pungutan LKS dan infak di sekolah negeri yang sudah menerima BOS adalah pelanggaran regulasi yang seharusnya dilaporkan dan diinvestigasi oleh Dinas Pendidikan dan inspektorat daerah. Ketiga — bullying terhadap anak karena tindakan orang tuanya adalah pelanggaran serius yang masuk dalam kategori kekerasan berbasis relasi kuasa. Kasus ini sudah masuk ke Polres Pemalang. Dan si Bapak memohon agar Kapolres mengawal proses penyidikan ini agar berjalan sesuai hukum bukan sesuai keinginan pihak tertentu. Yang paling menyentuh dari seluruh cerita ini: Si Bapak menulis: "Saya tidak mampu membayar pengacara untuk mencari keadilan." Dan di sisi lain dia bilang: "Tidak apa-apa, saya bisa mendidik anak-anak walaupun tanpa ada ijazah." Ini adalah seorang ayah yang sudah pasrah dengan sistem tapi belum menyerah pada kebenaran. Yang tahu dia mungkin tidak punya kekuatan finansial untuk melawan. Tapi tetap berjalan karena dia yakin masih ada orang-orang baik yang bisa membantu. Dan si Bapak menutup pernyataannya dengan kalimat yang menurut gue harus diingat oleh setiap pejabat dan kepala sekolah di Indonesia: "Jangan semena-mena dengan jabatan yang kau sandang karena itu semua hanya titipan." Kalau kita bisa marah pada triliunan rupiah MBG yang tidak sampai ke makanan anak-anak kita juga harus bisa marah ketika satu anak SD kehilangan haknya atas pendidikan hanya karena bapaknya berani mengingatkan aturan. Keduanya adalah wajah dari sistem yang sama sistem di mana institusi lebih sibuk melindungi dirinya sendiri daripada melayani mereka yang seharusnya dilayani. Mas Azhim berhak atas pendidikannya. Dan bapaknya berhak atas keadilannya.
Lambe Saham tweet mediaLambe Saham tweet media
Indonesia
365
5.2K
9.1K
477.3K
Boleh
Boleh@yeaao_0·
@pxolfs @QueenAirieee25 Nah ini betul awkowkwkwkwk, emang pada seklek otaknya peyapping X, gabisa memahami hal sekecil itu
Indonesia
0
0
0
21
Biaa 🍒
Biaa 🍒@pxolfs·
@QueenAirieee25 it's a jokes kok. karna mereka tau, mereka ga bisa kayak yg kakak itu yg punya banyak prestasi. lagian orang dengan prestasi ga bakal ke singgung dengan komen imo or something. orang imo aja sekarang ga ada apa-apanya, bukan hal yg prestige.
Indonesia
1
0
1
190
Boleh
Boleh@yeaao_0·
@muncorner Lu belum belajar dikit aja, terlalu berlebihan sih klo ada yg ngatain orang beg* karena ngga pake mendeley. Gw yg kaga punya aja bisa dengan sekali pake jir
Indonesia
0
0
0
1K
Woodsy Corner.
Woodsy Corner.@muncorner·
kakak-kakak, tolong jangan salty ya... maaf pertanyaannya agak dangkal, but is it okay kalau masih masukin sitasi secara manual? dosenku gak pernah complain sih, but someone just called me 'beg*' karena gak pakai mendeley atau apk lain... 🥲🪵
Indonesia
689
380
14.4K
508.3K
Boleh
Boleh@yeaao_0·
@tanyarlfes Berbaurnya sama tetangga jauh nder, yg asik haha. Lu mah ga asik mana mau kami berbaur
Indonesia
0
0
0
443
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
kenapa ada orang seperti ini?? 💚
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
1.9K
183
2.9K
743K
Boleh
Boleh@yeaao_0·
@angga144469 @milliepayr @yappingfess Itu bukan pinter jir😭 orang gabisa bedain bercanda dan ngga tuh otaknya perlu dipertanyakan. Oke lah klo statement nya nganggep klo joke-nya jelek (emang jelek), tapi ini kek bener2 nganggep mereka beneran pamer "imo" buat unjuk prestasi😭 dongo anjir akwowkw
GIF
Indonesia
0
0
7
720
YAPPINGFESS
YAPPINGFESS@yappingfess·
sampah banget orang orang kayak gini jujur yap!
YAPPINGFESS tweet media
Indonesia
516
764
12.2K
777.4K
Boleh
Boleh@yeaao_0·
@fakhrulroziii YA EMANG, LU YAPPING TAPI KAGA BISA BACA? PAKE OTAK LU NGENTWOWT, ORANG GW SETUJU SAMA LU SETAN
Indonesia
1
0
0
36
Rozi
Rozi@fakhrulroziii·
Didikan VOC = didikan yg BURUK. Bukti: Berapa banyak orang dewasa sekarang yang gampang main tangan ke istrinya, ke suaminya, ke rekannya, atau ke orang lain di jalan cuma gara2 senggolan dikit? Banyak! Kenapa? Karena mindsetnya tertanam: "Kalo ada masalah, selesaikan pake otot!"
meow@meow_leader2

@somexthread didikan ala VOC memang yg terbaik.. anak2 jadi disiplin, tidak cengeng, tidak manja dan tidak songong..

Indonesia
7
635
2.5K
25.6K
Boleh retweetledi
Andriantod
Andriantod@Andri_an79·
Serius lu doain krismon di negara sendiri demi profit lu yg ga sampe 50k itu? Mending jadi tukang parkir aja, dapat 80k sehari tanpa harus nunggu negara hancur
Andriantod tweet media
Indonesia
506
2.1K
13.7K
572.2K
Boleh retweetledi
Dian 🎀
Dian 🎀@petitstardust·
Kadang kesel sama orang yg pikirannya terlalu negatif dan cenderung projecting. Contohnya pas aku nyeritain ortunya pacarku yg super baik bgt, tanggepan dia,”Ya emang gitu biasanya. Kalo udah nikah baru tuh mertua berubah jadi nenek sihir.” Padahal dia ga kenal orangnya jg 😌
Indonesia
40
365
2.2K
485.3K
Boleh retweetledi
Embun🐨🌻
Embun🐨🌻@chocoembun·
Jujur aku kesenggol banget dgn postingannya tentang miskin itu, karena aku lah salah satu si miskin yg menerima banyak bantuan itu. Ortuku bukan gak mau usaha, justru mereka kerja keras tapi emang masih kurang aja. Aku dan kakakku kalo gak dapet beasiswa gak mungkin bisa sampe-
Embun🐨🌻@chocoembun

Guys kalo gak suka opini orang, ada fitur blokir daripada kalian capek capek ngetik di postingannya, apalagi sampe ngetik jahat😭🙏

Indonesia
91
156
2K
189.5K