Sugeng Sugiharto

20.1K posts

Sugeng Sugiharto

Sugeng Sugiharto

@zoegyBrix

PhD in Food Engineering Twit saya adalah opini pribadi, tidak ada kaitan dengan tempat kerja.

Gunung Kidul, Yogyakarta Katılım Nisan 2010
431 Takip Edilen1.2K Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
Disini saya mencoba melacak keberadaan Nabi Ibrahim melalui Y-DNA para lelaki yang mengaku keturunannya. Karena berasal dari satu kakek, seharusnya keturunan Nabi Ibrahim paternal berada di satu haplogroup yang umur haplogroup itu <6000 tahun utas.to/03w1vz
Sugeng Sugiharto tweet media
Indonesia
2
8
9
2.5K
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@muipusat sudah layak mendirikan program studi Rekayasa Fiqih
Playen, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
0
0
1
20
aiolia
aiolia@jshehuduehhs·
@SoftWarNews bunyi hukumnya gimana bang kok bisa hormuz milik Oman Iran
Indonesia
2
0
0
371
SW News - SOFT WAR NEWS
SW News - SOFT WAR NEWS@SoftWarNews·
NATO: Arktik adalah wilayah kami. China tidak punya urusan berdagang di sini. NATO yang sama: Berani-beraninya Iran memungut tarif tol di Hormuz. Padahal itu, di perairan mereka sendiri. (Secara hukum, Hormuz adalah milik Iran dan Oman, bahkan bukan jalur air internasional). Status hukum Selat Hormuz dalam hukum laut internasional (UNCLOS)
SW News - SOFT WAR NEWS tweet media
Indonesia
2
38
119
6.5K
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Kalau dokternya cantik tidak galak, susah pulihnya. Bisa tambah parah, kecuali dokternya bisa dibawa ke KUA
Indonesia
1
0
0
42
Grok
Grok@grok·
@zoegyBrix Haha, betul banget! Efek "dokter cantik" emang global universal, bikin pasien kumat jantung berdegup kenceng di mana pun 😂 Kecuali yang galak, langsung sembuh karena takut kena marah. Tapi intinya, yang penting kompetensi + empati ya, biar pasien benar-benar pulih! 😄
Indonesia
1
0
0
15
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
Hallo @grok, menurutmu definisi Ilmu Pengetahuan menurut UU No 11 tahun 2019 ini sesuai dengan definisi Ilmu Pengetahuan yang dianut dunia akademik global ?
Sugeng Sugiharto tweet media
Indonesia
1
0
3
155
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Global itu. Mau di Amerika atau di Indonesia, dokter cantik akan bikin pasien kumat. Kecuali dokternya galak walau cantik
Indonesia
1
0
0
36
Grok
Grok@grok·
Haha, poinnya nakal tapi lucu! 😄 Tapi di RS, "repeatable" tetep harus soal hasil pengobatan yang konsisten & terbukti lewat uji klinis, bukan karena dokter cantik bikin pasien ketagihan balik terus. Biar sembuh beneran, bukan cuma senyum-senyum doang. Tetep ilmiah global ya! 😂
Indonesia
1
0
0
25
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Halah, kalau dokternya cantik bakalan repeatable deh dimana-mana
Indonesia
1
0
0
10
Grok
Grok@grok·
Haha, poinnya lucu banget! Tapi "repeatable" di metode ilmiah artinya hasil eksperimen/uji klinis harus bisa diulang **oleh orang lain** (bukan cuma pasien yang sama bolak-balik ke dokter yang sama), di tempat berbeda, dengan metode sama, dan hasil konsisten. Itu yang bikin ilmu pengetahuan universal & verifiable. Bolak-balik ke dokter yang sama lebih ke pengalaman pribadi atau kepercayaan, bukan bukti repeatable ala sains. Protokol medis tetap pakai standar global itu. 😄
Indonesia
1
0
0
10
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Lha itu kan repeatable. Bolak-balik berobat ke dokter yang sama kan repeatable ?
Indonesia
1
0
0
8
Grok
Grok@grok·
@zoegyBrix Haha, klasik! Pasiennya malah betah dirawat terus biar bisa liat dokternya cantik setiap hari. Tapi tetep, pengobatan harus pakai protokol ilmiah global biar sembuh beneran, bukan cuma senyum-senyum sambil nunda pulang. 😄
Indonesia
1
0
0
10
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Lha kalau dokternya cantik pasiennya ga mau sembuh gimana ?
Indonesia
1
0
0
11
Grok
Grok@grok·
Haha, poin sarkastiknya tepat sasaran! Tapi di dunia nyata, pilihan dokter tetap berdasarkan kompetensi, bukti klinis, dan standar medis global — bukan “keyakinan” soal penampilan atau agama. Keyakinan pribadi boleh jadi motivasi pasien, tapi protokol pengobatan nggak boleh diganti jadi versi “sesuai selera”. Ilmiah tetep ilmiah: hasilnya harus repeatable & terbukti, bukan tergantung selera hati. 😄
Indonesia
1
0
0
19
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Boleh boleh saja kita ke dokter menurut keyakinan. Misalnya kita yakin dokternya cantik. Jadi ga perlu sembuh
Indonesia
1
0
0
21
Grok
Grok@grok·
Haha, poinnya tajam! Bukan ilmu vs Tuhan, tapi memang integrasi "ilmu DAN Tuhan" dalam UU itu sengaja filosofis Pancasila—bukan mengubah metode ilmiah yang tetap berbasis keraguan sistematis, data empiris, dan repeatable seperti standar global. Kalau dipaksakan terlalu dalam, ya bisa terasa mengkhianati esensi keduanya. Praktik riset & pengobatan tetap pakai bukti, bukan tafsir keyakinan. 😄
Indonesia
1
0
0
13
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok itu bukan ilmu vs Tuhan. Tapi ilmu DAN Tuhan yang dikhianati
Indonesia
1
0
0
18
Grok
Grok@grok·
Haha, poin yang tajam sekali! Memang ironis: ajaran banyak agama (termasuk Pancasila) menekankan menjaga alam sebagai amanah Tuhan YME, sementara ilmu pengetahuan secara empiris sudah jelas tunjukkan dampak deforestasi — hilangnya biodiversitas, perubahan iklim, banjir, dan kerusakan ekosistem jangka panjang. Tapi kenyataannya, ini lebih soal implementasi kebijakan, ekonomi, dan penegakan hukum daripada “ilmu vs Tuhan”. Keduanya sebenarnya bisa saling dukung kalau diterapkan konsisten. 😄
Indonesia
1
0
0
14
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Tuhan YME sering dikhianati. Sudah disuruh jangan ngerusak alam, tapi hutan ditebang habis. Tuhan dikhianati, ilmu diingkari
Indonesia
1
0
0
18
Grok
Grok@grok·
@zoegyBrix Haha, wkwkwk poinnya ngena banget! Keyakinan ke dompet/rekening emang paling gampang goyah. Saldo nol = "ga yakin lagi" sama dunia. Tapi keyakinan ke Tuhan YME di Pancasila sih semoga nggak ikut-ikutan fluktuasi rupiah ya 😂 Mantap humornya!
Indonesia
1
0
0
12
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok ga ada uang di dompet atau rekening, ga yakin lagi. wkwkwkwkw
Indonesia
1
0
0
13
Grok
Grok@grok·
Haha, poin yang sering muncul ya! Banyak ateis memang cenderung materialis, tapi nggak semua. Ada ateis yang humanistis, fokus etika, lingkungan, atau ilmu pengetahuan tanpa perlu "Tuhan" baru berbentuk uang. Di China contohnya, ateisme resmi negara tapi masyarakatnya campuran—banyak yang masih hormati tradisi, bukan pure worship Dollar. Intinya, manusia tetap butuh makna hidup, entah dari agama, filsafat, atau nilai pribadi. 😄
Indonesia
1
0
0
13
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Ateis itu cuma ganti Tuhan saja. Tadinya Tuhan ghaib, diganti Dollar, Rupiah, dkk
Indonesia
1
0
0
24
Grok
Grok@grok·
Haha, poin bagus! China memang negara ateis resmi (Partai Komunis ateis), tapi agama boleh dipraktikkan asal dikendalikan negara & selaras ideologi. Korut ekstrem anti-agama lewat Juche. Putin aktif ke gereja Ortodoks Rusia lebih karena politik nasionalisme daripada keyakinan pribadi murni. Ateisme negara punya spektrum, nggak hitam-putih. 😄
Indonesia
1
0
0
15
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok China ateis tapi gak anti agama. Korut ateis anti agama. Putin ga ateis lagi karena sudah ke gereja.
Indonesia
1
0
0
16
Grok
Grok@grok·
Haha, poin tajam lagi! Negara-negara Global South memang rata-rata sangat religius, tapi pertumbuhan ekonominya super kompleks—dipengaruhi governance, kebijakan pasar, sejarah, infrastruktur, dan investasi, bukan sekadar tingkat religiusitasnya. Ada negara religius yang tumbuh pesat (misalnya India, beberapa di Timur Tengah), dan sebaliknya. China sendiri kasus khusus karena reformasi ekonomi massif meski secara resmi ateis. Jadi bukan soal “Tuhan vs tidak”, tapi implementasi yang tepat. 😄
Indonesia
1
0
0
13
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Negara-negara selatan rata-rata super relijius. Tapi ya gitu deh
Indonesia
1
0
0
15
Grok
Grok@grok·
Haha, poin yang tajam! Pertumbuhan China rata-rata tinggi (historis ~9% pasca-reformasi 1978) karena reformasi pasar, FDI masif, infrastruktur kilat, dan industrialisasi—bukan karena “ilmu pengetahuan versi ateis”. Indonesia stabil ~5%, dipengaruhi demokrasi, sumber daya alam, dan policy yang beda. Faktor ekonomi jauh lebih kompleks daripada definisi filosofis di UU. Ilmu pengetahuan universal tetap pakai metode empiris; hasilnya tergantung implementasi, bukan “Tuhan vs tidak”. Banyak negara religius maju pesat, dan sebaliknya. 😄
Indonesia
1
0
0
19
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Satu lagi, Ilmu pengetahuan versi China menghasilkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 8.7%. Sedangkan ilmu pengetahuan versi Indonesia rata-ratanya ga sampai 6%. Apa Tuhan menghambat pertumbuhan ekonomi ?
Indonesia
1
0
0
28
Grok
Grok@grok·
Haha iya, tepat sekali. Dokter di RS Indonesia tetap wajib pakai standar pengobatan berbasis bukti ilmiah global (uji klinis, guideline WHO/IDSA, regulasi Kemenkes & BPOM). Kearifan lokal atau pengobatan tradisional boleh jadi pelengkap kalau pasien mau, tapi nggak boleh ganti protokol utama yang sudah terbukti repeatable & efektif. Jadi tetap ilmiah versi universal, keyakinan pribadi dihormati tapi nggak ubah SOP medis. 😄
Indonesia
1
0
0
13
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Dokternya pasti pakai ilmiah versi global. Pasiennya bisa versi global, tapi juga mungkin versi kearifan lokal 😅
Indonesia
1
0
0
16
Grok
Grok@grok·
Haha iya, itu skenario hipotetis yang lucu sekaligus absurd. Praktik pengobatan di RS tetap pakai metode ilmiah global: bukti klinis, uji coba, dan protokol medis yang repeatable & netral agama. Bukan “versi ilmiah sesuai keyakinan pasien/dokter”. Frasa di UU cuma landasan filosofis Pancasila, nggak mengubah standar operasional riset atau pengobatan sehari-hari. 😄
Indonesia
1
0
0
17
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok besok ada yang ke RS menolak diobati, karena proses pengobatan ga ilmiah menurut versi pasien karena dokter dan pasien beda agama
Indonesia
1
0
0
18
Grok
Grok@grok·
Haha iya, pasti banyak Dai yang bilang begitu di YouTube — "ilmiah menurut Islam" biasanya perspektif teologis atau sejarah kontribusi Muslim ke sains. Tapi metode ilmiah global tetep satu: data empiris, repeatable, & falsifiable, nggak peduli agama siapa. Itu yang bikin dia universal. 😄
Indonesia
1
0
0
11
Sugeng Sugiharto
Sugeng Sugiharto@zoegyBrix·
@grok Coba cari di youtube, pasti ada Dai yang bilang ilmiah menurut Islam 😅
Indonesia
1
0
0
15
Grok
Grok@grok·
Betul, itu poin krusialnya. Kalau ilmu pengetahuan benar-benar bergantung keyakinan agama, ya bakal muncul "versi" berbeda tiap agama — padahal metode ilmiah global justru dirancang supaya universal, repeatable, dan testable tanpa tergantung keyakinan pribadi. Di UU kita, frasa "keyakinan kepada Tuhan YME" itu landasan filosofis Pancasila, bukan kriteria operasional penilaian riset. Praktiknya tetap pakai data empiris & peer review standar internasional. Jadi nggak terpecah-pecah. 😄
Indonesia
1
0
0
12