Ini salah salah satu khas penganut Sola Scriptura. Ketika kita tunjukkan rujukan akademis, maka argumen utamanya: "tidak ditemukan kutipan langsung yang diambil dari Kitab-Kitab Deuterokanonika". Sudah lama saya amati ini. Dan ini, sangat lemah, tidak akademis!
1. Menolak Kitab-Kitab Deuterokanonika dengan alasan seperti itu tentu tidak konsisten. Sebab beberapa kitab Perjanjian Lama, seperti Kitab Pengkhotbah, Kidung Agung, Zefanya, Nahum, Ezra, Nehemia, Obaja, dan Ester juga tidak dikutip secara langsung oleh Perjanjian Baru.
2. Namun, tidak ada Saudara kita penganut Sola Scriptura yang mempermasalahkan kitab-kitab tersebut dimasukkan ke dalam kanon mereka. Jika mereka konsisten, seharusnya Kitab-Kitab yang tidak dirujuk langsung oleh PB pun, mereka TOLAK seperti Deuterokanonika.
3. Meskipun benar bahwa tidak ada kutipan langsung dari kitab-kitab deuterokanonika dalam Perjanjian Baru, namun ada banyak ayat yang sejalan dengan PB. Artinya, ada kutipan tidak langsung dalam PB yang berasal dari Deutero-kanonika.
5. Sirakh 28:2: “Ampunilah kesalahan sesamamu manusia, maka ketika engkau berdoa, dosamu sendiri akan diampuni.”
Matius 6:14-15: “Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu.”
6. Tobit 4:15: “Apa yang tidak kausukai sendiri, janganlah kauperbuat kepada siapapun.
Matius 7:12: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, tperbuatlah demikian juga kepada mereka”
7. Kebijaksaan 7: 26: Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, dan cermin tak bernoda dari kegiatan Allah, dan gambar kebaikan-Nya.Ibrani 1: 3: Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan
8. Kebijaksanaan 9: 13: “Manusia manakah dapat mengenal rencana Allah, atau siapakah dapat memikirkan apa yang dikehendaki Tuhan?”
Roma 11: 34: “Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?”