fii
357 posts

fii retweetledi

Makanya dalam islam juga wanita jangan berlarut-larut sedihnya, karena buat wanita.. sedih itu ga cuma emotional tapi physically
Ngaruh ke badan, pikiran, kesuburan, bikin auranya kusam, energy drowning. Karena ya, wanita diciptakan dari tulang rusuk makanya lebih sensitif.
Semoga semua wanita yang sedang bersedih dimudahkan urusannya ya,
Just us (women) and our allahumma inni audzubika minal hammi wal hazan
“Ya Allah aku berlindung padamu dari rasa sedih yang berlarut (ham) dan (hazan) rasa khawatir terhadap yang belum terjadi”
against the world
Nicholas Fabiano, MD@NTFabiano
Emotional suppression is associated with an earlier death.
Indonesia

Renewal setahun otomatis gak perlu chat” untuk renewal lagi karena otomatis renewal tiap bulan

fii@zlyynfii
Indonesia
fii retweetledi
fii retweetledi

Guys, ada kasus dari Turki yang bikin gue geleng-geleng kepala, dan lo pasti bakal ngerasa sama: campur aduk antara shock, kasihan dan marah
Ada cewek 18 tahun namanya Berfin. Cantik, normal, masa depan masih panjang. Tapi pas putus sama mantannya, cowok itu ngamuk.
Bukan cuma marah biasa. Dia siram sulfuric acid langsung ke muka Berfin.
Hasilnya? Mata kanannya buta total, kulit wajahnya meleleh parah, bekas luka menganga kayak neraka di dunia nyata. Hidupnya hancur dalam hitungan detik.
Orang-orang pada jijik liat dia.
Tapi tunggu dulu… ini baru mulai.
Cowoknya dihukum 13 tahun penjara. Seharusnya tamat kan? Ternyata nggak.
Dari balik jeruji, dia mulai serangan “aku cinta kamu” ke Berfin non-stop.
Surat, panggilan, janji-janji manis.
Berfin yang udah kehilangan segalanya—wajah, mata, harga diri, bahkan dukungan keluarga—akhirnya luluh.
Dia tarik laporan sendiri, minta cowoknya dibebasin, dan… langsung nikah sama pelakunya. Sekarang mereka suami-istri. Resmi. Bahagia di mata mereka berdua.
Gue ulang lagi ya biar lo bisa cerna cerita ini: cewek yang mukanya disiram air keras sama mantan, yang matanya buta dan wajahnya hancur karena dia, yang hidupnya hancur karena dia… pilih nikah sama dia.
Ini bukan drama Korea. Ini nyata.
Lo pasti lagi mikir: “Kok bisa sih?!”
Ini namanya trauma bonding atau yang lebih populer disebut Stockholm syndrome versi cinta beracun.
Si cowok nggak cuma rusak fisik Berfin. Dia rusak psikologisnya juga.
Dengan menyiram acid, dia secara sadar bikin Berfin “tidak laku” di mata orang lain. “Siapa lagi yang mau sama lo yang kayak gini?” Itu pesan diam-diam yang dia tanam.
Lalu dari penjara dia jadi “pahlawan” satu-satunya yang masih bilang “aku cinta kamu”.
Di saat Berfin lagi paling rapuh, paling sendirian, paling takut masa depan… muncul satu orang yang masih “terima” dia.
Itu bukan cinta. Itu jebakan.
Dia hancurkan pilihan Berfin satu per satu, terus kasih “cinta” sebagai satu-satunya jalan keluar.
Klasik banget pola abuser: rusak → isolasi → love bombing → kontrol total.
Dan Berfin? Dia bukan bodoh. Dia korban yang otaknya lagi dalam mode survival. “Lebih baik sama yang udah ngerusakin ini daripada sendirian selamanya.”
Ini bukan cerita cinta yang aneh. Ini cerita horor soal kekuasaan, manipulasi, dan betapa rapuhnya manusia pas lagi terluka parah.
Gue nggak bilang Berfin nggak punya salah. Tapi lo lihat sendiri kan? Satu keputusan emosi di titik terendah bisa nentuin sisa hidup lo.
Nah, di Indonesia? Pola yang persis sama ini BUKAN barang langka. Malah JADI KASUS SEHARI-HARI.
Cuma bedanya, di sini jarang sampe level acid attack.
Yang lebih sering? Cewek-cewek yang dipukul, diselingkuhi, dikontrol, dihina, diancam… tapi tetap nempel, tetap bela, bahkan tarik laporan polisi sendiri.
Lo pasti sering liat di timeline kan? Contohnya:
> Lesty Kejora, public figure, kena KDRT dari Rizky Billar. Dipukul, dianiaya… tapi kemudian cabut laporannya, damai, dan balik lagi. Sampe beranak pinak.
> dr Qory, dokter yang kabur ke P2TP2A karena KDRT suaminya, tapi kemudian bilang mau cabut laporan juga.
> Ribuan kasus biasa di TikTok, IG, Twitter: cewek nangis cerita “dia mukul aku karena aku salah”, “dia selingkuh tapi dia janji berubah”, “aku nggak bisa ninggalin dia, demi anak”.
Besok-besok kalau ada temen cewek lo yang lagi dihubungin mantan toxic pas lagi down… ingetin kasus ini.
Karena ini bukan cuma “kasus cinta Turki yang gila”. Ini peringatan buat kita semua.
Cinta yang bikin lo kehilangan diri sendiri bukanlah cinta.
Itu penjara baru yang lebih mengerikan daripada sel 13 tahun.
Bagaimana menurut kalian?
世界のど迫力映像@フォレスト(Forest)🕊️@investorMM
【意不】元カレに顔面を“硫酸”で焼かれた女性(18)、出所した犯人と「結婚」してしまう ■🇹🇷トルコ・ハタイ県 ・ベルフィンさん(18) ・別れ話に激怒した元カレに硫酸を浴びせられ、右目を失明・顔面が激しく変貌 ・犯人の男に懲役13年の判決が出るも、獄中からの「愛してる」攻撃に陥落 →自ら告訴を取り下げ、釈放された犯人とそのままゴールイン ・実父は絶縁し、ネット民も「理解不能」「闇が深すぎる」と絶望
Indonesia
fii retweetledi
fii retweetledi
fii retweetledi

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia

Terakhir banget naksir orang yang ketemu nyaris tiap hari pas SMP.
Jujur iya, kangen sama perasaan berdebar-debar itu. Selalu semangat menjalani hari, senyum-senyum gak jelas, dan kadang cemburu kecil—tapi semua itu bagian menyenangkan dari jatuh cinta pada seseorang.
✶@mendadaknih
kangen ga sih rasanya naksir orang beneran like having sparks all over your stomach when you look at them in real life and smile silly without you realize trs punya semangat buat menjalani hari karena lo bakal ketemu dia tiap hari
Indonesia
fii retweetledi

Lagi rame kasus grup wa mahasiswa UI mau berpendapat dari sisi medis khususnya psikologi, karena saya bukan polisi moral 😆
Kenapa banyak cowok bisa nyaman ngomongin perempuan secara objektifikasi di grup privat?
Karena ada yang namanya “disinhibisi online”.
Saat merasa aman, anonim, dan “cuma di grup”, otak kita jadi lebih berani ngeluarin sisi yang biasanya ditahan.
Ditambah lagi efek peer pressure.
Di otak, ini berkaitan dengan sistem reward:
• Dapet respon “haha”, “anjir”, “setuju”
• Dianggap lucu, dianggap bagian dari circle
• Dopamin naik.
Lama-lama, perilaku itu “dipelajari” sebagai sesuatu yang menyenangkan dan normal.
Masalahnya?
Kalau terus diulang, ini bisa mengarah ke desensitisasi.
Empati ke perempuan turun.
Perempuan gak lagi dilihat sebagai manusia utuh… tapi jadi objek.
Ini bukan hal sepele.
Dalam banyak studi psikologi, objektifikasi yang terus-menerus bisa jadi pintu awal ke:
• Pelecehan verbal
• Pelecehan seksual
• Bahkan kekerasan seksual
Jadi ini bukan cuma “becandaan cowok”.
Ini soal pola pikir yang dibentuk pelan-pelan… sampai batasnya jadi kabur.
Makanya penting banget buat sadar:
Kalau kalian cuma bisa bonding dengan cara merendahkan orang lain, itu bukan bonding.
Itu conditioning.
Dan kalau dibiarkan, dampaknya bukan cuma ke orang lain…
Tapi ke cara otak memandang manusia..
Indonesia


