Yovita Maria

6.6K posts

Yovita Maria banner
Yovita Maria

Yovita Maria

@yopijoo

~ Bala balaa ~ @max_ninoy

Palembang, South Sumatera Katılım Ocak 2011
396 Takip Edilen176 Takipçiler
Yovita Maria retweetledi
txt dari gajelas
txt dari gajelas@txtdarigajelas·
txt dari gajelas tweet media
ZXX
112
3.3K
16.5K
241.3K
Yovita Maria retweetledi
Corry Laura Sianturi
Corry Laura Sianturi@CorryLauraS·
“Sebentar, ya” “Nanti dulu, ya” “Kamu nunggu, Mama/Papa sambil main sendiri dulu sebentar”. Seberapa sering kita mengucapkan kata-kata ini ke anak? Apa yang mereka rasakan saat menunggu kita? Bagaimana mereka memaknai rentang waktu menunggu? Mataku terbuka sekali saat membaca satu buku yang membahas menunggu dari sudut pandang anak 5 tahun.
Indonesia
8
80
386
24.6K
Yovita Maria retweetledi
folkative
folkative@insidefolkative·
Rest In Peace, Vidi Aldiano. 💔💔🥀🥀
folkative tweet media
Italiano
2.5K
21.5K
107.3K
4.7M
Yovita Maria retweetledi
Dedy Ong
Dedy Ong@MrOngDedy·
Istri: "Wajah lu keliatan cape banget" Gue: "Oh, aku lagi nahan emosi, ada issue dengan salah satu staff, tapi ga pengen langsung decide pas marah gini. Jadi musti nahan dulu." Kebetulan lagi harus decide mau kasih anak makan apa di mana. Gue: "Kamu yang nentuin ya makan apa di mana, aku lagi butuh waktu proses issue ini". Istri ngerti dan gerak sendiri. Gue memproses masalah yang lagi dihadapin. I don't like the action taken. I don't like the outcome. I don't like the final decision that was made. Tapi gue juga ga mau kasi reaksi di moment seperti ini. I will take some time to process dulu. Gue belajar gak gedebak-gedebuk saat ada kesalahan yang dilakukan tim ku. Ambil keputusan saat marah itu biasanya destruktif. Pause and think it through. It's better. Makes sense ya.
Indonesia
8
181
1.7K
140.2K
Yovita Maria
Yovita Maria@yopijoo·
@ikanatassa @Telkomsel Setujuuu kak harusnya di maintain pelanggan loyalnya ini. Dulu aku jg mau cabut indihome harga 350rb 20mbps, mereka nawarin ternyata ada yg harganya 230rb 50mbps 🙃 kepaksa pakai lagi krn ga ada pilihan provider lain yg cover area rumah 😭 langganan kartu halo juga 100rb 50gb 😵‍💫
Indonesia
1
0
0
182
Ika Natassa
Ika Natassa@ikanatassa·
heran sih apa gunanya jadi pelanggan priority platinum kalau dibego2in ttg paket indihome. praktik bisnis kalian layak dikritik @Telkomsel . seharusnya jika punya pelanggan loyal, justru rajin di-maintain dgn menawarkan paket yg lebih menguntungkan, bukannya 'diperah' terus.
Telkomsel@Telkomsel

Halo, Kak Ika. Muzam memahami kekhawatiran Kakak terkait perbedaan informasi harga paket IndiHome yang dirasakan selama berlangganan. Muzam sudah kirim DM untuk membantu pengecekan detail paket dan penawaran yang tersedia di nomor Kakak. Boleh dicek dan dilanjut interaksi DM nya ya Kak 🙏 -Muzam

Indonesia
70
198
1K
65.2K
Yovita Maria retweetledi
Foreign body
Foreign body@CorpusAlienumm·
Jaga IGD is an eye opening experience. Separah apapun, klo emg bukan waktunya, yaa they will survive, against all odds. A case : Awal Desember sama 1 Januari kemarin aku dapat 2 pasien, laki2, age range sama, diagnosis yg sama STEMI Inferior KILLIP 4 + severe bradikardia dt TAVB
Indonesia
16
303
2.4K
185.8K
Yovita Maria retweetledi
Ardianto Satriawan
Ardianto Satriawan@ardisatriawan·
PART II: DEA "Halo Dea?" "Ya Mah?" "Kamu bisa pulang segera?" "Kenapa Mah?" "Bapak jatuh kena stroke, mesti dirawat di rumah sakit" "Waduh, padahal Senin besok baru juga mulai di PTN favorit ini." "Cuti dulu aja nak, kamu bantu rawat Bapak." "..." *** "Pak TU kampus, saya mau cuti semester ini." "Wah baru mulai kok udah cuti?" "Bapak saya kena stroke Pak, mesti bantu rawat sama kerja dulu buat perawatan." "Oke ini form-nya, nanti UKT-nya kita refund 50%." "Hah? Kok gak semua? Kan cuti? Buat bantu-bantu perawatan Bapak kan lumayan juga itu." "Memang gitu aturannya kampus kita." "..." *** "Pak TU kampus, kalau saya mengundurkan diri aja gimana?" "Wah sayang banget, gak bisa diusahain?" "Gak sanggup saya Pak, belum kalau nanti lama perawatannya, semester depan mesti bayar 50% UKT lagi." "Oh gitu, ya udah ini isi form-nya." "Kalau tahun depan saya mau balik kuliah di sini bisa Pak?" "Gak bisa, salah satu syaratnya gak boleh mengundurkan diri dari PTN sini." "Hah, kok gitu?" "Memang aturannya gitu." *** "Makasih ya Nak, udah bantu ngurus Bapak setahun ini." "Iya, semoga Bapak ditempatkan di tempat terbaik Mah." "Coba tes kuliah lagi, ya Nak" "Tapi jadwalnya minggu depan Mah, belum sempet pegang buku buat belajar lagi." "Iya gak apa, kan kita sibuk ngerawat almarhum Bapak, tapi coba aja." "Ya mah, doain ya." *** "Gak keterima Mah." "Gak apa nak, coba lagi tahun depan ya. Sambil bantu Mamah di warung." "Ya mah, belum cukup juga tabungannya buat bayar UKT." "Belajar sungguh-sungguh ya Nak." *** "Alhamdulillah, keterima Bu, Farmasi, PTN lain, beda sama yang kemarin." "Alhamdulillah." "Ya udah kamu berangkat ya Nak." "Tapi KIPK-nya gak dapet Mah." "Gak apa nak, nanti Mama usahain." *** "Halo Dea, bisa pulang segera? Urgent." "Kenapa Tante?" "Mama kamu kena serangan jantung." "Hah? Innalillahi. Ya Tante, Dea segera pulang." *** "Pak TU kampus, saya mau cuti semester ini." "Wah baru mulai kok udah cuti?" "Mama saya kena serangan jantung Pak, mesti bantu rawat sama kerja dulu buat perawatan." "Oke ini form-nya, nanti UKT-nya kita refund 50%." "Haduhhhh, kalau mengundurkan diri terus balik lagi tahun depan gimana?" "Bisa tes lagi. Asal belum tiga kali tes masuk PTN." "Lahh, saya udah tiga kali Pak." "Gak bisa kalau gitu. Emang aturannya gitu." "..." "Jadi gimana?" "Ya udah saya cuti aja Pak." *** "Halo Pak Dosen Wali, semester ini saya juga masih cuti lagi Pak. Masih harus rawat Mamah." "Iya gak apa Dea, jangan lupa diurus di sistem informasi akademik." "Udah Pak, udah saya urus, 50% UKT juga sudah saya bayar." "Semoga Mama cepet sembuh ya Dea." "Ya Pak, makasih, kalau kuliah-kuliah yang kelewat ini gimana?" "Pikir nanti aja, paling mundur lulusnya." "Ada perpanjangan masa studi gak Pak?" "Gak ada, tetep 6 tahun maksimum Dea." "Gak bisa ada toleransi Pak? Kan ini bukan sepenuhnya salah saya." "Saya gak bisa bantu Dea, memang aturannya begitu." *** "Tante, makasih udah mondar-mandir bantu Dea ngurus Mamah pas sakit." "Iya Dea, semoga almarhumah Mama diterima di sisi-Nya. Kuat-kuat ya Dea. Kuliah kamu gimana?" "Ini mau mulai lagi Tante, udah 2 semester cuti." "Iya, gak apa, berarti ketunda 3 tahun ya kuliah kamu?" "Mau gimana lagi Tante." "Biaya kuliahnya gimana?" "Dea udah diterima ngajar di bimbel Tante, lumayan lah buat nambah-nambah." *** "Ini kamu yakin ngambil ngajar 6 jam habis kuliah seharian tiap hari?" "Iya Bu, tabungan saya belum cukup buat bayar UKT semester depan." "Duh, ini Ibu gak tega ngasihnya tapi, kamu pasti capek." "Tolong Bu, saya lagi butuh." *** "Dea, kenapa IPK kamu semester ini pas-pasan gini? Ada 2 kuliah yang ngulang pula." "Saya harus kerja Pak Dosen Wali, 6 jam habis kuliah tiap hari, gak sempet belajar." "..." "Kan saya harus biayain kuliah sama bayar biaya hidup sendiri Pak. Mama sama Bapak udah gak ada." "..." "Tapi saya usahain semester depan lebih baik Pak." *** "Dea, lu gak apply magang?" "Hah? Emang penting ya magang-magang itu. Gue kuliah aja keteteran sumpah." "Sekarang semua orang pada magang, bakal susah bersaing kalau lamar kerja nanti kalau gak magang." "Oh gitu? Emang gimana sih prosedur lamar magang itu?" "Coba lu cek aja program pemerintah, MSIB sama MBKM kalau gak salah namanya." *** "Pak, ini ada yang lamar magang." "Bisa liat CV-nya?" "Ini Pak." "Dea, Farmasi, ya pas sih sama perusahaan kita." "Jadi?" "Cuma gak ada pengalaman magang di tempat lain sebelumnya, cari yang lain aja." "Oke Pak." *** "Pak, ini ada yang lamar magang." "Bisa liat CV-nya?" "Ini Pak." "Dea, Farmasi, hmmmm." "Jadi?" "Gak terlalu pas sama perusahaan kita, cari yang lain aja." *** "Gimana Dea? Lu dapet magangnya gak?" "Nggak, pada gak ada yang mau nerima gue." "Oh gitu, terus gimana?" "Ya udah, semester ini lanjut kuliah lagi aja, lagian gue juga mesti ngajar bimbel." *** "Bu Mutia, ini Ibu udah gak hadir bimbingan 2 minggu, saya perlu tanda tangan Ibu buat sidang minggu depan." "Waduh, saya lagi di Jakarta, ada pekerjaan konsultansi di perusahaan anak saya. Lagian saya juga belum puas sama skripsinya." "Terus gimana Bu?" "Kamu tunda dulu aja sidangnya, semester depan." "Wah, biayanya gimana Bu?" "Saya gak bisa bantu." "..." *** "Pak TU kampus, ini kan saya tinggal skripsi doang, 6 SKS. Perlu bayar UKT?" "Iya, tetep bayar penuh." "Seriusan Pak? Gak ada kuliah lagi juga bayar penuh?" "Iya. Emang aturannya gitu." *** "Bu Mutia, ini Ibu udah gak hadir bimbingan 2 minggu, saya perlu tanda tangan Ibu buat sidang minggu depan." "Waduh, saya lagi di Jakarta, ada pekerjaan konsultansi di perusahaan anak saya. Lagian saya juga belum puas sama skripsinya." "Terus gimana Bu?" "Kamu tunda dulu aja sidangnya, semester depan." "Lagi? Biayanya gimana Bu?" "Saya gak bisa bantu." "..." *** "Deaaaa, Alhamdulillah lu lulus jugaaa." "Iyaaa, Alhamdulillah, penuh perjuangan ini kuliah gue." "Ya udah, enjoy moment wisudaan dulu, yuk foto-foto." "Iya, tapi tetep kepikiran euy abis ini ngapain." "Elu udah nyiapin CV kan? Bawa aja ke jobfair besok. Sekarang enjoy dulu." *** "Halo ini HRD perusahaan Y, kita mau tanya-tanya dulu sebelum interview" "Iya silakan mbak." "Ini kenapa ya kok lulusnya pas umur lebih dari 25 tahun?" "Saya gap year dulu mbak, mesti ngerawat almarhum Bapak dan Mama pas sakit, jadi baru keterima tes tahun ketiga." "Kan kalau gitu mestinya umur 23-24 tahun?" "Masih nambah molor gara-gara skripsi mbak" "Oh gitu. Mohon maaf banget, padahal udah cocok banget nih skill-nya. Kita cuma nerima freshgrad yang di bawah 25 tahun. Memang perusahaan kami aturannya gitu." "..." *** "Pak ini ada yang lamar ke perusahaan kita." "Coba liat CV-nya?" "Dea, Farmasi, jurusannya pas sih." "Ya Pak." "Tapi IPK-nya pas-pasan, lulusnya lama, pengalaman organisasi gak ada, gak ada pengalaman magang. Ngapain aja dia?" "Ya Pak." "Inget ya, di perusahaan X ini kita cuma nyari lulusan terbaik. Kalau ada CV sampah kaya gini, langsung buang aja." *** "Dea, kamu udah dapet kerja belum?" "Bu Mutia! Tumben nelpon saya? Makasih udah dibimbing skripsi Bu, saya belum dapet kerja." "Saya lagi butuh orang buat kerja di lab, kamu sekalian S2 aja di sini." "Terus bayar UKT sama biaya hidupnya gimana Bu?" "Untuk UKT kamu apply aja beasiswa dari kampus, nanti saya rekomendasikan." "Biaya hidup?" "Ya kamu nanti sekalian bantu proyek saya, ada lah dikit-dikit." "Oh, boleh Bu." *** "Halo, Dea?" "Ya Bu Mutia?" "Beasiswa S2 kamu kan ada kewajiban asistensi, kamu isi kelas Topik Pilihan Farmasi saya Jumat besok ya, kerjaan saya di sini belum selesai." "Siap Bu. Untuk bimbingan tesis Senin Ibu ada?" "Belum tahu, kontak saya aja nanti." "Ya Bu." *** "Ini kelas TPF kita yang ngisi emang Kak Dea terus? Gue jarang masuk, tapi sekalinya masuk kok Kak Dea lagi?" "Gak tahu nih, Bu Mutia cuma masuk pas pengenalan silabus aja. Sisanya Kak Dea." "Oh gitu, sibuk kayanya, jadi anggap aja dosen kita Bu Dea ya, asistennya Kak Mutia." "Iya, wkwkwk." *** "Untuk UAS TPF kalian, buat makalah ya. Ini tugas individu ya, bukan kelompok. Ini formatnya." "Baik Bu Mutia. Untuk penilaiannya gimana Bu?" "Kalau kalian sekedar nulis sampai selesai, nilainya C. Kalau berhasil sampai terbit di SINTA 6, C+. Terbit di SINTA 5, B-. SINTA 4, B. SINTA 3, B+, SINTA 2, A-. Yang paling tinggi SINTA 1, nilainya A." "Berarti harus terbit di jurnal nasional Bu?" "Iya, cantumkan saja nama saya jadi corresponding author di belakang nama kalian. Biasanya reviewernya udah pada tahu nama saya, kemungkinan diterimanya besar." "Baik Bu." *** "Enak ya kuliah Bu Mutia." "Iya, tugasnya cuma 1 makalah doang, sisanya diceramahin Kak Dea." "Recommended lah buat kuliah pilihan." "Pantes aja isinya 50-an mahasiswa terus, penuh." *** "Halo, Bu Mutia, ini Dea." "Kenapa Dea?" "Ini honor asisten gak masuk dari jadwal yang seharusnya Bu." "Oh, iya, biasanya memang telat 3 bulan." "Honor asisten yang cuma 500 ribu per semester itu selalu telat Bu? Walaupun dari 15 pertemuan, 13 di antaranya saya yang ngajar?" "Iya, memang begitu. Dari jaman saya mahasiswa dulu juga gitu." *** "Dea, ini Budi temennya Pras." "Kenapa?" "Pras kecelakaan pagi ini." "HAHH? Terus gimana?" "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun." "..." *** "Bu Mutia, saya mau mengundurkan diri dari program S2." "Hah kenapa?" "Suami saya meninggal dunia kecelakaan kemarin." "Pras? Mahasiswa saya juga? Innalillahi wa inna ilaihi rajiun." "Iya" "..." "Saya udah gak punya siapa-siapa lagi." "..." "Saya harus rawat anak saya sendirian." "..." "Nia baru 3 tahun Bu. "..." *** "Halo ini HRD perusahaan A, kita mau tanya-tanya dulu sebelum interview" "Iya silakan mbak." "Ini kok CV-nya dikit banget pengalamannya?" "..." "Udah lama banget nggak kerja?" "..." "Nggak lanjut kuliah S2 juga?" "..." "Maaf ya mbak, kami belum bisa terima." *** "Halo ini HRD perusahaan B, kita mau tanya-tanya dulu sebelum interview" "Iya silakan mbak." "Ini kok CV-nya dikit banget pengalamannya?" "..." "Udah lama banget nggak kerja?" "..." "Nggak lanjut kuliah S2 juga?" "..." "Maaf ya mbak, kami belum bisa terima." *** "Mbak, ini ada bantuan beras, dari pemerintah." "Oh, saya masuk daftar? Alhamdulillah." "Iya mbak, sama Pak RT didaftarin, kan udah nganggur lama." "Makasih ya mas." "Gak apa mbak, bulan depan ada lagi." *** "Mbak, ini ada bantuan minyak goreng, dari pemerintah." "Oh, saya masuk daftar? Alhamdulillah." "Iya mbak, sama Pak RT didaftarin, kan udah nganggur lama." "Makasih ya mas." "Gak apa mbak, bulan depan ada lagi." *** "Mbak, lagi nganggur gak? Ini ada kerjaan." "Ngapain?" "Jadi buzzer pemerintah Mbak. Bayarannya segini." "Pemerintah yang ngasih beras kemarin? Wah, mayan, saya udah ke mana-mana gak dapet-dapet." "Ya udah mbak, syaratnya gak susah kok." "Apa syaratnya?" "Tahan malu dikit." *** "Ini laporan twit ngebuzzernya mana Mbak?" "Oh ini, saya kemarin bikin ribut sama orang-orang yang kritik pemerintah." "Oke, ngapain lagi?" "Saya goblok-goblokin orang-orang yang demo." "Mantab!" "Iya Mas. Tahu gini saya gak usah kuliah, langsung nge-buzzer aja." *** "Mbak, kan baru keluar TPS, boleh kita interview dikit, kita dari lembaga survey, buat exit poll." "Oh boleh." "Mbak pilih calon yang mana?" "Petahana mbak." "Kenapa kok milih petahana?" "Saya kebantu banget, udah ngasih saya pekerjaan, sama ada bantuan sosial waktu saya nganggur." "Kok bisa nganggur lama?" "Saya lulusnya lama terus kena batas umur mbak, terus minim pengalaman sama organisasi juga. Waktu kuliah kerja keras buat bayar UKT." "Kok gak pilih yang ngasih UKT gratis?" "Saya sekarang lebih butuh yang kasih bantuan langsung sama kerjaan ke saya mbak." *** "Mamah, Alhamdulillah Nia keterima di PTN favorit." "Alhamdulillah, mama pinjem uang dulu ya buat bayar UKT-nya, makin mahal soalnya." *** "Halo Bu Dea, kenapa Bu?" "Saya bisa pinjem uang gak Bu tetangga, anak saya baru keterima PTN nih." "Waduh, anak saya juga Bu, saya abis bayar, lagi tipis, semua mahal sekarang." "..." "Coba ke pinjol Bu, sekarang PTN banyak yang kerja sama sama pinjol." "..." *** "Halo Nia?" "Ya Tante?" "Kamu bisa pulang segera?" "Kenapa Tante?" "Mama kamu jatuh kena stroke, mesti dirawat di rumah sakit" "Waduh, padahal Senin besok baru juga mulai di PTN favorit ini." "Cuti dulu aja Nia, kamu bantu rawat Mamah." "..."
Ardianto Satriawan@ardisatriawan

"Pak TU kampus" "Gimana Mutia?" "Saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT" "Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya" "Baik Pak" *** "Pak RT, saya mau minta surat keterangan tidak mampu" "Kamu bukannya Mutia, anaknya Pak Solihin, dosen di kampus itu?" "Iya Pak" "Lah, penghasilannya bukannya lumayan?" "Bapak lagi tugas belajar Pak, jadi dapetnya cuma gaji pokok doang." "Oh gitu, ini saya kasih surat pengantar, sekarang yang ngeluarin SKTM Dinas Sosial." *** "Pak Dinas Sosial, minta SKTM." "Ada surat keterangan dari RT sama slip gaji terakhir orang tua?" "Ini Pak." "Lah, ini gaji Bapak kamu gede?" "Tapi Bapak baru mulai Tugas Belajar Pak, jadi yang di situ tunjangan sama sertifikasi masih lengkap." "Wah, saya gak bisa ngeluarin SKTM kalau gitu, soalnya di sini penghasilan Bapak masih di atas syarat." "Waduh, terus gimana ini Pak?" "Coba ke bank sama Bapak, siapa tahu bisa ada pinjaman" *** "Bu CS Bank, saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya" "Baik Pak, saya cek dulu" "Pak Solihin, setelah kita cek penghasilan, kita gak bisa kasih pinjaman." "Kenapa Bu?" "Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi." "Waduh, terus gimana ini Bu?" *** "Pak TU kampus, saya gak bisa dapet SKTM Pak" "Udah coba pinjam bank?" "Gak bisa Pak, penghasilan Bapak saya gak cukup." "Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus" *** "Mas, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?" "Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun" "Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?" "Iya Mbak" "Waduh, itu biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya" *** "Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya" "Kamu cuti dulu aja Mut. Kerja part time gitu." "Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?" "Kamu bayar 50% UKT, jadi 6.25 juta." "Hah?" *** "Mas pinjol, kayanya saya terpaksa pinjem deh, gak ada jalan lain" "Siap, ini saya transfer ya." "Kalau gagal bayar gitu gimana?" "Ada dendanya sama nanti kecatat di BI Checking." *** "Mutia, ini utangnya gak dibayar?" "Wah Pak Debt Collector, Bapak saya butuh bayar UKT buat Tugas Belajar S3 sama banyak perlu lain, gimana?" "Gak bisa bayar sekarang?" "Iya, gimana?" "Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk dari semester 3 sampai lulus" *** "Ini CV kamu bagus banget, aktif di organisasi" "Iya, makasih Bu rekruter." "IPK kamu juga bagus, skill set kamu juga sesuai sama yang dibutuhin user kita." "Terima kasih." "Oke, kita finalisasi paperwork dulu ya sebelum offer." *** "Halo, ini HRD perusahaan X, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima." "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?" "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya." "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?" "Coba ke perusahaan lain." *** "Halo, ini HRD perusahaan Y, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima." "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?" "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya." "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?" "Coba ke perusahaan lain." *** "Halo, ini HRD perusahaan Z, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima." "Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?" "Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya." "Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?" "Coba ke perusahaan lain." *** "Mutia, kamu udah dapet kerja belum?" "Pak Harjo! Tumben nelpon saya? Makasih udah dibimbing skripsi Pak, saya belum dapet kerja." "Saya lagi butuh orang buat kerja di lab, kamu sekalian S2 aja di sini." "Terus bayar UKT sama biaya hidupnya gimana Pak?" "Ya kamu nanti sekalian bantu proyek saya, ada lah dikit-dikit." "Oh, boleh Pak." "Nanti kalau udah lulus saya rekomendasikan jadi dosen sekalian." *** "Selamat Mutia, udah lulus S2!" "Terima kasih Prof. Harjo!" "Kamu jadi mau jadi dosen kan? Saya bisa tulis rekomendasi." "Ya Pak." *** "Bu Mutia, dipanggil ke ruangan Pak Dekan." "Ada apa ya Mbak Admin?" "Ada yang mau diobrolin katanya." "Jam berapa mbak?" "Jam 1, habis makan siang." *** "Ada apa Pak Dekan?" "Bu Mutia kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?" "Iya Pak." "Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?" "Iya Pak." "Biar karir Bu Mutia lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3." "Wah, kalau nggak gimana Pak? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua." "Nanti karir Bu Mutia stuck di situ." "Oh gitu, oke Pak." *** "Mbak Admin, kalau saya mau daftar S3 di univ sini aja, syaratnya apa aja?" "Kok gak ke luar negeri aja Bu?" "Anak saya baru masuk kuliah, di jurusan sebelah, adiknya mau masuk SMA." "Wah udah gede." "Iya, saya dulu nikah muda dan punya anak cepet." "Oh gitu, saya cek dulu ya syarat-syaratnya Bu, nanti saya hubungi." *** "Bu Mutia, syaratnya ini Bu: Ijazah sama Transkrip S1 dan S2, Hasil tes TPA, Hasil tes TOEFL, sama Proposal Penelitian." "Tes TPA sama TOEFL saya udah kadaluarsa, harus tes lagi?" "Iya Bu. Oh ya, nanti juga ada tes lagi dari jurusan." "Bentar, saya ngajar di jurusan Farmasi ini, punya beberapa paper di jurnal internasional di bidang ini juga, masih harus dites kemampuannya?" "Iya Bu, memang aturannya begitu." "..." *** "Mbak Admin, ini saya udah dapat tes TPA dan TOEFL saya, ada reimburse-nya?" "Gak ada Bu." "Hah? Kok gitu, bukannya ini saya melaksanakan tugas secara profesional? Kok jadi uang saya pribadi yang keluar?" "Memang aturannya begitu Bu." "Uang pendaftaran ke universitas juga nggak ada reimburse-nya?" "Gak ada Bu." "..." *** "Pak Dekan, saya kan udah urus pendaftaran S3 ke sini, untuk biaya UKT per semesternya gimana?" "Sekitar 15 juta per semester Bu." "Wah, saya gak kuat harus bayar segitu." "Bu Mutia cari beasiswa aja, ada LPDP atau BPI." "Bentar, ini saya kan melaksanakan tugas secara profesional kan Pak? Atas perintah Fakultas?" "Iya Bu." "Tapi saya disuruh cari pendanaan sendiri? Antara bayar sendiri atau beasiswa cari sendiri?" "Iya Bu. Memang begitu. Saya dulu juga begitu." "..." *** "Prof. Harjo, bisa jadi promotor S3 saya?" "Bisa Bu Mutia, tapi saya lagi minim funding beberapa semester ke depan. Hampir semua guru besar di fakultas kita lagi susah Bu." "Oh gitu Prof, kalau tanpa funding, gimana?" "Bu Mutia harus biayain penelitian sendiri." "Maksudnya?" "Beli mencit, reagen, bahan kimia, sama alat-alatnya secara mandiri Bu." "Bentar, jadi selain harus bayar UKT, saya juga harus bayar penelitiannya?" "Iya Bu." "Kan ini saya bertugas secara profesional kan Prof? Ada surat dari Fakultas loh saya disuruh Tugas Belajar, kok pakai uang pribadi?" "Saya dulu juga gitu Bu. Memang begitu." "..." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari lembaga beasiswa yang di-apply kemarin." "Oh iya Mbak Admin, sudah ada pengumumannya?" "Iya Bu, ini ada suratnya dari LPDP sama BPI. Dibuka aja Bu." "..." "Kenapa Bu, kok sedih?" "Dua-duanya nggak keterima Mbak, padahal saya juga PNS Dosen." "Waduh, jadi gimana Bu?" "Terpaksa bayar UKT pakai uang pribadi." "..." *** "Mbak Keuangan Fakultas, ini kok gaji saya tinggal gaji pokok PNS doang? Ini gaji pokoknya mana di bawah UMK pula." "Bentar saya cek ya Bu Mutia." "Tolong ya mbak, itu semua tunjangan sama serdos jadi ilang semua, saya lagi perlu biayain anak-anak saya." "Bu Mutia mulai tugas belajar semester ini?" "Iya Mbak." "Oh pantes, memang gitu aturannya Bu, selama tugas belajar yang diberikan hanya gaji pokok PNS." "Hah, kok gitu? Saya kan mengerjakan tugas ini atas perintah Fakultas?" "Memang aturannya begitu Bu." "..." *** "Halo Pak TU Kampus jurusan sebelah? Ini kok anak saya dapat UKT maksimum?" "Iya Bu, kan Ibu PNS." "Gak bisa daftar KIPK gitu?" "PNS gak bisa Bu. Pejabat dikbud bilang gitu kemarin." "Tapi gaji saya tinggal gaji pokok doang karena Tugas Belajar. Jadi di bawah UMK." "Wah, saya gak bisa bantu Bu. Memang aturannya begitu." "..." *** "Prof. Harjo, Alhamdulillah ini paper penelitian kita accepted di jurnal Q1." "Alhamdulillah. Ya udah, urus administrasinya ya." "Saya harus bayar APC Prof." "Berapa?" "USD 3000 Prof. Open Access berbayar. Kalau gak gitu, nunggu review aja bisa 1.5 tahun." "Waduh, hibah penelitian kita cuma sanggup bayar 10% dari itu." "Sisanya gimana?" "Kamu bayar sendiri." "Hah?" "Memang begitu. Saya dulu juga gitu" "..." *** "Prof. Harjo, biar saya lulus, saya butuh berapa paper jurnal Q1?" "Perlu empat Bu Mutia. Baru satu yang kemarin kan ya?" "Iya Prof." "Berarti yang tiga lagi sama kaya kemarin lagi? Biaya penelitian dan APC jurnal dari saya semua?" "Iya, terpaksa begitu, kita lagi krisis funding." "..." *** "Selamat ya Bu Mutia, sudah berhasil defense." "Terima kasih atas bimbingannya selama ini Prof. Harjo." "Saya minta maaf gak bisa bantu banyak ya Bu Mutia." "..." *** "Pak Dekan, saya mau resign." "Hah, kan baru lulus S3 Bu?" "Saya dapat offer di LN Pak, saya kelilit utang ratusan juta karena biayain penelitian, APC jurnal, kuliah anak pertama saya, sama sekolah adiknya." "Gak bisa Bu, kalau tugas belajar ada perjanjian harus mengabdi 2n+1." "Maksudnya?" "Kan Bu Mutia kemarin Tugas Belajar 4 tahun, berarti harus tetap di sini selama 9 tahun ke depan." "Hah?" *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat." "..." "Kenapa Bu?" "Kok saya dapat hukuman disiplin sedang? Kan saya lulus S3 kemarin 4 tahun? Udah perpanjang dari yang harusnya 3 tahun." "Ijazah Ibu bulan apa keluarnya?" "Oktober Mbak." "Waktu mulai S3 bulan apa?" "Agustus Mbak." "Berarti Ibu itungannya lulus 4 tahun 2 bulan Bu, lebih dari batas waktu." "Kan saya defense Juli? Sisanya cuma nunggu jadwal wisuda?" "Memang aturannya begitu Bu. Di Permendikbudnya ada Bu." "..." *** "Mbak Keuangan Fakultas, ini bener take home pay saya cuma segini?" "Bentar Bu saya cek." "Kok gak jauh beda sama pas waktu saya tugas belajar?" "Ini potongan karena hukuman disiplin sedang Bu." "Berapa lama bakal segitu?" "Setahun Bu. Aturannya memang begitu." "..." *** "Mbak Admin, saya mau mengajukan naik jadi Lektor Kepala, saya hitung kum saya sepertinya sudah cukup." "Ini formulirnya ya Bu, diisi selengkap-lengkapnya." "Oke Mbak." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat. Permohonan naik jabatan fungsional jadi Lektor Kepalanya ditolak Bu." "Hah, kok bisa?" "Ini ada empat jurnal internasional yang Ibu publikasikan selama S3." "Masalahnya apa?" "Gak bisa dihitung Bu. Publikasi selama tugas belajar gak bisa dipakai." "Berarti saya perlu penelitian dan publikasi empat jurnal internasional lagi dari awal, buat menggantikan kum dari itu semua?" "Iya Bu. Aturannya memang begitu." "..." *** "Mbak Admin Lembaga Penelitian Kampus, ada bukaan proposal riset gak? Saya gak kuat lagi kalau harus bayar pakai uang pribadi." "Ini ada beberapa Bu, mungkin bisa dicoba." "Bentar ya Mbak, saya baca-baca dulu." "Oke Bu." "Mbak, ini principal investigator risetnya harus minimal Lektor Kepala atau Guru Besar?" "Iya Bu." "Jadi, untuk jadi Lektor Kepala saya butuh dana riset, dan untuk dapat dana riset saya perlu jadi Lektor Kepala?" "Iya Bu. Aturan proposalnya memang begitu." "..." *** "Halo Bu Mutia, ini Admin Lembaga Penelitian Kampus." "Oh ya, gimana Mbak?" "Ini ada bukaan proposal yang gak ada minimal jabatan fungsionalnya Bu." "Wah mantab, bentar ya saya baca-baca." "Ya Bu." "Mbak, ini memang gak boleh ada komponen honor penelitian? Sama sekali?" "Iya Bu. Termasuk Ibu juga gak boleh menggaji tenaga Ibu sendiri selama riset, karena sudah termasuk di tupoksi Ibu sebagai dosen." "Hah? Lalu honor peneliti juga gak bisa? Saya gak bisa bayar asisten mahasiswa saya dari hibah?" "Gak bisa Bu, aturannya memang gitu." "..." *** "Prof. Harjo, saya mau konsultasi sebentar." "Ah, Bu Mutia, masuk Bu silakan." "Dulu waktu Prof bimbing saya S2 kan bisa ada sedikit honor, gimana caranya Prof? Ini semua hibah penelitian gak ada yang bisa bayar saya dan mahasiswa." "Oh, gampang itu, saya dulu masukin komponen 'jasa konsultasi' ke pihak ketiga. Pihak ketiganya yang bayar Ibu dulu." "Wow, kok saya gak kepikiran. Pihak ketiganya siapa Prof?" "PT. Riset Luar Biasa, punya istri saya, jadi saya gak perlu bayar fee pinjam nama." "..." *** "Halo, Bu Dewi, ini Mutia." "Mutia muridnya suami saya dulu?" "Iya Bu, semoga sehat semua ya sekeluarga. Kalau saya mau pinjam nama PT. Riset Luar Biasa buat komponen jasa penelitian bisa Bu?" "Oh bisa banget, sebentar saya kirimkan ketentuan dan fee-nya." "Ini total dana hibahnya kecil sih Bu, cuma 100 jutaan, soalnya buat dosen peneliti pemula." "Oh gitu, kamu masukin aja 'jasa konsultasi' ke kita 30 juta. Nanti kita potong 10 juta buat fee, yang 20 juta bebas kamu pakai buat honor asisten." "Fee-nya 10 juta sendiri?" "Iya, aturan perusahaan kami memang begitu. Waktu suami saya minjem nama seniornya dulu dia juga gitu." "..." *** "Halo Bu Mutia, ini dari Admin Lembaga Penelitian Kampus." "Oh ya, ada apa Mbak?" "Mengingatkan minggu depan waktunya monitoring dan evaluasi perkembangan riset dari proposal Ibu yang kita terima kemarin." "Hah? Kan dananya belum turun? Tim kami belum juga beli reagen dan alat, apalagi mulai risetnya." "Biasanya yang lain udah nalangin dulu Bu pakai dana pribadi. Dana nanti turunnya tengah tahun." "Tengah tahun? Sekarang aja udah April dan paper publikasinya harus udah terbit di Desember?" "Iya Bu. Memang aturannya begitu." "..." *** "Bu Mutia, saya minta tolong boleh." "Minta tolong apa Prof. Harjo?" "Ini minta review 2 paper ini, request dari 2 jurnal internasional tempat Bu Mutia publikasi pas S3 kemarin." "Oh, iya Prof. Ada honornya?" "Gak ada. Dari jurnalnya memang gak ngasih honor buat review." "Jadi dari APC USD 2000 yang dibayar sama penulis kemarin itu, gak ada sepeser pun yang masuk ke reviewernya?" "Iya, dianggap udah tupoksi akademisi. Memang gitu aturannya." "..." *** "Bu Mutia, ini dari Lembaga Penelitian Kampus." "Oh iya, gimana?" "Mau menagih luaran paper Bu. Sekarang kan bulan Desember, jadi harus sudah terbit." "Wah, saya masih belum dapat jawaban review dari jurnalnya, saya udah submit November kemarin." "Berarti belum terbit ya Bu?" "Belum." "Wah, kalau begitu ini dari lembaga hibahnya ada sanksi Bu." "Hah? Apa sanksinya?" "Ibu di-blacklist dari mengajukan riset lewat hibah ini selama 5 tahun ke depan. Mohon maaf ya Bu, aturannya memang begitu." "..." *** "Hamid! Kok pulang gak ngabar-ngabarin Nak? Tasya gak ikut?" "Iya Mah, kan awal Ramadhan. Mau sekalian ziarah ke makam Papah. Tasya gak dapet cuti Mah, sama kan susah bawa Nana, masih 1 tahun." "Oh gitu. Ya udah, masuk aja dulu, kan udah malem. Besok aja ziarahnya. Pas banget tadi Mamah tadi masak ayam goreng crispy." "Ya Mah." *** "Masakan Mamah gak berubah, tetep paling enak sedunia. Gimana mah kondisi kampus?" "Ya gitu lah. Apa yang mau diharapkan? Udah capek Mamah juga." "Kok gitu, kenapa Mah? Rasanya pembimbing Hamid dulu baik-baik aja." "Pembimbing Hamid dulu siapa?" "Prof. Tejo Mah" "Prof. Tejo dari jurusan Teknik Lingkungan?" "Ya kan Hamid emang kuliah di Teknik Lingkungan, Mamah gimana sih." "Rasanya dia gak pernah dapet hibah riset, kok dia udah Prof aja. Terus berkecukupan bener hidupnya, gak kayak kita, utang sana sini." "Oh itu, jadi gini cara dia Mah" "..." "..." "Oh gitu?" "Iya Mah." *** "Mbak Admin Jurusan, jadwal kuliah saya semester ini bisa dibuat Senin sama Jumat doang?" "Bisa Bu Mutia. Tapi bakal padat Senin sama Jumatnya." "Gak apa, saya harus ngerjain konsultansi di perusahaan anak saya tiap Selasa sampai Kamis. Kalau gak gitu gak cukup penghasilan saya buat nutup utang." "Di Jakarta Bu?" "Iya, makanya gak bisa commuting, saya harus menginap di rumah anak saya." "Absennya gimana Bu?" "Kamu bisa 'atur'?" "Oh, 'atur'? Kaya biasanya dosen lain ya Bu?" "Iya." "Siap. Aman Bu." *** "Halo, Dea?" "Ya Bu Mutia?" "Beasiswa S2 kamu kan ada kewajiban asistensi, kamu isi kelas Topik Pilihan Farmasi saya Jumat besok ya, kerjaan saya di sini belum selesai." "Siap Bu. Untuk bimbingan tesis Senin Ibu ada?" "Belum tahu, kontak saya aja nanti." "Ya Bu." *** "Ini kelas TPF kita yang ngisi emang Kak Dea terus? Gue jarang masuk, tapi sekalinya masuk kok Kak Dea lagi?" "Gak tahu nih, Bu Mutia cuma masuk pas pengenalan silabus aja. Sisanya Kak Dea." "Oh gitu, sibuk kayanya, jadi anggap aja dosen kita Bu Dea ya, asistennya Kak Mutia." "Iya, wkwkwk." *** "Untuk UAS TPF kalian, buat makalah ya. Ini tugas individu ya, bukan kelompok. Ini formatnya." "Baik Bu Mutia. Untuk penilaiannya gimana Bu?" "Kalau kalian sekedar nulis sampai selesai, nilainya C. Kalau berhasil sampai terbit di SINTA 6, C+. Terbit di SINTA 5, B-. SINTA 4, B. SINTA 3, B+, SINTA 2, A-. Yang paling tinggi SINTA 1, nilainya A." "Berarti harus terbit di jurnal nasional Bu?" "Iya, cantumkan saja nama saya jadi corresponding author di belakang nama kalian. Biasanya reviewernya udah pada tahu nama saya, kemungkinan diterimanya besar." "Baik Bu." *** "Enak ya kuliah Bu Mutia." "Iya, tugasnya cuma 1 makalah doang, sisanya diceramahin asisten." "Recommended lah buat kuliah pilihan." "Pantes aja isinya 50-an mahasiswa terus, penuh." *** "Bu Mutia, ini ada surat dari pusat." "Apa isinya?" "Penghargaan jurnal nasional terbanyak sekampus tahun ini." "Oh, mantab. Lumayan juga dua semester ngajar TPF." "Apa hubungannya Bu?" "Ada 2 semester kali 50 mahasiswa bikin makalah jurnal nasional, semua nyantumin nama saya." "..." "Pastikan semester depan saya ngajar TPF lagi." *** "Halo, Bu Mutia, ini Dea." "Kenapa Dea?" "Ini honor asisten gak masuk dari jadwal yang seharusnya Bu." "Oh, iya, biasanya memang telat 3 bulan." "Honor asisten yang cuma 500 ribu per semester itu selalu telat Bu? Walaupun dari 15 pertemuan, 13 di antaranya saya yang ngajar?" "Iya, memang begitu. Dari jaman saya mahasiswa dulu juga gitu." *** "Erna, lu apa kabar?" "Widih, tumben kontak gue Mut. Gimana nih?" "Lu masih jadi dosen di Malaysia?" "Masih lah, ogah gue balik, apalagi denger cerita elu. Di sini segalanya difasilitasi, mau APC jurnal puluhan juta juga dibayarin kampus." "Wih, coba kampus gue kaya gitu ya." "Lu bisa catut nama gue aja jadi co-author, entar gue reimburse-in ke kampus sini." "Wah menarik, ya udah, eksekusi ya." *** "Puput, pembimbing lu dulu Bu Mutia bukan?" "Iya, kenapa gitu?" "Ini kok skripsi gue tiba-tiba terbit jadi jurnal internasional ya? Cuma diterjemahin ke bahasa Inggris. Datanya sama persis." "Bagus dong, masalahnya apa?" "Nama pertamanya Bu Mutia. Gue jadi nama kedua." "Lah, kan emang gitu, gue dulu juga gitu." "Temen kita yang lain gimana?" "Si Fani bimbingannya Prof. Harjo juga gitu dulu." "Oh, berarti normal ya." "Kayanya sih gitu. Semua orang juga gitu." "Iya sih, toh kita udah lulus ini, gak ngaruh juga." *** "Selamat Bu Mutia, dapet penghargaan lagi, jurnal internasional terbanyak." "Makasih Prof. Harjo." "Kok bisa 12 jurnal internasional dalam setahun? Gila, fundingnya dari mana?" "Saya bikin 4 systematic literature review, 4 survey paper, sama 3 review konsep Prof. Kan sama aja mau paper riset atau review, yang kampus tahu mah sama-sama Q1. Yang paper riset cuma 1, dari bimbingan saya, itu juga semua mahasiswanya yang danain." "Oh gitu, modal baca sama nulis doang ya." "Iya, gak perlu keluar duit ratusan juta buat mencit, reagen, bahan kimia, sama alat." "Mantab, APC jurnalnya dari mana?" "Ada co-author saya di Malaysia, dia bisa claim reimburse buat APC sampai ratusan juta, tinggal catut namanya." "Oh, mantab. Saya dulu juga gitu." *** "Halo, Mutia?" "Oh Bu Dewi, ada apa ya?" "Ini kan awal tahun, waktunya ngajuin proposal hibah riset lagi, minat pinjam nama PT. Riset Luar Biasa?" "Oh, nggak Bu. Saya udah punya sendiri Bu, punya si Hamid anak saya. Jadi saya gak perlu bayar fee peminjaman." "Oh gitu, kalau perlu lagi kontak saya ya." "Siap Bu." *** "Selamat Prof. Mutia udah pengukuhan guru besar." "Makasih Mbak Keuangan Fakultas. Ini hasil dari publikasi jurnal nasional dan internasional rutin mbak. Cuma mau cek, ini Take Home Pay-nya memang bener segini?" "Iya Bu." "Besar sekali, beda banget sama saya beberapa tahun lalu." "Iya Bu, memang aturan penggajiannya begitu." "Jadi antara Guru Besar dan Dosen Muda itu selisihnya kaya langit dan bumi?" "Iya Bu, memang begitu aturan kampus kita." *** "Halo, Prof. Mutia, Pak Dekan kan mau pensiun, gantikan beliau ya semester depan. Cuma Prof yang memenuhi syarat di fakultas sana." "Oh baik Bu Rektor." "Nanti akan ada tunjangan struktural lagi di atas tunjangan guru besar." "Wah, terima kasih Bu. Memang beda sekali ya Bu jaman dosen muda sama sekarang." "Iya, saya dulu juga gitu." *** "Mbak Admin, bisa panggil Bu Lala?" "Ada keperluan apa ya Bu Dekan?" "Ada yang mau saya obrolkan." "Jam berapa Bu?" "Jam 1, habis makan siang." *** "Ada apa Bu Dekan?" "Bu Lala kan udah 5 tahun jadi dosen di sini kan ya?" "Iya Bu." "Udah Lektor juga kan ya? Tapi ijazah masih S2 ya?" "Iya Bu." "Biar karir Bu Lala lancar, kami minta untuk Tugas Belajar S3." "Wah, kalau nggak gimana Bu? Saya lagi banyak pengeluaran. Mana utang waktu S1 belum kebayar semua." "Nanti karir Bu Lala stuck di situ." "Oh gitu, baik Bu." *** "Mamah, Debi baru keterima nih di PTN favorit." "Waduhh, mama harus mulai Tugas Belajar nak." "Kenapa gitu?" "Penghasilan mama tinggal gaji pokok doang. Semua tunjangan distop." "Terus gimana Debi bayar UKT Mah?" "Coba kamu ke TU Kampus." *** "Pak TU kampus" "Gimana Debi?" "Saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT" "Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya" "Baik Pak"

Indonesia
48
180
905
94.8K
Yovita Maria retweetledi
Pop Base
Pop Base@PopBase·
Kim Woobin and Shin Mina stun in new pictures from their wedding.
Pop Base tweet mediaPop Base tweet media
English
1.9K
64.7K
277K
7.6M
Yovita Maria
Yovita Maria@yopijoo·
Balas DM min @Telkomsel Aarghh capekkkk bangetttt komplain soal indihome iniiiiii 😤😤😤
Indonesia
1
0
0
54
Yovita Maria retweetledi
Tukang Mobil Mobilan
Tukang Mobil Mobilan@MasMasBiassaa·
Emang udah paling worth itu beli mobil bekas sih paman, meski tahun agak tua sedikit beberapa tahun kebelakang, tetapi dari sisi kalkulasi masih tergolong manusiawi Gapercaya? Yang beli mobil baru secara cash, coba cek sendiri aja deh di faktur mobil masing², pasti harga yang tercantum di faktur & nominal uang yang dikeluarin beda Semisal harga 200 sekian juta, di faktur biasanya tertulis 100 sekian jutaan, sisanya buat pajak dll padahal dari pabriknya & dealernya sendiri juga tentu udah bayar pajak ke pemerintah kan yah, kenapa kastemer juga dipajakin😂 Belom lagi kalo ngomongin biaya servis, perawatan dll pasti ada PPN juga kan Gongnya apa? Yak, bayar PKB masih kena opsen dll, hahahaha
Indonesia
163
833
2.2K
219.7K
Yovita Maria
Yovita Maria@yopijoo·
@Telkomsel Sakia dan Sabil balas segera ya. Jangan seperti bulan Juli, tidak ada solusi dari pesan yang saya kirim. Thanks
Indonesia
1
0
0
39
Yovita Maria retweetledi
Tukang Mobil Mobilan
Tukang Mobil Mobilan@MasMasBiassaa·
Hari hari jualan di MP Fesnuk☺️
Tukang Mobil Mobilan tweet media
Indonesia
44
8
203
40.7K