@edykhemod@azharramdhani daerah ku bang segala jenis bbm udah susah bgt dapatnya butuh antri berjam jam hanya untuk dpatin pertalite😭
btw daerah ku polman sulbar
@BNICustomerCare ini gimana sih min, 2 hari lalu sya melakukan penarikan di atm bni, saldo udah kepotong tpi uang ngk keluar dri mesin atm😭 sedih dan kecewa bgtttttt💔
@kompascom Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya akan melanjutkan gugatan perkara ini apapun hasilnya
Mohon dukungan & doa dari semuanya, demi Pendidikan kita. Panjang umur Pekerja Pendidikan 🙏
Seorang guru honorer bernama Reza Sudrajat menggugat Undang-undang APBN tahun 2026 ke Mahkamah Konstitusi (MK) gara-gara program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya berimbas dipangkasnya anggaran pendidikan.
Baca selengkapnya: edukasi.kompas.com/read/2026/02/1….
~SN #MBG#GuruHonorer#MK#AnggaranDipangkas
Ini adalah setetes sampel sperma.
Sesungguhnya peluang kita untuk pernah lahir dan hidup itu keciiiiiiiiillllll sekali.
Hanya 1 dari jutaan sperma, Ini baru dihitung dari jumlah sel sperma yang masuk ke Rahim bersamaan dengan kita.
Belum dihitung dari peluang bapak kita bertemu ibu kita. Kakek kita ketemu nenek kita dan seterusnya.
Begitu kecilnya sehingga saya sangat menyadari kehidupan kita adalah sebuah takdir keajaiban.
Bangkitlah teman-teman, keberadaan kita terlalu mahal untuk dihabiskan dengan menyerah.
mohon bantuannya untuk di Share...🙏
Berkaitan dengan adanya Bibit Siklon Tropis yakni:
1. Invest Siklon 91S di barat Lampung (dalam 24 jam mendatang berpotensi menguat) dan;
2. Invest Siklon 93S di selatan NTB.
kami mengharapkan masyarakat baik di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB dan NTT untuk meningkatkan kewaspadaan akan potensi Kebencanaan Hidrometeorologi; Banjir, Longsor, Angin Kencang, Gelombang Tinggi dan Petir untuk wilayah yang telah kami sebutkan diatas.
Penguatan Mitigasi Potensi Bencana diharapkan diterapkan oleh masyarakat, pemerintah maupun dunia usaha.
Kondisi gangguan cuaca ini kami prakirakan terjadi setidaknya sampai akhir bulan Desember 2025.
Sejak awal bencana datang, seharusnya para Pelayan Masyarakat itu bicara yang baik-baik, yang membuat orang-orang tidak makin terluka.
Tapi yang terjadi seperti biasa, ada saja kalimat-kalimat yang menyakiti.
Bahkan gotong royong masyarakat, solidaritas masyarakat juga disinisin.
Padahal semua uang negara itu juga milik masyarakat, para pelayan masyarakat itu hanya diamanahi menyalurkan seperti seharusnya.
Sekarang, seolah-olah bantuan dari negara seperti bantuan dari kantong pribadinya. Bukankah uang negara ini selayaknya hak masyarakat juga.
Para Pelayan Masyarakat, belajarlah berkomunikasi yang lebih bijak. Jika memang merasa tidak layak, beri amanah itu pada yang lebih pantas. Mundur dengan terhormat sebagai manusia.
Masyarakat membantu masyarakat sebab mereka merasa senasib, sebab rasa persaudaraan dan kemanusiaan.
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra#majalahforumkeadilan#tsunamiaceh#operasikemanusiaan#hercules#susiair#dahlaniskan#hukumdanlogistik#militersipil#bencanaindonesia
Pagi ini ada seorang kawan yang nelpon mimin panik mencari kabar keluarganya di Aceh yang hilang kontak sejak banjir. Dia nanya apakah mimin punya kontak jejaring relawan di sana.
Kawan mimin ini bukan aktivis atau orang yang tiap hari ngomongin isu negara. Cukup pekerja kantoran yang hidupnya normal-normal saja.
Sayangnya, mimin gak bisa bantu dia karena belum punya jaringan sampai sana.
Dan di titik ini semuanya jadi kerasa banget: Hal sesederhana kita bisa menghubungi orang yang kita sayang pun ternyata tidak bisa lepas dari politik.
Di negara yang presidennya jelas-jelas ngeremehin dampak deforestasi dengan ngomong, "Ke depan kita harus tambah tanam kelapa sawit. Nggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestasi. Namanya kelapa sawit, ya pohon ada daunnya dia menyerap karbon dioksida."
Lalu motong anggaran BMKG, Basarnas, dan BNPB untuk proyek negara yang ngeracunin banyak anak di Indonesia: MBG.
Terus kalau kita memprotes dan ngekritik segala ke(tidak)bijakan tersebut — malah bakal dicap sebagai 'wahabi lingkungan', dilindas, diburu, dibunuh, dipenjarain, dianggap kriminal dan musuh negara.
Dan jangan lupa, segala bencana alam yang terjadi serta kegagalan pemerintah untuk menangani dan MENGHINDARINYA — juga dibarengi dengan penangkapan dua aktivis lingkungan dan HAM yang selama ini mengadvokasi dan memperjuangkan ketahanan lingkungan hidup kita semua: Dera (staff Walhi Jateng) dan Munif (Aksi Kamisan Semarang).
Jadi ini saatnya kita rekam dengan baik di kepala kita:
Walaupun isu-isu politik ini terasa begitu jauh dari kehidupan kita, tapi segalanya yang hari ini kita perjuangkan bareng-bareng, akan menentukan apakah besok kita bisa mengangkat telepon untuk sesimpel bertanya, "Mom, are you okay?"
Alright, let me give this article for the umpteenth time. I will never get tired of sharing this if it’s about the rape that happened during the 98 tragedy. Happy reading and this is pretty disgusting; yinnihuarendexueleishi.blogspot.com/2010/02/1998_2…
Buddha said: “Quiet the mind, and the soul will speak.” Kalau hal-hal mulai kerasa buntu dan enggak ketemu solusi, mungkin bisa coba hening sejenak buat lakuin silent walking. Apa itu?
Peristiwa itu pertama kali menerima anak perempuan itu pada usia 12 tahun, saat ia baru saja lulus sekolah dasar. Saat ia baru saja mencicipi sekolah menengah pertama beberapa saat. Peristiwa itu datang menimpanya begitu saja. Tak ada yang pernah memberitahunya jika prasyarat menjadi remaja adalah menghadapi peristiwa yang gagal ia pahami, namun membuatnya kehilangan seluruh masa depannya.
Fang Si-Chi's First Love Paradise adalah sedikit atau mungkin satu-satunya novel yang mengilustrasikan child grooming kepada anak perempuan dengan sangat rinci, dan dengan perspektif korban. Sebagai karya sastra yang ditulis oleh feminis Taiwan, novel ini penting sebab seringkali peristiwa child grooming di Indonesia justru masih diromantisasi dalam karya sastra maupun film.
Saya sangat terkesan dengan Fang Si-Chi's First Love Paradise dan bermaksud melakukan pembacaan secara mendalam terhadap novel ini dalam kelas online pencegahan child grooming yang penting diikuti oleh orang tua dan pendidik.
Kelas berbiaya gratis, namun teman-teman wajib membeli novelnya lewat @akalbuku agar proses belajar makin baik. Silakan.
Tadi di kenduri suara ibu indonesia di Yogyakarta, Mbak Diah Widuretno petani gunung kidul ngendikan: Lha, di websitenya BGN aja terinfokan kalau BGN teken MoU nya sama korporasi.
Ini menjawab kenapa foto-foto MBG yg beredar adalah burger, spagheti, frozen food, susu pun susu ultra proses.
Menjawab juga kenapa banyak kasus keracunan. Kata Mbak Laksmi Savitri, ya karena masak dalam skala besar, pada akhirnya beli pangan industri yang 1) mudah disimpan; 2) murah. Nggak ada bahan pangan lokal, adanya UPF. Nggak ada rempah, adanya saos. Anak-anak kita dikasih makan bukan dengan orientasi pemenuhan gizi, tapi dengan rantai pasok sistem pangan industri. Kalo belanjanya makin buanyak, makin dapat murah. Akhirnya stok disimpen kelamaan, lupa kalo kadaluwarsa.
Kenduri Suara Ibu Indonesia sedih karena Ibu2 kasih makan anak itu beli bahan pangan di pasar yang fresh dan terbaik. Tapi kok di MBG ini anak-anak dimasakno skala besar, yang penting tersedia, makanya maunya yg instan dan gampang.
Padahal bisa lho kalau tata kelolanya nggak sentralistik ya dengan mengaktivasi dapur berbasis sekolah aja, masak skala kecil2, dengan begitu anak2 akan dapat makanan yang bermartabat dan freshhhhh.
Ibu-ibu menuntut hak anak2 untuk makanan layak dan bermartabat.
Belajarlah menyalakan cahaya sendiri. Jangan terus-terusan nebeng cahaya. Agar kamu tidak terkekang saat harus menyampaikan sesuatu. Agar kamu tetap merdeka dengan isi kepalamu. Tidak apa-apa terlihat kecil tapi lehermu tidak diikat agar patuh dan nurut seperti hewan pandir.